Diskresi BP2T Kota Malang, Pelanggaran Serius atas Tata Kelola Toko Modern

Oleh: Soetopo Dewangga *

Menurut Undang –Undang No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BP2T) Kota Malang merupakan alat penyelenggara negara yang mempunyai kewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yang merupakan amanat UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Karena itu BP2T sebagai Badan Pelayan Publik harus mampu membangun kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara pelayanan publik sekaligus merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan pelayanan publik.

Semangat UU Pelayanan publik jelas, bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas dan menjamin penyediaan pelayanan publik sesuai azas-azas umum pemerintahan dan korporasi yang baik serta untuk memberi perlindungan bagi setiap warga negara dan penduduk dari penyalahgunaan wewenang di dalam penyelenggaraan pelayanan publik, diperlukan pengaturan hukum yang mendukungnya.

Terkait pelayanan BP2T perihal perijznan operasional toko modern di Kota Malang, Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang bersama Aliansi Masyakat Peduli UMKM telah melakukan hearing dengan BP2T dan Dinas Perindag yang difasilitasi Komisi C DPRD Kota Malang, dan terungkap secara nyata, BP2T telah melukan pelanggaran terhadap Perda No 8 Tahun 2010 khususnya Pasal 25 ayat 1 yang menyatakan bahwa, Pelaku usaha yang akan melakukan kegiatan usaha di bidang Toko Modern, wajib memiliki IUTM untuk Minimarket, Supermarket, Department Store, Hypermarket dan Perkulakan.

Dalam hearing itu, Kepala BP2T mengakui bahwa BP2T sebagai Badan yang melayani perizinan tidak pernah mengeluarkan Izin Usaha Toko Modern (IUTM), kecuali izin gangguan (HO) dan Amdal Lalin. Diskresi yang dilakukan BP2T Kota Malang ini berdampak pada operasional toko modern yang masif (223 unit) yang keberadaannya ilegal, karena hanya dialasi hak izin HO dan secara nyata merupakan pelanggaran terhadap Perda No 8 tahun 2010.

Keberadaan operasional toko modern di Kota Malang mayoritas dikelola dengan model ritel modern waralaba, yang seharusya juga berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang – Undang No 28 tahun 2002 tentang waralaba Jo Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2007 tentang waralaba. Ketugasan pengawasan, pengendalian, monitoring dan evaluasi tentang waralaba ini melekat pada Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perindag, yaitu pemrosesan rekomendasi perizinan di bidang usaha perdagangan dan pelaksanaan pemberian dan pencabutan perizinan di bidang perdagangan.

Sesuai lampiran III A-1 Peraturan Mentri Perdagangan Republik Indoensia No 53/M-DAG/PER/8/2012 tentang penyelenggaraan waralaba, maka di dalam surat permohonan tanda pendaftaran waralaba ( SP-STPW ) harus menguraikan perihal jenis dan merk usaha yang diwaralabakan sebagaimana tertuang dalam porpektus waralaba.

SP–STPW inilah sebagai check list bagi Perindag untuk melakukan monitoring dan evaluasi operasional toko ritel modern waralaba. Jika ada temuan pelanggaran terhadap SP–STPW, Perindag dapat melakukan tindakan dari peringatan hingga pencabutan SP–STPW yang berarti akan menghentikan operasional ritel modern waralaba.

Dalam praktek ritel modern waralaba di Kota Malang, ternyata megikuti tren pola hukum pasar, yaitu meyediakan barang yang dibutuhkan konsumen, hingga semua kebutuhan masyarakat tersedia di toko modern waralaba, bahkan diberi label sesuai dengan merk toko modern waralaba yang bisa jadi ada unsur pelanggaran HAKI (Hak intelektual maupun hak cipta).

Ketika ritel toko modern waralaba tidak memiliki SP-STPW maka keberadaan ritel toko modern waralaba Ilegal sebagaimana diatur dalam UU No 28 tahun 2002 tentang waralaba. Dan sebaliknya jikalau ritel toko modern waralaba pemegang SP-STPW menjalankan praktek perdagangan yang menyimpang dan dibiarkan oleh Dinas Perindag, maka ini juga pelanggaran Tupoksi Dinas Perindag terhadap UU no 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik.

Jalan tengah yang diusulkan Aliansi Masyarakat Peduli UKMK Kota Malang dan menunggu rekomendasi DPRD Kota Malang, adalah ferivikasi faktual terhadap operasional dan tata kelola toko modern di Kota Malang, agar terjadi sebuah persaingan usaha yang sehat serta kondusif, sebagaimana diatur dalam UU No 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, sehingga UMKM kota Malang bisa tumbuh dan berkembang sebagai penyokong utama dalam pertumbuhan ekonomi baik dalam sekala lokal maupun nasional.

Berdasar informasi yang diterima Aliansi yang perlu dipastikan, bahwa ada sekitar 40% dari 223 toko modern di kota malang izinnya akan berakhir pada 2015, semoga BP2T tidak lagi melakukan perpanjangan izin, walau bagi aliansi, izin yang dikeluarkan BP2T secara nyata bertentangan dengan perda No 8 tahun 2010, sehingga bisa dinyatakan ilegal, setidaknya ini bisa menjadi sebuah langkah awal kemauan politik pemerintah Kota Malang untuk menata keberadaan toko modern, termasuk toko modern waralaba sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Jikalau pembiaran ini terus berlanjut, bukan mustahil rakyat akan bertindak dalam batas ketidakwajaran sebagaimana BP2T dan Perindag yang terindikasi turut serta melakukan ketidakwajaran atas bergai diskresi operasional toko modern di Kota Malang.

Pada Konsumen dan pelaku UMKM saatnya menjadi konsumen dan pelaku UMKM yang cerdas, saling bergandeng tangan untuk melakukan perlawanan dalam batas–batas kepatutan atas penghisapan potensi ekonomi dalam persaingan usaha yang tidak sehat akibat diskresi pemkot Malang atas operasional toko modern yang ilegal dan carut marut.

*Soetopo Dewangga, Ketua Cabang Pemuda Demokrat Indonesia Cabang Malang dan Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli UMKM.

Minum Air Kloset agar Lekas Sehat

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh Surya Gemilang*

“Sebaiknya Anda minum air kloset agar lekas sehat,” balas dokter itu setelah kuucapkan keluhanku. Sinting bukan main, kan?!

Barangkali Sijit, teman baikku, tidak kalah sintingnya karena telah merekomendasikanku untuk pergi ke dokter sinting itu.

“Kau sialan, Jit!” hardikku melalui ponsel sepulangnya aku dari tempat praktik si Dokter Sinting. “Kau bilang dokter itu dapat diandalkan! Rupa-rupanya dokter itu sinting!”

“Lho? Sinting bagaimana?” tanya Sijit.

“Masa aku disuruh minum air kloset agar lekas sehat?!”

“Kalau memang begitu suruhannya, ikuti saja.”

“Ikuti saja?! Kau sinting sebagaimana dokter itu, ya?!

“Dengarkan aku baik-baik, Babah.” Sijit berhenti sebentar. “Waktu salah seorang saudaraku sakit gede, tak ada seorang dokter pun yang bisa menangani penyakitnya, kecuali dokter yang kau anggap sinting itu. Kau tahu dia menyuruh saudaraku minum apa? Dia menyuruhnya untuk minum kopi campur telur mentah! Dan, saudaraku langsung sembuh begitu menuruti suruhan dokter itu!”

“Itu, kan, hanya kopi campur telur mentah, Jit! Bukan a-i-r k-l-o-s-e-t!”

***

Rasa sakit yang ganjil itu hinggap di perutku sejak sebulan yang lalu. Semula, kupikir aku maag. Maka, kuminumlah obat maag, tapi rasa sakit di perutku tak kunjung membaik. Hari demi hari, sejak rasa sakit itu muncul, perutku terus membesar—sedikit demi sedikit saja, sehingga tak langsung kusadari hal itu. Kala rasa sakit di perutku semakin mengganggu, aku memutuskan untuk tidak ngantor sampai rasa sakit itu lenyap—entah kapan. (Toh, meski tak bekerja, uang tetap menghujani rekeningku.)

Sebelum mendatangi si Dokter Sinting, tak kurang dari sepuluh orang Dokter Normal yang telah kudatangi, dan mereka semua tidak tahu penyakit macam apa yang hinggap di perutku. Sempat aku berpikir bahwa aku disantet. Tapi, bukankah tukang santet dan semacamnya sudah pada punah di tahun 2040 ini?

***

Pagi ini—sehari setelah kudatangi si Dokter Sinting—begitu membuka mata, kudapati perutku sudah sebesar perut seorang wanita yang kandungannya berusia delapan bulan! Padahal, kemarin, ukuran perutku masih sekitar setengah dari ukuran perutku yang sekarang. Otomatis, baju-bajuku jadi pada tidak muat, sehingga aku mesti telanjang dari pinggang ke atas. Langkahku pun terasa berat. Perutku semakin sakit.

