Perihal Lelaki dan Sehelai Tisu

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh: Fitri Manalu*

Gerimis. Senja baru saja beranjak minggat setelah menunduk kalah pada cengkeraman malam. Lembap. Aku sedang berada di dalam tong sampah−di sudut taman kota−berdesakan dengan sekumpulan sampah daun, plastik, dan botol-botol minuman. Ketika tong sampah bergoyang-goyang−mungkin tersenggol anjing kurap yang sedang melintas atau pejalan kaki yang berlari mencari tempat berteduh−aku merasa sedang mengalami mimpi buruk yang tak terbayangkan sebelumnya.

“Sialan! Di mana aku tadi menjatuhkannya?” Seorang lelaki berjaket hitam mengacak-acak rambut ikalnya yang basah. Gelisah, seperti kehilangan miliknya yang paling berharga. Ia membuka sepatunya dan masuk ke dalam rumah setelah membanting pintu. Ia melepaskan jaketnya dan melemparkannya asal saja ke sofa. Beberapa saat kemudian, ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu dan berhenti tiba-tiba di depan cermin. Saat melihat pantulan dirinya di cermin itu, ia memaki, “Tolol!”

Rumah yang disesaki buku dan debu ternyata lebih hangat dari sekumpulan sampah yang menguarkan bau. Di sini aku benar-benar asing, tak dikenali juga tak mengenali. Untunglah, tong sampah yang nyaris tertutup melindungiku dari gerimis yang masih saja turun. Aku berharap lelaki itu akan kembali dan memungutku dari tong sampah pengap ini. Tapi, di mana lelaki itu sekarang? Lelaki itu pasti sudah pergi dan melupakanku.

Ia yang tadinya berjaket hitam, meraih jaket di sofa dan merogoh semua saku. Saat tak menemukan apa yang dicarinya, ia lalu mencari-cari dalam saku celana. Bibirnya tak henti-hentinya menggerutu. “Bodohnya aku! Di mana aku meletakkannya?” Seakan merasa tak puas, ia mulai memeriksa seisi rumah. Meja kerja, kursi-kursi, lantai, laci-laci, lemari, hingga menyibakkan seprai dan selimut biru di atas ranjang. Rumahnya seperti diamuk badai. Hasilnya nihil. Ia lalu berlari ke dapur, memeriksa setiap sudut, lalu melongok ke dalam kamar mandi, “Ya, Tuhan… Ke mana lagi aku harus mencarinya?”

Gerimis sepertinya akan reda. Aku terus berdoa semoga lelaki itu mengingatku dan segera membawaku pergi dari sini. Ada kemungkinan ia sedang mencariku, tetapi mungkin juga tidak. Aku sempat khawatir kemarin, ketika lelaki itu menatapku dengan sorot mata penuh kepedihan. Aku sempat mengira, lelaki itu akan menyeka matanya yang berkaca-kaca. Namun, aku keliru. Lelaki itu merogoh sebuah pena dari sakunya lalu menuliskan beberapa kata. Setelah itu, lelaki itu terlihat murung hingga waktu mengantarkan kami tiba di awal malam.

Ia sudah berada di ambang batas keputusasaan dan kini bersandar lunglai di sofa. Lalu ia melihat sebuah pena tercecer di lantai. Ia memungutnya dan menggumam, “Ah… kata-kata itu. Aku telah menuliskannya di sana.” Ia terlihat gundah, sarat penyesalan. Ia sangat merindukan sesuatu yang hilang itu. Ia berjuang menggali ingatannya. Barangkali ia dapat menemukan kembali sesuatu itu.

Aku sekarang yakin, di sinilah tempatku akan berakhir. Lelaki itu tidak akan pernah kembali karena sudah melupakanku. Sekarang, aku mendengar sekumpulan orang berjalan mendekati tong sampah tempatku berada. Mereka bicara sambil tertawa-tawa tak tentu arah. Kuterka mereka adalah sekumpulan pemabuk. Lalu terdengar suara tendangan. Tong sampah bergoyang keras seperti dihantam gelombang. Salah satu pemabuk itu pasti pelakunya. Aku merasa ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Tidak, aku tidak bisa hanya berdiam diri. Aku harus mencarinya sekarang.” Ia meraih jaketnya lalu bergegas keluar. Setibanya di beranda, halilintar seakan sedang berpesta. Sebenarnya ingin mengurungkan langkah, namun sesuatu yang hilang itu seakan memanggil-manggil hatinya. Ia menaikkan tudung jaketnya ke atas kepala dan berlari menyibak tirai gerimis. Ia akan menelusuri jejaknya sepanjang sore tadi.

Tong sampah berguncang-guncang semakin keras. Sekumpulan pemabuk kini bergantian menendang tong sampah layaknya sebuah bola. Seisi tong sampah mulai gaduh. Botol-botol menjerit saat beradu, daun-daun meratap, dan plastik-plastik saling berbisik resah. Di antara semua itu, aku berjuang melawan kecemasan.

