New Normal di tengah Bayang-Bayang Disfungsional Hukum

Ferry Anggriawan SH., MH

Pandemi covid 19 yang telah memborbardir tatanan hidup bangsa Indonesia baik dari segi ekonomi, sosial, politik dan budaya selama 3 bulan terkahir. Hingga sekarang, belum menemukan solusi baku dalam pemecahannya. Harapan kehadiran Pemerintah, sebagai penguasa yg diberikan legitimasi disetiap kebijakannya, adalah cita hukum yang harus ditegakkan melalui ritme tindakan hukum yang tepat. Supaya tindakan-tindakan hukum tersebut, dapat menjadi perisai untuk menjaga kestabilan negara dan dapat dijadikan pedang demi tegaknya supremasi hukum.

Beberapa produk hukum Pemerintah, baik melalui instrumen hukum tertulis maupun tindakan hukum publik (kebijakan) seperti; disahkannya Perpu No 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Covid 19 menjadi Undang-undang oleh DPR, kebijakan beberapa Pemerintah Daerah yang menerapakan PSBB dan ada juga yang sudah melonggarkan, sesuai dengan kebutuhan daerahnya dan yang terbaru adalah konsep new normal sebagai pertimbangan dampak ekonomi akibat pandemi ini. Perubahan status hukum dan arah kebijakan tersebut berimbas kepada Aparatur Negara yang harus selalu siaga berimprovisasi disetiap tindakan hukum, dan masyarakat harus selalu siap beradaptasi dengan hadirnya kebijakan-kebijakan baru tersebut.

Fakta sosial hukum yang terjadi adalah, pertama; telah terjadi gugatan uji materiil yang dilakukan LSM Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) ke Mahkamah Konstitusi terkait Pasal 27 Undang-undang tersebut yang mengisyaratkan adanya kekebalan hukum terhadap setiap tindakan dan keputusan yang diambil oleh Pemerintah dalam rangka pelaksanaan kebijakan, melalui tidak adanya ruang gugatan, baik secara pidana atau perdata, bagi pihak-pihak yang kelak merasa dirugikan akibat kebijakan tersebut. Marwah hukum telah dicederai melalui Pasal ini, karena sangat bertentangan dengan asas equality before the law (semua orang dianggap sama dimata hukum). Pengecualian-pengecualian seperti ini yang menyebabkan hukum diterapkan melalui tindakan hukum yang bertentangan dengan nilai-nilai konstitusi.

Kedua; pemaksaan putar balik terhadap 9.960 kendaraan oleh Ditlantas Polda Jawa Timur yang hendak masuk maupun keluar Jawa Timur. Ini adalah bukti bahwa masih banyak masyarakat yang tidak percaya terhadap larangan mudik yang sudah ditetapakan oleh Pemerintah, padahal larangan tersebut mempunyai dasar hukum. Ketidak percayaan hukum yang mengakibatkan gagalnya rekayasa kehidupan bersama dalam penanganan pencegahan penyebaran covid 19 yang membuat hukum kehilangan tajinya dan menjauh dari tujuannya.

Kedua fakta hukum di atas adalah contoh bahwa produk hukum dan kebijakan yang dibuat selama ini, kehilangan sisi pendekatan sosiologi hukumnya. Peraturan Perundang-undangan yang bertentangan dengan nilai Konstitusi dan ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum merupakan perilaku yang mencederai marwah hukum, menghilangkan taring dan taji hukum. Ini merupakan permasalahan serius karena kedua perilaku tersebut merupakan akar disfungsional produk hukum yang selama ini mendasari setiap tindakan hukum Pemerintah. Krisis kepercayaan masyarakat terhadap hukum, harus segera diatasi karena kepercayaan adalah pangkal utama efektif atau tidaknya hukum, sebelum seseorang menaati hukum itu sendiri. Penyelenggaraan hukum yang berubah-berubah arah kebijakannya, diterapkan seperti pagi-sore, tergantung keuntungan, juga merupakan akar penyebab ketidakpercayaan masyarakat kepada hukum yang kelak menimbulkan disfungsional hukum. Fakta hukum di atas adalah pembelajaran yang harus dicarikan solusinya, kemudian diterapkan di era new normal saat ini.

Beberapa persiapan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang melalui Perwali yang tengah disiapkan untuk tatanan hidup baru (new normal) yang masih menunggu evaluasi Sekertaris Daerah Jawa Timur dan upaya Komisi III DPRD Kabupaten Kota Malang yang masih menggodok Perda terkait new normal adalah harapan bagi supremasi hukum dan tanggungjawab Pemerintah melalui instrumen hukum, untuk menekan penyebaran covid 19 dan memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan baru yang timbul akibat pandemi ini dengan prioritas berjalannya kembali roda ekonomi di Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Harapan kedepannya adalah Pemerintah Kota Malang dan Kabupaten Malang melalui Perwali dan Perda Masing-masing, meletakkan hukum sebagaimana fungsinya, yaitu; Pemerintah harus membuat norma hukum yang dapat memberikan solusi atas kran-kran permasalahan baru dan muncul akibat pandemi ini. Hendaknya norma baru menimbulkan unsur timbal-balik dan mempunyai keterikatan terhadap perilaku, baik oleh Masyarakat maupun Pemerintah. Jika keterikan tersebut sudah ada, maka eksistensi Pemerintah telah dirasakan oleh masyarakat, selanjutnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum akan timbul, sebagai kausa tajam yang akan menghilangkan bayang-bayang disfungsional hukum disetiap tindakan hukum Pemerintah.

*)Ferry Anggriawan SH., MH
Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Pentingnya Cara Berfikir Hukum dalam Menganalisa Isu Hukum

Ferry Anggriawan S.H, M.H
Ferry Anggriawan S.H, M.H

Oleh Ferry Anggriawan S.H, M.H

Kasus pembunuhan begal yang terjadi di Kabupaten Malang oleh tersangka berinisial ZA bukannya ditanggapi secara kritis, melainkan ditampilkan dalam bentuk sensasi

yang jauh dari inti permasalahan. Beberapa media memberitakan kasus ini melalui judul-judul yang jauh dari substansi permasalahan, seperti; “pembunuh begal di Malang demi membela pacar, ternyata juga punya istri”, ini bukan masalah pembunuh sudah beristri atau belum, tetapi ini adalah masalah hukum terkait pembunuhan bukan dibawa kedalam subtansi permasalahan melainkan pikiran pembaca dibiaskan dengan isu-isu yang jauh dari permasalahan hukum.
Cara berfikir hukum adalah mengolah bahan hukum-hukum positif dengan
menggunakan logika.Berfikir dengan menggunakan logika atau berfikir secara logis adalah befikir dengan menggunakan konsep, pengertian, doktrin, yang dibuat oleh hukum.Kasus pembunuhan begal yang dilakukan oleh ZA hendaknya dikritisi
dengan cara berfikir hukum yaitu dengan pasal yang berkaitan dalam kasus tersebut kemudian dengan pengertian dan doktrin yang sesuai dengan logika hukum.
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum menggunakan 4 pasal berlapis salah satumya adalah
Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup disayangkan
oleh tim Kuasa Hukum ZA, karena ZA dalam keadaan terpaksa melakukan perlawanan, begitu juga Penuntut Umum juga mempunyai alasan kenapa pembunuhan tersebut dikategorikan pembunuhan berencana sesuai dengan pasal 340 KUHP, adalah
karena pisau telah dibawa oleh ZA ketika berangkat dari rumah dan sebelum kejadian pembunuhan terjadi.
Secara hukum positif pembelaan yang dilakukan oleh tersangka ZA dapat
dikategorikan dalam noodweer (pembelaan terpaksa) yang diatur dalam Pasal 49
KUHP. Beberapa unsur yang harus dipenuhi agar seseorang dapat dikategorikan dalam pembelaan terpaksa adalah membela diri sendiri atau orang lain, kehormatan,
kesusilaan, harta sendiri atau orang lain, karena adanya serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat, dan perbuatan tersebut melawan hukum. Adapun domain terkait pembelaan terpaksa adalah pembelaan harus seimbang dengan serangan atau ancaman dan serangan tidak boleh melampaui batas (asas subsidioritas). Ada beberapa unsur yang telah terpenuhi bahwa ZA melakukan perbuatan tersebut
dapat dikategorikan sebagai pembelaan terpaksa yaitu; melindungi diri dan orang lain, melindungi harta sendiri dan orang lain, melindungi karena adanya ancaman yang sangat dekat dan adanya perbuatan melawan hukum yang ditujukan kepadanya. Di sisi lain ada perbuatan ZA yang dijadikan oleh Jaksa Penuntut Umum sebagai dakwaan melalui Pasal 340 KUHP tentang perencanaan pembunuhan,mengingat ZA sebelum kejadian perampokan dan ancaman pemerkosaan, ZA terlebih dahulu
membawa pisau sebelum pembelaan yang berakibat pembunuhan terjadi.
Hukum adalah seni berinterpretasi, semua berhak menyatakan dirinya benar atau
menyatakan kebenaran subjektifnya, tetapi disatu sisi orang lain juga berhak menyatakan kebenaran subjektifnya. Kuasa Hukum ZA mempunyai argumen hukum yang siap didialektikakan dipersidangan dengan argumen hukum dan saksi yang disiapkan oleh Jaksa Penuntut Umum. Harapan kedepannya adalah semoga Putusan Pengadilan terkait kasus ini mempunyai nilai keadilan bagi keduabelah pihak dan nilai kemanfaatan bagi kita semua.
Melalui kasus ini hendaknya kita lebih cermat dalam menganalisa isu hukum, karena isu hukum tidak pernah jauh dari logika hukum dan hukum positif yang berada di Indonesia. Janganlah kamu masuk dalam suatu perkara kecuali kamu tidak memiliki ilmu didalamnya, begitupun janganlah menganalisa suatu isu hukum tanpa melalui ilmu hukum dan cara berfikir hukum.