Masa, sih, aku mesti minum air kloset?! pikirku.

***

Entah kenapa kekasihku, Babah, tak bisa dihubungi pagi ini. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Di depan gerbang rumah mewah tempatnya tinggal, aku bertemu dengan Sijit. “Kekasihmu tak bisa kuhubungi, dan itu membuatku khawatir,” jawab Sijit ketika kutanyai maksud kehadirannya kemari.

Kami pun masuk ke rumah Babah—pembantunya yang sudah pantas disebut “nenek” itu yang membukakan pintu—dan terbelalak begitu sampai di kamarnya.

“Ya ampun, Babah!” pekikku dan Sijit bersamaan.

Kekasihku tergeletak lemas di kasur, tanpa memakai baju. Wajahnya pucat, sepucat mayat—tapi ia masih hidup—dan perutnya … Ya ampun!

“Kenapa kau tidak berinisiatif untuk mencarikan dokter buat majikanmu?” ucapku pada si Pembantu yang sudah tua, setengah membentak.

Si Pembantu tertunduk. “Maunya, sih, begitu, Nona. Tapi Tuan Babah melarang saya.”

“Aku sudah bosan bertemu dengan dokter!” sambung Babah, suaranya parau. “Mereka semua tidak berguna!”

Sijit berdeham. “Apa kau sudah minum air kloset?”

(Aku sudah dengar soal “minum air kloset” itu dari Babah kemarin, via video call.)

“Bah! Kau jangan sinting, Jit! Pasti ada solusi yang lebih baik untuk menyembuhkan penyakitku ini!”

Heninglah beberapa jenak.

Si Pembantu memberi isyarat minta diri, dan Babah mengangguk, lantas pergi dari kamar ini.

Sijit tiba-tiba tampak menahan tawa. “Barangkali, perutmu itu terus membesar secara ganjil karena rekeningmu terus menggendut secara sama ganjilnya!” Tawa Sijit lantas pecah. “Makanya, jangan kaucurangi bosmu sendiri!”

Babah mengerang sebelum berkata, “Sialan betul kau! Mentang-mentang kini aku kesakitan, dan rasanya hampir mati, kau malah mengingatkanku akan dosa-dosaku sendiri!”

Sijit tergelak lagi, kemudian berkata kepadaku, “Nah! Benar, kan, apa kataku? Kekasihmu ini kotor!”

“Aku tidak peduli pada kotor-bersih dirinya,” balasku, dengan wajah memerah.

Sijit mendecak-decakkan lidah. “Wah … wah … Cinta dan uang sama-sama bisa bikin bodoh.”

“Mending kau pergi saja, Jit!” hardikku.

Wajah teman baik kekasihku itu sontak masam. Ia lalu berlalu dari kamar ini, tanpa kata-kata, sehingga tersisalah aku dan Babah.

“Biarlah dia pergi,” kata Babah lirih. “Kita tak memerlukannya.”

Tak terlalu lama kemudian, Sijit kembali ke kamar ini dengan segelas air di tangannya. Aku langsung tahu air apa itu sebab aromanya yang rada-rada tengik tercium jelas di hidungku.

“Kau mau meminumkan air kloset kepadanya?!” kataku.

“Jangan gila, Sijit!” Babah memekik parau. “Kau tidak boleh meminumkanku air kloset!”

Dengan gerakan cepat, aku pun merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit merebut gelas itu dari tanganku. Dan aku merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit … Selagi kami saling memperebutkan gelas tersebut, kulihat Babah bangkit perlahan-lahan, dengan susah sungguh, lantas meninju rahang Sijit dari samping dengan teramat keras hingga teman baiknya itu pingsan.

***

Tuan Tukang Cerita

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Cerpen Oleh: Mudiuddin
mahasiswa IDIA Prenduan, anggota AJMI
…..

