Yuk, Diet Media!

Oleh: Ellen M Yasak MA *

Ketika jalan-jalan di public sphere (misalnya: alun-alun, hutan kota, mall), banyak remaja menundukkan kepala, serius pada alat yang ada di genggamannya, dan telinganya disumbat seutas kabel panjang. Gadget! Itu sebutan untuk alat komunikasi multifungsi, yang salah satu bentuknya adalah smartphone.

Saat ini banyak remaja yang seakan tak peduli dengan lingkungan sekitar, karena dunia baru bernama mobile media yang ada dalam smartphone.

Kerisauan saya berawal saat berkunjung ke salah satu daerah di selatan Kabupaten Malang. Di sana hampir setiap anak usia Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP), memiliki gadget berupa smartphone. Ini baru di daerah.

Bagaimana dengan masyarakat Indonesia pada umumnya? Jawabannya lebih fantastis. Pengguna smartphone di Indonesia, mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2014 ke 2016. Pada tahun 2014, pengguna smartphone di Indonesia berjumlah 38,3 juta. Tahun 2016 ini, sudah berada di angka 69,4 juta pengguna, (Koran.tempo.co).

Artinya, sebagian besar masyarakat kita saat ini sudah menjadi pengguna mobile media aktif. Mobile media adalah aplikasi media yang berada dalam mobile phone (baca: smartphone).

Tahukah anda, bahwa akses manusia terhadap media memiliki batas? Lalu, jenis media apa yang dimaksud? Hampir semua media elektronik memiliki dampak negatif bagi penggunanya. Baik itu televisi, radio, surat kabar, internet, dan lain-lain.

Saat ini penggunaan media, seakan sudah menyatu dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. Remaja merupakan golongan usia yang memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengakses media.

Mengapa demikian? Anak-anak yang kini beranjak remaja, lahir pada retang tahun 1998 hingga 2000-an. Di tahun tersebut, peralihan teknologi dari analog ke digital terjadi. Dengan demikian, anak-anak ini tumbuh saat kondisi teknologi telah beralih ke digital.

Anak-anak yang tidak melalui masa analog ini, disebut dengan digital native. Mereka yang terlahir sebagai digital native, dapat dengan mudah melakukan segala aktifitas dengan media digital.

Ketika banyak remaja “menunduk” dan tidak bisa melepas gadget dari tangan mereka, peran orangtua seakan tergantikan dengan gadget. Remaja yang dalam sehari menggunakan gadget lebih dari dua jam, mengindikasikan bahwa remaja tersebut sudah dalam taraf addict (kecanduan).

Pada kondisi ini, orangtua harus melakukan kontrol atas penggunaan gadget anak-anaknya. Hal ini harus betul-betul diperhatikan oleh para orangtua, karena efek negatif yang ditimbulkan. Sebuah penelitian dari Ramadhan (2015) meyebutkan, bahwa remaja yang kecanduan selfie (berfoto sendiri) terbukti memiliki kelainan psikis.

Seorang remaja yang menjadi informan penelitian tersebut mengaku, mereka sulit bersosialisasi pada lingkungan nyata dan ingin terlihat trendi dan eksis di media sosial. Bahkan hingga rela berhutang untuk membeli baju model terbaru dan makan di kafe mahal, untuk diunggah di media sosial.

Jika kondisi ini terus terjadi, maka masa depan bangsa akan terancam. Generasi muda yang terlena dengan gadget, bisa terjerumus pada gaya hidup hedonis dan memiliki kepekaan rendah terhadap lingkungan sosialnya.

Apa saja tanda-tanda kecanduan gadget?
-Anak mulai tidak berminat pada aktivitas lain.
-Sehari lebih dari 2 jam menggunakan gadget secara terus menerus.
-Terlihat perubahan tingkah laku, misalnya menjadi pemarah.
-Moodswing atau suasana hati yang mudah berubah.
-Prestasi belajar menurun.
-Mulai malas untuk menjaga kebersihan dan kesehatan diri. (Gustiana,2016)

Gerakan literasi media merupakan harapan ketika banyak remaja kita kecanduan media. Inti dari gerakan ini adalah, mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dalam penggunaan media.

Kita diharapkan mampu untuk memilih informasi yang kita butuhkan, dan bukan mengakses media hanya untuk keinginan. Orangtua diharapkan dapat mendampingi dan mengkontrol putra-putrinya dalam penggunaan gadget.

Membatasi penggunaan gadget, merupakan langkah awal untuk menyelamatkan diri kita sendiri dan anak-anak kita dari bahaya kecanduan media.

Berikut ini adalah diagram yang dapat digunakan orangtua untuk memantau penggunaan gadget pada anak-anak berdasarkan usia anak.

Usia 0-2 tahun tidak diajurkan (berdasarkan rekomendasi APA, American Pediatric Association) karena sinar biru yang terpancar melalui layar sentuh berpengaruh pada perkembangan syaraf mata.

Usia 3-5 tahun, hanya dianjurkan 1 jam perhari untuk hiburan seperti mendengarkan lagu, menari, dan bernyayi. Anak usia dibawah 5 tahun membutuhkan stimulasi untuk perkembangan motoriknya sehingga aktivitas bergerak sangat diajurkan.

Usia 6-12 tahun, waktu untuk beraktivitas dengan gadget 1-2 jam perhari untuk hiburan dan sarana belajar dengan pengawasan orangtua.

Usia 13-18 tahun, remaja sudah dapat diberi kepercayaan untuk menggunakan gadget sehari-hari dengan pengawasan penuh dari orangtua.

Keterlibatan orangtua dalam aktivitas sehari-hari anak sangat dibutuhkan, misalnya orangtua meluangkan waktu 15-45 menit sehari untuk family time. Membuat peraturan penggunaan gadget, untuk orangtua dan anak ketika di rumah.

Selain itu, harus ada keterbukaan dalam berkomunikasi dengan anak. Orangtua juga harus terampil menggunakan perangkat digital, misalnya memonitor pertemanan anak di media sosial dengan ikut serta berteman secara virtual.

Menjadi orangtua digital, harus mampu menjadi teladan atau role model untuk anak-anaknya tentang keseimbangan penggunaan gadget. Mulailah cerdas bermedia, dan bersama-sama berdiet media!.

*Ellen M Yasak MA, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi dan pendiri Komunitas Mediadiet di Malang.

Mengenal Daya Juang Sebilah Keris

Oleh: Cokro Wibowo Sumarsono *

Sebagai senjata tajam keris mengandung banyak unsur falsafah kejuangan yang tersembunyi dalam wadahnya (warangka). Sebagai peninggalan bersejarah keris merupakan penanda tingginya peradaban pada masa pembuatannya (tangguh). Sebagai mahakarya, keris adalah bukti nyata derajat teknologi metalurgi berupa seni tempa logam terbaik di muka bumi.

Menggabungkan berbagai unsur logam besi, baja, titanium, timah putih, kuningan, seng, nikel dan lainnya dalam tungku pembakaran serta denting palu godam para empu pembuatnya. Sebagai barang seni keris memuat ribuan pola ragam hias dan desain asli yang menguatkan daya pandang visual.

Dalam dunia keprajuritan (kepahlawanan) keris adalah lambang kekuatan dan keteguhan jiwa yang penuh gemblengan dan tempaan. Sebuah logam tempa berpamor yang mengisyaratkan daya tahan dan ketangguhan pemiliknya (katuranggan).

Mengandung strategi perang yang luwes dengan mengalahkan lawan tanding tanpa sedikitpun merendahkan martabatnya (ngalahne tanpo ngasorake). Berbalik dengan kondisi mutakhir dimana mengalahkan lawan dengan mematikan karakternya sekaligus, tumpas tapis tanpa sisa.

Lamanya proses pembuatan sebilah keris yang ditempa oleh palu godam ribuan kali diiringi dengan panjatan doa dan tirakat (riyadloh) para empu melambangkan proses kesabaran dalam perjuangan yang telah turun-temurun diwariskan. Menyiratkan kepada kita untuk memperkuat kesabaran dan nafas panjang, bergerak dalam pola perjuangan panjang yang jelas dan tidak reaksioner.

Keris tak bisa diduplikasi secara massal dan cepat, selalu terlindungi oleh kesatuan anatominya sendiri tanpa pertolongan hak paten ataupun hak atas kekayaan intelektual sekalipun. Belum pernah ada duplikasi keris sesempurna barang aslinya.

Dalam sebilah keris terdapat anatomi (ricikan) yang menggambarkan bermacam-macam bentuk yang manunggal mewujud dalam satu kesatuan. Mulai dari pesi, gonjo, gunungan, buntut mimi, greneng, thingil, ri pandhan, sraweyan, ron dha, pejetan, bungkul, lambe gajah, gandik, jalen, kembang kacang, janur, tikel alis, sogokan, pudhak sategal, landhep, gusen, poyuhan, gula milir, kruwigan dan adha-adha. Semua berbeda-beda bentuk (bhinneka) namun menyatu dalam satu karakter yang harmonis (tunggal) dan manunggal dalam satu daya juang (ika).

Perbedaan yang manunggal itu memang indah, melahirkan sikap dan tingkah laku yang senantiasa dinamis. Seindah harapan para empu pembuatnya dalam tiap doa yang dipanjatkan. Seindah menyatunya segenap suku-suku bangsa dan puak-puak asli wangsa Nusantara yang bertebaran di atas zamrud katulistiwa.

Sebagai senjata pamungkas, keris hanya dikeluarkan dari warangkanya pada situasi yang mendesak, yakni pada akhir duel pertarungan antara hidup atau mati, setelah senjata-senjata lainnya terlepas dari genggaman. Keris dipertahankan mati-matian agar jiwa tak melayang akibat tikaman lawan tanding.