Langkah-langkah kakinya menyusuri trotoar basah. Ia menelusuri setiap jengkal yang dilaluinya. Ia menimbun harapan dalam hatinya: semoga tak ada ingatan yang terlewatkan. Saat tiba di ujung jalan, ia nyaris kehilangan akal karena tak kunjung menemukan sesuatu yang hilang itu. Kemudian ia terkenang lamunannya di taman kota tadi sore. Ia menuju taman itu seperti panah yang melesat dari busurnya.

Sekumpulan pemabuk itu seharusnya dikirim ke neraka. Mereka cuma bisa mengganggu ketenangan setumpuk sampah! Sebuah botol melontarkan kegeramannya. Sampah-sampah lain riuh menanggapi perkataan itu. Seisi tong sampah lalu beramai-ramai mengutuk sekumpulan pemabuk yang nampaknya belum akan berhenti. Namun, sekumpulan pemabuk semakin menikmati aksinya.

Hei, kalian! Hentikan! Jangan rusak tong sampah itu!” Ia tiba di taman kota dan terkejut saat melihat sebuah tong sampah sedang digilir sekumpulan lelaki di tengah gerimis. Sekarang ia sudah menemukan ingatannya. Sesuatu yang hilang itu ia lemparkan ke dalam tong sampah itu tadi sore. Kemarahan sesaat sudah membutakannya. Ia sangat menyesalinya.

Suara itu. Lelaki itu akhirnya kembali untukku. Aku senang sekali. Lelaki itu akhirnya mengingatku. Aku harus memberitahunya, bahwa aku berada dalam tong sampah ini. Hei, aku di sini! Aku berteriak sekencang-kencangnya. Sungguh tolol. Lelaki itu takkan bisa mendengarku. Aku berharap, semoga lelaki itu bisa menghentikan ulah sekumpulan pemabuk itu dan membawaku pulang.

Sekumpulan pemabuk tertawa mengejek, menyindir keberaniannya. Ia bersikap siaga. Ia harus menyelamatkan sesuatu yang hilang itu. Bagaimanapun caranya. Salah seorang pemabuk meludah ke arahnya. Ia tetap tenang, meski gelombang kemarahan mulai pasang dalam dadanya. “Majulah satu-satu. Aku akan melayani kalian.” Ia ingin menunjukkan sikap ksatria, meski ia tahu sikap itu tidak akan berguna untuk sekumpulan pemabuk. Sekumpulan pemabuk tertawa keras. Mereka mengepungnya dan bersiap-siap untuk menghabisinya.

Tidak, lelaki itu tidak akan mampu menghadapi sekumpulan pemabuk itu. Suara mereka begitu riuh, mereka pasti berjumlah banyak. Sementara lelaki itu sendirian. Ini pembantaian. Aku berharap ia mengubah niatnya dan berbalik pulang. Ia tidak perlu membahayakan dirinya untuk menyelamatkanku. Lelaki itu hanya perlu…

Buk! Tinju menghantam ulu hatinya. Ia terkesiap. Kuda-kudanya goyah. Ia membulatkan niat, tak boleh mundur walau sejengkal. Ia menatap wajah-wajah beringas yang mengepungnya dengan berani. Ia harus menyelamatkan sesuatu yang hilang dalam tong sampah itu. Jika tidak, ia akan menyesalinya. Ia mengepalkan tangan, bersiap menyambut kedatangan para penyerangnya.

Suara pukulan bertubi-tubi itu membuatku menangis. Lelaki itu pasti sudah babak belur dan takkan bertahan melawan sekumpulan pemabuk yang kehilangan setengah kesadaran. Suara lelaki itu terdengar meringis kesakitan. Suara para pemabuk semakin ramai. Mereka mengolok-olok lelaki itu.

“Sudah, cukup…” Ia memohon dengan suara parau. Warna merah segar di wajahnya mengalir seiring tetes-tetes gerimis. Ia tersungkur di tanah becek, tepat di samping tong sampah. Ia berusaha menggapai-gapai tong sampah itu, namun lengannya terkulai. Sekumpulan pemabuk mencemoohnya karena rela terkapar demi sebuah tong sampah. Salah seorang pemabuk menendang kuat-kuat tong sampah itu. Tong sampah oleng sejenak dan jatuh. Separuh isinya tumpah, mengotori wajah dan tubuhnya.

Akhirnya, aku bisa keluar dari tong sampah pengap ini. Aku sekarang berada tepat di bibir lelaki itu seperti keajaiban. Lelaki itu sepertinya menyadari keberadaanku. Tangannya bergetar saat menyentuhku di bibirnya. Lelaki itu menatapku haru, lalu mengeja perlahan kata-kata yang ditulisnya tadi sore.

“Kau pecandu bising, sedangkan aku pencinta sunyi. Selain saling memunggungi lalu pergi, apalagi yang bisa kita lakukan?” Setelah membaca kalimat itu, ia menatap sehelai tisu dalam genggamannya dan berbisik, “Maaf… karena aku telah membuangmu.” Sepasang matanya perlahan terkatup.