Ferry Anggriawan S.H, M.H
Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Rak Buku dari Plastik; Puisi-puisi Tjak S. Parlan

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

Tempat yang Terlalu Sempit untuk Bersedih

“Sudah bukan saatnya
kita berumah di kamar,” kataku.

Aku tahu, itu bukan perihal yang ingin kau dengar.
Kamu juga tahu, itu jenis pembicaraan yang paling sering
ingin kuhindari. Tapi hari ini, drama itu telah dimulai.

Buku-buku itu selalu menyita banyak waktu dan tempat.
Sementara, anak kita butuh lapangan bola, langit
cerah yang luas juga burung-burung origami
yang beterbangan di dalam rumah.

Tapi rumah adalah jarak, yang hanya bisa
ditempuh dengan cita-cita. Rumah bukan hari ini
—ia adalah sesuatu yang sering kita sebut
dengan mata berkunang-kunang sebagai nanti.

“Aku harus mulai memikirkan
tempat kerja di luar,” kataku.

Untuk ke sekian kali, kamu mendengar yang
seperti ini. Tapi mungkin benar, bahwa
masih banyak hal di luar yang menunggu didengar.
Sementara di kamar, kita belum kelar mengurusi
rasa lapar.

Tapi aku—juga kamu— tak akan menggigil,
oleh kering-dinginnya angin yang diembuskan
dari masa paceklik. Ini mungkin pancaroba, tak ada
waktu untuk merasa paling jatuh dan sia-sia.

Aku bahkan mulai ragu, bawa kita masih bisa bersedih
di tempat yang terlalu sempit untuk bersedih ini.

Pagesangan, 7 Mei 2017

 

Februari

Februari terdampar di bandar-bandar kecil,
seperti para kekasih yang rindu
dan tak kunjung bertemu.

Februari adalah pertemuan di sebuah rel kereta
yang lurus menjauh dalam lambaian tangan
di belakang rumahmu.

Februari adalah sebuah tikungan
yang memaksamu membunyikan bel sepeda
dan menoleh sedikit pada kenangan.

Februari adalah hujan yang tahan lama,
yang membuatmu menjadi kekasih sekaleng bir
dan kaca jendela.

Februari adalah rhinitis akut— atau semua itu—
yang menjauhkanmu dari segala cium.

Februari adalah penyamun yang tersesat di rumahmu
saat kau tertidur, dan menjarah
semua mainan anakmu.

Februari adalah kalender tua basah
yang lupa kau buang seluruh tanggal merah
di tempat sampah.

Februari adalah rencana-rencana
yang tergelincir di jalanan hujan
yang kerap terhapus para pejalan.

Pagesangan, 18 Pebruari 2017

 

Tengah Malam

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita sakit, dan sepenuhnya kita lupa
cara bercinta. Kita lupa mencatat
panggilan-panggilan darurat: panggilan taksi,
rekening pribadi, telepon rumah tetangga,
nomor kontak kawan dekat.

Kita lupa membalas SMS selamat ulang tahun itu.

Saat kau melangkah ke dapur, aku tahu
ada kalanya kita tak bisa mengandalkan bawang merah—
yang kerap membuat mata teduhmu berair dan membawa-bawa
aroma pasar ke dalam kamar—
atau paracetamol yang membeku di kotak obat: penghalau demam
bagi pemegang kartu BPJS itu.

Tapi kita tak punya kartu. Kecuali alamat sementara, kita tak punya
apa-apa yang penting untuk dicatatkan pada negara. Negara
tak butuh apa-apa dari kita—
negara adalah rezim yang paling mandiri.

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita yang bertahan dan lelah menangis,
tertidur dalam kantung matamu yang hangat
dan berat.

Lalu pukul empat dini hari, sebuah SMS masuk—
pesan pendek yang selama berbulan-bulan aku sembunyikan,
baik darimu, dari puisi, dari keadaan.

“Tak bisa tidur, Bung? Tak kau terima saja tawaran itu?

Aku terbayang ruang ICU, kantor polisi, jeruji besi,
kue ulang tahun, mobil mainan, sebuah brosur rumah bersubsidi.
Aku menatapmu, aku menatap ‘kekasih’ kecil kita
yang tertidur. Aku membalas sebuah pesan:

“Aku ikut. Aku jalankan.”

Sebelum tertidur, aku menghapus SMS itu darimu,
dari puisi, dari keadaan.

Pagesangan, 17 Pebruari 2017

 

Rak Buku dari Plastik

Rak buku dari plastik itu, terbebani
oleh janji para penyair yang ingin
menerbitkan buku:

oleh hasutan yang kerap diembuskan
dari sebuah toko buku
yang hening.

 

Bantal

Tak ada satu pun tempat yang pernah
disinggahi mimpi di sini.
Hanya sisa keramas:
helai-helai waktu yang tanggal
setiap pagi.

 

Hari Libur

Besok hari libur. Hari tenang
bagi sebuah keluarga sederhana.

Keluarga sederhana itu membeli sebuah koran
hari Minggu dan mulai membacanya:
(1) tak ada yang perlu dikhawatirkan
perihal kegaduhan itu, (2) musim kawin para
pemimpin, musim pemilihan rakyat jelata,
(3) kapan terakhir kali kamu piknik?

Menjelang siang, ketika orang-orang baru pulang
dari gereja, keluarga sederhana itu bertandang
ke museum kota.

“Di sini,” kata seorang penjaga, “tanda tangan
di buku tamu ini. Apa lagi yang bisa kami tawarkan?”

Keluarga sederhana itu menggeleng.
“Tak ada,” katanya, “kami hanya ingin menjenguk
sejarah yang lamban.”

Pagesangan, 19 Pebruari 2017

 

*Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975, kini bermukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Cerpen dan puisinya telah dikabarkan di sejumlah media, antara lain Koran Tempo, Media Indonesia, Femina, Lampung Post, Republika, Haluan Padang, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sumut Pos, Bali Post dan lain-lain. Diundang menghadiri Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, Oktober 2011) dan Jambi International Poet Gathering (Jambi, Desember 2012).