Bentuk keris yang meliuk tajam, berkelok-kelok (luk) bagai gelombang mengisyaratkan serangan bergelombang yang tak kenal henti. Luk-luk dalam bilahnya melambangkan keluwesan dalam bertindak, namun tetap tegas dalam berprinsip seperti kerasnya bilahan logam keris yang tegak mengacung.

Doktrin perjuangan yang mengatakan konsisten dalam ideologi, kokoh dalam strategi namun fleksibel dalam taktik ternyata sudah digambarkan oleh bilah-bilah keris. Ketajaman di kanan kiri bilah keris yang mengerucut pada ketajaman puncak adalah gambaran dari perjalanan yang berliku-liku dan penuh tantangan, naik turun seperti gelombang demi pencapaian jatidiri dan olah spiritual paripurna.

Dan dengan senjata ini para patriot siap sedia berjuang mempertahankan tiap jengkal bumi pertiwinya. Sadumuk bathuk sanyari bhumi, tak belani taker pati.

Salam tosan aji.

Glugu Tinatar, Landungsari-Malang.

*Cokro Wibowo Sumarsono, Mantan Sekretaris Jenedral Presidium GMNI dan Ketua DPP Gerakan Pemuda Desa Mandiri (Garda Sandi).

Ratu Luwes…

logo paitun gundulUklam sak ting rong ting kok cenut-cenut kentol iki. Ngaso ae ndik buk cideke warunge Mak Tin ae. Osi ngipok pisan ta. Papakan ambek Riadi hansip, sepedakan kok sliyat-sliyut, osi-osi kesrempet ayas. Sepedakan iso koyok leang-leong, ndrawasi hare.

“Ente lek uklam male teklak-tekluk, Tun. Mangkane kewut ojok nglayap ae…” jare Riadi sak mlethese.

Oo genjik iku rame ae. Masio kewut lek ngremus ente sik kuat le, batine Paitun. Ambekne lapo awan-awan jogo.

“Kono lho nang bale RW, rame acarane ibuk-ibuk,” Riadi ngandani. Wanyok ancene lak setengah corong.

Waik… tepak iki, emar lek ebes-ebes kodew nglumpuk.  Onok kegiatan opo yo, Paitun langsung jablas nang bale RW.

Temenan wong tumplek blek. Onok genjote barang. Ate nyidek kadit kane, Paitun ublem latare hamure Bu Wiwik, hamure pas sebelahe bale RW. Tail tekan kene ae, pip, batine Paitun. Samian ketoke ndekor diewangi Jon.

Waduw, lapo kodew kewut-kewut iku uklam ngubengi panggung ambek ndegak-ndegek, mesam-mesem. Koyoke lomba ratu luwes iki. Riwa-riwi. Lapo wong-wong kewut, kok gak arek nom-noman ae. Deloken, osi-osi kecekluk barang.  Wkwkkwk… onok sing sanggule copot. Diurak wis.  Eit..ee..eee… wisa kesrimpet sewek.

Untung digoceki panitia, lek gak lak iso koyok petinju dilukup utem tekan genjot.  Yo kait iki onok lomba ratu luwes tapi sing nontok isine kekel thok, kalah lomba lawak.

Iki paling tepak yo nang mburi panggung, batine Paitun.  Tekok kadoan kok koyok umyek ae.  Paitun mripit alon-alon nang mburi panggung, ngintip cideke nggene ibuk-ibuk sing ate tampil.

“Ate laopo koen Tun, ate melok latihan?  Lo…lo…lo lak iso kesroh acarane.  Wis ndik kene ae, ojok mlebu!” emar ae lambene Riadi, kaget aku, gak ero ayas lek bekakas iki njogo ndik kono.  Babahno, aco ae, ndik kene gak popo wis.  Temenan, tibake umyek ancene.  Iki sik latihan wis tewur.

“Sing ngemsi gak tepak yo Mbak Tin.  Gak kreatip.  Masio jenengku Jumakyah, mbok ojok nyebut asline, dimanisno thithik ta… inilah penampilan Mbak Maya.  Cek rodok mbois ngono.  Iki gak… inilah Lek Jum.  Wis awak maleh diurak.  Emsine  gak enthos, ” jare Lek Jum ambek plethat-plethot.

Paitun ngempet ngguyu, whuiikk… lipsetike iso koyok cet meni.

“Aku maeng ate mlebu yo tak pleroki emsine.  Lha mosok iso ngumumno… itulah tadi yang bergaya Tante Bambing…  Kudu tak kruwek ae emsine,” ujube Bambing bludrek.

Ancene pas ndik panggung ujube Bambing latihan,  gak kaop lambene bapak-bapak, opo maneh cangkeme Bendhot lek ngurak. Mbing… ndang mulio Mbing…. Oalaaa, rejekine Bambing deww… Biyen kok guduk iku se Mbing…. Tante Beembii…. mana papi Bembing….

“Wis ojok umyek ae, engkuk buyaran latihan tak kandanane emsine,  Sewekmu iku Jum benakno, ate mlorot lhok en.  Ayo saiki sopo, urutane!” jare Bu Wiwik.

Paitun wetenge senep ngguyu thok.  Riadi nglirik Paitun, kekel pisan hadak.  Ngono kenthese disogrokno wetengku, sempel ancene Riadi.  Des iku.  Lhuw… Bambing tibae ndondok ngarepe panggung ambek gerombolane.  Raine Bambing iso koyok berkat.

“Berikutnya, tidak kalah luwes dan mempesona… inilah Bu Pi’i…. dengan kebaya lorek lorek merah delima….” unine emsine dimanis-manisno.

Bendhot ngadeg malangkerik, blas ganok sing wani ngurak. Penonton gremeng-gremeng ambik bisik-bisik gak wani ngguyu. Hadak Bambing moro-moro ngadeg ambek bengok sak kayane.

“Lorek maneh…. yoyek ho…. Iii…Pi’i… ente nemu ndik ndi Ndott… Eeeendhot supi’iiii…” los cangkeme Bambing.  Sing nontok tegang.  Bambing gak ero lek Bendhot ngadeg ndik mburine.

Lhuk… temenan, hadoh…. Bendhot langsung mithing Bambing.  Bambing berontak, karepe iral lha kok hanggum nang panggung, diuber ambek Bendhot.

Wisa tuleg kemruntel ndik panggung. Ratu luwese semburat. Genjot iso koyok onok lindu.  Akhire panggung bek wong-wong ate misah. Regeg wis. Untung gak kenek dekore, lak iso dibabit ta Bambing ambek Jon. Aluk eskip ae, batine Paitun ambek ndredheg terus iral pisan.

Sikil gak kuat, ambekan ngongslo, Paitun ngaso ndik buk ngarepe bedak pracangane Bu Tatik.  Kanyab ebes-ebes kodew blonjo. Ndek kene tibae yo emar pekoro panggung.

“Wis tuwek-tuwek sik kakean polah.  Mbok ngoco.  Sik pantes opo gak.  Sakjane cek arek nom-nom iku sing nggawe acara, dadi cek ero artine Kartinian.  Iki enggak… ngetet ae.  Lha tambah diguyu wong ta, jeng.  Iyo lek sik langsing ngono, luwes, gemulai…  Iki gak wis awake bunder, pacakane mekso, iso koyok tong dikelir terus diglundungno.  Tin iso koyok lepet,” jare Bu Ambar.  Iso ngekek kabeh, gak kaop kodew-kodew lek ngguyu.

“Iku yo rame lho pekoro danane. Oleh sumbangan warga tibae yo gak nutut.  Kulo ngewangi narik sumbangan De Sum,  kulo bagiane donatur. Sampeyan semerep, kathah sing ngglethek.  Ketoke ae pakeane mewah, tas regone atusan, tibae lek dijaluki sumbangan nggeh mbulet, ngekeki gak sumbut blas kale gayane.  Ayu tapi medhit, mleki,” jare Bu Kawit ambek ketoke pegel.  Wisa, tambah barak kompore, batine Paitun.

“Aku yo ngono kok mbak. Disemayani ping pindo, gak mbalik maneh aku.  Montore ae telu. Iso-iso montore ae bengsine  disemayani. Mosok tahu digawe, tengerono, lak ndik garasi ae,” jare Bu Kus.   Lhuw… tambah nggebros jos kompore.

“Ero aku lek iku. Padahal lek tuku pulsa ndek kene iso sedino pindo.  PKK kesroh lak gara-gara suthil iku.  Mosok pekoro jimpitan rong ewu ae, geger, maringono mengaruhi liani cek gak melok PKK. Ndek TPQ yo ngono, guru-guru ngaji iku lak yo butuh transpot,  adah… gak sepiro, sak  ikhlase.  Maksude, orang tua murid iku sepakat urunan limang ewu.   Ngono yo geger gak setuju, jare kudune gratis.  Lak repot ta,  gawe ngaji anake limang ewu thil gak gelem, tapi tuku pulsa sedino pindo.  Jithoke jeru paling, gak jeru thok… juglangan,” sing duwe toko hadak tambah mbandari omongan.

Gurung mari rasan-rasan ibuk-ibuk kaget.  Bambing setengah mlayu digiring ujube ambek tuding-tuding, adoh… crawake.  Raine Bambing abang ireng gak karu-karuan, imblake dhedhel dhuwel  ditlembuki Bendhot maeng paling.

“Sampeyan gak iso ngregani wong wedok!  Isin-isine ae!  Deloken iko, kesruh kabeh gara-garamu Mbing.  Kathik mene sampeyan nontok pentas, awasss sampeyanI  Iso gak kenek tangane wong lio, tak ssambelll sampeyan!” ujube Bambing spaneng.