Jangan tinggalkan aku! Aku berteriak pada lelaki itu meski tahu akan sia-sia. Sesaat kemudian, tetes-tetes gerimis berubah menjadi hujan yang mengguyur kepedihan.

***
Tepian DanauMu, 6 Oktober 2017

 

*)Fitri Manalu, Penulis Kumcer Sebut Aku Iblis (Sibuku Media, Desember 2015) dan Novel Minaudiere (Kobarsa Media, Februari 2017). Peraih “Best in Fiction” pada ajang Kompasiana Award 2016. Bergiat di komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat. Kini tinggal di Medan.

BNN Kota Malang

Biar Hilang Ditelan Bumi

Oleh: Ken Hanggara

Aku berharap di sekitar sini, suatu hari nanti, terjadi gempa bumi, sehingga kerak bumi retak dan menelan Jeni ke dalamnya. Aku benar-benar berharap kejadian buruk itu terjadi, meski mencintainya.

Sebenarnya sejak lama aku mencintai Jeni, tapi kurasa dia tak terlalu suka padaku. Dia selalu mengabaikanku di depan orang-orang dan memaksaku merahasiakan seluruh hubungan kami. Tentu saja, ‘seluruh’ seharusnya kurang tepat, tetapi karena Jeni punya penyakit, kadangkala aku harus berperan menjadi sosok yang lain.

Jadi, dalam hubungan kami, bukan hanya ada sosok diriku saja dalam tubuh yang kini kutumpangi nyawa. Jeni menganggapku sebagai benda seperti boneka yang mampu memikul berbagai jenis jiwa di dalamnya.

Suatu hari, Jeni berkata, “Jiwamu ganti jadi jiwanya anjing!”

Maka, kuturuti permintaan itu. Aku tidak akan heran atau ragu, sebab tidak jarang juga Jeni memintaku berperan sebagai setan jahat, dan semua ini kukira berkenaan oleh sensasi yang bakal dia dapat dalam persetubuhan kami.

BNN Kota Malang

Amplop Tebal

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

Oleh: Sulistiyo Suparno

Partinah sudah memasak daging ayam serundeng, sambal tomat, dan lalapan mentimun. Ini hari istimewa. Tak lama lagi Dalimin, suaminya akan pulang membawa amplop tebal, lebih tebal dari bulan-bulan yang lalu.

Partinah mengerti, suaminya telah berjuang agar bisa mendapatkan amplop tebal itu. Suami dan teman-temannya sudah menempuh berbagai cara, termasuk turun ke jalan dan mengepung Istana Negara.

Partinah dan anak-anak, Sari dan Hanif, selalu mengikuti perkembangan perjuangan Dalimin melalui berita-berita di televisi. Setiap usai salat mereka senantiasa berdoa agar perjuangan suami dan ayah mereka menuai hasil yang gemilang.

Maka ketika pemerintah mengumumkan akan menaikkan upah buruh, Partinah dan anak-anak segera sujud syukur. Ketika Dalimin pulang, Partinah dan anak-anak bergegas menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Bapak hebat,” kata Hanif.

“Bapak pahlawan,” sahut Sari.

***

Partinah sudah selesai menata hidangan di meja makan, setelah itu ia duduk menanti di ruang tamu. Pukul 16.45. Sebentar lagi Dalimin pulang. Tak lama kemudian, Partinah melihat Dalimin membuka pintu pagar.

“Assalamu’alaikum,” Dalimin menyampaikan salam, ketika tiba di ambang pintu.

“Wa’alaikumsalam,” sahut Partinah tersenyum ceria. “Bagaimana, Pak?”

Dalimin mengerti maksud pertanyaan Partinah. Dalimin duduk, lalu mengeluarkan amplop coklat yang terlipat dari saku baju seragam pabriknya.

“Wah, tebal sekali ya, Pak?” kata Partinah sambil senyum-senyum.

“Alhamdulillah, Bu. Rezeki untuk keluarga kita,” sahut Dalimin.

“Kok tebal sekali ya, Pak?”

Dalimin gugup sesaat, lalu tersenyum dan berkata: “Itu sudah termasuk bonus. Kata mandor, kerjaku bagus.”

“Oh. Aku kira kamu korupsi, Pak,” kata Partinah terkekeh.

“Anak-anak mana, Bu?” tanya Dalimin.

“Masih di TPQ. Mungkin sebentar lagi pulang.”

Tak lama kemudian, tampak Sari dan Hanif memasuki halaman. Ketika melihat Dalimin di ruang tamu, Sari dan Hanif berseru gembira.

“Gimana, Pak? Jadi beli sepatu baru untuk Hanif, kan?” tanya Hanif.

“Dan kerudung baru untuk Sari,” sahut Sari ikut menagih janji.

“Pasti, dong. Nanti bakda isya, ya?” jawab Dalimin.

“Asyik!” seru Hanif melonjak-lonjak.

Di tengah suasana bahagia itu, Partinah lalu berkata: “Nah, sekarang kita ke meja makan. Ayam serundengnya sudah siap.”