MEA = Melok Endi Ae

paitun gundul

logo paitun gundulUdan e deres pol, tapi bledheke gak muni, mek lhab lhab. Paitun ngiyup ndik emperan terase Cik San. Rodok sesek wong sing ngiyub kanyab, wayahe jam helom idrek. Unung bledhek gak muni, cobak dhar-dher, lak sing ngiyup bolak-balik njumbul, tekan kadoan osi koyok wayang titi, mek ganok sing salto.

Cik San mek songgowang, kethap-kethip ngantuk kademen. Switere yo pancet ae sing digawe, mulai taun piro, switere yo iku ae, sampek benthelane nglokor kabeh. Simpoane sampek ngethel.

Tapi wong kampung kene, masio nggrumbul kenek tampes banyu yo sik nglocor ae lambene, Kait maeng opo ae sing diomongno. Podo ngetet soale ngalahno suarane udan.

“Koyok awake dewe ngene iki osi-osi gak kanggo. Kalah stan lek gak siap. Ambekne lapo onok pasar bebas. Lha koyok awake dewe ngene iki lak iso terjun bebas ta, jup…. tlosoorrr…” jare Endik.

“Saiki bayangno, wong luar oleh bebas idrek ndek kene, lawetan los…, dagang yo sak karepe, sing kanyab modal yo tambah merdu. Durung liane…, ajur…ajur,” Bendhot sambat.

“Lha awakmu wingenane gak kolem pelatihan ta? Kapan iko Pak RW yo towo-towo kursus gratis ketrampilan. Jarene warga cek siap,” Sugik ngandani.

“Yo telat thes… ibarate kono wis siap perang, awake dewe kait dilatih mbedil. Yo osi halak sak sembarange ta, yo osi tiarap thok awak dewe. Opo lek gak ente-ente ini gawe titis-titisan. Yo dubukak ae kursus ngeles,” jare Bendhot. Okere bal-bel ae. Ketoke Sugik okere siba.

“Sam, okere utas Sam. Ate tuku, udan sam, ojir kari pisan,” jare Sugik ambek gayane ngrogohi kesak. Mblebes keblek iku. Pancet ae, apal ayas, batine Paitun. Lek tahlilan ambek wong-wong mesti ditengeri, lek ate rayub ngono oker sing ndik saleg disok ambik Sugik nang kerduse takreb. Hengg… mlorok nang ayas pethulo iku. Ketoke prei lawetan angsle, lha gak ketoki rombonge. Udan sik nggrojog, sikil mulai njebeber.

“Tambah jarene, wong-wong luar bakale grudukan sing ate idrek ndek kene. Tekok pietnam, tailan, pilipina, singgapor, ndi mene yo… wis pokoke… losss…ate kadit ayahab ta,” Endik ngroweng.

“Mulai tukang sampek professor. Mulai gedibal sampek penyanyi sak penarine. Kathik kodewne sarik-sarik. Iso-iso tukang cukur, tukang talang, depot sampek dokter. Bukak toko lhuw… bebas… bas!,” Endik tambah ngompori.

Krungu toko, Cik San langsung jumbul melek. Paitun kudu ngguyu tapi terus saaken. Digetno ae lek narik switer nang dodone, wis sing mburi bedah.

Bambing thenger-thenger, ketail mulai grogi. Iki ngono pisan, okeran ta nyusur. Beluk utem tekok irung thok hare, iso koyok anglo. Bendhot ngablak ae gak mari-mari.

“Ngene iki lek onok Samian, Budi, opo Londo iso step le’e lek krungu. Lha yoopo, ngeneae kesenian wis mengkis-mengkis. Bayangno ta, lek misale nggembruduk penari-penari sing mangglik-mangglik, tanggapan murah, katek meleg hatanges odum… hara koen, yoopo? Iku durung pelukis sing seniman opo sing daden-daden, hadak lawetan lukisan koyok lawetan taplak ae. Serem… serem iki!,” Lambene tipis ancene asbak iki.

“Ayas yo krunguh. Kabare… wong-wong sing ateh grudukan nang keneh iku kathik wis akli kabeh, masiyoh tukang yo propesional. Godir lek idrekan ae. Sudah berapah taun wis disiapnoh. Dikursusi boso Jowo, boso Indonesah. Sinau kebudayaane keneh. Negoro hadak suwanteh… woles. Kono woles, kene-kene iki sing mules akhire,” jare Bambing sampek gak kroso lek imblake teles separo ketetesan bocoran.

Sepi nyenyep sediluk. Embong kelem banyu. Ngiyup rasane osi koyok numpak tongkang sing kampul-kampul diterak lesus. Bledhek iso koyok strobo. Angin yo was-wes ae. Ipok pengaruh sakjane ngene iki. Ate njaluk Cik San? Lhuw, kresek ae diitung hare. Warung halabes tutup pisan.

Jithok mulai sep-sep, osi-osi helom kerikan kabeh. Sugik iku lapo, oker disumet, ditodes diluk, pateni. Maringono disumet maneh. Begitu karek othis, pas enak-enake dadak mamel… harah kono ngetet ae koreke sampek ketam pisan. Wong-wong kekel kabeh ngapok-ngapokno. Kongkon nyele korek Cik San gak wani. Sik duwe ngatu gulo jare.

“Lek misale ngene yoopo, Sam? Gentian awake dewe golek idrekan nang luar yoopo, budal nang negoro-negoro iku, lak podo ae tibone,” Sugik plaure duwe pendapat. Bendot getem-getem.

“Heh, ngene yo pethulo bin ronde. Mbok pikir ate kemping? Lek ente ladub nang luar, gak duwe keahlian, mek sak enthose, terus ate lapo, elek-elekan paling-paling ente digawe campurane sandal japit. Sing rodok nayamul, paling ente dikontrak ndik restoran, tapi kongkon ndodok ndik njero panci gawe kaldu. Meleg ente? Lek koyok Paitun ngene karuan, ndik kono diklongkop, kulite iso gawe dompet. Maringono dimereki Paytoon, dikirim ublem kene maneh, laham wis… Daginge gawe campuran rabuk, dadi pupuk organik…mereke..sik…Peitania. Ngono le, pethulo bin ronde…ketan kolek gempo legi…” jare Bendhot.

Wis kabeh ngakak, sampek Cik San melok kekel, switere tambah nglokor kabeh.

Paitun menthil atine. Deloken koen Ndhot, Paitun mbatin, tak dungakno helom disamber bledhek, tapi gak ketam tapi tambah ireng koyok tilise dandang. Awak gak pisan pindho gawe sansak. Lek mrenges deloken, koyok dakocan. Dakocan kathik sik dipilok ireng dop pisan. Lambene koyok babal.

Paitun rikim, lha lek wong kene kanyab sing nang luar, maringono helom tibake ndik kene wis dinggeni kabeh ambek wong asing. Lak ngaplo ta ente. Terus lek ndik kene saiki kabeh ngglendhem ae, moro wong asing gembruduk idrek mrene, ngawab ojir kanyab pisan, lak yo tambah bunyek, ate dadi bongso gedibal ta sak lawase? Dipesi thok ae ket biyen. Aluk kadit lek ayas.

“Ayas duwe akal, Sam. Engkuk rombong angsleku tak akehi, nggawe omil engkas. Tak tulisi angsle Vietnam, Angsle Singapura, Ronde Manila, Pethulo Tailan, Serabi Jawa. Siippp wes. Kathik warga kene lak delap a lek nang jeneng-jeneng luar. Sing penting lak cwan ta bos…” Sugik lek ngomong cik kemlinthine. Brengose koyok ketan ireng dirubung tumes.

“Nisore tulisan angsle iku tambahono, le. Tulisono…MEA… dalam kurung… Melok Endi Ae… ,” Endik ngegongi. Ngakak terus. Udan wis entek, gak ngaleh-ngaleh keblek-keblek iku. Tak langgit ae ngenem-ngenem.

Aluk ngale ae. Repot mungsuh genaro-genaro Melok Endi Ae iku. Sing dirikim mek cwan thok. Nyirik thok ae pikirane.

Embong kampung sik teles. Paitun uklam kalem ambek ngelesi banyu ngembeng. Koyoke enake rimpam ae nang hamure Pak Hengki, rikime Paitun. Ngipok, ambek suwe hare ayas gak ngrungokno lagu-lagu lawas. Koen ero, Pak Hengki duwe kaset lawas sak kethapruk, ewonan, sampek koyok museum. Wanyik lek rudit paling bantalan kaset.