Api itu terus berkobar, melalap semua yang disentuhnya. Di dalam sana hanya seorang kakek yang duduk bersantai seakan-akan api itu tidak ada sama sekali di hadapannya. Di luar orang hanyalah sebagai saksi mata atas kobaran api itu. Ya, mereka hanya menyaksikan bagaimana api begitu menikmati rumah itu. Bahkan tidak ada seorang pun yang berpura-pura memegang gayung yang diisi ar untuk menyiram api itu, tidak juga dengan menghubungi pemadam kebakaran. Semua hanya diam menyaksikan.
“Tidak adakah yang bisa memadamkan api itu? Setidaknya untuk menyelamatkan orang di dalamnya.” Cletuk salah seorang di kerumunan itu.
“Di dalam hanyalah seorang kakek-kakek, siapalah yang mau menyelamatkannya. Toh dia juga sudah bau tanah. Itung-itung itu akan mempermudahkannya, anggap saja itu sekali jalan menuju surga.” Timpal seseorang.
“Mau di selamatkan juga dia akan mati, siapa yang akan mengurus mayatnya. Yang akan memandikannya, meyiapkan kayu bakar, dan upacara pembakaran mayatnya. Catatan keluarga saja tidak jelas.” Timpal lagi salah seorang dari kerumunan itu.
“Biarlah dia menjadi abu bersama rumahnya itu, kalau sudah padam apinya kita tinggal ambil abunya sedikit saja dan kita taburkan di pantai sebagai upacara terakhirnya. Tapi siapa yang akan melakukannya?” Timpal lagi dari yang lain.
Kakek di dalam rumah itu begitu tenang, ia tersenyum. Sama sekali tak mengharap ada orang yang datang menerobos api untuk menolongnya. Ya, siapa pula yang akan menolongnya. Ia sudah tahu itu, seperti apa yang di katakan orang-orang di luar. Biarkan saja menjadi abu.
***
Tuan tukang cerita itu menghentikan ceritanya, orang-orang di sekitarnya masih memandangi berharap tuan tukang cerita masih meneruskan ceritanya. Sebagian sedang memasang muka geram karena masih tidak bisa lepas dari cerita dari tuan tukang cerita, sebagian lagi berlinang air mata. Selalu saja begitu. Mereka yang mendengarkan tuan tukang cerita bercerita selalu mengharapkan cerita itu masih terus berlanjut. Orang sudah tua itu yang kerap kali dipanggil tuan tukang cerita selalu bisa membuat orang ingin mendengarkan ceritanya. Tuan tukang cerita mengembalikan raut mukanya seperti biasa.
“Hallo… Tuan-tuan, Nyonya-nyonya, dan anak-anak. Ceritanya sudah selesai, sampai kapan kalian akan terus menatapku dengan tatapan aneh itu?” Tuan tukang cerita terkekeh-kekeh, bibirnya sedikit terlipat ke dalam. Bisa dimaklumi usianya sudah tua.
“Bagaimana akhir dari ceritanya?” Tanya salah sorang dari para pendengar.
“Ini adalah akhir dari ceritanya anakku.” Balas tuan tukang cerita.
“Bagaimana dengan kakek tua itu?”
“Kalian bisa mengira-ngiranya sendiri.” Tuan tukang cerita itu kembali terkekeh dan bibirnya sedikit terlipat ke dalam.
“Ah… Tuan tukang cerita selalu saja seperti itu.” Keluh mereka yang menjadi pendengar cerita dari tuan tukang cerita.
“Inilah kebebasan dalam bercerita anakku, kita tidak pernah tahu akhir dari cerita. Kita mungkin cukup mereka-rekanya saja, tak lebih. Selama masih ada kehidupan cerita tidak akan benar-benar selesai.”
“Tapi…” Tuan tukang cerita menjeda perkataannya dengan menunjukkan wajah penyesalan.
“Tapi apa tuan tukang cerita?”
“Tapi siapa yang akan mengisi mangkuk ini!” Tuan tukang cerita kembali dengan tertawanya yang terkekeh, semua orang juga ikut tertawa paham maksud tuan tukang cerita. Orang-orang itu kemudian bergiliran mengisi mangkuk di hadapan tuan tukang cerita dengan beberapa koin atau lembaran uang.
“Mau pesan makanan kakek tua?” Seseorang menghampiri tuan tukang cerita menawarkan makanan.
“Kau selalu tahu anakku.” Ia kembali terkekeh.
“Siapkan satu untuk kakek tua kita ini.” Teriak orang itu.
***
Sudah seperti sore biasanya, tuan tukang cerita itu datang ke sebuah kedai makan yang biasa dikunjungi. Bukan untuk memesan makan atau hanya sekedar minum. Bukan. Tapi untuk berbagi cerita pada orang-orang yang ingin mendengarkannya. Meskipun begitu, penjaga ataupun pemilik kedai itu tidak merasa terganggu ataupun rugi. Mereka menganggap Tuan tukang cerita itu sebagai penglaris bagi kedai makannya. Ya, begitulah kata mereka. Tak pernah sebelum ini kedai itu serame sekarang. Meskipun pada awalnya orang-orang hanya ingin mendengarkan cerita si tuan tukang cerita itu. Pada akhirnya mereka merasa kurang jika hanya mendengarkan cerita, mereka akan membeli minuman atau makanan ringan sebagai pelangkap. Terkadang usai mendengarkan mereka memilih untuk memesan makan sebelum pulang.
Seperti sore biasanya, kadatangan tuan tukang cerita selalu di nanti. Dengan baju yang sedikit kumuh yang tak pernah diganti, tapi tak tercium bau tak sedap sedikit darinya. Ia datang dan duduk di kursi yang biasa ia tempati. Sekarang ia begitu diterima tidak seperti pertama ia datang di desa itu dan mampir ke kedai itu. Ya, belum sempat melangkahkan kaki kanannya ke dalam kedai ia langsung di cegat oleh pemilik kedai dan mengusirnya. Pun demikian dengan orang lain yang hanya melihat. Hanya seorang anak ingusan yang mendekatinya dan memperhatikannya yang menggerutukan sesuatu dengan pelan.
“Ada apa Nak?” Anak itu hanya memandanginya tanpa menjawab “ oh kau tidak mau bicara.”
“Mau mendengar cerita?” Anak itu mengangguk dan tuan tukang cerita menceritakannya sesuatu. Tentang seorang kakek yang mencari kematian dan tak kunjung ia bertemu dengan kematian. Ia selalu mencari ke manapun di tempat seluruh dunia, ia pernah sengaja sedikit menggoreskan pisau di lengan kirinya tapi itu tak pernah berhasil, hanya sekedar mengantarkannya ke rumah sakit. Menyewa seorang algojo untuk membunuhnya masih tidak berhasil. Sengaja membaringkan diri di rel kereta ketika kereta sedang melintas masih tidak berhasil juga. Entah kenapa waktu itu kereta tiba-tiba keluar dari rel dan berbaring tepat di samping kakek itu. Pada akhirnya ia menyerah dan memilih untuk diam di rumah menunggu kematian menjemputnya. Itu juga masih sia-sia, karena kematian tak juga menjemput.
Tuan tukang cerita yang pertama kali bercerita di tempat itu menghentikan ceritanya. Anak itu masih melihatnya dan orang-orang yang tanpa sengaja ikut mendengarkan di hadapannya. Kemudian ia mengeluarkan mangkuk dari tas kecil yang ia bawa di punggungnya.
“Anak-anak, cerita bersambung. Sekarang biarkan mangkuk ini juga merasakan beberapa koin atau lembar dari uang kalian.” Ucap tuan tukang cerita kemudian sedikit terkekeh.
“Tapi Tuan, cerita yang anda sampaikan seperti belum selesai.”
“Bukan seperti anakku, tapi memang belum selesai. Jika kalian ingin cerita ini berlanjut datanglah ke mari atau ke kedai di seberang jalan itu. Sekarang isi dulu mangkuk ini, saya memaksa. Kalau tidak”
“Kenapa Tuan.”
“Kalau tidak, aku terpaksa berpuasa lagi.” Orang itu tertawa lalu menaruh apa yang diminta tuan tukang cerita dan pergi.
Orang-orang sudah menunggunya, ia terkekeh dan meletakkan tongkatnya “sudah berapa lama kalian menunggu?”
“Seperti biasa.” Tuan tukang cerita mengangguk kepala.
“Bagaimana, ada yang bisa melanjutkan ceritanya? Bagaimana keadaan kakek tua itu, hah.”
“Aku tidak akan bercerita kali ini, kemarin adalah yang terakhir. Heheheh.” Lanjutnya.
“Lantas bagaimana tentang kakek tua itu, apakah dia mati?”
“Berpikirlah sedikit kreatif dalam mereka-reka.”
“Jika ia masih hidup?”
“Boleh anakku, tapi bagaimana ia masih hidup? Heheheh.”
“Entahlah, mungkin ketika api sudah padam kakek itu masih sempat tertolong.”
“Tidak anakku, tidak ada yang menolongnya. Bukankah sudah kuceritakan yang kemarin, tidak ada yang menolong setelahnyapun tidak ada. Bagaimana ia bisa masih hidup, tidak ada yang tahu. Kehidupan terlalu membencinya, sehingga tak memberi ruang kematian kepadanya.”
“Lantas apa yang dilakukan kakek itu?”
“Ia kembali berjalan, berkeliling mencari kematian. Ia yakin akan bertemu dengannya di suatu tempat. Sampai sekarang pun ia masih mencari, terkadang mengambil rehat di suatu tempat kemudian melanjutkannya perjalanan.” Tuan tukang cerita menghela nafas “boleh aku meminta makanan dan minuman, kali ini aku tak akan mengeluarkan mangkuk untuk kalian isi. Aku hanya minta itu.”
Seseorang mengantarkan makanan dan minuman untuknya “Kuharap aku tidak akan menikmati semua ini lagi!”
“Kenapa Tuan, apakah makanannya tidak enak?”
“Bukan apa-apa.” Tuan tukang cerita menghabiskan semua kemudian pergi. Punggung bungkuknya tidak lagi terlihat setelah keluar dari kedai. Ia sudah cukup rehat di desa itu, ia kembali mencari apa yang dia inginkan. Dan orang-orang, kembali ke pekerjaan masing-masing. Tidak ada lagi yang mendengarkan cerita, dan kedia juga seperti semula, sepi tanpa pengunjung.
***
“Apakah tuan tukang cerita masih berkeliling dan membacakan cerita, Ma?”
“Tentu Nak, ia masih berkeliling tapi bukan untuk bercerita. Itu ia lakukan ketika berehat saja, setelah itu ia akan mencari.” Ibu itu mengelus kepala putranya.
“Kenapa ia ingin sekali bertemu dengan kematian, padahal setiap orang ingin hidup lebih lama.”
“Entahlah Nak, hanya ia yang tahu.” Ibu itu mengecup kening putranya, menyelimutinya dan lampu dimatikan. Putranya mulai tertidur dengan bayang-bayang ia akan bertemu dengan tuan tuang cerita untuk menceritakannya sebuah cerita.
Prenduan, 09 September 2018.