Di meja makan, Sari dan Hanif makan seperti orang kelaparan. Sudah lama mereka tak makan daging ayam serundeng. Setiap hari mereka hanya makan seadanya. Makan daging ayam apalagi daging sapi, belum tentu sebulan sekali. Tetapi, ini hari istimewa, patut dirayakan dengan menu istimewa.

***

Tengah malam Partinah terjaga ketika mendengar suara sesengukkan di kamar. Dalam remang lampu 5 Watt, Partinah melihat Dalimin duduk di tepi ranjang.
Partinah duduk di sisi suaminya dan bertanya dengan suara lembut: “Ada apa, Pak. Mengapa kamu menangis?”

“Aku minta maaf, Bu. Aku sudah berbohong sama kamu,” jawab Dalimin, lalu menghela napas panjang.

“Bohong soal apa, Pak?”

“Amplop tebal yang tadi itu bukan upah dan bonus. Itu pesangon.”

“Pesangon?”

Dalimin mengangguk, lantas bercerita tentang keadaan di pabrik.

“Tadi siang Mr. Tanaka menemui para buruh. Mr. Tanaka meminta maaf karena pabriknya akan dipindah ke Vietnam. Mulai besok pabrik berhenti produksi. Mr. Tanaka tidak sanggup bila harus membayar buruh dengan aturan upah yang baru.”
Gemetar tubuh Partinah mendengar pengakuan suaminya.

“Terus bagaimana, Pak?”

“Entahlah, Bu. Aku bingung.”

Partinah menghela napas dan memejamkan mata. Keadaan ini memang bisa membuat bingung dan sedih buat Partinah dan Dalimin yang punya dua anak.

Bila Dalimin tidak bekerja lagi, lantas bagaimana untuk membiayai sekolah anak-anak? Sebentar lagi Hanif akan masuk SMA, Sari akan kuliah. Uang dari mana bila Dalimin tidak bekerja?

Tetapi Partinah juga mengerti, semua ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Anggap saja ini ujian, nanti pasti ada jalan keluar. Berpikir begitu, Partinah lantas membuka mata dan tersenyum.

Partinah menggenggam tangan Dalimin dan berkata lembut: “Sabar, ya, Pak? Gusti Allah pasti punya rencana yang lebih baik untuk kita.”

Dalimin tampak lega mendengar ucapan Partinah.

“Anak-anak jangan sampai tahu, ya, Bu? Aku akan coba cari kerjaan lagi. Semoga aku cepat mendapatkan pekerjaan baru,” kata Dalimin.

“Ya, Pak. Ini rahasia kita,” sahut Partinah tersenyum.

Partinah dan Dalimin lantas kembali membaringkan tubuh di ranjang. Sebelum memejamkan mata, Dalimin berkata: “Terima kasih, istriku. Kamu sudah memasak ayam serundeng. Ini hari istimewa untukku.”

Partinah memiringkan tubuh, menatap Dalimin, tersenyum dan menjawab: “Ya, Pak. Ini hari istimewa. Sudah larut malam, Pak. Tidurlah.”

*Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di Suara Merdeka, Radar Surabaya, Kedaulatan Rakyat, Nova, Minggu Pagi, Solopos, dan media lainnya. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.

BNN Kota Malang

Minum Air Kloset agar Lekas Sehat

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh Surya Gemilang*

“Sebaiknya Anda minum air kloset agar lekas sehat,” balas dokter itu setelah kuucapkan keluhanku. Sinting bukan main, kan?!

Barangkali Sijit, teman baikku, tidak kalah sintingnya karena telah merekomendasikanku untuk pergi ke dokter sinting itu.

“Kau sialan, Jit!” hardikku melalui ponsel sepulangnya aku dari tempat praktik si Dokter Sinting. “Kau bilang dokter itu dapat diandalkan! Rupa-rupanya dokter itu sinting!”

“Lho? Sinting bagaimana?” tanya Sijit.

“Masa aku disuruh minum air kloset agar lekas sehat?!”

“Kalau memang begitu suruhannya, ikuti saja.”

“Ikuti saja?! Kau sinting sebagaimana dokter itu, ya?!

“Dengarkan aku baik-baik, Babah.” Sijit berhenti sebentar. “Waktu salah seorang saudaraku sakit gede, tak ada seorang dokter pun yang bisa menangani penyakitnya, kecuali dokter yang kau anggap sinting itu. Kau tahu dia menyuruh saudaraku minum apa? Dia menyuruhnya untuk minum kopi campur telur mentah! Dan, saudaraku langsung sembuh begitu menuruti suruhan dokter itu!”

“Itu, kan, hanya kopi campur telur mentah, Jit! Bukan a-i-r k-l-o-s-e-t!”

***

Rasa sakit yang ganjil itu hinggap di perutku sejak sebulan yang lalu. Semula, kupikir aku maag. Maka, kuminumlah obat maag, tapi rasa sakit di perutku tak kunjung membaik. Hari demi hari, sejak rasa sakit itu muncul, perutku terus membesar—sedikit demi sedikit saja, sehingga tak langsung kusadari hal itu. Kala rasa sakit di perutku semakin mengganggu, aku memutuskan untuk tidak ngantor sampai rasa sakit itu lenyap—entah kapan. (Toh, meski tak bekerja, uang tetap menghujani rekeningku.)