Ate ublem, ketail Pak Hengki nendes santai ngrungokno musik ambek okeran beluk bunder. Wa ik, udenge wis ganti rek. Sing disetel lagune wasik, senenganku hare… penyanyine akmat iku lho, tapi sing rambute kribo, guduk akmat sing gundul.

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri…
segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa
semuanya ada di sini…

“Mlebuo Tun, ipok opo teh? Ndek kene ae sik. Deloken ta, ndik njobo mendunge roto,”

Penthol Abang-abang…

Sik setengah pitu, tapi langit sik rodok biru. Paitun kalem uklam ngrasakno howone cik segere. Nang ndi maneh ngene iki lek gak nang Gang Gawat. Cumak dirasakno onok sing seje. Embong aspal maleh nggilap-nggilap abang kenek pantulane penthol-penthol sing pathing gembrandol.

Sak jek urip sobo kene, yo kait iki embong-embong nggilap abang. Biyen-biyen yo kadit, embong-embong yo mantul werno-werno, asik. Mangkane wong-wong ndik kaceban maeng kok kanyab sing rasan-rasan.

“Ambekne lapo kok iso ndik ndi-ndi dpasangi lampu abang-abang koyok ngono iku, adane ambulan ae, untung gak muni. Lek muni lak iso disawati arek-arek ta. Lak mbrebeki ta,” jare sing brewok.

“Mosok ganok sing kreatip stape RW iku.  Iku lak tiwas mbuwak ojir thok ta. Iku laham lho thess… Lha timbang digawe seng gak jelas ngono, mbok digawe ngrumat sing kewut-kewut koyok awake dewe iki tah, ya? Pahalane jelas, wkwkwk…” jare sing kempong. Untune pepek tapi koyoke pipine kempong mulai lair.

“Akhir-akhir iki ancene tambah gak jelas. Wingenane onok nawak oket tekan Ilab. sing tukang nuthuki dram iku lho, arek ben-benan, pas ublem mrene, ndik pintu gerbang ngungib jare. Dipikir ndik ndi iki. Jare ngene, lho patung Ken Dedes ndik ngarep iko kok maleh dadi putih kabeh, mosok maleh koyok patung opo ae….

Maringono tambah ngungib, kok pathing gerandol lampu-lampu abang ndik embong-embong, ayas gak keliru ta, tak rikim ublem Makao jarene, wkwkwwk…” jare sing nggawe jaket kulit. Ketoke biyen nom-nomane mbois, jakete sing dhehes kabeh. Jakete sak umuran wonge.  Sing nggrumbul kekel kabeh.

“Ate diapakno kampunge dewe iki. Sembarang kok koyok mekso. Awake dewe iki lak itungane wong lawas,  kene lak ero asal-usule, sejarahe, sipate kampung iki yoopo, apal… nglonthok. Hadak stap-stape RW, cindhil-cindhil sing gak jelas iku, kemeroh, nggawe sembarang diawut ae.

Deloken, onok ta sing digawe gak nggarakno masalah. Ngono onok opo-opo yo ngglembus ae. Kok gak isin yo?” jare sing brengose ketel.

Saking ketele brengose, lambene sampek kadit ketail, dadi lek genomo brengose sing umek. Iku srongeb opo wig.

Paitun kolem kadit kane ngrungokno omongan iki. Tapi biasane wong-wong ngisor ngene iki jujur,  soale atine wis mancep nang lemah kampunge. Ente osi ta mesi genaro-genaro lawas? Wong sing cinta mati nang tanah kelairane. Lek ente gak ngreken, yo genti tambah kadit direwes. Wong Malang wani sembarang, jare.

Oala… yoopo iki, batine Paitun. Adah, Bambing ambek Londo oket hadak, iki lambe babal osi tambah sanap  Kadit onok sing takok, ostosmastis muni ewed lambene Bambing

“Sampeyan ndik keneh ndrememeng thok aeh…. gak teko tah maeng nang rapat musyawaroh warga? Rameh dew…,” radio mulai disetel.

“Ramene paling pekoro awakmu,Mbing,” onok sing mlethes.

“Helom ae, Ndo,” jare Bambing mbik gayane purik ate ngaleh, nyaut lengene Londo.

“Lho sik ta, ojok purik ta Mbing. Yoopo critane, masio rahasia tapi wong-wong lak yo perlu ero ta,” ja re sing brewok. Yo onok ae sing sik ngablak.

“Lek purik ente elek, Mbing. Gak purik ae asline yo wis rembes, wkwkwk…,” jare sing jakete mbladus.

Bambing kroso lek dibikin, tapi ambek Londo dielus-elus dikongkon lungguh sik. Akhire nurut, ate mbantah yo rikim, wong lek ngatu langganan nang Londo. Mari ambekan gedhe ambek ngetaili wong-wong, Bambing gelem genomo.

“Ngeneh yoh, masyarakat ndeg-ndeg an, kupingmuh pasangen yah? Maeng musyawaroh warga. Tapi pak RW gak tekoh, sing oket mek wakile ambik setap-setape. Enteh eroh, dhedhel duwel akhire jawabane pas ditakoki warga. Mosok jawabane ndak ada yang bermutuh, ndak kelas blas,” critane Bambing.

“Mangkane Pak RW kadit oket, grogi, wis kroso lek e…” onok sing nyaut.

“Kok iso ilo, jenenge staf RW kudune lak nguasai masalah. Lha kok iso biyen dadi staf?’ jare situke.

“Pas ditakoni ambek wakile warga, iso gutap kabeh. Sing digarap tbake ganok sing beres. Ndik rapat maeng kabeh gopoh  iku opoh… ngungib we ah ambek hapene.  Harah konoh. Paling lek kadit nokat yo ngerpek takok kancaneh. Wong-wong ndelok mek getem-getem. Untung wakile RW rodok pinter ngeles. Tapi yo sing kecekluk ae lek ngomong,” jare Bambing ndadi.

“Pekoro lampu abang-abang ambek patung sing dicet putih iku ganok sing protes ta Mbing?” Londo takok.

“Yo kanyab sing protes, tapi yo asaib, gayae dirungoknoh… terus jare ditampung dan laen-laen, nggedabrus… gayae lali thess…. maringonoh kene dianggep ngesroh. Engkuk bas-bas budayane kampung iki ate dipendhem. ” jare Bambing ambek mecoco. Lek ngene wanyik iki pas cerdas, batine Paitun.

“Opo paling isone mek samono rek. Mbok apakno ae lha isone mek iku lha yok opo? Lek jare hamku biyen, lek wonge jujur, niate apik, sik slamet.

Lek gak, yo ajur, mesti lek gak pesi yo sanjipak, gae nutupi gak enthose. Engkuk terakhire  masyarakat mulai bedo pendapat, diadu domba wis…

Ayas lair ndik kene, ngombe banyune sumber kene, kok ate diakal-akali,  dipikir gak ero… lawasss… lek modele koyok ngono,” sing jaketan kulit ketoke rodok njahe.

“Mosok wong dipekso kudu nurut karepe RW, kathik warga gak tau dirungokno. Sing dirungokno kancane thok. Mangkane, kene-kene kabeh ojok sampek slimpe. Kudu kompak dew… Sing kewut-kewut ndik kampung kene kudu mudhun ngewangi njogo kampung. Sopo maneh lek gak awake dewe. Ayas krungu onok sing ayahab, kathik carane sula hare,” jare sing brewok.

Omongan ndik kaceban ae koyok ngono. Ngaleh ae wis. Kupingku ae keri lek ngrungokno. Mosok petinggi-petinggi kampung iku osi gak denger, kopoken lek e. Ndik ngarepe tokone tipi, tipi-tipi kanyab sing diurupno, Paitun mandheg, soale krungu suarane ndik tipi iku sing genomo.