Lhukk, sambel pencit kane, iki hadak sambel Bambing…

Refleksi Pemerintahan HM Anton – Sutiaji Selama 2016

Oleh: Muhammad Anas Muttaqin MSi *

Tahun 2016 segera berakhir dan 2017 akan segera datang. Dalam kurun waktu 12 bulan, banyak catatan yang telah dicapai Pemerintah Kota Malang dalam mengelola berbagai sektor. Diantaranya berbagai inovasi untuk mempercantik Kota Malang lewat revitalisasi Taman Kota, yang sebagian besar diperoleh lewat dana CSR. Maupun berbagai inovasi kampung tematik seperti kampung Jodipan dan gerakan menabung air di Kampung Glintung.

Ada prestasi dan penghargaan yang dicapai selama periode tahunan tersebut, diantaranya dalam hal pelayanan publik dan inovasi. Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya juga dinilai lebih baik dari sebelumnya. Namun tak sedikit juga catatan buruk muncul karena kinerja yang dinilai kurang maksimal selama 12 bulan terakhir.

Dari riset dan kajian Lembaga Hasta Komunika, catatan buruk masih dialamatkan kepada beberapa kebijakan Walikota dan SKPD karena sejumlah program yang belum berjalan dengan baik. Hal itu terjadi, karena belum terjadinya sinkronisasi program dengan baik antara konsep, perencanaan, dan implementasi di lapangan.

Lembaga riset dan konsultan ini juga mencatat, ada beberapa persoalan yang dinilai belum tuntas diselesaikan pada tahun 2016 ini, di antaranya:

Polemik Pengelolaan Parkir

Persoalan parkir merupakan salah satu masalah paling serius di Kota Malang. Mulai dari kenaikan tarif parkir, maraknya parkir liar, tidak adanya karcis parkir serta manajemen parkir yang masih kurang baik sehingga berpotensi menyebabkan kebocoran PAD. Bahkan puncaknya adalah ketika muncul petisi online soal parkir yang ditujukan kepada Walikota Malang sehingga memicu sorotan dan perbincangan publik. Sampai akhir tahun ini, persoalan parkir dinilai belum sepenuhnya dapat diatasi oleh Pemkot Malang. Beberapa tindakan masih dinilai reaktif dan formalitas, tanpa memperbaiki sistem secara menyeluruh sehingga keluhan masih banyak dirasakan masyarakat.

Malang Darurat Banjir

Masalah banjir juga menjadi persoalan yang cukup sering dihadapi oleh masyarakat. Setiap musim hujan, beberapa titik di kota Malang tercatat menjadi langganan banjir. Bahkan yang terparah, beberapa bulan lalu sempat terjadi banjir yang cukup parah di beberapa titik seperti di Jalan Galunggung dan jalan Surabaya hingga menyebabkan genangan setinggi dada orang dewasa. Buruknya penataan infrastruktur saluran air dan pembangunan yang menyalahi aturan dinilai menjadi penyebab utama terjadinya banjir tersebut. Diketahui sampai akhir tahun ini, masih banyak wilayah di Kota Malang yang masih kerap dilanda banjir ketika hujan turun.

Jalan Macet dan berlubang

Kepadatan lalu lintas di Kota Malang sudah memasuki fase yang lumayan parah. Kemacetan di beberapa ruas utama Kota Malang terjadi setiap hari. Bahkan banyaknya jalan berlubang turut memperparah kondisi tersebut sehingga rawan menyebabkan kecelakaan. Buruknya pengelolaan angkutan umum di Kota Malang ditengarai menjadi salah satu penyebab kepadatan kendaraan karena masyarakat merasa kurang nyaman memakai jasa angkutan umum. Rekayasa lalu lintas yang kurang maksimal juga menjadi penyebab lain. Butuh kerjasama 3 kepala daerah di Malang Raya dalam mengatasi persoalan tersebut.

Dugaan Korupsi

Persoalan Korupsi selalu menjadi sorotan dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan daerah, begitu juga dengan Kota Malang. Beberapa isu tentang dugaan korupsi dinilai masih belum tuntas diselesaikan hingga akhir tahun ini. Diantara dugaan korupsi adalah pengadaan lahan RSUD Kota Malang sebesar Rp 4,3 miliar, dan pengerjaan Jembatan Kedungkandang sebesar Rp 7,9 miliar.

Ada juga dugaan korupsi terkait pengerjaan drainase sebesar Rp 5,8 miliar. Bahkan korupsi di Dinas Pasar Kota Malang sudah sampai pada tahap penetapan tersangka. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan juga sudah turun tangan memeriksa beberapa pejabat di eksekutif dan legislatif terkait beberapa dugaan kasus korupsi. Menurut Malang Corruption Watch (MCW), Kota Malang masuk 10 besar kasus korupsi di Jawa Timur.


Polemik Penyelesaian Pasar Dinoyo Dan Pasar Blimbing

Penyelesaian polemik pedagang Pasar Merjosari yang tidak mau dipindah ke Pasar Terpadu Dinoyo ternyata berlanjut dan belum menemukan solusi konkret hingga saat ini. Para pedagang menilai Pasar dinoyo belum layak untuk ditempati dan ada beberapa kesepakatan yang belum dipenuhi oleh investor. Bahkan beberapa saat lalu persoalan tersebut meluas dengan munculnya masalah sampah yang sampai berhari-hari tidak diangkut oleh dinas pasar Kota Malang. Polemik ini diwarnai dengan demonstrasi yang berkali-kali dilakukan oleh paguyuban pedagang pasar. Revitalisasi pasar Blimbing juga menemui persoalan serupa, relokasi pedagang ke pasar penampungan sementara belum menuai hasil hingga saat ini. Pola komunikasi dan diplomasi Pemkot Malang dalam penyelesaian masalah ini turut menuai kritik.

Menjamurnya Toko Modern

Persoalan menjamurnya toko modern di Kota Malang turut mengundang keprihatinan banyak pihak. Banyak masyarakat menilai bahwa kehadiran toko modern membuat pedagang kecil tersingkir. Tercatat sudah 257 toko modern berdiri di Kota Malang hingga pertengahan tahun ini.Puncaknya adalah munculnya Aliansi Anti Toko Modern Ilegal Kota Malang yang menuntut agar pemerintah daerah menutup toko modern yang tidak berijin dan menyalahi aturan. Aliansi juga menuntut pemerintah menata kembali operasional toko modern di kota Malang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Menjamurnya toko modern dikhawatirkan akan mematikan toko tradisional dan juga memicu permasalahan sosial ekonomi di masyarakat.

Lemahnya City Branding

Branding kota menjadi semakin penting sebagai daya tarik untuk bersaing merebut perhatian konsumen, wisatawan, investor dan pemangku kepentingan lain yang menghasilkan pemasukan untuk daerah. Selama ini branding Kota Malang masih dinilai kurang maksimal baik dari sisi kemasan, strategi dan konsep. Dibutuhkan pengenalan dan keterlibatan masyarakat secara aktif untuk membantu memperkuat branding kota. Pemerintah dituntut untuk tahu bagamaina “cara menjual” dan “apa yang dijual” di daerahnya sehingga jargon “beautiful Malang” ataupun maskot Kota Malang tidak hanya menjadi slogan pelengkap belaka.

Beberapa Persoalan Lain

Selain berbagai persoalan diatas, ada beberapa persoalan lain yang dinilai masih sering terjadi di Kota Malang. Diantaranya adalah persoalan pelayanan publik yang seringkali masih menuai keluhan dari masyarakat. Layanan pengaduan SAMBAT online dinilai masih kurang maksimal dan lamban dalam merespon. Mahalnya biaya pendidikan juga masih menjado sorotan, hingga persoalan PPDB yang tiap tahun selalu menuai polemik di masyarakat. Kebijakan pemerintah daerah yang seringkali berbenturan dengan kepentingan masyarakat juga masih kerap terjadi, seperti persoalan “jalan satu arah” yang pernah menjadi polemik berkepanjangan. Penataan pedagang kaki lima (PKL) di beberapa tempat dinilai juga belum berjalan maksimal. Pemerintah daerah juga dituntut untuk lebih melindungi kawasan heritage sebagai salah satu simbol dan identitas kota. Terakhir, sepak terjang Walikota Malang yang masih terkesan “one man show” menjadi sorotan masyarakat agar lebih memberi ruang kepada wakilnya untuk berbagi peran sesuai tupoksinya.

Optimisme menyambut 2017

Periodesasi pemerintahan HM. Anton – Sutiaji sudah berjalan 3 tahun lebih. Masih ada waktu sekitar 1,5 tahun lagi untuk menyelesaikan berbagai target dan program yang belum terlaksana, sebelum dilaksanakannya pilkada 2018 nanti untuk memilih kepala daerah baru. Semoga disisa waktu yang ada, Pemkot Malang dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan inovasi dalam membangun Kota Malang yang bermartabat sesuai dengan visi misi yang dicanangkan. Butuh partisipasi dari semua pihak untuk mensukseskan hal tersebut. Salam Satu Jiwa!

*Muhammad Anas Muttaqin MSi, Direktur Eksekutif HASTA KOMUNIKA Research & Consulting.

Pekoro Graono

Mari udan sewengi, dino iki padang njingglang. Langit terang teroco. Paitun uklam lenggang kangkung koyok wong gak duwe utang. Ate nang Bu Wiwik ae mumpung iling, batine Paitun. Nayamul dijanjeni sewek ambeng selendang hare. Masio wis tuwek tapi sik nendang…wkwkwk. Ladub prennn…

Tekan ngarep pos Paitun ngungib, opo iku ndik isore ambene pos. Ate nyidek, hadak onok sing utem tekan isore longan amben ambek gopoh ketatap-tatap. Olaopo ae iku, lho… kok iso ndlosor, ndase ambek awake ublem longan, ngokobe hadak sing njengunguk mleding. Tak pikir lak kresek isine pipian. Ladalah… tibae Bambing. Yo kaget ambek setengah isin wanyok tail onok ayas.