Sebelum mendatangi si Dokter Sinting, tak kurang dari sepuluh orang Dokter Normal yang telah kudatangi, dan mereka semua tidak tahu penyakit macam apa yang hinggap di perutku. Sempat aku berpikir bahwa aku disantet. Tapi, bukankah tukang santet dan semacamnya sudah pada punah di tahun 2040 ini?

***

Pagi ini—sehari setelah kudatangi si Dokter Sinting—begitu membuka mata, kudapati perutku sudah sebesar perut seorang wanita yang kandungannya berusia delapan bulan! Padahal, kemarin, ukuran perutku masih sekitar setengah dari ukuran perutku yang sekarang. Otomatis, baju-bajuku jadi pada tidak muat, sehingga aku mesti telanjang dari pinggang ke atas. Langkahku pun terasa berat. Perutku semakin sakit.

Masa, sih, aku mesti minum air kloset?! pikirku.

***

Entah kenapa kekasihku, Babah, tak bisa dihubungi pagi ini. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Di depan gerbang rumah mewah tempatnya tinggal, aku bertemu dengan Sijit. “Kekasihmu tak bisa kuhubungi, dan itu membuatku khawatir,” jawab Sijit ketika kutanyai maksud kehadirannya kemari.

Kami pun masuk ke rumah Babah—pembantunya yang sudah pantas disebut “nenek” itu yang membukakan pintu—dan terbelalak begitu sampai di kamarnya.

“Ya ampun, Babah!” pekikku dan Sijit bersamaan.

Kekasihku tergeletak lemas di kasur, tanpa memakai baju. Wajahnya pucat, sepucat mayat—tapi ia masih hidup—dan perutnya … Ya ampun!

“Kenapa kau tidak berinisiatif untuk mencarikan dokter buat majikanmu?” ucapku pada si Pembantu yang sudah tua, setengah membentak.

Si Pembantu tertunduk. “Maunya, sih, begitu, Nona. Tapi Tuan Babah melarang saya.”

“Aku sudah bosan bertemu dengan dokter!” sambung Babah, suaranya parau. “Mereka semua tidak berguna!”

Sijit berdeham. “Apa kau sudah minum air kloset?”

(Aku sudah dengar soal “minum air kloset” itu dari Babah kemarin, via video call.)

“Bah! Kau jangan sinting, Jit! Pasti ada solusi yang lebih baik untuk menyembuhkan penyakitku ini!”

Heninglah beberapa jenak.

Si Pembantu memberi isyarat minta diri, dan Babah mengangguk, lantas pergi dari kamar ini.

Sijit tiba-tiba tampak menahan tawa. “Barangkali, perutmu itu terus membesar secara ganjil karena rekeningmu terus menggendut secara sama ganjilnya!” Tawa Sijit lantas pecah. “Makanya, jangan kaucurangi bosmu sendiri!”

Babah mengerang sebelum berkata, “Sialan betul kau! Mentang-mentang kini aku kesakitan, dan rasanya hampir mati, kau malah mengingatkanku akan dosa-dosaku sendiri!”

Sijit tergelak lagi, kemudian berkata kepadaku, “Nah! Benar, kan, apa kataku? Kekasihmu ini kotor!”

“Aku tidak peduli pada kotor-bersih dirinya,” balasku, dengan wajah memerah.

Sijit mendecak-decakkan lidah. “Wah … wah … Cinta dan uang sama-sama bisa bikin bodoh.”

“Mending kau pergi saja, Jit!” hardikku.

Wajah teman baik kekasihku itu sontak masam. Ia lalu berlalu dari kamar ini, tanpa kata-kata, sehingga tersisalah aku dan Babah.

“Biarlah dia pergi,” kata Babah lirih. “Kita tak memerlukannya.”

Tak terlalu lama kemudian, Sijit kembali ke kamar ini dengan segelas air di tangannya. Aku langsung tahu air apa itu sebab aromanya yang rada-rada tengik tercium jelas di hidungku.

“Kau mau meminumkan air kloset kepadanya?!” kataku.

“Jangan gila, Sijit!” Babah memekik parau. “Kau tidak boleh meminumkanku air kloset!”

Dengan gerakan cepat, aku pun merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit merebut gelas itu dari tanganku. Dan aku merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit … Selagi kami saling memperebutkan gelas tersebut, kulihat Babah bangkit perlahan-lahan, dengan susah sungguh, lantas meninju rahang Sijit dari samping dengan teramat keras hingga teman baiknya itu pingsan.

***

BNN Kota Malang

Tuan Tukang Cerita

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Cerpen Oleh: Mudiuddin
mahasiswa IDIA Prenduan, anggota AJMI
…..