MATTALI

Cerpen oleh Zainul Muttaqin

Belum genap satu tahun ketika Mattali angkat kaki setelah ribut besar dan istrinya berkata lantang sampai gendang telinga laki-laki paruh baya itu hampir pecah, “Tak Lake’ Ongghu Bekna Kak[1]. Ceraikan saja aku!” Bagai dirobek harga diri Mattali mendengar istrinya berkata, tinggi suaranya, tepat di depan wajahnya.
Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Wajah Mattali menegang. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis meliuk-liuk, seperti terombang-ambing. Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Tirai jendela disibak oleh tiupan angin. Mattali menelan ludah berkali-kali.
“Apa tidak ada cara lain selain bercerai?” Mattali menekan suaranya.
“Tidak!” Istrinya memandang wajah Mattali. Laki-laki itu mengatur laju napasnya. Dipandanginya wajah istrinya, tampak berharap cepat-cepat Mattali menghilang dari pandangannya.
Belum sempat Mattali mengucap cerai, istrinya berujar, mendahului Mattali, “Kita bisa rujuk setelah kau benar-benar lake’[2].” Binar-binar di mata Mattali terpancar selepas istrinya berkata seperti itu. Pelan-pelan ia mulai mengulas senyum.
Jarum jam berhenti tepat di angka dua belas dini hari. Dengan gemetar, terbata-bata, Mattali berujar, “Aku ceraikan kau,” berderai air mata laki-laki paruh baya itu. Markoya menggeleng kepala. Markoya menutup pintu kamar dan membiarkan Mattali berdiri di ruang tamu dengan perasaan tercabik-cabik. Mattali mencangkuli dirinya sendiri.
Duduk di kursi berwarna biru tua, dengan cat yang mulai mengelupas karena usia. Mattali berpikir sesaat. Dia mencari jalan keluar atas persoalan rumit yang tengah menimpanya. Sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Dengkur Markoya dari dalam kamar mengusik pikirannya, ingin ia seranjang lagi, tapi buru-buru Mattali mengucap istighfar .
Detak jarum jam bergeser begitu lambat dirasakan Mattali. Laki-laki itu mengelus dada. Saat asap rokoknya lenyap, Mattali menampari pipi dan kaki. Nyamuk hutan dari belakang rumah ternyata berusaha menghisap darah laki-laki kekar itu sejak tadi. Puntung rokok di dalam asbak bergelimpangan.
Bangun pagi-pagi sekali Markoya sudah tidak melihat Mattali di ruang tamu, di kursi lapuk itu. Bau keringat Mattali juga tak tercium. Markoya berjalan ke halaman depan rumahnya, menarik napas dalam-dalam, melegakan dada ringkihnya yang semakin menyempit. Kicau burung di atas pohon tarebung[3] mengingatkannya pada Mattali.
Sampai perceraian itu terjadi belum sanggup Mattali memetik bunga indah yang tumbuh di pangkal paha Markoya. Laki-laki itu menjadi tak lake’ menghadapi istrinya yang bersedia bunga mekar di selangkangannya dipetik oleh Mattali. Berkali-kali Mattali berusaha, berkali-kali pula kesia-siaan itu terjadi pada dirinya. Itulah yang mendasari Markoya minta dicerai kepada Mattali.
Sekalipun Mattali tidak menceritakan perihal rumah tangganya yang tercerai-berai, tapi warga Tang-Batang sudah bisa mengendusnya. Orang-orang memang berusaha mengetahui, maksud Mattali berada di rumah ibunya, sepanjang waktu, sejak satu minggu lalu. Melintas pikiran curiga, tepatnya bertanya-tanya, apa penyebab Mattali menceraikan Markoya, kembang desa yang dulu diperebutkan semua laki-laki?
Berderet ikan-ikan dijemur di halaman. Amis menyeruak. Perempuan-perempuan itu duduk memanjang dengan rambut terlepas digerai sebahu, mereka bergunjing sembari menisik kutu. Diam-diam mereka mencuri pandang pada Mattali. Laki-laki itu duduk di beranda rumah, menghisap batang rokoknya, dengan secangkir kopi di atas meja.
“Karena Mattali tak lake’ ” kata perempuan gempal setelah sebelumnya melirik ke arah Mattali.
“Jadi gara-gara itu Mattali cerai dengan Markoya.”
“Gara-gara apa lagi kalau bukan itu.”
“Mestinya Mattali sudah siap jamu sebelum menikah. Kalau seperti ini kan malu.”
“Malu sama siapa?”
“Malu sama semua orang.”
“Untung suamiku lake’.”
“Ya jelas suamimu lake’ lah, anakmu sudah tiga. Apalagi aku.” Kelakar tawa meledak di halaman. Mattali menoleh, melihat pada perempuan-perempun itu.
Mendadak degup jantung Mattali melaju lebih cepat. Ia merasa perempuan-perempuan itu tengah mengunjingkan dirinya. Sempat ia bersitatap dengan salah satu perempuan itu, tersenyum mengejek, merendahkan. Gegas Mattali masuk ke dalam. Terlampau sakit hati Mattali. Laki-laki paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian bersama napas yang ia lepas, tangannya memukul meja hingga cangkir kopi di atasnya bergelinding ke lantai, pecah.
Ingin dimakinya perempuan-perempuan di taneyan lanjang[4] itu. Mendidih darah Mattali. Laki-laki itu meludah, membuang rasa kesal terhadap perempuan-perempuan itu. Ia berdiri di ambang pintu, berpikir ulang, menimbang-nimbang, apa melabrak perempuan-perempuan itu akan menyelesaikan persoalan? Lagi pula, ia tahu, perempuan-perempuan di Tang-Batang gemar berguncing, atau memang demikian perempuan kebanyakan.
Khawatir malah akan dipermalukan di taneyan lanjang itu oleh perempuan-perempuan yang duduk memanjang, menisik rambut, disertai berbagai ragam gunjingan. Mattali mengurungkan niat. Menutup pintu rumahnya kembali. Ia mengatur alur laju napasnya. Asap rokok menyumbat tenggorokannya.
Mattali baru ingat, ternyata Markoya pernah bilang, “kita akan rujuk kalau kamu sudah lake’’´ ingatan itu mampir dalam tempurung kepalanya tepat ketika laki-laki paruh baya itu berusaha meredam amarah. Dan perempuan-perempuan itu sudah lenyap di taneyan lanjang. Mattali memandang penuh selidik, takut mendadak muncul perempuan-perempuan itu di hadapannya. Bergegas ia melewati taneyan lanjang, tempat perempuan-perempuan itu semula menisik kutu.
Dalam remang sore hari, lepas maghrib Mattali melangkah begitu lekas, melewati gang-gang rumah yang sempit. Ia terus melangkah untuk segera sampai di rumah Matrah, tukang pijat di desa sebelah, juga seorang dukun yang sering dimintai tolong bila berususan dengan kelelakian. Keringat membasuh tubuhnya.
Mattali kian mempercepat langkahnya. Tak menjawab apalagi sekadar menoleh ketika seseorang menyapanya dari teras rumah. “Tak biasanya Mattali acuh seperti itu,” bisik lelaki di teras rumah itu. “Paling-paling karena orang-orang bilang tak lake’ ia jadi begitu Kak,” sambung istrinya. Pasangan suami-istri itu saling tatap, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua bahunya.
Setelah susah payah berjalan kaki, Mattali tiba di halaman rumah Matrah, lelaki yang dikenal bisa mengatasi segala persoalan kelelakian. Seorang lelaki tua, rambutnya hampir putih seluruhnya, memegang tongkat di tangan sebelah kanan berdiri di depan kobhung[5] tempat Matrah biasa menerima tamu-tamunya. Lampu teplok meliuk-liuk, bertahan dari tiupan angin.
“Kamu mau pijat?” Matrah mengajukan pertanyaan. Ia mengambil minyak urut yang diselipkan di tiang kobhung.
“Tidak Ke[6]” Mattali mengulas senyum, disertai gelengan kepala.
“Lalu?” Laki-laki tua itu memburu jawaban dari Mattali.
“Saya tak lake’. Beri saya jalan keluar. Karena ini, saya sampai cerai dengan Markoya.” Mendengar penjelasan itu, Matrah mengangguk-anggukan kepala. Matrah keluar sebentar dari dalam kobhung dan kembali dengan membawa beberapa butir telur dalam genggaman tangannya. Mattali mengernyitkan kening, seolah ingin bertanya, apa maksudnya?
“Saya yakin kamu belum jamu telur ini sebelum menikah,” Matrah menunjukkan tiga butir telur kampung ke hadapan Mattali. Laki-laki setengah baya itu menggeleng.
“Dengan telur kampung ini. Insya Allah kamu akan lake’.”
“Kenapa tiga butir Ke?” Mattali mengambil telur itu dari genggaman Matrah.
“Saya tidak tahu pasti soal itu. Yang jelas harus berjumlah ganjil. Barangkali karean Tuhan suka yang ganjil-ganjil.”
“Apa ada campuran lain selain telur ini Ke?” Mattali tidak sabar ingin membuktikan khasiat telur ayam kampung. Laki-laki itu menyesal, kenapa dulu, sebelum menikah ia tak bertanya perihal ini. Mana mungkin Mattali sempat bertanya tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Pernikahannya dengan Markoya terjadi secara mendadak, berlangsung cepat begitu saja, tanpa persiapan.
“Nanti saya beri tahu,” Mattali mengangguk. Beberapa menit kemudian, Matrah berbisik di telinga Mattali, mengatakan telur ayam yang digunakan untuk jamu adalah telur ayam kampung dan dengan jumlah ganjil juga dicampur bahan-bahan lain. Mattali membayangkan wajah Markoya, ia yakin Markoya akan terpuaskan di atas ranjang.
“Karena telur kampung itu, anak saya dua belas. Sekarang ini, saya juga punya cucu belasan.” Tawa Matrah meledak disusul derai tawa Mattali.
Tiga minggu setelah Mattali minun jamu dicampur telur tiga butir, sebagaimana anjuran Ke Matrah, birahi laki-laki itu meronta-ronta, minta digesek batang kemaluannya. “Saya sudah lake’.’” Gumam Mattali dengan binar-binar kebanggaan di matanya. Tanpa pikir panjang, ia berkunjung ke rumah Markoyah, berniat rujuk, siap membuktikan khasiat tiga butir telur pada perempuan cantik, rebutan lelaki kampung itu.
Mattali berdiri dengan mulut ternganga, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan, begitu melihat Markoya digandeng laki-laki keluar dari dalam rumah. Matanya terpaku pada laki-laki yang mengalungkan tangan pada bahu Markoya. Berusaha meredam golak di dadanya, Mattali menelan ludah.
“Saya sudah menikah, kita tak bisa rujuk. Dia benar-benar lake’ tidak sepertimu!’” kata Markoya sembari tersenyum memandang laki-laki di sampingnya, suaminya itu.
“Siapa dia?” Mattali menekan suaranya.
“Dia anak Ke Matrah. Dua hari lalu kami menikah.” Jantung Mattali terasa akan lepas dari tangkainya begitu Markoya menyebut nama Matrah. Huh! Gigi Mattali bergemerutuk. Ia melenggang pulang membawa kesedihan. Terus bergegas lekas langkah Mattali, dan ia seolah begitu berhasrat mencincang tubuh Matrah, lelaki tua yang baru saja mengajarinya cara meramu butir telur ganjil agar menjadi lake’.
Pulau Garam, 2017