“Heh… lapo koen ndik keneh. Ojok kathik critoh wong-wong lho yo? Awas kalok kamu bikin malu sayah,” jarene ngancam. Paling nggedak thok, wong atase Bambing ae, batine Paitun ambek ngempet ngguyu.

‘Onok grahonoh, koen gak ero ta? Mangkane ayas latihan ublem longan. Lek ndik hamur iso dikabyuk ambek ojob. Ayas latihan entek gerdin duah. Ojok ngguyu! Koen awas lek critoh!” jare Bambing ambek praene abang ireng. Oala, graono lak sek mene, onok latihane barang, kewut tapi keplek eram. Timbang kolem sempel, aluk nyengkre ae.

Ndik pojokan terase Pak Nardi lha kok grup bengkarokan jagongan. Cilakak iki, bah wis halabuk ae ethok-ethok kadit itreng ae. Wisa, Nanang hadak takok.

“Tun, koen ketok Bambing? Sik ndlosora ndik pos?” bantere Nanang lek takok. Apes awak, tibake wis eroh kabeh. Lha lak awak ta engkuk sing diarani nyebarno berita. Timbang dipitenah, nyanggrok ae ndek kene, bek e Bambing mrene. Ketoke graono dadi omongan.

“Lek jamanku cilik ancene dikongkon mlebu longan ambek ebes. Ndik negorone awake dwe iki lek pekoro onok graono yo macem-macem tradisine. Lek ndik kene jarene Bethoro Kolo kalah duel ambek Bethoro Guru. Bethoro Kolo gulune pedhot kenek senjata cakra, ndase ngglundung tapi terus nguntal srengenge, karepe cek e bumi iki peteng dhedhet pisan. Mangkane penduduk nuthuki lumpang ambek alu cek e srengengene diutahno maneh,” critone Endik. Slathem kadit meleg halak.

“Ndik Ternate meh podho. Jenengen ndek kono tradisi dolo-dolo. Pas graono penduduk nuthuki kenthongan pring cek srengengene cek diutahno maneh soale dipangan nogo, mboh opo jenenge lali aku,” jare Slathem ambek gayane rodok kemeruh.

“Gak e, critone kok untal-untalan, srengenge adane apem ae,” jare Bendhot sak mlethese.

“Sik untung kadit nguntal ente Ndhot. Ente gak tau ta dicritane ebesmu opo sopo. Tapi yo ayas maklum, Bendhot biyen lek halokes lak nyambi bukak dadu,” Endik nyemes.

“Lambemu Ndik. Koen ero a rek, Endik biyen lek onok graono, iral… bettt… sak kayane, terus ublem seweke hame. Lha hame pas milii menire beras. Saking kagete hame iso njlungup nang tempeh. Wanyok dicengkiwing hame, dilebokno longan. Marine graono Endik kok gak utem-utem. Tibae koen ero, diinceng, Endik diseret metu, ngetet ae kadit meleg. Tibae wanyok nganthong… wk..wk… Ngakuo ae ente Ndik,” jare Bendhot koyok wong menang main. Endik raine abang ireng, gedheg thok gak wani njahe. Wis kekel kabeh.

“Wong-wong biyen iku corone ancene ngono iku lek ngekei peringatan. Awakmu lak iling ta wong-wong tuo biyen lek menging awake dewe, magrib ojok ndik ngarep lawang, ojok nglungguhi bantal, arek cilik gak oleh melok nylawat engkuk sawanen. Liane sik akeh, koen kabeh mesti iling. Masyarakat, opo suku-suku, iku duwe tradisi dewe. Duwe tapsiran dewe pekoro graono. Mangkane onok sing nabuhi, onok sing mbeso, onok sing singitan, duwe adat dewe-dewe,” Pak Nardi nuturi. Kabeh ngrungokno ambek ngowos. Jagongan maleh osi koyok kelase Kejar Paket A.

“Saiki opoo, masio gak magrib ndik ngarep lawang, yo osi disasak brompit. Wisss… nguawur pol wong lek apedesan,” Slathem ngroweng.
“Lek awake dewe saiki yo seje ndeloke. Graono iku sakjane iso diarani peringatan, menungso cek iling kuosone Gusti Allah, sing nduwe jagad. Iku sik dipetengi diluk srengengene. Yoopo lek jagad iki dipetengi sedino, seminggu, sak ulan, setahun?” jare Pak Nardi. Arek-arek mulai klincutan. Onok sing pucet. Bendhot thok sing pancet soale masio ganok graono yo wis koyok langus.

“Tapi jaman sak niki, graono mboten usah ngenteni taunan Lek Di. Saking biasae, masyarakat mboten kroso lek bendinten enten graono,” jare Nanang.

“Ente ngawut ae. Lek graono bendiro lak maleh angel lek nggoleki Bendhot,” Endik karepe nyekak Bendhot.

“Lek angel nggoleki ayas, nokato Paitun ae mesti ero, yu Tun?” jare Bendhot. Lho lapo kongkon takok ayas, lha prasane ayas bulike ta, batine Paitun. Karuan duwe ponakan sing mbois. Lek Bendhot yo gak patheken. Pas jagongan, lak dipikir wong ayas lawetan areng.

“Kulo guyon,Lek Di. Nopoo kulo kok ngarani graono enten bendino, soale jaman sak niki raksasa opo nogo niki mboten nguntal srengenge, tapi nguntal proyek. Bedane nggeh sak niki mboten petengan tapi gelap ah… he… he… he…” jare Nanang ambek gayane niru ngguyune Ustad Rozikin.

“Iyo yo…pas ngene ini onok pintere sampeyan. Kathik koyoke wis males wong-wong ate nabuhi. Lancar wis ya?” jare Pak Nardi.

“Lho, kathah sing nabuhi de. Tapi sing ditabuhi ethok-ethok mboten krungu. Kadang-kadang rombongan sing nabuhi enten sing terus jagongan kale nogone. Nogo sak niki lak mboten saget nyemprot geni soale moloh-moloh kale sing diuntal. Sing nabuhi rebutan nadai ilere. Ngoten tirose, tirose lho…” jare Nanang.

Lhuw… tekan kadoan Bambing ketoke moro ambek emosi. Paitun gak sempat ate keplas. Awak iso ditlembuk ambek keblek iku. Slamet… slamet tibake kadit.

“Rek,tulung ewangonoh. Ayas ambik Riadi dikandaknoh RW. Amben ndik pos mblethat kabeh. Jareneh aku dikongkon ndandani. Tapi ayas bingung. Jare Riadi, kongkon gawe ereng-erengan enteke orip, ditanggung RW. Terus kongkon nambahi pisan itungane ndandani gentenge, ngambakno terase pos ambek ngganti tekele ambik keramik. Jare ayas lek dlosoran cek enak. Nurut ente yoopoh enake?” jare Bambing nggomblohi. Wong-wong iso lolhak-lolhok.

“Koen yo Tun sing ngandani Riadi!” Bambing mendelik nang Paitun.

Karepe dewe ae keblek iku. Awak wis kroso, mesti diarani, batine Paitun. Kapokmu kapan Mbing, saiki diciprati ilere, emben ente diuntal karo nogone.

Golek Gantrung Le’ e…

Paitun Gantrung

Paitun ketok ndik pojokan Balai RW pas onok acara. Parkiran bek brompit, libom yo kanyab. Mangkane Draup prengas-prenges ae, nyirik thok ae spion iku. Jogo parkir ae cik necise, riwa-riwi ngoco ndik spion terus, Diluk-diluk ngoco. Jaket e sing mburi onok gambare opo iku, simbule gak jelas. Paling jaket diisaki, lek gak nemu ndik urek-urek.

“Lapo koen tail jaketku ae? Opoo… mbois ta gambare? Awak lak kreatip ta, heh ya? Ente ketoke ngremehno ayas,” jare Draup ambek kemenyek. Mbois apane, batine Paitun. Raine koyok watu.

“Minggir… minggir… ,” Riadi keamanan tekok kadoan bengak-bengok ambik gayane nyeterilno embong. Paitun penasaran, onok opo iki.

Rombongan apais iku. Lhuk, karak-karakan. Pandi ndik ngarep dhewe, ngawab koyoke kerdus dihias. Ndik mburine ditutno wong-wong kencak ambek podo ngangkat sapu korek. Ate nyaponi opo wong-wong iki ingeb-ingeb, rikipe Paitun. Tibake gerombolan Pak RT sing ngetutno ambek mbeso. Paitun kudu ngguyu ambek gak habis pikir, lapo ngawab sapu korek.

“Koen gak minggir… tak kabyuk kene engkuk!” jare Supri ambek ethok-ethok ate ngabyuk Paitun. Ola opo, plaur men situk iku kolem ae. Arek iku lak guduk RT. Wis kendep, rambute njegrik, kalah sapu korek. Lhok en ta, iku uwong ta sulak.

Riadi tibake yo kudu ngguyu, tapi macak kereng maneh pas dipleroki Pak RW. Mbesone prei, karak-karakan sapu korek ublem Balai RW. Oala… sapune yo dikawab ublem. Terus ola opo, bas ndik njero joget sogrok-sogrokan, batine Paitun. Kait ungak-ungak, diparani Riadi.