Api itu terus berkobar, melalap semua yang disentuhnya. Di dalam sana hanya seorang kakek yang duduk bersantai seakan-akan api itu tidak ada sama sekali di hadapannya. Di luar orang hanyalah sebagai saksi mata atas kobaran api itu. Ya, mereka hanya menyaksikan bagaimana api begitu menikmati rumah itu. Bahkan tidak ada seorang pun yang berpura-pura memegang gayung yang diisi ar untuk menyiram api itu, tidak juga dengan menghubungi pemadam kebakaran. Semua hanya diam menyaksikan.
“Tidak adakah yang bisa memadamkan api itu? Setidaknya untuk menyelamatkan orang di dalamnya.” Cletuk salah seorang di kerumunan itu.
“Di dalam hanyalah seorang kakek-kakek, siapalah yang mau menyelamatkannya. Toh dia juga sudah bau tanah. Itung-itung itu akan mempermudahkannya, anggap saja itu sekali jalan menuju surga.” Timpal seseorang.
“Mau di selamatkan juga dia akan mati, siapa yang akan mengurus mayatnya. Yang akan memandikannya, meyiapkan kayu bakar, dan upacara pembakaran mayatnya. Catatan keluarga saja tidak jelas.” Timpal lagi salah seorang dari kerumunan itu.
“Biarlah dia menjadi abu bersama rumahnya itu, kalau sudah padam apinya kita tinggal ambil abunya sedikit saja dan kita taburkan di pantai sebagai upacara terakhirnya. Tapi siapa yang akan melakukannya?” Timpal lagi dari yang lain.
Kakek di dalam rumah itu begitu tenang, ia tersenyum. Sama sekali tak mengharap ada orang yang datang menerobos api untuk menolongnya. Ya, siapa pula yang akan menolongnya. Ia sudah tahu itu, seperti apa yang di katakan orang-orang di luar. Biarkan saja menjadi abu.
***
Tuan tukang cerita itu menghentikan ceritanya, orang-orang di sekitarnya masih memandangi berharap tuan tukang cerita masih meneruskan ceritanya. Sebagian sedang memasang muka geram karena masih tidak bisa lepas dari cerita dari tuan tukang cerita, sebagian lagi berlinang air mata. Selalu saja begitu. Mereka yang mendengarkan tuan tukang cerita bercerita selalu mengharapkan cerita itu masih terus berlanjut. Orang sudah tua itu yang kerap kali dipanggil tuan tukang cerita selalu bisa membuat orang ingin mendengarkan ceritanya. Tuan tukang cerita mengembalikan raut mukanya seperti biasa.
“Hallo… Tuan-tuan, Nyonya-nyonya, dan anak-anak. Ceritanya sudah selesai, sampai kapan kalian akan terus menatapku dengan tatapan aneh itu?” Tuan tukang cerita terkekeh-kekeh, bibirnya sedikit terlipat ke dalam. Bisa dimaklumi usianya sudah tua.
“Bagaimana akhir dari ceritanya?” Tanya salah sorang dari para pendengar.
“Ini adalah akhir dari ceritanya anakku.” Balas tuan tukang cerita.
“Bagaimana dengan kakek tua itu?”
“Kalian bisa mengira-ngiranya sendiri.” Tuan tukang cerita itu kembali terkekeh dan bibirnya sedikit terlipat ke dalam.
“Ah… Tuan tukang cerita selalu saja seperti itu.” Keluh mereka yang menjadi pendengar cerita dari tuan tukang cerita.
“Inilah kebebasan dalam bercerita anakku, kita tidak pernah tahu akhir dari cerita. Kita mungkin cukup mereka-rekanya saja, tak lebih. Selama masih ada kehidupan cerita tidak akan benar-benar selesai.”
“Tapi…” Tuan tukang cerita menjeda perkataannya dengan menunjukkan wajah penyesalan.
“Tapi apa tuan tukang cerita?”
“Tapi siapa yang akan mengisi mangkuk ini!” Tuan tukang cerita kembali dengan tertawanya yang terkekeh, semua orang juga ikut tertawa paham maksud tuan tukang cerita. Orang-orang itu kemudian bergiliran mengisi mangkuk di hadapan tuan tukang cerita dengan beberapa koin atau lembaran uang.
“Mau pesan makanan kakek tua?” Seseorang menghampiri tuan tukang cerita menawarkan makanan.
“Kau selalu tahu anakku.” Ia kembali terkekeh.
“Siapkan satu untuk kakek tua kita ini.” Teriak orang itu.
***
Sudah seperti sore biasanya, tuan tukang cerita itu datang ke sebuah kedai makan yang biasa dikunjungi. Bukan untuk memesan makan atau hanya sekedar minum. Bukan. Tapi untuk berbagi cerita pada orang-orang yang ingin mendengarkannya. Meskipun begitu, penjaga ataupun pemilik kedai itu tidak merasa terganggu ataupun rugi. Mereka menganggap Tuan tukang cerita itu sebagai penglaris bagi kedai makannya. Ya, begitulah kata mereka. Tak pernah sebelum ini kedai itu serame sekarang. Meskipun pada awalnya orang-orang hanya ingin mendengarkan cerita si tuan tukang cerita itu. Pada akhirnya mereka merasa kurang jika hanya mendengarkan cerita, mereka akan membeli minuman atau makanan ringan sebagai pelangkap. Terkadang usai mendengarkan mereka memilih untuk memesan makan sebelum pulang.