Catatan:
[1] Tak Lake’ Ongghu Bekna Kak : sungguh tidak jantan kamu Mas (ucapan ini dimaksudkan kepada lelaki yang tidak dapat memuaskan istrinya di ranjang).
[2] Lake’: jantan, merujuk pada kelelakian, juga bisa dimaknai laki-laki.
[3] Tarebung: pohon siwalan
[4] Taneyan lanjang : halaman panjang
[5] Kobhung : berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati, atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hampir semua bangunan di Madura memiliki kobhung. Letaknya rata-rata di sebelah barat. Kobhung berfungsi sebagai tempat peristirahatan, berkumpulnya kerluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan beribadah keluarga. Kobhung ini juga sebagai tempat pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.
[6] Ke: kakek

*)Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal, seperti; Jurnal Nasional. Femina. Nova. Republika. Suara Merdeka. Padang Ekspres. Kuntum. Almadina. Joglo Semar. Banjarmasin Post. Merapi. Radar Surabaya. Kabar Madura. Suara Madura Koran Madura. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (2013) Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (2013) Perempuan dan Bunga-bunga (2014).Gisaeng (2015). Tinggal di Madura. Email; lelakipulaugaram@gmail.com

Gugur Muda – Berryminor, Dedikasikan Lagu untuk Lima Korban Demonstrasi

Musisi Malang, Berryminor. (Istimewa)
Musisi Malang, Berryminor. (Istimewa)

MALANGVOICE – Musisi Malang, Berryminor merilis single pertamanya berjudul Gugur Muda. Lagu ini didedikasikan untuk lima korban tewas saat gelombang aksi demonstrasi bertajuk Reformasi Dikorupsi di berbagai daerah, 23, 24 dan 30 September 2019 lalu.

Pemilik nama lengkap Fahzlurr Berri Almustapha ini tak bisa menutupi keresahannya. Terutama saat membaca berita tentang para korban meninggal diduga akibat kekerasan oleh aparat saat demonstrasi melalui layar handphone miliknya, ditemui MVoice, Minggu (20/10).

Ia mengatakan, lagu berjudul Gugur Muda merupakan single pertamanya dan didedikasikan untuk Bagus Putra Mahendra, Akbar Alamsyah dan Maulana Suryadi, demonstran yang meninggal usai aksi berujung ricuh dengan polisi di Jakarta. Lalu, Imawan Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi, mahasiswa Universitas Haluoleo di Kendari. Lagu ini bisa diakses di YouTube Berry Minor atau di kanal Berry Minor

“Gugur Muda merupakan surat kecil untuk korban kekerasan demonstrasi reformasi dikorupsi. Saya mencoba menyuarakan keresahan di dalam lagu ini,” kata pria akrab disapa Berry ini.

Gugur Muda, lanjut dia, musik beraliran electronic naratif yang juga menceritakan tentang bentuk simpatinya terhadap korban kekerasan demonstrasi #reformasidikorupsi lainnya yang berjumlah ratusan di berbagai kota di Indonesia, sebut saja Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Kendari, Malang, Surabaya dan berbagai daerah lainnya.

Alumnus Universitas Negeri Malang ini memandang, masih belum ada titik terang mengenai pelaku kekerasan tersebut. Hingga merenggut lima nyawa demonstran.

“Dan ribuan orang lain yang tertangkap mulai dari tanggal 24-30 september 2019,” ujarnya.

Lagu Gugur Muda berdurasi lima menit ini juga menceritakan tentang penderitaan ayah, ibu yang menjadi seorang buruh dan seorang petani.
Pria kelahiran Kota Malang 27 tahun silam ini berharap agar persoalan tersebut segera diselesaikan secara adil menurut aturan hukum yang berlaku.

“Dan saya berdoa untuk kelima korban meninggal dunia semoga diberi ketenangan,” tutup pria juga pernah tergabung dalam band Malang, A Strong Boy ini. (Der/Ulm)

Mattali

Oleh: Zainul Muttaqin*

Belum genap satu tahun ketika Mattali angkat kaki setelah ribut besar dan istrinya berkata lantang sampai gendang telinga laki-laki paruh baya itu hampir pecah, “Tak Lake Ongghu Bekna Kak[1]. Ceraikan saja aku!” Bagai dirobek harga diri Mattali mendengar istrinya berkata, tinggi suaranya, tepat di depan wajahnya.
Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Wajah Mattali menegang. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis meliuk-liuk, seperti terombang-ambing. Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Tirai jendela disibak oleh tiupan angin. Mattali menelan ludah berkali-kali.

“Apa tidak ada cara lain selain bercerai?” Mattali menekan suaranya.

“Tidak!” Istrinya memandang wajah Mattali. Laki-laki itu mengatur laju napasnya. Dipandanginya wajah istrinya, tampak berharap cepat-cepat Mattali menghilang dari pandangannya.

Belum sempat Mattali mengucap cerai, istrinya berujar, mendahului Mattali, “Kita bisa rujuk setelah kau benar-benar lake[2].” Binar-binar di mata Mattali terpancar selepas istrinya berkata seperti itu. Pelan-pelan ia mulai mengulas senyum.

Jarum jam berhenti tepat di angka dua belas dini hari. Dengan gemetar, terbata-bata, Mattali berujar, “Aku ceraikan kau,” berderai air mata laki-laki paruh baya itu. Markoya menggeleng kepala. Markoya menutup pintu kamar dan membiarkan Mattali berdiri di ruang tamu dengan perasaan tercabik-cabik. Mattali mencangkuli dirinya sendiri.

Duduk di kursi berwarna biru tua, dengan cat yang mulai mengelupas karena usia. Mattali berpikir sesaat. Dia mencari jalan keluar atas persoalan rumit yang tengah menimpanya. Sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Dengkur Markoya dari dalam kamar mengusik pikirannya, ingin ia seranjang lagi, tapi buru-buru Mattali mengucap istighfar .

Detak jarum jam bergeser begitu lambat dirasakan Mattali. Laki-laki itu mengelus dada. Saat asap rokoknya lenyap, Mattali menampari pipi dan kaki. Nyamuk hutan dari belakang rumah ternyata berusaha menghisap darah laki-laki kekar itu sejak tadi. Puntung rokok di dalam asbak bergelimpangan.

Bangun pagi-pagi sekali Markoya sudah tidak melihat Mattali di ruang tamu, di kursi lapuk itu. Bau keringat Mattali juga tak tercium. Markoya berjalan ke halaman depan rumahnya, menarik napas dalam-dalam, melegakan dada ringkihnya yang semakin menyempit. Kicau burung di atas pohon tarebung[3] mengingatkannya pada Mattali.

Sampai perceraian itu terjadi belum sanggup Mattali memetik bunga indah yang tumbuh di pangkal paha Markoya. Laki-laki itu menjadi tak lake menghadapi istrinya yang bersedia bunga mekar di selangkangannya dipetik oleh Mattali. Berkali-kali Mattali berusaha, berkali-kali pula kesia-siaan itu terjadi pada dirinya. Itulah yang mendasari Markoya minta dicerai kepada Mattali.

Sekalipun Mattali tidak menceritakan perihal rumah tangganya yang tercerai-berai, tapi warga Tang-Batang sudah bisa mengendusnya. Orang-orang memang berusaha mengetahui, maksud Mattali berada di rumah ibunya, sepanjang waktu, sejak satu minggu lalu. Melintas pikiran curiga, tepatnya bertanya-tanya, apa penyebab Mattali menceraikan Markoya, kembang desa yang dulu diperebutkan semua laki-laki?

Berderet ikan-ikan dijemur di halaman. Amis menyeruak. Perempuan-perempuan itu duduk memanjang dengan rambut terlepas digerai sebahu, mereka bergunjing sembari menisik kutu. Diam-diam mereka mencuri pandang pada Mattali. Laki-laki itu duduk di beranda rumah, menghisap batang rokoknya, dengan secangkir kopi di atas meja.

“Karena Mattali tak lake ” kata perempuan gempal setelah sebelumnya melirik ke arah Mattali.

“Jadi gara-gara itu Mattali cerai dengan Markoya.”

“Gara-gara apa lagi kalau bukan itu.”

“Mestinya Mattali sudah siap jamu sebelum menikah. Kalau seperti ini kan malu.”

“Malu sama siapa?”

“Malu sama semua orang.”

“Untung suamiku lake.”

“Ya jelas suamimu lake lah, anakmu sudah tiga. Apalagi aku.” Kelakar tawa meledak di halaman. Mattali menoleh, melihat pada perempuan-perempun itu.

Mendadak degup jantung Mattali melaju lebih cepat. Ia merasa perempuan-perempuan itu tengah mengunjingkan dirinya. Sempat ia bersitatap dengan salah satu perempuan itu, tersenyum mengejek, merendahkan. Gegas Mattali masuk ke dalam. Terlampau sakit hati Mattali. Laki-laki paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian bersama napas yang ia lepas, tangannya memukul meja hingga cangkir kopi di atasnya bergelinding ke lantai, pecah.