“Koen mesam-mesem, maleh ayas kudu ngguyu pisan. Ngalio ae Tun, awak osi ditlembuk pisan engkuk. Wis ojok ndik kene… age,” jare Riadi ambek nuding-nudingno khentese. Gak usah mbok usir, ayas nyengkre dewe, Di, batine Paitun. Andalane Riadi yo mek kenthes e sing melur iku. Gak sumbut lek kres ambik Riadi.

Sing kane ngene iki nang sanggare Samian. Golek hiburan, ambek ngecas ati, cek ngedem roso. Tekok ngarep pager, suarane Samian cik bantere, regeg antarane. Kanyab gnaro jagongan. Lhuw… gerombolan thothok uwok. Sing aman kadit ublem sik, ndik njobo pager ae, rikipe Paitun. Tail situasi sik, thes.

“Iku lak mbanyol ta. Opo maksute? Nentokno simbule kampung iku kadit sembarangan ho! Mestine lak kudu rundingan sik ambek sing akline. Onok pilsapate iku, gak sukur mlethos ae. Wis… wis… nguwawur pol!” jare Samian ambek atame mendolo.

“Sakjane ayas wis krungu. Tak pikir guyon. Tambah tak gudo, iku sapu korek e iso mumbul tah lek ditumpaki? Koyok sing ndik komik-komik iku. Seksi keseniane RW langsung mlorok nang ayas,” jare Londo. Bambing ngenem ae, koyoke rikim golek bahan.

“Ayas yo heran. Mestine lak ngejak rundingan sik. Sembarang iku lek diomongno lak enak. Ndek kene lak akeh wong-wong sing akline sejarah. Budayawan, wong seni sing ngerti yo nyepak. Dadi engkuk ketemune simbule iku iso mbois. Lha iki moro-moro ditentokno simbule sapu korek, opo’o gak sak cikrake pisan. Kadit mbois babar blas…” jare Samian. Wong-wong kekel. Bambing koyok disumet lambene.

“Aku krungu, jare sapu korek iku artine persatuan. Tapi yo emboh, persatuan sing yok opo. Opo bersatu nyaponi kancane. Kita punya kampung iki pegunungan, guduk panteh, yo gak onok wit klopoh. Tekan endi asale bitingeh. Khayal… khayal…” jare Bambing ambek ngongsloh. Gnomo ambek ndhodhok. Bianto utem srongote, nyocot pisan.

“Pak RW iku yo ngono pisan. Wong wis ngerti lek mulai biyen seksi kesenian RW iku gak sepiro enthos, yo sik digawe ae. Lek jare wong-wong njobo, orang kalo sudah pikirannya tiga C, cwan… cwan… cwan, ojok arep-arep kemajuane kampung,” Bianto mulai pakek bahasa. Et… et… deloken, temenan.

“Orang seperti itu biasanya ndak punya yang namanya tanggung jawab moral, tanggung jawab budaya. Terus biasane yo rai gedeg. Lek ayas meleg ngablak, lhooo… kanyab kasuse. Dikiro ayas gak ero. Bukan rahasia umum wisan. Gangdoan, pren…” jare Bianto, ambek malangkerik koyok ceret.

Ndik pojokan, Bendhot klepas-klepus, okeran opo wanyok kok beluke mbuleng. Penjalin lek e ditodes. Samian uthek ambek udenge, diblebetno nglokor terus, suwe-suwe diuncalno. Lha kok pas raine Londo sing klosotan ndik amben halabese. Londo njahe, wis udenge diuncalno nang got. Samian mek ndlomong. Gnaro aud iku kait biyen kadit akur, sakjeke biyen kadit odis besanan.

“Ojok ngono ta rek, iku lak kreatip jenenge. Saiki lak usuma kreatip-kreatip. Ojok rikim elek sik tah,” jare Endik. Dadak Bendhot ngablak.

“Oyi, kreatip sanjipak, kreatip nylinthung kancane, kreatip ngakali wong kampung. Kreatip ekonomi, ekonomi kreatip, ithab kreatip, mbulet… tewurrr, mboh kah… gak jelas. Tapi ancen sula niame, tak akoni, sula… Paitun ae ero, yo Tun?” jare Bedhot cik entenge lambene ambek nuding awak. Ngawut ae klentheng iku, ero ancene ayas. Kadit sula blas sablukan iku.

“Saking kreatipe, jare wong-wong lek rasan-rasan, Pak RW sampek bertekuk lutut. Lak male kanyab sing salah tapsir. Pak RW iku ero, opo nggomblohi, opo digorohi, opo ancene nyetel, opo kurang cerdas… Kok gak kroso. Gak athik nggawe ilmu, iku ketail jelas…las. Onok lho sing mbedek, Pak RW iku bas wonge gak sepiro pinter, koncone kliru pisan. Yo naisak yoan. Guduk ayas lho sing ngomong,” jare Londo. Mari crito, grogi dewe. Liane melok kadit kane, tapi Bendhot hadak kekel.

Endik sing kait maeng nggethu sekak ambik Pak Nardi, mari halak maleh nyaut kolem pecothotan.

“Onok sing crito. Pas latihan ndik Balai RW, seksi keseniane RW oket. Kabeh diklumpukno, arek-arek diwanti-wanti ojok sampek ngejak wong-wong seni sing kadit pro RW. Iku lak ayahab ta. Ngedu kono, ngedu kene. Deloken ta, wis ping orip, acarane kampung mesti nanggap wong njobo kampung. Padahal ndek kampunge dewe iki lak sak ketapruk wong seni, sanggar sing sakjane butuh pembinaan, butuh diuri-uri. Lek atase kepingin ayak ae ojok ngorbano kepentingan kampung, kepentingan bongso. Lak ngonoa ya?” jare Endik.

Ketoke howone mulai sanap. Sing kane yo ndang kemblas ae, rikime Paitun. Koyoke ate gerimis maneh hare. Uklam sik ae, ate nangdi dirikim mburi. Ambek mripit setengah ngiyup, lho… kok krungu wong nyanyi keroncong. Lhok… sinam iki. Ketoke onok latihan keroncong ndik hamure Hengky. Temenan. Merdu iki. Ndhodhok ae ndik teras. Oala sing nyanyi Lek Jum. Tibae lumayan suarane, nrebel, ngono gak lawetan ledre ae.

Sapu lidi, ujung pepaya…
Jiwa manis ujunglah pepaya…

Hadak Bendhot liwat. Ngungak terus nyengkre ambek ngakak.

“Tak kiro ente sing nyanyi, Tun. Sapu lidi hare, ate golek gantrung le’e…,” kober ae lambene njeplak. Repot ae lem sepeda iku..

Rak Buku dari Plastik; Puisi-puisi Tjak S. Parlan

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

Tempat yang Terlalu Sempit untuk Bersedih

“Sudah bukan saatnya
kita berumah di kamar,” kataku.

Aku tahu, itu bukan perihal yang ingin kau dengar.
Kamu juga tahu, itu jenis pembicaraan yang paling sering
ingin kuhindari. Tapi hari ini, drama itu telah dimulai.

Buku-buku itu selalu menyita banyak waktu dan tempat.
Sementara, anak kita butuh lapangan bola, langit
cerah yang luas juga burung-burung origami
yang beterbangan di dalam rumah.

Tapi rumah adalah jarak, yang hanya bisa
ditempuh dengan cita-cita. Rumah bukan hari ini
—ia adalah sesuatu yang sering kita sebut
dengan mata berkunang-kunang sebagai nanti.

“Aku harus mulai memikirkan
tempat kerja di luar,” kataku.

Untuk ke sekian kali, kamu mendengar yang
seperti ini. Tapi mungkin benar, bahwa
masih banyak hal di luar yang menunggu didengar.
Sementara di kamar, kita belum kelar mengurusi
rasa lapar.

Tapi aku—juga kamu— tak akan menggigil,
oleh kering-dinginnya angin yang diembuskan
dari masa paceklik. Ini mungkin pancaroba, tak ada
waktu untuk merasa paling jatuh dan sia-sia.

Aku bahkan mulai ragu, bawa kita masih bisa bersedih
di tempat yang terlalu sempit untuk bersedih ini.

Pagesangan, 7 Mei 2017

 

Februari

Februari terdampar di bandar-bandar kecil,
seperti para kekasih yang rindu
dan tak kunjung bertemu.

Februari adalah pertemuan di sebuah rel kereta
yang lurus menjauh dalam lambaian tangan
di belakang rumahmu.

Februari adalah sebuah tikungan
yang memaksamu membunyikan bel sepeda
dan menoleh sedikit pada kenangan.

Februari adalah hujan yang tahan lama,
yang membuatmu menjadi kekasih sekaleng bir
dan kaca jendela.

Februari adalah rhinitis akut— atau semua itu—
yang menjauhkanmu dari segala cium.

Februari adalah penyamun yang tersesat di rumahmu
saat kau tertidur, dan menjarah
semua mainan anakmu.

Februari adalah kalender tua basah
yang lupa kau buang seluruh tanggal merah
di tempat sampah.

Februari adalah rencana-rencana
yang tergelincir di jalanan hujan
yang kerap terhapus para pejalan.

Pagesangan, 18 Pebruari 2017

 

Tengah Malam

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita sakit, dan sepenuhnya kita lupa
cara bercinta. Kita lupa mencatat
panggilan-panggilan darurat: panggilan taksi,
rekening pribadi, telepon rumah tetangga,
nomor kontak kawan dekat.

Kita lupa membalas SMS selamat ulang tahun itu.

Saat kau melangkah ke dapur, aku tahu
ada kalanya kita tak bisa mengandalkan bawang merah—
yang kerap membuat mata teduhmu berair dan membawa-bawa
aroma pasar ke dalam kamar—
atau paracetamol yang membeku di kotak obat: penghalau demam
bagi pemegang kartu BPJS itu.

