Komitmen Kota Malang Terus Meningkatkan Kota Ramah Lansia

(Humas Pemkot Malang)
Article top ad

MALANGVOICE – Pemkot Malang terus berkomitmen meningkatkan Kota Ramah Lansia. Tujuannya agar kelompok rentan tetap sejahtera serta terwujud kemandirian.

Hal itu diungkapkan Wali Kota Malang Sutiaji, saat menjadi pembicara Mental Health Seminar yang diselenggarakan dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) di Akasia Ballroom, Savana Hotel.

“Jadi Malang itu ramah anak juga ramah lansia. Kita akan siapkan, yang sekarang kan sudah ada beberapa taman ya, yang itu ramah lansia. Ini salah satu juga mendukung ke arah sana,” ujarnya.

Ia melanjutkan, bahwa peningkatan jumlah lansia dengan berbagai masalah kesehatannya, menjadi tantangan untuk mempersiapkan lansia yang sehat dan mandiri, agar meminimalisir beban bagi masyarakat dan negara. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, lansia merupakan kelompok yang paling rentan, berisiko terpapar Covid-19.

Lansia menjadi kelompok yang paling rentan karena penurunan sistem imunitas tubuh dan cenderung multipatologis sehingga lebih berisiko menderita kefatalan akibat Covid-19.

“Sehingga memerlukan langkah-langkah perlindungan dan pencegahan di semua tatanan, dengan melibatkan masyarakat, terutama keluarga,” ujarnya.

Berdasarkan data proyeksi BPS tahun 2019, penduduk lansia di indonesia adalah 9,75% atau sekitar 27 juta jiwa. Angka ini diperkirakan akan menjadi 12,54% atau 35,5 juta jiwa di tahun 2025, dan akan terus meningkat di tahun 2035 sebesar 16,77% atau 51 juta jiwa. Hal ini menunjukan bahwa kondisi demografis Indonesia sudah menuju penuaan populasi.

Terkait gizi lansia, lanjut dia, penting agar melakukan pemeriksaan secara rutin, dicontohkannya tensi, masalah kadar gula, masalah penyakit-penyakit yang kronis maupun penyakit-penyakit lainnya.

“Lansia itu kan ada gula ya, ada hipertensi, terus ada sesak, maupun rematik ini selalu kita awasi. Jadi penguatan itu diantaranya,” jelasnya.

Pada momentum itu, Walikota Sutiaji juga menyampaikan pesan agar menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani.

”Jadi orang yang tidak banyak kecewa. Tidak banyak berharap pada anak, pokoknya dia target hidupnya yang biasa-biasa saja,” pungkasnya.(der)