“Ndak bisa yang namanya pemimpin menaruk cermin di dada orang lain. Terus semua suruh nurut apa maunya,  semua apa kata saya, kabeh opo jare aku. Ya ndak bisa, kita kan pelayan masyarakat,… dengarkan suara masyarakat. Kalau nggak, sombong itu namanya.”

Paitun gak ero lek ndik halabese toko tipi onok rombong baksone Samut nyanggrok.

“Tun, sombong men koen,  tivi sakmono akehe ditontok ewed rek!” Samut bengok.

Oo… penthol iku, menthil lek e atine.

Mengenal Daya Juang Sebilah Keris

Oleh: Cokro Wibowo Sumarsono *

Sebagai senjata tajam keris mengandung banyak unsur falsafah kejuangan yang tersembunyi dalam wadahnya (warangka). Sebagai peninggalan bersejarah keris merupakan penanda tingginya peradaban pada masa pembuatannya (tangguh). Sebagai mahakarya, keris adalah bukti nyata derajat teknologi metalurgi berupa seni tempa logam terbaik di muka bumi.

Menggabungkan berbagai unsur logam besi, baja, titanium, timah putih, kuningan, seng, nikel dan lainnya dalam tungku pembakaran serta denting palu godam para empu pembuatnya. Sebagai barang seni keris memuat ribuan pola ragam hias dan desain asli yang menguatkan daya pandang visual.

Dalam dunia keprajuritan (kepahlawanan) keris adalah lambang kekuatan dan keteguhan jiwa yang penuh gemblengan dan tempaan. Sebuah logam tempa berpamor yang mengisyaratkan daya tahan dan ketangguhan pemiliknya (katuranggan).

Mengandung strategi perang yang luwes dengan mengalahkan lawan tanding tanpa sedikitpun merendahkan martabatnya (ngalahne tanpo ngasorake). Berbalik dengan kondisi mutakhir dimana mengalahkan lawan dengan mematikan karakternya sekaligus, tumpas tapis tanpa sisa.

Lamanya proses pembuatan sebilah keris yang ditempa oleh palu godam ribuan kali diiringi dengan panjatan doa dan tirakat (riyadloh) para empu melambangkan proses kesabaran dalam perjuangan yang telah turun-temurun diwariskan. Menyiratkan kepada kita untuk memperkuat kesabaran dan nafas panjang, bergerak dalam pola perjuangan panjang yang jelas dan tidak reaksioner.

Keris tak bisa diduplikasi secara massal dan cepat, selalu terlindungi oleh kesatuan anatominya sendiri tanpa pertolongan hak paten ataupun hak atas kekayaan intelektual sekalipun. Belum pernah ada duplikasi keris sesempurna barang aslinya.

Dalam sebilah keris terdapat anatomi (ricikan) yang menggambarkan bermacam-macam bentuk yang manunggal mewujud dalam satu kesatuan. Mulai dari pesi, gonjo, gunungan, buntut mimi, greneng, thingil, ri pandhan, sraweyan, ron dha, pejetan, bungkul, lambe gajah, gandik, jalen, kembang kacang, janur, tikel alis, sogokan, pudhak sategal, landhep, gusen, poyuhan, gula milir, kruwigan dan adha-adha. Semua berbeda-beda bentuk (bhinneka) namun menyatu dalam satu karakter yang harmonis (tunggal) dan manunggal dalam satu daya juang (ika).

Perbedaan yang manunggal itu memang indah, melahirkan sikap dan tingkah laku yang senantiasa dinamis. Seindah harapan para empu pembuatnya dalam tiap doa yang dipanjatkan. Seindah menyatunya segenap suku-suku bangsa dan puak-puak asli wangsa Nusantara yang bertebaran di atas zamrud katulistiwa.

Sebagai senjata pamungkas, keris hanya dikeluarkan dari warangkanya pada situasi yang mendesak, yakni pada akhir duel pertarungan antara hidup atau mati, setelah senjata-senjata lainnya terlepas dari genggaman. Keris dipertahankan mati-matian agar jiwa tak melayang akibat tikaman lawan tanding.

Bentuk keris yang meliuk tajam, berkelok-kelok (luk) bagai gelombang mengisyaratkan serangan bergelombang yang tak kenal henti. Luk-luk dalam bilahnya melambangkan keluwesan dalam bertindak, namun tetap tegas dalam berprinsip seperti kerasnya bilahan logam keris yang tegak mengacung.

Doktrin perjuangan yang mengatakan konsisten dalam ideologi, kokoh dalam strategi namun fleksibel dalam taktik ternyata sudah digambarkan oleh bilah-bilah keris. Ketajaman di kanan kiri bilah keris yang mengerucut pada ketajaman puncak adalah gambaran dari perjalanan yang berliku-liku dan penuh tantangan, naik turun seperti gelombang demi pencapaian jatidiri dan olah spiritual paripurna.

Dan dengan senjata ini para patriot siap sedia berjuang mempertahankan tiap jengkal bumi pertiwinya. Sadumuk bathuk sanyari bhumi, tak belani taker pati.

Salam tosan aji.

Glugu Tinatar, Landungsari-Malang.

*Cokro Wibowo Sumarsono, Mantan Sekretaris Jenedral Presidium GMNI dan Ketua DPP Gerakan Pemuda Desa Mandiri (Garda Sandi).

Kidang Talun, Mil Kethemil…

ikon paitun gundulIsuk segere koyok ngene srengenge mek inceng-inceng, sik onok mendhung ngruwel nutupi, lha kok saiki ketoke ate singitan maneh, batine Paitun ambek uklam nok embong ngarep pasar. Kok krungu rengen-rengeng wong nyanyi, tapi suarane njlembret koyok bebek tikas.

“Aku duwe pitik cilik wulune blirik. Cucuk kuning jengger abang, tarung mesti menang. Sopo wani karo aku, karo pitikku…”

Oo … suarane Bandi sing lawetan ketep ndik emperan. Ketoke ipes lawetane mangkane nyanyi. Wedhus iku, sliyat-sliyut lambene, nantang tapi pitike sing dijokno.

Onok Bu Cip ambek Lek Jum kok mruput men, mborong koyoke.

“Tun, lhok en… sik korep. Kulakan meneh aku Tun. Tokoku ate tak bek’i, cek lengkap koyok biyen,” jare Bu Cip ambek gumbira. Sopo sing takok, rikipe Paitun. Masio korep lak sinam ta awak, timbang ente wis kewut, nglempit. Mek halak sewek ayas.

“Engkuk sore mampiro yo. Bu Cip slametan,” jare Lek Jum. Lhuw…kane, oleh takreb iki. Bu Cip biasae lek slametan rodok gunggungan masakane. Masio ganok hiasane, mesti pepek iwake, sampek acar kuning onok.

Sore mendhung sik durung nyengkre ae, Paitun uklam kalem ublem gang ate nang hamure Bu Cip. Wis kanyab sing oket. Gang Gawat pasukane lengkap. Lapo kok onok Boimin Tahu barang. Lha kok nggrumbul ndik ngarep. Ndelok praene genaro-genaro kok mbureng kabeh. Ambek malang kerik, Bu Cip cik cerawake sampek krungu tekan kadoan.

“Karepe yok opo! Koen ojok mencla-mencle, Ndhot! Jaremu wingi toko-toko mini ngapret iku wis digropyok, lha tibae kok pancet. Terus yoopo?” jare Bu Cip ambek mendelik nang Bendhot.

“Kulo ngge mboten semerep De. Wingi kulo lak ngetut aken tiang-tiang. Enten Pak RW, Pak Pandi, rombongan tiang kathah, termasuk petinggi kale seksi keamanan. Jelas kok, wong tokone nggeh ditempleki cap-capan. Njenengan tanglet ta ten Juwari. Yo Ri?” jare Bendhot nggenahno tapi ngeles. Wong Juari iku areke gak bek, yo njegideg ae. Bendhot gregeten Juari ngglendhem ae.

“Aku maeng ambek Bu Cip ndelok dewe lho rek. Ancene onok setiker ditemplekno, tapi kok tetap bukak, hayo!” Lek Jum hadak tambah manasi.

