Mbois, Dua Musisi Malang Tembus Nominasi AMI Award

Coldiac Band (Istimewa)

MALANGVOICE – Belantika musik Malang Raya catat sejarah baru. Dua musisi Bumi Arema tembus Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2018. Adalah Coldiac dan Sal Priadi yang ukir sejarah di ajang bergengsi nasional itu.

Ya, keduanya juga tercatat dalam satu manajemen GZZ Records. Coldiac dengan lagu berjudul Wreck This Journal. Masuk dalam nominasi duo/grup/grup vokal/kolaborasi R&B.
Mereka bersaing dengan Aydra & Prince Hussein, Emir Hermono & Rayssa Dynta, GAC (Gamal Audrey dan Cantika), serta Isyana Sarasvati & Gamaliel.

Sedangkan Sal Priadi terdaftar di nominasi Artis Solo Pria Pop dengan lagunya berjudul Ikat Aku di Tulang Belikatmu. Tak tanggung-tanggung, pria domisili Arjosari Kota Malang ini bersaing dengan musisi terkenal. Macam Adrian Khalif, Afgan, Anji, Rendy Pandugo dan Vidi Aldiano.

Pengumuman nominasi sendiri telah disiarkan 30 Agustus lalu. Mekanisme sebelumnya mereka harus submit atau daftar secara online. Kemudian ada 2.000 voter yang melakukan pemilihan secara tertutup. Voter terdiri dari para pelaku industri musik serta pendaftar sendiri.

Baik Coldiac maupun Sal Priadi tak menyangka bakal masuk dalam nominasi ajang prestisius tersebut. Sekitar Juni lalu pihaknya mendaftar tanpa ekspektasi besar.

“Saat pengumuman live di Instagram AMI tidak menyangka disebut dalam nominasi. Bagi kami ini sudah kemenangan,” kata vokalis sekaligus gitaris Coldiac Sambadha Wahyadyatmika ditemui MVoice di GZZ Studio Jalan Mirah Delima Kota Malang.

Alumnus SMAN 3 Malang ini menambahkan, lagu berjudul Wreck This Jurnal dikeluarkannya sekitar Juni 2017. terinspirasi dari sebuah buku yang juga berjudul Wreck This Journal karya Keri Smith. Bukan tanpa alasan, namun memang buku tersebut adalah simbol dalam kisah nyata yang dialami salah satu personil Coldiac.

Eksistensi Coldiac sebenarnya sempat dalam masa terpuruk. Sekitar 2014 silam band yang juga digawangi Mahatamtama Arya Adinegara (vokal & gitar), Derry Rith Haudin (synth), Bhima Bagaskara (bass), dan Judha Widhita (drum) ini memulai konsep band dari nol.

“Band kami sejak 2008 itu ber-genre rock. Tapi ya gitu gak payu selama bertahun-tahun,” kenang Sambadha.

Dengan konsep baru, sekitar 2016 dirilis album Heart Breaker. Tidak sampai di situ saja. Pihaknya juga bolak-balik Jakarta – Malang untuk menimba ilmu atau sekadar sharing dengan pelaku industri musik yang sudah mapan.

“Lebih untuk menggali informasi seperti bagaimana melindungi karya,” ujarnya.

Kini Coldiac minimal dalam sebulan dapat manggung dua kali. Tidak hanya Malang Raya, melainkan Jawa Timur hingga Ibukota DKI Jakarta.

“Harapannya dengan masuk nominasi AMI 2018 juga jadi stimulan teman musisi lainnya untuk membuat musik lebih baik lagi,” tutup alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya ini.

Sal Priadi (Istimewa)

Sementara itu, Sal Priadi sebenarnya telah eksis di dunia musik, empat tahun silam. Namun, baru 2017 dia semakin serius berkarya saat bergabung dengan GZZ Records. Dan akhirnya rilis single Kultusan serta kemudian Ikat Aku di Tulang Belikatmu.

“Mereka (GZZ Records) dan teman-teman Coldiac mendorong saya untuk terus maju,” kata Sal.

“Peran sosial media juga penting. Karya dapat
dikenal produser hingga pelaku industri,” ujar kelahiran Malang 30 April 1990 ini.

Sejak saat itu pula, lanjut Sal, banyak permintaan untuk manggung hingga kolaborasi. Dia pun berharap dengan masuk dalam nominasi AMI 2018, dapat mengangkat Kota Malang khususnya di kancah permusikan nasional.

“AMI saat ini juga lebih peduli dengan musisi daerah. Mereka masuk ke daerah- daerah dan sosialisasi. Hingga akhirnya kami juga tertarik untuk mendaftarkan diri,” ujar pemilik nama lengkap Salmantyo Ashrizky Priadi ini. (Hmz/Ulm)