Tapi kita tak punya kartu. Kecuali alamat sementara, kita tak punya
apa-apa yang penting untuk dicatatkan pada negara. Negara
tak butuh apa-apa dari kita—
negara adalah rezim yang paling mandiri.

Kita tersudut di tengah malam,
ketika itu. Anak kita yang bertahan dan lelah menangis,
tertidur dalam kantung matamu yang hangat
dan berat.

Lalu pukul empat dini hari, sebuah SMS masuk—
pesan pendek yang selama berbulan-bulan aku sembunyikan,
baik darimu, dari puisi, dari keadaan.

“Tak bisa tidur, Bung? Tak kau terima saja tawaran itu?

Aku terbayang ruang ICU, kantor polisi, jeruji besi,
kue ulang tahun, mobil mainan, sebuah brosur rumah bersubsidi.
Aku menatapmu, aku menatap ‘kekasih’ kecil kita
yang tertidur. Aku membalas sebuah pesan:

“Aku ikut. Aku jalankan.”

Sebelum tertidur, aku menghapus SMS itu darimu,
dari puisi, dari keadaan.

Pagesangan, 17 Pebruari 2017

 

Rak Buku dari Plastik

Rak buku dari plastik itu, terbebani
oleh janji para penyair yang ingin
menerbitkan buku:

oleh hasutan yang kerap diembuskan
dari sebuah toko buku
yang hening.

 

Bantal

Tak ada satu pun tempat yang pernah
disinggahi mimpi di sini.
Hanya sisa keramas:
helai-helai waktu yang tanggal
setiap pagi.

 

Hari Libur

Besok hari libur. Hari tenang
bagi sebuah keluarga sederhana.

Keluarga sederhana itu membeli sebuah koran
hari Minggu dan mulai membacanya:
(1) tak ada yang perlu dikhawatirkan
perihal kegaduhan itu, (2) musim kawin para
pemimpin, musim pemilihan rakyat jelata,
(3) kapan terakhir kali kamu piknik?

Menjelang siang, ketika orang-orang baru pulang
dari gereja, keluarga sederhana itu bertandang
ke museum kota.

“Di sini,” kata seorang penjaga, “tanda tangan
di buku tamu ini. Apa lagi yang bisa kami tawarkan?”

Keluarga sederhana itu menggeleng.
“Tak ada,” katanya, “kami hanya ingin menjenguk
sejarah yang lamban.”

Pagesangan, 19 Pebruari 2017

 

*Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975, kini bermukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Cerpen dan puisinya telah dikabarkan di sejumlah media, antara lain Koran Tempo, Media Indonesia, Femina, Lampung Post, Republika, Haluan Padang, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Sumut Pos, Bali Post dan lain-lain. Diundang menghadiri Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, Oktober 2011) dan Jambi International Poet Gathering (Jambi, Desember 2012).

Otak dan Stamina Sehat di Usia Lanjut

Oleh: Ayu Bulan Febry KD SKM MM *

Seseorang dikatakan memasuki masa usia lanjut setelah melintasi usia 60 tahun ke atas. Jangan hanya berfikir bahwa waktu tua nanti, hanya sosok yang sakit-sakitan, pikun, dan tubuh yang lemah rentan. Di usia lanjut ini ternyata Anda pun dapat menikmati hari-hari yang menyenangkan, sehat, dan bahagia. Kuncinya siap akan perubahan yang kan Anda alami baik fisik dan mental, atur asupan makanan, rutin kontrol kesehatan, tetap berolahraga, dan selalu tersenyumlah…

Perubahan Fisik dan Mental

Perubahan secara fisik atau mental banyak terjadi ketika seseorang memasuki usia tua. Perubahan yang biasa terjadi adalah timbulnya uban, penglihatan berkurang, tanggalnya gigi, pikun, pendengaran menurun, dan merasa dirinya dikucilkan. Perubahan tersebut secara alami pasti terjadi.

Bila seseorang sudah lansia, akan terjadi perubahan fisik yang perlu mendapat perhatian. Seseorang akan memiliki otot yang kuat pada usia 20 tahun. Kekuatan ini akan menurun ketika menginjak usia 40 tahun. Pada usia 60 tahun, kekuatan otot hanya tinggal setengahnya dibandingkan dengan bertambahnya usia. Upaya untuk memperbaiki fungsi otot dapat ditempuh dengan cara latihan fisik yang tepat dan berkesinambungan.

Peningkatan jumlah lemak pada tubuh orang lansia dipengaruhi oleh penurunan aktivitas fisik yang tidak diimbangi dengan pengurangan asupan makanan. Peningkatan jumlah lemak akan dapat berdampak terhadap timbulnya penyakit. Perubahan fisik lain yang sering dialami oleh lansia adalah gangguan kesehatan gigi seperti kerusakan gusi, karies pada akar gigi, dan tanggalnya beberapa gigi. Kondisi ini mengakibatkan lansia mengalami hambatan dalam proses mengunyah.

Sejalan dengan bertambahnya usia, kemampuan indra penciuman dan perasa juga secara perlahan mulai menurun. Perubahan ini kadang-kadang tidak disadari oleh mereka. Kekurangan beberapa zat gizi seperti seng, tembaga dan beberapa vitamin dapat memicu penurunan kepekaan indra penciuman dan perasa. Kondisi ini mengakibatkan selera makan menurun sehingga dapat menimbulkan kekurangan zat gizi.

Produksi asam lambung dan beberapa enzim pencernaan juga mulai mengalami penurunan. Kondisi ini berpengaruh terhadap penyerapan vitamin dan kalsium dalam usus. Akibatnya akan timbul berbagai penyakit yang berhubungan dengan lambung dan usus seperti tukak lambung, sembelit atau kurang gizi

Beberapa penyakit yang sering timbul pada lansia adalah penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Organ ginjal pun sering mengalami kelainan akibat berkurang fungsinya. Sistem endokrin juga mengalami kemunduran sehingga akan timbul penyakit diabetes mellitus.

Pada organ seksual, bisa mengalami kemunduran atau kelemahan fungsi sehingga libido menurun. Selain itu, untuk gerakan usus akan lebih lambat dan cairan lambung untuk memproses makanan berkurang. Akibatnya, penyerapan sari makanan oleh tubuh menurun. Selain itu, kotoran (feses) keluar tanpa terkontrol atau terkendali.

Selain itu sel otak mengalami penurunan sehingga secara keseluruhan akan menurunkan daya ingat dan daya pikir seseorang yang kemudian menjadi demensia (pikun). Jika mental lansia tidak siap menerima kenyataan ini, akan menjadi apatis bahkan depresi menghadapi semua perubahan pada masa tua.

Kebutuhan Gizi Usia Lanjut

Kebutuhan energi menurun pada proses menua. Hal ini disebabkan oleh terjadinya komposisi tubuh, yaitu menurunnya sel-sel otot dan meningkatnya sel-sel lemak yang menyebabkan menurunnya kebutuhan energi untuk menjalankan fungsi tubuh. Kebutuhan energi untuk usia lanjut pria sekitar 2200 kalori dan wanita 1850 kalori per hari.

Protein sebagai sumber energi tidak perlu dikurangi pada usia usia lanjut, karena protein berfungsi sebagai zat pembangun pada proses menua untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak. Tetapi protein tidak boleh dimakan dalam jumlah berlebih karena dapat memberatkan fungsi ginjal. Kebutuhan protein untuk usia lanjut adalah ± 0,8 gr/kg BB per hari.

Asupan lemak bagi usia lanjut tidak melebihi 15% kebutuhan energi. Di usia lanjut sebaiknya menggunakan minyak nabati (asam lemak tak jenuh), dan mengonsumsi ikan yang mengandung asam lemak tak jenuh adalah lebih baik dibandingkan protein hewani lainnya.

Penyakit-penyakit degeneratif sering kali dialami di masa usia lanjut ini seperti diabetes mellitus, jantung, hiperkolesterol, asam urat, hipertensi, dan lain-lain. Untuk itu pengaturan gizi dalam hal pemberian diit sangat diperhatikan dan disesuaikan dengan penyakit yang diderita.

Kiat Fisik dan Otak Sehat di Usia Lanjut

Nah, simak yuk sejumlah kiat supaya sehat di usia lanjut…

1. Kurangilah asupan santan, daging yang berlemak, dan minyak agar kolesterol darah tinggi tinggi, karena santan kelapa dan daging berlemak mengandung kolesterol yang tinggi.

2. Perbanyaklah mengonsumsi makanan berkalsium tinggi seperti susu, ikan, makanan laut, karena pada usia lanjut khususnya ibu-ibu yang menoupouse, sangat perlu mengonsumsi kalsium untuk mengurangi risiko keropos tulang. Dianjurkan susu yang rendah lemak tinggi kalsium, bisa juga susu skim. Selain itu, ikan laut memang memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi otak. Ikan laut seperti tuna, salmon, makerel, sarden, serta ikan kod mengandung minyak ikan omega-3 yang kaya akan DHA. Sering mengkonsumsi ikan laut akan memperlancar proses pengiriman signal yang menuju otak.

3. Perbanyaklah konsumsi makanan berserat seperti sayur, buah, gandum, oat, agar pencernaan lancar dan tidak sembelit. Pilihlah sayur dan buah yang berwarna hijau, kuning, oranye karena selain memenuhi kebutuhan serat, juga untuk memenuhi kebutuhan vitamin A, C, E yang melindungi sel-sel tubuh termasuk sel otak dari kerusakan.

4. Kurangi konsumsi gula dan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi agar gula darahnya normal, khususnya bagi penderita kencing manis.

5. Gunakanlah sedikit minyak untuk menumis dan kurangi makanan yang digoreng. Minyak mengandung kolesterol, dan kolesterol di dalam pembuluh darah dapat menyumbat pembuluh darah sehingga mengakibatkan penyakit jantung.