Samian senden ndik kursi plastik, umek ambek praene njahe. Mentheng-mentheng. Kadung macak, ketoke ditanggap ambek Bu Cip. Raine kadung digambari, iso koyok kates diukir ndik kuade. Mek nggawe rompi ote-ote, wis kademen. Biasane Samian yo ngrangkep pembawa acara. Paitun ngempet ngguyu.

“Koen ngwasno awak terus. Deloken koen yo! Maringono koen tak pacaki pisan,” jare Samian ambek nuding ayas. Yok opo bledhus iku, kok osi ayas dadi sasaran.

“Lek Paitun mbok pacaki, iso dadi Srikendat… guduk Sikandi… wha… ha… ha…,” Bambing ngakak lambene koyok longan. Bu Cip muntab.

“Koen ojok nylemur Mbing. Podo ae kelakuanmu. Lak koen se sing wingi ngetet ae ngongkon aku slametan? Sukuran de… sukuran… Lek wis ngene iki… sookoorrr… ,” jare Bu Cip ambek nyetholi pipine Bambing. Areke iso dlandapan gak sempat ngeles.

“Pun murang-muring sik ta De. Sembarang niku lak enten prosedure. Paling nggeh sik diurus. Sabar mawon,” Endik karepe ngerem. Dadak Boimin Tahu ngunggano tensi maneh.

“Prosedur apane. Awak sing lawetan cekether koyok ngene ae diuber-uber. Golek koyo ganok tenange. Lek sing dagang koyok awak-awakan ngene, modal ojir ngepres, ithab sak ipet. Yo gak tau direwangi, po digolekno jalan keluar. Prasamu gak isin ta di urak-urak bendino ambek keamanan kampung. Jare arek-arek lek sambat, awake dewe iki sak jane diakoni gak se sebagai warga kene. Kudune lak adil tah, wong pekoro ijin yo podo gak nyekele,” Sambate Boimin.

“Sampeyan itreng ta prosedur iku opo? Lek jare koncoku tukang gambar, prosedur iku singkatane tekok… pro sedulur. Jarene lho…,” jare Samian karepe mbanyol ambek brengos palsune hulik-hulik. Raine iso koyok waloh kidekan. Dikolek kane, rikipe Paitun. Temenan, mlorok nang ayas.

“Enake ngeten De, engkin ditanglet aken seksi keamanan mawon. Soale ketoke pun dipasrah aken keamanan. Lha wingi niku, kulo, Bambing, kale lare-lare, takon ten Pak RW. Nggeh mboten dijawab, dipleroki thok. Terus lare-lare ten nggriyane Pak Pandi. Tirose medal, padahal ketok ten cendelo tiange ningali tipi,” jare Bendhot karepe ngedukno tensi.

“Wis gak ero aku. Koen kabeh mene kudu nggenahno yo? Takon sing jelas. Aku iki wis tuwek, dipikir aku gak kroso ngono ta. Aku wis tuwuk dislinthung, wis wareg diakali. Mestine lak koen sing enom-enom sing ngusut, kudu wani le lek bener… gak usah ngongkon wong. Wis, ngene ae, slametan iki gawe nylameti koen kabeh. Jum cepakno nduk!” Bu Cip ketoke wis itreng.

Nakam bareng-bareng iso nggarakno barokah. Magrib sik suwe, Paitun pamitan, uklam turut gang, santai ambek rodok kewaregen. Ndik ngarepe hamure Lik Sum, krungu maneh wong nyanyi, ngudang opo nyinaoni putune iku.

“Kidang talun, mangan kacang talun, mil kethemil mil kethemil, si kidang mangan lembayung…”

Oala… kidang ae yo sliyat-sliyut, jare mangan kacang tibae mil kethemil nakam lembayung.

Gerhana; Puisi-puisi Saiful Bahri

Gerhana

Semesta tercipta musim rindu tanpa rembulan
Jejak kaki ini –teriak lantang menyusuri jalan-jalan

Meringkus riang setenang bunga sajak terang
Menghindari remang sedalam gelora sabda karang

Ia sunyi, sepi tak bertepi. gerhana menular kenangan penuh khianat
Sinar merambat hitam pekat, tertututup pagar-pagar berkeringat penat

Aku ingin engkau disini, meniti angin sedingin kelam
Temani hasrat, temani mataku tenggelam lelap disudut malam.

Bungduwak, 2017

Akulah Laki-Laki Petualang

Tubuhku
Berlayar menyusuri lautan
Rinai melintasi hutan-hutan
Akulah laki-laki petualang
Susut pada tubir jalang itu
Menukik silau ambang bisu.

Akulah laki-laki petualang
Mengakar dilembah matamu,
Hinggap terbayang-bayang
Kuinjak-injak rumput ilalang
Kucabut, kutendang, lalu kubuang

Hanya serpihan ranum senyummu
Yang senantiasa melekat dalam ilusi
Hingga aku menulis bibirmu menjadi puisi

Sumenep, Agustus 2017.

Bulan Meraung Enggan Kusanjung

Wajah ranum mengajakku senyum ” ikut aku menikmati pameran-pameran kelabu”
Ia kedinginan –memikul kenangan –yang sirna ditelan malam penuh debu-debu rindu
Lampu-lampu berpijar, orang-orang rinai menaburkan kilau senyuman
Ya, di pameran itulah tempatku bercengkrama dengan bulan
Sejenak aku bertanya, memastikan apa yang ia iginkan
Kenapa tubuhmu? Kenapa engkau terhimpit malu dipundi-pundi pohon
Kuajak bulan berjalan. Takut tersesat” katanya.
Kuajak bulan bersemedi. “Takut kelaparan” jawabnya.
Mestinya, rembulan menemaniku beli baju dan kerudung
Pameran apaan ini? Sementara bulan meraung bingung enggan kusanjung

Gapura, 10 September 2017

Bising Rindu

Malam ini, cahaya remang bermandikan nada-nada syahdu.
malam ini pula –mulai kudengar rajutan suara bising rindu,
sehabis senja ditelan waktu. Apa engkau tidak tau ?

Aku tersaruk-saruk, berteriak-teriak, melompat-lompat,
mengintai nafasku terjerat erat ditubuh detak suara angin yang membisu.
menyaksikan alunan-alunan lagu seirama rindu didadaku.

Malam ini, mataku terasa perih menyaksikan alunan lagu rindu.
Sementara perihal waktu takkan syahdu, pun rindu takkan melaju
Jikalau dekap tanpa cumbu. Lalu kapan bait-bait rindu ada senyummu.

Mataku lindap menjilat semesta –menggais tanah penuh aroma
Hingga kutemukan bising rindu diterpa hujan tak bermakna.

Malam ini, jejak jarak merambat cepat, menuju pulau-pulau
tempat dimana burung-burung hidup riang bergandengan tangan.
Sesaat aku ingin seperti burung, terbang melintasi gunung tanpa kabung.

:Kerinduan akan tumbuh kedamaian, berbunga mekar dilamar suara keindahan.
Tunggu waktu yang menentukan, hinggap pada kerlap-kerlip cahaya pelaminan.

Bungduwak, 2017

Nasionalisme

Sunrise kali ini tercipta musim hujan yang ‘kan merayuku disudut waktu
Sungai-sungai tersanjung hiruk-pikuk sejuk, tetap saja mengalir tiada semu
Ia sajakku yang menjejak cerita penuh cinta –melekat erat ditubuh garuda; hingga menyusut meliut-liut direlung sukma dalam jiwa.

Sunsite tiba-tiba memelukku, menciumku dalam kecupan bisu.
Sesaat beranjak hilang, hinggap di pohon-pohon telanjang petang,
Aku sangat cinta Indonesia raya semesta raga, tempatku menulis puisi-puisi jiwa
Menukik senja, meringkus kawah pada kilauan Bhenika Tunggal Ika
Oh Pancasila, aku cinta ladang-ladang luas, seluas tanah Indonesia raya.

Seperti kulihat panorama-panorama, sampai kiamatpun jiwa ini takkan ada cinta dusta,
antara aku dan Indonesia… antara aku dan Indonesia… antara aku dan Indonesia, kucinta Indonesia.