Ingin dimakinya perempuan-perempuan di taneyan lanjang[4] itu. Mendidih darah Mattali. Laki-laki itu meludah, membuang rasa kesal terhadap perempuan-perempuan itu. Ia berdiri di ambang pintu, berpikir ulang, menimbang-nimbang, apa melabrak perempuan-perempuan itu akan menyelesaikan persoalan? Lagi pula, ia tahu, perempuan-perempuan di Tang-Batang gemar berguncing, atau memang demikian perempuan kebanyakan.

Khawatir malah akan dipermalukan di taneyan lanjang itu oleh perempuan-perempuan yang duduk memanjang, menisik rambut, disertai berbagai ragam gunjingan. Mattali mengurungkan niat. Menutup pintu rumahnya kembali. Ia mengatur alur laju napasnya. Asap rokok menyumbat tenggorokannya.

Mattali baru ingat, ternyata Markoya pernah bilang, “kita akan rujuk kalau kamu sudah lake´ ingatan itu mampir dalam tempurung kepalanya tepat ketika laki-laki paruh baya itu berusaha meredam amarah. Dan perempuan-perempuan itu sudah lenyap di taneyan lanjang. Mattali memandang penuh selidik, takut mendadak muncul perempuan-perempuan itu di hadapannya. Bergegas ia melewati taneyan lanjang, tempat perempuan-perempuan itu semula menisik kutu.

Dalam remang sore hari, lepas maghrib Mattali melangkah begitu lekas, melewati gang-gang rumah yang sempit. Ia terus melangkah untuk segera sampai di rumah Matrah, tukang pijat di desa sebelah, juga seorang dukun yang sering dimintai tolong bila berususan dengan kelelakian. Keringat membasuh tubuhnya.

Mattali kian mempercepat langkahnya. Tak menjawab apalagi sekadar menoleh ketika seseorang menyapanya dari teras rumah. “Tak biasanya Mattali acuh seperti itu,” bisik lelaki di teras rumah itu. “Paling-paling karena orang-orang bilang tak lake ia jadi begitu Kak,” sambung istrinya. Pasangan suami-istri itu saling tatap, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua bahunya.

Setelah susah payah berjalan kaki, Mattali tiba di halaman rumah Matrah, lelaki yang dikenal bisa mengatasi segala persoalan kelelakian. Seorang lelaki tua, rambutnya hampir putih seluruhnya, memegang tongkat di tangan sebelah kanan berdiri di depan kobhung[5] tempat Matrah biasa menerima tamu-tamunya. Lampu teplok meliuk-liuk, bertahan dari tiupan angin.

“Kamu mau pijat?” Matrah mengajukan pertanyaan. Ia mengambil minyak urut yang diselipkan di tiang kobhung.

“Tidak Ke[6]” Mattali mengulas senyum, disertai gelengan kepala.

“Lalu?” Laki-laki tua itu memburu jawaban dari Mattali.

“Saya tak lake. Beri saya jalan keluar. Karena ini, saya sampai cerai dengan Markoya.” Mendengar penjelasan itu, Matrah mengangguk-anggukan kepala. Matrah keluar sebentar dari dalam kobhung dan kembali dengan membawa beberapa butir telur dalam genggaman tangannya. Mattali mengernyitkan kening, seolah ingin bertanya, apa maksudnya?

“Saya yakin kamu belum jamu telur ini sebelum menikah,” Matrah menunjukkan tiga butir telur kampung ke hadapan Mattali. Laki-laki setengah baya itu menggeleng.

“Dengan telur kampung ini. Insya Allah kamu akan lake.”

“Kenapa tiga butir Ke?” Mattali mengambil telur itu dari genggaman Matrah.

“Saya tidak tahu pasti soal itu. Yang jelas harus berjumlah ganjil. Barangkali karena Tuhan suka yang ganjil-ganjil.”

“Apa ada campuran lain selain telur ini Ke?” Mattali tidak sabar ingin membuktikan khasiat telur ayam kampung. Laki-laki itu menyesal, kenapa dulu, sebelum menikah ia tak bertanya perihal ini. Mana mungkin Mattali sempat bertanya tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Pernikahannya dengan Markoya terjadi secara mendadak, berlangsung cepat begitu saja, tanpa persiapan.

“Nanti saya beri tahu,” Mattali mengangguk. Beberapa menit kemudian, Matrah berbisik di telinga Mattali, mengatakan telur ayam yang digunakan untuk jamu adalah telur ayam kampung dan dengan jumlah ganjil juga dicampur bahan-bahan lain. Mattali membayangkan wajah Markoya, ia yakin Markoya akan terpuaskan di atas ranjang.
“Karena telur kampung itu, anak saya dua belas. Sekarang ini, saya juga punya cucu belasan.” Tawa Matrah meledak disusul derai tawa Mattali.

Tiga minggu setelah Mattali minum jamu dicampur telur tiga butir, sebagaimana anjuran Ke Matrah, birahi laki-laki itu meronta-ronta, minta digesek batang kemaluannya. “Saya sudah lake.” Gumam Mattali dengan binar-binar kebanggaan di matanya. Tanpa pikir panjang, ia berkunjung ke rumah Markoyah, berniat rujuk, siap membuktikan khasiat tiga butir telur pada perempuan cantik, rebutan lelaki kampung itu.

Mattali berdiri dengan mulut ternganga, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan, begitu melihat Markoya digandeng laki-laki keluar dari dalam rumah. Matanya terpaku pada laki-laki yang mengalungkan tangan pada bahu Markoya. Berusaha meredam golak di dadanya, Mattali menelan ludah.

“Saya sudah menikah, kita tak bisa rujuk. Dia benar-benar lake tidak sepertimu!” kata Markoya sembari tersenyum memandang laki-laki di sampingnya, suaminya itu.

“Siapa dia?” Mattali menekan suaranya.

“Dia anak Ke Matrah. Dua hari lalu kami menikah.” Jantung Mattali terasa akan lepas dari tangkainya begitu Markoya menyebut nama Matrah. Huh! Gigi Mattali bergemerutuk. Ia melenggang pulang membawa kesedihan. Terus bergegas lekas langkah Mattali, dan ia seolah begitu berhasrat mencincang tubuh Matrah, lelaki tua yang baru saja mengajarinya cara meramu butir telur ganjil agar menjadi lake.

Pulau Garam, 2017

Catatan:
[1] Tak Lake Ongghu Bekna Kak : sungguh tidak jantan kamu Mas (ucapan ini dimaksudkan kepada lelaki yang tidak dapat memuaskan istrinya di ranjang).
[2] Lake: jantan, merujuk pada kelelakian, juga bisa dimaknai laki-laki.
[3] Tarebung: pohon siwalan
[4] Taneyan lanjang : halaman panjang
[5] Kobhung : berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati, atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hampir semua bangunan di Madura memiliki kobhung. Letaknya rata-rata di sebelah barat. Kobhung berfungsi sebagai tempat peristirahatan, berkumpulnya kerluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan beribadah keluarga. Kobhung ini juga sebagai tempat pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.
[6] Ke: kakek

*)Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal.

Pemilu Dalam Ancaman Hoax

Oleh :
SUGENG WINARNO

Semakin mendekati hari pencoblosan pada 17 April, ancaman hoax semakin menjadi-jadi. Produksi dan distribusi hoax semakin masif menyebar ke masyarakat. Pada masa tenang pun hoax yang berkait pemilu masih saja terjadi. Hoax merasuk lewat beragam platform media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, personal blog, portal berita online, dan Youtube menjadi media beredarnya hoax. Aplikasi pertemanan berbasis Android seperti WhatsApp (WA) juga tak steril dari konten hoax. Hoax telah menjadi ancaman yang membahayakan pelaksanaan pilpres 2019.
Hoax adalah informasi atau berita bohong. Karena informasi tak benar, maka kehadiran hoax banyak memicu persoalan serius. Melalui penciptaan hoax, orang atau pihak tertentu bisa mendapat keuntungan. Keutungan menebar hoax bisa bernilai finansial, karena saat ini hoax telah menjadi industri. Di samping itu, kemunculan hoax telah digunakan pihak tertentu sebagai amunisi menyerang dan menjatuhkan lawan.
Sejak munculnya media baru (new media) yang berwujud internet, hoax muncul meracuni semua pengguna internet. Efeknya sangat ampuh. Hoax yang awalnya beredar lewat dunia maya pengaruhnya bisa sampai dunia nyata. Bahkan muncul hoax yang disebarkan langsung ke masyarakat secara door to door. Kini hoax telah menjadi semacam makanan sehari-hari masyarakat. Penetrasi hoax sangat kuat hingga tak jarang orang kesulitan memilah yang hoax dan yang bukan.