Seperti sore biasanya, kadatangan tuan tukang cerita selalu di nanti. Dengan baju yang sedikit kumuh yang tak pernah diganti, tapi tak tercium bau tak sedap sedikit darinya. Ia datang dan duduk di kursi yang biasa ia tempati. Sekarang ia begitu diterima tidak seperti pertama ia datang di desa itu dan mampir ke kedai itu. Ya, belum sempat melangkahkan kaki kanannya ke dalam kedai ia langsung di cegat oleh pemilik kedai dan mengusirnya. Pun demikian dengan orang lain yang hanya melihat. Hanya seorang anak ingusan yang mendekatinya dan memperhatikannya yang menggerutukan sesuatu dengan pelan.
“Ada apa Nak?” Anak itu hanya memandanginya tanpa menjawab “ oh kau tidak mau bicara.”
“Mau mendengar cerita?” Anak itu mengangguk dan tuan tukang cerita menceritakannya sesuatu. Tentang seorang kakek yang mencari kematian dan tak kunjung ia bertemu dengan kematian. Ia selalu mencari ke manapun di tempat seluruh dunia, ia pernah sengaja sedikit menggoreskan pisau di lengan kirinya tapi itu tak pernah berhasil, hanya sekedar mengantarkannya ke rumah sakit. Menyewa seorang algojo untuk membunuhnya masih tidak berhasil. Sengaja membaringkan diri di rel kereta ketika kereta sedang melintas masih tidak berhasil juga. Entah kenapa waktu itu kereta tiba-tiba keluar dari rel dan berbaring tepat di samping kakek itu. Pada akhirnya ia menyerah dan memilih untuk diam di rumah menunggu kematian menjemputnya. Itu juga masih sia-sia, karena kematian tak juga menjemput.
Tuan tukang cerita yang pertama kali bercerita di tempat itu menghentikan ceritanya. Anak itu masih melihatnya dan orang-orang yang tanpa sengaja ikut mendengarkan di hadapannya. Kemudian ia mengeluarkan mangkuk dari tas kecil yang ia bawa di punggungnya.
“Anak-anak, cerita bersambung. Sekarang biarkan mangkuk ini juga merasakan beberapa koin atau lembar dari uang kalian.” Ucap tuan tukang cerita kemudian sedikit terkekeh.
“Tapi Tuan, cerita yang anda sampaikan seperti belum selesai.”
“Bukan seperti anakku, tapi memang belum selesai. Jika kalian ingin cerita ini berlanjut datanglah ke mari atau ke kedai di seberang jalan itu. Sekarang isi dulu mangkuk ini, saya memaksa. Kalau tidak”
“Kenapa Tuan.”
“Kalau tidak, aku terpaksa berpuasa lagi.” Orang itu tertawa lalu menaruh apa yang diminta tuan tukang cerita dan pergi.
Orang-orang sudah menunggunya, ia terkekeh dan meletakkan tongkatnya “sudah berapa lama kalian menunggu?”
“Seperti biasa.” Tuan tukang cerita mengangguk kepala.
“Bagaimana, ada yang bisa melanjutkan ceritanya? Bagaimana keadaan kakek tua itu, hah.”
“Aku tidak akan bercerita kali ini, kemarin adalah yang terakhir. Heheheh.” Lanjutnya.
“Lantas bagaimana tentang kakek tua itu, apakah dia mati?”
“Berpikirlah sedikit kreatif dalam mereka-reka.”
“Jika ia masih hidup?”
“Boleh anakku, tapi bagaimana ia masih hidup? Heheheh.”
“Entahlah, mungkin ketika api sudah padam kakek itu masih sempat tertolong.”
“Tidak anakku, tidak ada yang menolongnya. Bukankah sudah kuceritakan yang kemarin, tidak ada yang menolong setelahnyapun tidak ada. Bagaimana ia bisa masih hidup, tidak ada yang tahu. Kehidupan terlalu membencinya, sehingga tak memberi ruang kematian kepadanya.”
“Lantas apa yang dilakukan kakek itu?”
“Ia kembali berjalan, berkeliling mencari kematian. Ia yakin akan bertemu dengannya di suatu tempat. Sampai sekarang pun ia masih mencari, terkadang mengambil rehat di suatu tempat kemudian melanjutkannya perjalanan.” Tuan tukang cerita menghela nafas “boleh aku meminta makanan dan minuman, kali ini aku tak akan mengeluarkan mangkuk untuk kalian isi. Aku hanya minta itu.”
Seseorang mengantarkan makanan dan minuman untuknya “Kuharap aku tidak akan menikmati semua ini lagi!”
“Kenapa Tuan, apakah makanannya tidak enak?”
“Bukan apa-apa.” Tuan tukang cerita menghabiskan semua kemudian pergi. Punggung bungkuknya tidak lagi terlihat setelah keluar dari kedai. Ia sudah cukup rehat di desa itu, ia kembali mencari apa yang dia inginkan. Dan orang-orang, kembali ke pekerjaan masing-masing. Tidak ada lagi yang mendengarkan cerita, dan kedia juga seperti semula, sepi tanpa pengunjung.
***
“Apakah tuan tukang cerita masih berkeliling dan membacakan cerita, Ma?”
“Tentu Nak, ia masih berkeliling tapi bukan untuk bercerita. Itu ia lakukan ketika berehat saja, setelah itu ia akan mencari.” Ibu itu mengelus kepala putranya.
“Kenapa ia ingin sekali bertemu dengan kematian, padahal setiap orang ingin hidup lebih lama.”
“Entahlah Nak, hanya ia yang tahu.” Ibu itu mengecup kening putranya, menyelimutinya dan lampu dimatikan. Putranya mulai tertidur dengan bayang-bayang ia akan bertemu dengan tuan tuang cerita untuk menceritakannya sebuah cerita.
Prenduan, 09 September 2018.