Sumenep, 2017

Elegi Embun di Ubun Pagi

Lingsir waktu masih sanggup mengalirkan sejuta sukma kilauan embun, yang senantiasa hinggap dan tertimbun diubun-ubun.
Kudengar rinai burung-burung bernyanyi –pertanda suasana t’lah terurai irama pagi. Kerap menyerap pada jalan-jalan sawah, merubah remang pada gigil-gigil basah.
:Aku pasrah melawan sisa-sisa kecewa; tanpa berurusan dengan rasa sesadis cinta

Sumenep, 2017


*SAIFUL BAHRI, Penulis Lahir di Sumenep-Madura, Pada Tanggal O5 Februari 1995. Selain menulis, ia juga seorang aktivis di kajian sastra, dan “Teater Kosong Bungduwak”, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), sekaligus perkumpulan (Pemuda Purnama). Disela-sela kesibukannya ia belajar menulis Puisi, Cerpen, Essai, Opini, dll. Puisinya antara lain dimuat di Riau Pos (2017), Bangka Pos (2017), Palembang Ekspres (2017), Radar Madura (2017), Radar Surabaya (2017). Radar Jember (2017), Radar Banyuwangi (2017), Radar Bojonegoro 2017 Kedaulatan Rakyat (2017), dan Solo Pos (2017)

Geger Genjik Ibukota…

Oleh: Cokro Wibowo Sumarsono*

Hingar bingar pemilihan Adipati baru Kotapraja Indraprasta terdengar di seantero jagad pewayangan. Suaranya membahana masuk ke desa-desa dan kota-kota di wilayah negeri Amarta. Menerabas rimba raya kediaman para raksasa, ditya dan bhuta. Bahkan beritanya telah menjadi perbincangan serius para punakawan di desa Karang Kadhempel, nun jauh dari pusat Ibukota negeri Amarta, Indraprasta.

Perbincangan tersebut mengarah pada perpecahan tiga kubu pendukung, kubu Cepot, kubu Mbilung dan kubu Cenguris. Cepot mendukung Raden Antareja, perwira muda Angkatan Darat Amarta. Dengan argumentasi bahwa Antareja adalah sosok kuat masa depan Amarta. Ibukota akan aman jika perwira Angkatan Darat yang memimpin. Antareja merupakan simbol ‘kekuatan’.

Mbilung berpendapat lain, ibukota harus dipimpin sosok pemberani yang menerabas standar birokrasi, agar pelayanan masyarakat tidak berbelit. Pilihan itu jatuh pada Raden Wisanggeni, satriya muda yang tak bisa berbahasa halus. Selalu pakai bahasa ngoko ke siapapun, bahkan kepada para Dewa sekalipun. Wisanggeni merupakan simbol ‘keberanian’.

Lain Cepot, lain Mbilung, lain pula dengan Cenguris. Dia menginginkan figur pendidik guna mencerdaskan warga ibukota. Pilihan itu jatuh pada Raden Abimanyu, intelektual muda yang menguasai ilmu sastra. Abimanyu merupakan simbol ‘kecerdasan’.

Diskusi kecil di warung Mbok Cangik tersebut makin lama makin seru, makin lama makin panas dan sensitif. Menyinggung asal usul masing-masing kandidat Adipati, tak terkecuali program berbusa-busa para kandidat. Menyita perhatian warga desa di sekitarnya yang menyebabkan warung kopi di pinggir Pasar Wage itu makin ramai dan semakin meluber pengunjungnya.

Pak Tani melemparkan doran gagang paculnya, memilih mengikuti diskusi yang makin memanas. Bakul-bakul di pasar memilih menutup dagangannya, guna ikut menyimak diskusi yang makin mengarah ke debat kusir tersebut. Bocah-bocah angon bahkan rela meninggalkan kambing, domba, kerbau dan sapinya merumput sendiri. Agar tak ketinggalan info terkini percaturan politik Ibukota negeri.

Hari itu denyut nadi ekonomi desa Karang Kadhempel benar-benar terhenti, berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Sawah ladang tak terurus, pasar ilang kumandhange, kebo sapi mulih nyang kandange dewe-dewe. Karena semua warga memilih mengikuti diskusi di warung Mbok Cangik demi belajar menjadi politisi, meskipun ‘politisi kampung’.

Hingga suatu saat datanglah si Bagong dari perjalan panjangnya ke Ibukota.
Bagong: “Dulur-dulur, saya kemarin baru saja ngopi bareng dengan Raden Antareja, Raden Wisanggeni dan Raden Abimanyu. Ternyata mereka semua itu lucu-lucu lho, jauh lebih lucu dari Cepot, Mbilung ataupun Cenguris”.

Mbilung: “Ah…masak sih Gong, jangan mbanyol kamu. Kita ini sudah beberapa minggu gontok-gontokan untuk mendukung jago kita masing-masing. Bicaralah yang lebih jelas lagi Gong, biar kita tahu perkembangan aktual di ibukota”.

Bagong: “Serius, saya kemarin baru nonton kethoprak dengan mereka bertiga, mereka santai-santai aja kok. Kenapa kalian yang malah ribut ?
Memangnya sosok yang terpilih jadi Adipati di Indraprasta akan berdampak pada desa kita?
Kita ini wong ndeso, orang kampung. Kita urus sawah ladang kita biar jagung pohungnya ledhung-ledhung, lombok terongnya robyong-robyong dan uwi gembilinya sakkendhi-kendhi. Urusan ibukota biar dirampungkan orang-orang sana. Kalau semua orang desa ngurusi ibukota, desa akan terbengkalai, gak bisa panen nanti. Kalau panen gagal orang kota akan kelaparan, wong beras dan dagingnya dari sampean semua”.

Cenguris: “Lha terus kita harus bagaimana Gong ?”

Bagong: “Ya harus kita balik. Jangan seantero negeri Amarta heboh gara-gara pencalonan tiga orang penggemar kethoprak itu. Jangan sampai persatuan kita koyak gara-gara demokrasi yang kebablasan. Sudah mengarah ke pasar bebas ini, semua sebebas-bebasnya menghasut, mencerca, mengolok dan menjegal. Harus kita lawan. Kita ini satu bangsa lho, satu sejarah perjuangan. Desa harus mandiri, tak tergantung pada ibukota. Kedaulatan pangan harus jadi panglima, jangan isu pasar bebas yang jadi panglima. Pergunakan waktu sebaik mungkin untuk bekerja dan berdoa, didiklah anakmu, jangan ngerumpi saja.

Mbilung: “Iya Gong. Gara-gara dukung mendukung yang berlebihan, saya kemarin gak diundang saat Cenguris hajatan selametan. Kohesi sosial kita jadi renggang.

Bagong: “Di sinilah kontradiksi pokoknya, di sinilah perbedaan mendasar antara demokrasi perwakilan yang menjadikan musyawarah sebagai jalan keluar dengan demokrasi pasar bebas yang super bebas. Semua tidak diselesaikan dengan musyawarah guna mencapai mufakat, namun sebebas-bebasnya menyerang orang, mencokot kawan lawan, menghinakan tokoh panutan dan lain-lain. Jauh dari kata ‘beradab’, jauh dari sesanti memayu hayuning bawana.
Wis bubar…bubaarrr…ayo macul…ayo nandur…!

Akhirnya kesadaran menyeruak di pikiran warga desa Karang Kadhempel. Semua kembali ke sawah dan pategalan, kembali mengurus ternak di kandang dan ikan di blumbang.

Cokro Wibowo Sumarsono
Cokro Wibowo Sumarsono

*) Mantan Sekretaris Jenedral Presidium GMNI dan Ketua DPP Gerakan Pemuda Desa Mandiri (Garda Sandi)

Ratu Luwes…

logo paitun gundulUklam sak ting rong ting kok cenut-cenut kentol iki. Ngaso ae ndik buk cideke warunge Mak Tin ae. Osi ngipok pisan ta. Papakan ambek Riadi hansip, sepedakan kok sliyat-sliyut, osi-osi kesrempet ayas. Sepedakan iso koyok leang-leong, ndrawasi hare.