Kejamnya Hoax Politik
Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), telah terjadi peningkatan kemunculan hoax sejak bulan Agustus 2018. Awalnya pada Agustus 2018 ditemukan 25 hoax dan sepanjang bulan Februari 2019 saja ada sejumlah 353 hoax. Jumlah total hoax periode Agustus 2018 hingga Februari 2019 sebanyak 771 hoax. Dari jumlah total itu sebanyak 181 adalah hoax politik. Hoax yang sengaja dibuat untuk menyerang pasangan calon, partai politik, KPU, Bawaslu, dan beberapa pihak terkait pemilu 2019.
Hoax politik muncul disinyalir digunakan oleh pihak dan pendukung fanatik calon yang sedang ikut berkontestasi. Hoax telah digunakan sebagai salah satu strategi menyerang dan melemahkan kekuatan lawan. Hoax muncul dengan sangat kejam melalui penciptaan pesan-pesan kebohongan tentang keburukan atau kelemahan kandidat tertentu. Upaya pembunuhan karakter melalui hoax sering muncul terutama saat masa kampanye politik berlangsung.
Hoax juga menyerang penyelenggara pemilu. Beberapa kali KPU mendapat serangan hoax. Hoax tentang hasil penghitungan suara pemilu 2019 di luar negeri misalnya. Hoax yang muncul sejak Rabu, (10/4/2019) ini terus menggelinding hingga sekarang. Sebelumnya, KPU juga telah diterpa hoax tentang tujuh kontainer yang telah tercoblos. Setelah dilakukan pembuktian, ternyata berita itu hanya isapan jempol belaka.
Hoax yang menyerang KPU sungguh sangat kejam. Hoax ini bisa berpengaruh serius terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan pemilu 2019. Munculnya hoax dengan sasaran KPU berpotensi mendelegitimasi pemilu dan dapat memicu kekacauan. Bisa jadi hoax yang menyerang KPU akan terus terjadi hingga pasca pemungutan suara. Segala hal terkait pelaksanaan pemilu mulai dari proses pencoblosan hingga penghitungan suara bisa saja menjadi materi yang dapat dijadikan hoax.
Kejamnya ibu tiri tak sekejam hoax politik, demikian kiranya untuk menggambarkan dampak dari munculnya hoax. Hoax sengaja dibuat untuk memporakporandakan tatanan pemilu yang demokratis. Hoax juga telah mampu mengusik rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Hoax telah muncul sebagai medium adu domba diantara anak bangsa. Hoax telah menjadikan kontestasi politik tak bermartabat, hilang etika, dan musnahnya kesantunan politik.

Melek Media, Melek Politik
Salah satu yang menyebabkan tumbuh suburnya hoax adalah rendahnya tingkat literasi media (media literacy) dan literasi politik (political literacy). Kemampuan melek media dan melek politik ini menjadi satu paket pengetahuan yang urgen dimiliki masyarakat. Hal ini penting mengingat relasi antara media, terutama media sosial dan dunia politik memang sangat erat. Simbiosis antara politik dan media perlu dipahami masyarakat.
Kemampuan mengerti bagaimana politik dan bagaimana praktik media akan sangat membantu masyarakat dalam melawan hoax. Karena tak jarang masyarakat menelak mentah-mentah beragam hoax politik karena pengetahuan mereka tentang politik sangat terbatas. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang politik berimbas pada gampangnya masyarakat percaya pada hoax politik.
Senada dengan pentingnya melek politik, pengetahuan tentang melek media juga menjadi keharusan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa tak semua yang disajikan media, terutama media sosial itu sebuah kebenaran. Beragam informasi yang beredar di media sosial itu mayoritas tanpa proses verifikasi. Tak jarang informasi di media sosial tak bersumber fakta, hanya sebuah rekaan dan rekayasa sang pencipta hoax.
Disinilah peran media arus utama (mainstream media) sebagai filter atas beragam informasi di masyarakat yang tak jelas kebenarannya. Media massa harus mampu hadir sebagai penjernih informasi (the clearance of information). Munculnya rublik cek fakta (fact check) di beberapa media misalnya, sangat penting sebagai sarana bagi masyarakat untuk mengecek kebenaran informasi yang didapat.
Semua pihak yang terkait pemilu 2019, media massa, media sosial, dan semua masyarakat punya tanggungjawab yang besar untuk menyukseskan pemilu ini. Segala rupa hoax politik harus bisa ditepis dengan kecerdasan dan sikap kritis masyarakat. Kemampuan melek media dan melek politik masyarakat harus terus ditingkatkan. Perlu peran pemerintah, aparat, penyelenggara pemilu, partai politik, akademisi, tokoh masyarakat, para figur publik, dan segenap influencer untuk mengedukasi masyarakat agar menjadi media and political literate.
Badai hoax yang mengiringi proses pemilu 2019 ini semoga segera berlalu. Ancaman dasyatnya badai hoax semoga bisa ditepis oleh semua lapisan masyarakat. Pemilu yang menelan biaya tak kurang dari 25 triliun ini harus sukses menemukan para pemimpin bangsa yang terbaik. Terlampau mahal ongkos yang harus ditanggung bangsa ini kalau pemilu sampai gagal. Semoga semua yang ikut berkontestasi dalam pilpres dan pileg, para simpatisan dan pendukung fanatik mampu menyuguhkan cara-cara yang fair play dalam berkompetisi.
Pesta demokrasi lewat pemilu kali ini semoga mampu membawa kegembiraan bagi semua. Bagi sang kandidat, pendukung setia, maupun masyarakat. Pilihan politik bisa saja berbeda, tetapi yang terpenting, siapapun yang menang sejatinya itu kemenangan seluruh masyarakat Indonesia. Yang menang jangan Jumawa, yang kalah harus legowo.

*) Sugeng Winarno, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

MEA, Tantangan, Peluang Atau Ancaman?

Oleh: Dra Erlin Iriani MM *

MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) masih terasa asing bagi sebagian masyarakat Malang Raya. Bagi para pelaku usaha, MEA berarti pasar bebas antar negara-negara Asean yang akan berlaku mulai akhir 2015. Apa yang sudah dipersiapkan Pemda Malang Raya dalam puluhan hari kedepan untuk menyambutnya?

Pasar bebas negara negara Asean artinya tidak akan ada lagi hambatan-hambatan penetrasi pasar antar negara Asean. Kesepakatan menjadi pasar tunggal antar negara-negara Asean sudah dicanangkan kurang lebih satu dekade lalu. Seyogyanya para pelaku bisnis dan operator bisnis sudah menyiapkan beberapa strategi jitu untuk menghadapi ini.

Bagi Masyarakat Malang Raya, ada dua hal penting yang seharusnya menjadi fokus ‘pertarungan’ di pasar bebas itu, yaitu produk dari industri kecil dan menengah serta bursa tenaga kerja. Persiapan Pemerintah Pusat melalui Kementerian perindustrian jauh hari sudah menyiapakan SNI (Standard Nasional Indonesia) dan SKKNI (Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia).

Potret Produk Industri Kecil & Menengah

Sudahkan semua produk yang dihasilkan industri kecil dan menengah di Malang Raya memenuhi SNI? ini yang harus di cek pihak terkait. Berapa persen yang sudah mencantumkan lebel SNI di kemasan produknya, dan berapa persen yang belum. Bagi yang belum, pihak pemerintah terkait harus memberikan stimulan bagi pelaku usaha kecil/menengah dengan membantu meraih sertifikat mutu produk dan kemasan. Tentu akan sangat berat bagi pelaku usaha kecil/menengah bila produk mereka belum terstandarisasi. Dan bahkan akan hilang dipasaran karena kalah bersaing dengan produk-produk yang bersetifikat.

Diperlukan penguatan kerjasama antar pengusaha yang berada di sentra-sentra industri. Seperti industri makanan ringan (snack) keripik tempe di kawasan Sanan dan industri kerajinan keramik di kawasan Dinoyo Malang. Dan beberapa kawasan sentra industri yang lain.

Diharapkan dari setiap sentra industri, produk-produk lokal bisa menjadi primadona, produk-produk lokal harus leading untuk kualitas produk, harga yang kompetitif dan kemasan yang menarik, Jangan sampai kalah dari produk luar. Perkuat personal branding, perluas pemasaran dengan digital marketing dan harus selalu mempertajam creative thingking agar produk selalu mempunyai nilai tambah (added value). Dengan selalu berkreasi /berinovasi maka produk-produk lokal bisa terus leading di era pasar bebas mendatang.

Saat ini produk-produk makanan ringan dari Cina sudah banyak kita temukan di pasaran. Produk-produk Cina tersebut mempunyai keunggulan harga yg sangat kompetiif sehingga begitu mudah menerobos pasar lokal kita. Maka strategi harga harus mulai dirancang agar pada akhir tahun 2015 kita tidak semakin kebanjiran produk-produk Cina yang mungkin akan masuk dengan gencar ke negara kita melalui negara-negara Asean.

