Kisah Devano, Siswa Kota Batu yang Masuk Paskibraka di Istana Negara

Mochammad Devano Faris Estiawan siswa SMAN 1 Batu

MALANGVOICE – Mochammad Devano Faris Estiawan (16), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) asal Kota Batu, bakal bertugas di Istana Negara untuk ulang tahun ke-74 Republik Indonesia nanti.

Devano berhasil menyingkirkan pesaing di 36 kota/kabupaten di Jatim setelah melalui serangkaian seleksi ketat di tingkat sekolah, daerah, hingga nasional.

Ia sudah mengikuti ekstra kurikuler baris berbaris di sekolahnya. Lantaran potensi yang dimiliki Devano, akhirnya ia diikutkan bersama beberapa temannya untuk seleksi provinsi terlebih dahulu. Seleksi provinsi ia lolos, lalu ia mengikuti seleksi nasional.

BNN Kota Malang

“Ya, setiap kota diambil satu pasang, sampai akhirnya seleksi nasional, setiap provinsi satu pasang. Dan saya terpilih bersama perwakilan dari Tulungagung, Dhea Lukita Anggriana,” ungkap siswa SMAN 1 Batu itu.

Anak bungsu dari pasangan Prayanti Sulistyawati dan Ahmad David ini harus melewati berbagai macam tes kemampuan fisik dan tes tulis. Semua ia lalui dengan sempurna. Dan mendapatkan peringkat pertama dari peserta se-Jatim.

Menurutnya, bagian menantang ialah saat tes fisik. Dikatakannya sejak kecil ia sudah aktif di olahraga, sehingga tes fisik itu menurutnya adalah makanannya sehari-hari.

“Sejak kecil saya sudah sering olahraga. Jadi harus terbiasa. Tesnya itu mulai sit up, push up, lari, tes suara, dan masih banyak lagi,” sambung warga Kelurahan Sisir itu.

Ketika mengikuti tes sit up, ia mendapatkan poin tertingg yakni nilai 100. Nilai itu ia dapatkan lantaran ia mencapai 55 kali hitungan. Padahal nilai maksimal adalah 40 kali hitungan.

Devano menambahkan jika sejak kecil ia ingin menjadi anggota polisi. Karena itulah, ia harus maksimal menjalani prestasi karena terpilih menjadi anggota paskibraka nasional.

Sementara, Devano bersama perwakilan se-Indonesia yang terpilih harus menjalani masa karantina. Pola makan yang sebelumnya harus ia atur dengan tepat.

“Makanan kesukaan saya kan nasi goreng, jadi harus meninggalkan makanan itu. Karena tidak boleh makan nasi. Diganti dengan telur ayam kampung. Dibanyakin makanan yang banyak mengandung energi dan protein,” ungkap siswa yang memiliki tinggi badan 178,5 centimeter ini. (Hmz/ulm)