Menanti Layanan Dokter Desa, 6 Wilayah Andalkan Pustu

MALANGVOICE– Program Satu Desa-Satu Dokter belum sepenuhnya terselenggara secara merata. Dari total 24 desa/kelurahan di Kota Batu, masih 18 desa/kelurahan yang mendapat layanan dari program tersebut. Dengan begitu, ada sebanyak 6 desa/kelurahan yang belum tersentuh layanan dokter.

Pemkot Batu pun berencana melakukan rekrutmen enam tenaga dokter baru pada triwulan kedua tahun ini. Sehingga program unggulan ini terealisasi sesuai rencana. Program Satu Desa-Satu Dokter merupakan bagian dari visi-misi kepala daerah yang dituangkan dalam RPJMD Kota Batu 2025-2030. Pemerataan akses layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam menjamin hak dasar masyarakat.

Graha Amarilis Karsa Husada Layanan Kesehatan Serasa Hotel Berbintang

Program tersebut ditujukan untuk memberi kemudahan akses layanan kesehatan yang termasuk salah satu syarat mutlak untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Karena SDM unggul menjadi landasan utama untuk mewujudkan Mbatu SAE. Sehingga penempatan tenaga dokter di desa/kelurahan dapat mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat.

Wali Kota Batu, Nurochman mengatakan, proses rekrutmen ditargetkan berlangsung dalam waktu dekat. Dengan penambahan tenaga medis itu, seluruh desa dan kelurahan di Kota Batu diharapkan bisa segera memiliki dokter yang siaga melayani masyarakat.

“Kemungkinan kami upayakan sekitar triwulan ke dua, untuk dilakukan rekrutmen menambah tenaga lagi. Kami ingin enam wilayah yang tersisa segera terpenuhi dalam waktu dekat,” ujar Cak Nur, sapaannya.

Melalui rekrutmen yang ditargetkan rampung tahun ini, Pemkot Batu optimistis target 24 desa dan kelurahan memiliki dokter dapat tercapai. Ia juga memastikan proses seleksi akan dilakukan secara ketat untuk mendapatkan tenaga medis yang memiliki kompetensi sekaligus dedikasi dalam melayani masyarakat.

“Yang kami cari bukan hanya dokter yang kompeten, tetapi juga yang punya dedikasi tinggi untuk pelayanan masyarakat,” tegasnya.
Selama ini, enam wilayah yang belum memiliki dokter masih mengandalkan layanan dari Puskesmas Pembantu (Pustu) di sekitar desa. Skema tersebut dinilai belum maksimal karena tenaga medis harus membagi waktu dan fokus pelayanan di beberapa titik sekaligus.

Menurut Nurochman yang akrab disapa Cak Nur, kehadiran dokter tetap di tingkat desa akan membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih cepat dan spesifik. Warga tidak perlu lagi jauh-jauh ke rumah sakit atau menunggu antrean panjang hanya untuk pemeriksaan kesehatan dasar.

“Kalau ada dokter yang standby di desa, keluhan masyarakat bisa ditangani lebih cepat dan lebih detail,” jelasnya.

Sementara itu, untuk tenaga bidan desa, Pemkot Batu memastikan tidak ada kekurangan. Saat ini, seluruh 24 desa dan kelurahan di Kota Batu sudah memiliki bidan yang bertugas melayani kebutuhan kesehatan ibu dan anak.

Program Satu Desa Satu Dokter juga mulai menunjukkan dampak positif bagi masyarakat. Dengan adanya dokter yang lebih dekat, warga kini bisa melakukan pemeriksaan rutin seperti kontrol tekanan darah, konsultasi kesehatan, hingga penanganan penyakit ringan di fasilitas kesehatan desa.

Manfaat program ini paling dirasakan oleh kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Keberadaan dokter di desa memungkinkan deteksi dini berbagai keluhan kesehatan tanpa harus menunggu kondisi memburuk.

“Dokter yang turun langsung ke desa bisa lebih memahami kondisi warga secara personal. Itu sebabnya penambahan dokter ini menjadi prioritas kami,” imbuh Cak Nur.

Lebih lanjut, selain penambahan dokter umum, Pemkot Batu juga menyiapkan dua strategi utama untuk memperkuat layanan kesehatan dasar. Pertama yakni rencana penambahan fasilitas poli gigi di setiap Puskesmas guna memperluas cakupan layanan kesehatan mulut yang selama ini dinilai masih terbatas.

Kedua, penguatan Program Home Care di mana layanan ‘jemput bola’ tersebut sudah berjalan di seluruh Puskesmas akan diperluas jangkauannya hingga ke tingkat Polindes (Pondok Bersalin Desa).

Ia menekankan perluasan layanan home care ini secara khusus menyasar kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan mobilitas untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan.

“Fokus kami adalah lansia dan penyandang disabilitas. Kami ingin memastikan tim medis hadir langsung ke rumah-rumah mereka melalui koordinasi hingga tingkat Polindes,” tutupnya.(der)

Berita Populer

[wpp range='last7days' order_by='views']

Berita Terkini

Arikel Terkait