Bursa Tenaga Kerja

Untuk tingkat buruh (labour) bisa kita pakai sebagai bahan renungan, para TKI kita seringkali mendapat perlakuan yang tidak manusiawi di negara tujuan kerja mereka. Daya proteksi diri yang rendah dikarenakan sklill yang kurang dan wawasan keilmuwan dan hukum yang masih sangat terbatas. Diperlukan pusat pelatihan ketrampilan/skill tenaga kerja yang memadai dan terstandard internasional agar TKI kita tidak menjadi ‘bulan-bulanan’ di negara tujuan kerja mereka. Mengingat Kabupaten Malang merupakan salah satu wilayah yang banyak mengirim TKI ke luar negeri.

Untuk para pencari kerja tingkat staff (middle class) masih banyak yang terkendala dengan penguasaan bahasa asing/inggris. Untuk itu para pencari kerja tingkat staff ini harus meningkatkan penguasaan bahasa asing agar dapat bersaing dengan pencari kerja dari negara-negara Asean, jangan sampai pekerja asing yang sudah terstardard internasional menyerbu lowongan kerja yang ada di negara kita sementara kita sulit menembus lowongan kerja di negara-negara Asean.

Mari mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambut tantangan MEA, agar MEA menjadi peluang, bukan ancaman bagi Malang Raya. Good luck!

*Dra Erlin Iriani MM, Wakil Kabid Sosial KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia) Kota Malang.

Cavillatio Tata Kelola Toko Modern di Kota Malang

Oleh: Soetopo Dewangga *

Cavillatio merupakan bahasa latin yang artinya ‘alasan yang dicari-cari’. Cavillatio tata kelola toko modern Kota Malang, tak lain alasan yang dicari-cari tentang niat baik tata kelola toko modern oleh penyelenggara Negara, dalam hal ini Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) dan Dinas Perindustrian Perdagangan Kota Malang.

Pernyataan Kepala BP2T beberapa waktu lalu di media, antara lain ….. “selagi aturan digodok, pihaknya belum bisa berbuat banyak, kalau ada yang mengajukan perpanjangan izin operasional, kami masih layani sampai sewa lahan di tempat mereka habis.”

Pernyataan itu merupakan reproduksi kebohongan pada publik atas aturan baku operasional toko modern di Kota Malang, yaitu Perda No 8 Tahun 2010 pasal 25 ayat 1, yang menyatakan, Pelaku usaha yang akan melakukan kegiatan usaha di bidang Toko Modern, wajib memiliki IUTM untuk Minimarket, Supermarket, Department Store, Hypermarket dan Perkulakan.

Sementara izin yang dikeluarkan BP2T atas operasional toko modern hanya HO dan Amdal lalin (sebagaimana terungkap dalam hearing bersama DPRD,BP2T, Disperindag, Pemuda Demokrat dan Aliansi Masyarakat Peduli UMKM, Selasa, 6 Oktober 2015). Sebuah kejanggalan ketika BP2T masih akan melayani izin sampai sewa lahan mereka habis, lalu apa hubungan sewa lahan dengan izin operasional toko modern, yang syarat mutlaknya adalah IUTM.

Ada pertanyaan menggelitik, bisakah seorang penyewa mengajukan advice planning (AP)? Karena mayoritas tempat usaha toko modern tidak sesuai dengan peruntukan berdasarkan tata ruang wilayah? Bisakah seorang penyewa mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), karena mengajukan AP dan IMB melekat atas kepemilikan hak?

Pernyataan ini justru mengundang pertanyaan balik, jangan–jangan tempat usaha toko modern tidak memiliki IMB, karena mayoritas pemilik usaha hanyalah penyewa lahan. Maka verifikasi faktual sebagai alat ukur untuk memastikan bahwa tempat usaha toko modern itu legal atau tidak, dilihat dari salah satu prasyarat IMB.

BP2T bukannya tidak paham terhadap syarat mutlak atas pasal 25 ayat 1 Perda Nomor 8 Tahun 2010, sesungguhnya publik tidak perlu mengajari bebek untuk berenang, tetapi yang lebih penting bahwa publik meyakini, publik memastikan bahwa bebek itu pasti bisa berenang. Ibarat Seorang Muslim yang akan menunaikan ibadah sholat, maka harus wudlu, agar sholatnya sah. Maka wudlu menjadi syarat mutlak untuk menjalankan ibadah sholat. Dan IUTM adalah syarat mutlak operasionalnya toko modern, dan jika tidak dipenuhi, oprasionalnya jelas illegal.

Sementara itu pernyatan Kepala Dinas Perindustrian dan perdagangan Kota Malang, Tri Widyani (20 Oktober 2015), di media yang sama, menyatakan, “selama ini belum ada perda atau perwali yang spesifik mengatur toko modern. Kami akan membuat peraturannya dulu, harus ada perda atau perwali yang mengatur, ini sedang kami kaji”.

Ungkapan itu berbanding lurus dengan pernyataan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Sugiantoro, lima tahun lalu, tepatnya pada 10 September 2010, yang menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa membatasi pendirian toko swalayan karena dalam Perda No 12 Tahun 2001 tentang pengaturan usaha dan distribusi bidang industri dan perdagangan tak disebutkan tentang aturan pengoperasian toko modern. Untuk itu Perindag akan mengusulkan revisi Perda No 12 Tahun 2001, karena tidak relevan untuk diterapkan sekarang.

Ini bentuk nyata repetisi seorang pejabat pelayan publik yang cenderung mereproduksi kebohongan, lima tahun yang lalu Perindag akan mengkaji dan mengusulkan adanya Perda yang sudah tidak relevan, dan saat ini pun masih akan menggodok lagi, karena Perda dan Perwali yang ada belum cukup operasional untuk menata toko modern.

Seharusnya pejabat publik menyadari betul bahwa sifat mutatis mutandis Bab VI Pasal 12 ayat 1.c Perpres 117 tahun 2007, Jo Bab V pasal 10 ayat C Permendag 53 tahun 2008, Jo Bab VII Pasal 24 ayat 2.c , Pasal 26 ayat 2 Permendag No 70 tahun 2013, Jo BAB v Pasal 11 ayat 1- 5 Perda Propinsi Jawa Timur No 3 Tahun 2008 dan Jo Pasal 25 ayat 1 Perda No 8 tahun 2010, sudah sangat memadai untuk mengalasi operasionalnya toko modern di Kota Malang. Ini wujud nyata perlawanan aturan yang dilakukan si pembuat aturan itu sendiri dalam praktek pemberian layanannya.

Sudah saatnya BP2T dan Perindag Kota Malang berhenti cavillatio, dan menghindari prasangka buruk dari publik atas layanan yang diberikan yang jelas–jelas dan terang benderang bertentangan dengan regulasi yang ada. Segera bikin roadmap, tata toko modern di Kota Malang sesuai dengan aturan–aturan, yang sesungguhnya cukup memadai untuk memberikan perlindungan pada UMKM.

*Soetopo Dewangga, Ketua Cabang Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang dan Koordinator Paguyuban Toko Tradisional.

Islamophobia Barat…

Oleh: Andreansyah Ahmad *

MALANGVOICE – Tak akan pernah terlupakan di benak umat manusia, berbagai tragedi berdarah yang membunuh ribuan, bahkan jutaan umat manusia, di beberapa negara dengan mengatasnamakan Islam.

Pasca tragedi bom Paris beberapa waktu lalu, bangsa Barat kembali mengambil celah kembali untuk menjatuhkan citra Islam di mata dunia. Itu semua dimaksudkan untuk menciptakan Islamophobia, ketakutan terhadap Islam, yang dianggap identik dengan terorisme.

Kenyataan itu memang memberi citra buruk terhadap Islam, dan ini merupakan salah satu usaha kaum kapitalis untuk menyingkirkan Islam dari peradaban.

Kini, di mata bangsa Barat, Islam identic penuh dengan kekerasan. Sungguh disayangkan aksi-aksi teror yang mengatasnamakan Islam itu, padahal Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan peduduk beragama Islam terbesar di dunia. Ada beberapa agama lain hidup di Indonesia, tetapi bangsa ini tetap menjunjung tinggi nilai pluralisme.

Indonesia bukanlah negara Islam, meski mayoritas penduduknya beragama Islam. Kerukunan umat beragama di Indonesia patut diacungi jempol, dan ini seharusnya menjadi contoh bagi bangsa Barat.

Permasalahan yang ada, adalah banyak oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam untuk berbuat kekerasan, sehingga ini memudahkan kaum kapitalisme untuk menjatuhkan citra Islam.

Salah satu contohnya, ISIS, mereka menggunakan nama Islam untuk menghancurkan Islam. Padahal, bila dikaji, ISIS tak lain bentukan kaum kapitalisme, yang memang sengaja dibentuk untuk menjatuhkan citra Islam.

Penghancuran citra Islam dilakukan kaum kapitalis dengan intens dan massif. Maka, tak heran bila bangsa Barat kini mengalami phobia (ketakutan) dengan Islam, hingga lahirlah istilah Islamophobia.

*Andreansyah Ahmad, PMII Rayon Al-Kindi, Komisariat Unisma.