6. Makananlah cukup sumber zat besi. Sumber zat besi dari hewani (daging yang berwarna merah) dan nabati (sayuran berwarna hijau pekat) untuk mencegah anemia dan baik untuk kesehatan otak.

7. Perbanyaklah mengonsumsi makanan yang diolah dengan dipanggang atau direbus, karena makanan tersebut tidak mengandung kolesterol dan mudah dicerna tubuh.

8. Buatlah masakan agar lunak dan mudah dikunyah, sehingga kesehatan gigi terjaga.

9. Buatlah masakan dengan bumbu yang tidak merangsang seperti pedas atau asam karena dapat mengganggu kesehatan lambung dan alat pencernaan.

10. Kurangi pemakaian garam, yaitu tidak tidak lebih dari 4 gram per hari (1sdt = 5 gram), hal ini ditujukan untuk mengurangi risiko tekanan darah tinggi.

11. Minumlah air karena sangat penting bagi metabolisme tubuh dan mengganti cairan hilang dalam bentuk keringat dan urin.

12. Hindari minuman beralkohol, selain menyebabkan iritasi lambung, minuman berlakohol memiliki kandungan energi yang sangat tinggi yang dapat menyebabkan obesitas/kegemukan.

Menu Sehari-hari Usia Lanjut
Berikut ini adalah contoh menu dalam sehari untuk usia lanjut :

Pagi (±Jam 06.00) : Nasi putih, Soto ayam

Snack (±Jam 10.00) : Susu rendah lemak tinggi kalsium

Siang (±Jam 13.00) : Nasi putih, Rolade daging,Tempe bacem, Rawon jamur kancing,Buah melon Snack (±Jam 16.00) : Kue nagasari

Malam (±Jam 19.00) : Nasi putih, Tengiri kuah kuning , Perkedel tahu, Tumis labu siam, Buah pepaya

*Ayu Bulan Febry KD SKM MM, Penulis buku-buku gizi dan kesehatan, penyuluh kesehatan di Instalasi PKRS RS Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang.

 

Menghadapi Ancaman Ekonomi dari Kepikunan

Oleh: Dr Yuniar Sunarko SpKJ *

Berbagai keberhasilan di bidang kesehatan membuat lebih banyak orang di Indonesia hidup lebih panjang. Di satu sisi, tentu ini sesuatu yang sangat menggembirakan, karena warga senior dengan berbagai kemampuan dan pengalamannya dapat menjadi kontributor dalam pembangunan.

Namun bagai keeping uang bermata dua, kita juga harus menerima konsekuensi bahwa berbagai penyakit degeneratif juga meningkat seiring bertambah panjangnya usia harapan hidup. Demensia (kepikunan) adalah salah satu di antaranya.

Di seluruh dunia saat ini terdapat sekitar 900 juta orang berusia lebih dari 60 tahun, dan jumlah tersebut akan terus meningkat. Dalam World Azheimer’s Report 2015 yang dilansir oleh Alzheimer Disease International dinyatakan bahwa antara tahun 2015-2050 di negara berpenghasilan tinggi akan terdapat peningkatan jumlah warga senior sebesar 56%, sementara di negara berpenghasilan menengah diperkirakan peningkatan berada di kisaran 138 – 185%.

Sementara di negara berpenghasilan rendah – di mana sumberdaya untuk mengantisipasi berbagai konsekuensi penuaan populasi sangat terbatas – penduduk berusia lanjut diperkirakan akan meningkat sebesar 239% dalam periode tersebut. Kelompok negara yang disebut terakhir ini memikul beban ganda (double burden), di mana masalah kesehatan ibu dan akan serta penyakit infeksi masih menuntut perhatian besar sementara masalah penyakit degeneratif terus meningkat berlipat kali.

Diperkirakan 46,8 juta orang mengalami Demensia di seluruh dunia, dan 58% di antaranya berada di negara berpenghasilan menengah ke bawah. Angka tersebut akan meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun. Saat ini setiap 3 detik – bersamaan dengan setiap tarikan nafas kita – di seluruh dunia bertambah satu pasien yang dididagnosis Demensia.

Setelah selesai mencermati angka-angka yang disajikan di atas, mari kita mulai memahami bahwa dampak Demensia dapat dilihat pada tiga tingkatan yang saling berhubungan, yaitu Orang Dengan Demensia (ODD), keluarganya, dan masyarakat luas. Sementara Demensia berkaitan dengan menurunnya usia harapan hidup, yang lebih memerlukan perhatian adalah kualitas hidup ODD sendiri dan keluarganya.

Dibandingkan pendampingan pada penyakit lain, ODD memerlukan lebih banyak bantuan. Pada tahap lanjut, mereka memerlukan bantuan di hampir semua aspek kehidupannya : makan, toileting, berpakaian, berpindah tempat, menjaga diri, dan sebagainya. Tentu ini bukan kualitas hidup yang diinginkan oleh semua orang yang berharap dianugerahi umur panjang.

Sementara bagi keluarga / caregiver – nya, kelelahan bertubi-tubi yang timbul selama mendampingi ODD menambah berat beban sehari-hari mereka sendiri. Anggota keluarga yang 24 jam melakukan pendampingan tentu lama kelamaan akan tiba pada titik terbawah kekuatan fisik dan mentalnya.

Konsekuensi lebih lanjutnya adalah penurunan produktivitas dan kualitas pekerjaan keluarga/ caregiver di luar kegiatan pendampingan ODD, karena setiap hari mereka akan berangkat kuliah atau bekerja dalam kondisi tidak prima. Ini disebut Informal Care Cost, yang belum pernah dapat dihitung secara pasti, namun diperkirakan proporsinya sebesar 40% dari beban ekonomi akibat Demensia.

Global cost akibat Demensia di Amerika Serikat meningkat dari US$ 600 miliar pada tahun 2010 menjadi US$ 818 miliar atau 1,09% dari GDP pada tahun 2015. Angka pasti untuk Indonesia belum diperoleh, namun pasti tidak terlalu jauh dari angka tersebut, atau bahkan lebih besar.

Bagaimanakah kita dapat menjawab tantangan ekonomi akibat Demensia ini? Negara-negara yang tergabung dalam G7 telah merilis Global Action Against Dementia. Aksi yang meliputi awareness raising (peningkatan kesadaran), komunitas ramah Demensia/ lansia, serta peningkatan kualitas pelayanan ini direkomendasikan untuk diikuti pula oleh negara- negara G20 – di mana Indonesia termasuk di dalamnya – karena peningkatan beban ekonomi akibat Demensia lebih tinggi di kelompok ini.

Dengan segala sumberdaya yang kita miliki sekarang, kita harus mulai bahu membahu merancang strategi untuk meminimalkan dampak ekonomi akibat transisi demografi ini. Kita mulai dari sekarang untuk memasyarakatkan gaya hidup sehat sejak dini agar tidak menambah populasi penyandang Demensia di masa depan. Bersediakah Anda?

*Dr Yuniar Sunarko SpK, Psikiater di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang dan anggota ALZI (Alzheimer Indonesia)-Malang Chapter.

‘IMPOR’ GURU SEBAGAI BENTUK PENJAJAH(AN) BARU?

Guru membuat soal USBN. (Anja a)
ilustrasi Guru. (Anja a)

Oleh : Romadhon AS

Pendidikan sebelum dan sesudah Pemilihan Umum (pemilu) selalu menarik perhatian bagi setiap calon baik legislatif maupun eksekutif. Ketertarikan pada dunia pendidikan bukan hanya karena kondisi carut marut pendidikan. Melainkan massa pendidikan ini yang sangat signifikan untuk meraup suara. Berbagai organisasi kependidikan telah menjamur di Republik ini. Tak hanya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGR) yang merupakan satu-satunya organisasi profesi guru, namun berbagai ormas keagamaan yang memiliki lembaga pendidikan pun ikut andil menghimpun kekuatan massanya untuk mendirikan organisasi profesi yang sejenis.

Lalu, apakah guru terpecah belah? Hingga kualitas pendidikan kita rendah. Hal ini yang terus menjadi perdebatan dimuka publik baik sebelum pemilu maupun pasca pemilu. Padahal esensi dari keberlangsungan pendidikan tak lain butuh keadilan dan kesejahteraan. Jika keadilan terhadap guru bisa terealisasi dengan regulasi yang tepat, tidak deskriminasi, maka seyogyanya pendidikan berjalan sesuai khittahnya. Menyiapkan generasi cerdas, pembelajaran berkualitas menjadi ekspektasi seluruh stakoholders pendidikan kita. Apakah guru kita tak berkualitas?

Persoalan ini akan terus ‘gurih’ digoreng kapan saja dan dimana saja. Tak seperti ‘gorengan’ atas bencana nasional pasca 17 April 2019 yang telah memakan korban meninggal sekitar 554 orang petugas KPPS (semoga tidak bertambah), belum yang sedang dalam perawatan medis. Tak ada maksud untuk mempolitisasi bencana nasional ini. Dalam pandangan penulis, ini bukan semata pahlawan demokrasi yang kemudian diberikan penghargaan. Namun, dibalik itu mestinya harus diungkap musabab tragedi ini. Karena korban bukan 1, 2 orang saja, melainkan jumlah yang cukup besar dan serentak korbannya adalah petugas KPPS. Sehingga menjadi bahan pertimbangan pelaksanaan pemilu serentak 5 tahun yang akan datang. Pertimbangan itu bisa dari sisi sistem kepemiluan, psikologis petugas, dan sosiologis masyarakat Indonesia dalam menyelenggarakan pemilu.