“Ente lek uklam male teklak-tekluk, Tun. Mangkane kewut ojok nglayap ae…” jare Riadi sak mlethese.

Oo genjik iku rame ae. Masio kewut lek ngremus ente sik kuat le, batine Paitun. Ambekne lapo awan-awan jogo.

“Kono lho nang bale RW, rame acarane ibuk-ibuk,” Riadi ngandani. Wanyok ancene lak setengah corong.

Waik… tepak iki, emar lek ebes-ebes kodew nglumpuk.  Onok kegiatan opo yo, Paitun langsung jablas nang bale RW.

Temenan wong tumplek blek. Onok genjote barang. Ate nyidek kadit kane, Paitun ublem latare hamure Bu Wiwik, hamure pas sebelahe bale RW. Tail tekan kene ae, pip, batine Paitun. Samian ketoke ndekor diewangi Jon.

Waduw, lapo kodew kewut-kewut iku uklam ngubengi panggung ambek ndegak-ndegek, mesam-mesem. Koyoke lomba ratu luwes iki. Riwa-riwi. Lapo wong-wong kewut, kok gak arek nom-noman ae. Deloken, osi-osi kecekluk barang.  Wkwkkwk… onok sing sanggule copot. Diurak wis.  Eit..ee..eee… wisa kesrimpet sewek.

Untung digoceki panitia, lek gak lak iso koyok petinju dilukup utem tekan genjot.  Yo kait iki onok lomba ratu luwes tapi sing nontok isine kekel thok, kalah lomba lawak.

Iki paling tepak yo nang mburi panggung, batine Paitun.  Tekok kadoan kok koyok umyek ae.  Paitun mripit alon-alon nang mburi panggung, ngintip cideke nggene ibuk-ibuk sing ate tampil.

“Ate laopo koen Tun, ate melok latihan?  Lo…lo…lo lak iso kesroh acarane.  Wis ndik kene ae, ojok mlebu!” emar ae lambene Riadi, kaget aku, gak ero ayas lek bekakas iki njogo ndik kono.  Babahno, aco ae, ndik kene gak popo wis.  Temenan, tibake umyek ancene.  Iki sik latihan wis tewur.

“Sing ngemsi gak tepak yo Mbak Tin.  Gak kreatip.  Masio jenengku Jumakyah, mbok ojok nyebut asline, dimanisno thithik ta… inilah penampilan Mbak Maya.  Cek rodok mbois ngono.  Iki gak… inilah Lek Jum.  Wis awak maleh diurak.  Emsine  gak enthos, ” jare Lek Jum ambek plethat-plethot.

Paitun ngempet ngguyu, whuiikk… lipsetike iso koyok cet meni.

“Aku maeng ate mlebu yo tak pleroki emsine.  Lha mosok iso ngumumno… itulah tadi yang bergaya Tante Bambing…  Kudu tak kruwek ae emsine,” ujube Bambing bludrek.

Ancene pas ndik panggung ujube Bambing latihan,  gak kaop lambene bapak-bapak, opo maneh cangkeme Bendhot lek ngurak. Mbing… ndang mulio Mbing…. Oalaaa, rejekine Bambing deww… Biyen kok guduk iku se Mbing…. Tante Beembii…. mana papi Bembing….

“Wis ojok umyek ae, engkuk buyaran latihan tak kandanane emsine,  Sewekmu iku Jum benakno, ate mlorot lhok en.  Ayo saiki sopo, urutane!” jare Bu Wiwik.

Paitun wetenge senep ngguyu thok.  Riadi nglirik Paitun, kekel pisan hadak.  Ngono kenthese disogrokno wetengku, sempel ancene Riadi.  Des iku.  Lhuw… Bambing tibae ndondok ngarepe panggung ambek gerombolane.  Raine Bambing iso koyok berkat.

“Berikutnya, tidak kalah luwes dan mempesona… inilah Bu Pi’i…. dengan kebaya lorek lorek merah delima….” unine emsine dimanis-manisno.

Bendhot ngadeg malangkerik, blas ganok sing wani ngurak. Penonton gremeng-gremeng ambik bisik-bisik gak wani ngguyu. Hadak Bambing moro-moro ngadeg ambek bengok sak kayane.

“Lorek maneh…. yoyek ho…. Iii…Pi’i… ente nemu ndik ndi Ndott… Eeeendhot supi’iiii…” los cangkeme Bambing.  Sing nontok tegang.  Bambing gak ero lek Bendhot ngadeg ndik mburine.

Lhuk… temenan, hadoh…. Bendhot langsung mithing Bambing.  Bambing berontak, karepe iral lha kok hanggum nang panggung, diuber ambek Bendhot.

Wisa tuleg kemruntel ndik panggung. Ratu luwese semburat. Genjot iso koyok onok lindu.  Akhire panggung bek wong-wong ate misah. Regeg wis. Untung gak kenek dekore, lak iso dibabit ta Bambing ambek Jon. Aluk eskip ae, batine Paitun ambek ndredheg terus iral pisan.

Sikil gak kuat, ambekan ngongslo, Paitun ngaso ndik buk ngarepe bedak pracangane Bu Tatik.  Kanyab ebes-ebes kodew blonjo. Ndek kene tibae yo emar pekoro panggung.

“Wis tuwek-tuwek sik kakean polah.  Mbok ngoco.  Sik pantes opo gak.  Sakjane cek arek nom-nom iku sing nggawe acara, dadi cek ero artine Kartinian.  Iki enggak… ngetet ae.  Lha tambah diguyu wong ta, jeng.  Iyo lek sik langsing ngono, luwes, gemulai…  Iki gak wis awake bunder, pacakane mekso, iso koyok tong dikelir terus diglundungno.  Tin iso koyok lepet,” jare Bu Ambar.  Iso ngekek kabeh, gak kaop kodew-kodew lek ngguyu.

“Iku yo rame lho pekoro danane. Oleh sumbangan warga tibae yo gak nutut.  Kulo ngewangi narik sumbangan De Sum,  kulo bagiane donatur. Sampeyan semerep, kathah sing ngglethek.  Ketoke ae pakeane mewah, tas regone atusan, tibae lek dijaluki sumbangan nggeh mbulet, ngekeki gak sumbut blas kale gayane.  Ayu tapi medhit, mleki,” jare Bu Kawit ambek ketoke pegel.  Wisa, tambah barak kompore, batine Paitun.

“Aku yo ngono kok mbak. Disemayani ping pindo, gak mbalik maneh aku.  Montore ae telu. Iso-iso montore ae bengsine  disemayani. Mosok tahu digawe, tengerono, lak ndik garasi ae,” jare Bu Kus.   Lhuw… tambah nggebros jos kompore.

“Ero aku lek iku. Padahal lek tuku pulsa ndek kene iso sedino pindo.  PKK kesroh lak gara-gara suthil iku.  Mosok pekoro jimpitan rong ewu ae, geger, maringono mengaruhi liani cek gak melok PKK. Ndek TPQ yo ngono, guru-guru ngaji iku lak yo butuh transpot,  adah… gak sepiro, sak  ikhlase.  Maksude, orang tua murid iku sepakat urunan limang ewu.   Ngono yo geger gak setuju, jare kudune gratis.  Lak repot ta,  gawe ngaji anake limang ewu thil gak gelem, tapi tuku pulsa sedino pindo.  Jithoke jeru paling, gak jeru thok… juglangan,” sing duwe toko hadak tambah mbandari omongan.

Gurung mari rasan-rasan ibuk-ibuk kaget.  Bambing setengah mlayu digiring ujube ambek tuding-tuding, adoh… crawake.  Raine Bambing abang ireng gak karu-karuan, imblake dhedhel dhuwel  ditlembuki Bendhot maeng paling.

“Sampeyan gak iso ngregani wong wedok!  Isin-isine ae!  Deloken iko, kesruh kabeh gara-garamu Mbing.  Kathik mene sampeyan nontok pentas, awasss sampeyanI  Iso gak kenek tangane wong lio, tak ssambelll sampeyan!” ujube Bambing spaneng.

Lhukk, sambel pencit kane, iki hadak sambel Bambing…