Fenomena diatas, apa relevansinya dengan kondisi pendidikan kita? Setidaknya, aspek pendidikan akan menjadi pertimbangan dalam seleksi petugas KPPS. Karena petugas yang berkulitas akan menghasilkan kualitas penyelenggaraan yang berintegritas. Bukan berarti penyelenggaraan pemilu kemarin (17/4) tak berhasil. Lagi-lagi semua kegiatan termasuk penyelenggaraan pemilu akan terus dievaluasi agar mendapatkan feedback, rekomendasi atas kegiatan yang akan datang, begitu dan seterusnya.

Pendidikan akan terus dimonitoring dan dievaluasi sejauh mana perjalanan pendidikan di Indonesia. Sehingga akan menghasilkan kualitas yang diharapkan semua pihak. Konon, Tahun 80 – 90 an Indonesia mengirim guru ke Negara tetangga, seperti; Malaysia, Korea, Australia untuk membantu menyiapkan pendidikan yang baik pasca kemerdekaannya. Bahkan pendidikan Indonesia pernah menjadi kiblat bagi pendidikan di beberapa Negara. Karena nilai kearifan lokal yang masih terjaga ditengah arus globalisasi. Ada beberapa tantangan masyarakat globalisasi kedepan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Menurut Ulrich Beck (2000) ada lima yang menimpa masyarakat resiko (risk society) di masa yang akan datang, antara lain; 1) Globalisasi, 2) Individualisme, 3) Revolusi Gender, 4) Pengangguran, 5) Resiko Global karena krisis lingkungan dan moneter. Dari kelima hal tersebut yang telah nampak pada kehidupan kita adalah globalisasi. Dimana pengaruh global telah menimpa diberbagai lini kehidupan. Pendidikan yang juga dipengaruhi globalisasi memberikan pengaruh yang cukup besar. Pengaruh itu dimulai dari aspek pembelajaran. Salah satunya guru dituntut menguasai teknologi. Disamping itu, sekolah tak banyak yang memiliki piranti teknologi yang memadai terutama sekolah pinggiran. Pemerintah terus berharap kualitas pendidikan semakin membaik. Guru menjadi garda terdepan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Lalu, untuk meningkatkan kualitas, apakah Indonesia akan ‘mengimpor’ guru dari luar? Seberapa gentingkah kondisi pendidikan kita sehingga mendatangkan guru dari luar? Ataukah guru-guru kita sudah tak mampu menyiapkan pembelajaran berkualitas untuk menghasilkan generasi emas di tahun 2045? Ini pertanyaan yang mesti kita renungkan banyak pihak termasuk para pengambil kebijakan di Negeri ini.

Pertanyaan diatas sering munculnya wacana yang dilontarkan Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Puan Maharani. Puan, sapaan akrab dalam sambutan di Musrenbangnas (10/5) di Jakarta mengatakan “kita ajak guru dari luar negeri untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia” yang dilansir oleh beberapa media online. Pada pernyataan ini, secara eksplisit sudah mulai muncul ketidakpercayaan pemerintah terhadap guru dalam negeri untuk mengajarkan ilmu yang relevan di era kontemporer ini. Padahal apa yang menjadi kebutuhan dalam negeri, tentu yang lebih tahu dan paham adalah Sumber Daya Manusia (SDM) dalam negeri termasuk pemerintah harus bijak dalam melihat persoalan ini (tanpa deskriminatif). Perkembangan ilmu dan teknologi sudah menjadi keniscayaan dalam mengahdapi era Revolusi Industri 4.0 agar bangsa ini terus siap bersaing. Dalam hal bersaing, penulis berpendapat tak harus mendatangkan dari luar apalagi hanya sekedar mengajarkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia. Kita perlu optimalisasi guru dalam negeri yang memiliki track record yang baik terutama berbagai bidang prestasi dalam negeri atau luar negeri. Guru yang memiliki prestasi diajak untuk menggembleng guru lainnya (tutor sebaya) dengan anggaran yang telah disiapkan oleh Negara. Ini lebih bijak dari pada harus mendatangkan guru luar negeri dengan biaya yang tinggi. Sementara nasib guru honorer masih belum jelas dan terombang ambing oleh kebijakan politis di Republik ini.

Apa yang menjadi persoalan pendidikan kita, harus dilihat dari hilir hingga hulu. Kebijakan pemerintah harus memperhatikan suara guru tanpa pandang bulu. Karena kebijakan memberikan efek domino pada keberlangsungan pendidikan dan kekuatan guru. Jika yang diharapakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, adalah melatih guru lokal, adakalanya dilakukan pemetaan terhadap hal apa yang perlu dilatih. Sementara program sertifikasi yang tujuan mulianya meningkatkan kualitas dan profesionalisme telah lama dijalankan. Bahkan sebagai bentuk pengembangan dari sertifikasi muncullah apa yang disebut Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang telah banyak dilakukan oleh kampus eks. IKIP.

PPG merupakan kebijakan yang tak lama ini sudah dimulai sebagai pengejawantahan dari pengembangan profesi. Jika PPG diaggap kurang optimal dalam menyiapkan guru yang profesional dan berintegritas. Maka pemerintah perlu merekonstruksi pola penyelenggaraan termasuk Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK). LPTK yang menjadi kawah candradimuka dalam menyiapkan calon guru yang sesuai kebutuhan zaman harus bebenah diri mulai manajemen hingga pengajar (dosen). Setidaknya dalam hal dosen, harus memiliki kualifikasi tertentu. Misal, minimal doktor kependidikan dan memiliki pengalaman jadi guru yang berprestasi atau sejenisnya. Hal ini sebagai pemicu agar calon guru bisa lebih terpatri memahami seluk beluk profesi keguruan.

Jika dalam hal pendidikan vokasi, sebagaimana yang disampaikan Mendikbud dalam mengafirmasi pernyataan Menteri Puan. Pemerintah bisa menyiapkan sekolah yang minim akses kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Mengingat, tak semua sekolah di Indonesia memiliki akses itu, terutama sekolah swasta. Untuk itulah pemerintah ambil kebijakan untuk mempercepat pendidikan vokasi menjadi pendidikan pilihan utama dalam menyiapkan generasi siap kerja dengan memfasilitasi dengan berbagai pihak.

Guru sebagai profesi telah banyak mengalami perubahan dalam diri mulai diklat hingga studi banding ke beberapa sekolah baik dalam negeri maupun luar negeri. Ini sebagai wujud keseriusan seorang guru dalam mengembangkan diri. Persoalan yang sering muncul adalah setumpuk administratif yang harus disiapkan guru. Sementara itu, administrasi yang selalu menghantui pekerjaan utama yakni mengajar dan mendidik jauh kalah saing dengan urusan adminitrasi. Apalagi administrasi sebagai syarat dalam penentuan berbagai tunjangan profesi. Ini yang mestinya harus dipangkas oleh pemerintah agar guru lebih mengoptimalkan pengembangan diri baik dalam pembelajaran maupun pengembangan peserta didik.

Sementara memasuki era Bonus Demografi, Romadhon dalam bukunya Hitam Putih Pendidikan (2015: 33-34) mengungkapkan setidaknya ada 4 langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan, antara lain; Pertama, optimalisasi anggaran pendidikan 20% APBN untuk peningkatan kuliatas SDM. Utamanya yang masuk dalam bursa kerja dengan memperbanyak cakupan pendidkan kejuruan dan keterampilan. Kedua, revitalisasi kebijakan pendidikan dunia kerja, guna memenuhi tantangan revolusi industri 4.0 termasuk siap menghadapi pasar bebas asia pasifik yang digagas oleh APEC. Ketiga, pemerataan pendidikan seluruh wilayah Indonesia. Hal ini guna melakukan pemetaan kualitas dan fasilitas yang memadai sebagai penunjang pembelajaran di era revolusi industri 4.0. keempat, penguasaan teknologi bagi seluruh stakeholder. Ini menjadi keniscayaan dalam era yang serba digital. Mau tidak mau, teknologi akan menjadi hal penting dalam pendidikan. ‘Jika ingin menguasai dunia, maka kuasai teknologi’, demikian ungkapan kata bijak.

Lalu, apakah ‘impor’ guru adalah keputusan yang tepat bagi tantangan pendidikan kita. Penulis berpendapat, yang menjadi persoalan bukan pada ‘impor’ guru. Melainkan revitalisasi seluruh komponen adalah hal yang menjadi strategi mendasar dalam peningkatan kualitas. Karena tak semua yang berbau luar negeri adalah hal baik. Indonesia punya nilai kearifan lokal yang sangat mungkin nilai ini akan menjadi keunggulan pendidikan kita. Mengingat, generasi saat ini sedang dijajah dalam tiga hal, yaitu dalam hal pakaian (fashion). Hal ini telah kita ketahui bersama, model pakian kerap kali tak sesuai dengan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Hal lainnya seperti makanan (food) dan Hiburan telah menjadi konsumsi generasi saat ini. Padahal rusaknya moral generasi bukan serangan bom bunuh diri atau terorisme melainkan bobroknya moral bangsa yang dimulai dari generasinya.

Untuk itu, sebaiknya pemerintah fokus dalam pembenahan ekosistem pendidikan kita. Mulai dari regulasi, manajemen, SDM, fasilitas, hingga menjamin peserta didik layak mendapatkan layanan pendidikan yang sebagaimana amanah dalam UUD 1945 dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal sebagai wujud dari nilai ke-Indonesia-an. Dengan demikian kita telah menjaga marwah pendidikan yang telah diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Salam Pendidikan Kita..!

*)Romadhon AS,Staf Pengajar Prodi PGSD Universitas Kanjuruhan Malang dan
Penulis Buku ‘Hitam Putih Pendidikan Kita

Komunitas