BNN Kota Malang

MATTALI

Cerpen oleh Zainul Muttaqin

Belum genap satu tahun ketika Mattali angkat kaki setelah ribut besar dan istrinya berkata lantang sampai gendang telinga laki-laki paruh baya itu hampir pecah, “Tak Lake’ Ongghu Bekna Kak[1]. Ceraikan saja aku!” Bagai dirobek harga diri Mattali mendengar istrinya berkata, tinggi suaranya, tepat di depan wajahnya.
Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Wajah Mattali menegang. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis meliuk-liuk, seperti terombang-ambing. Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Tirai jendela disibak oleh tiupan angin. Mattali menelan ludah berkali-kali.
“Apa tidak ada cara lain selain bercerai?” Mattali menekan suaranya.
“Tidak!” Istrinya memandang wajah Mattali. Laki-laki itu mengatur laju napasnya. Dipandanginya wajah istrinya, tampak berharap cepat-cepat Mattali menghilang dari pandangannya.
Belum sempat Mattali mengucap cerai, istrinya berujar, mendahului Mattali, “Kita bisa rujuk setelah kau benar-benar lake’[2].” Binar-binar di mata Mattali terpancar selepas istrinya berkata seperti itu. Pelan-pelan ia mulai mengulas senyum.
Jarum jam berhenti tepat di angka dua belas dini hari. Dengan gemetar, terbata-bata, Mattali berujar, “Aku ceraikan kau,” berderai air mata laki-laki paruh baya itu. Markoya menggeleng kepala. Markoya menutup pintu kamar dan membiarkan Mattali berdiri di ruang tamu dengan perasaan tercabik-cabik. Mattali mencangkuli dirinya sendiri.
Duduk di kursi berwarna biru tua, dengan cat yang mulai mengelupas karena usia. Mattali berpikir sesaat. Dia mencari jalan keluar atas persoalan rumit yang tengah menimpanya. Sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Dengkur Markoya dari dalam kamar mengusik pikirannya, ingin ia seranjang lagi, tapi buru-buru Mattali mengucap istighfar .
Detak jarum jam bergeser begitu lambat dirasakan Mattali. Laki-laki itu mengelus dada. Saat asap rokoknya lenyap, Mattali menampari pipi dan kaki. Nyamuk hutan dari belakang rumah ternyata berusaha menghisap darah laki-laki kekar itu sejak tadi. Puntung rokok di dalam asbak bergelimpangan.
Bangun pagi-pagi sekali Markoya sudah tidak melihat Mattali di ruang tamu, di kursi lapuk itu. Bau keringat Mattali juga tak tercium. Markoya berjalan ke halaman depan rumahnya, menarik napas dalam-dalam, melegakan dada ringkihnya yang semakin menyempit. Kicau burung di atas pohon tarebung[3] mengingatkannya pada Mattali.
Sampai perceraian itu terjadi belum sanggup Mattali memetik bunga indah yang tumbuh di pangkal paha Markoya. Laki-laki itu menjadi tak lake’ menghadapi istrinya yang bersedia bunga mekar di selangkangannya dipetik oleh Mattali. Berkali-kali Mattali berusaha, berkali-kali pula kesia-siaan itu terjadi pada dirinya. Itulah yang mendasari Markoya minta dicerai kepada Mattali.
Sekalipun Mattali tidak menceritakan perihal rumah tangganya yang tercerai-berai, tapi warga Tang-Batang sudah bisa mengendusnya. Orang-orang memang berusaha mengetahui, maksud Mattali berada di rumah ibunya, sepanjang waktu, sejak satu minggu lalu. Melintas pikiran curiga, tepatnya bertanya-tanya, apa penyebab Mattali menceraikan Markoya, kembang desa yang dulu diperebutkan semua laki-laki?
Berderet ikan-ikan dijemur di halaman. Amis menyeruak. Perempuan-perempuan itu duduk memanjang dengan rambut terlepas digerai sebahu, mereka bergunjing sembari menisik kutu. Diam-diam mereka mencuri pandang pada Mattali. Laki-laki itu duduk di beranda rumah, menghisap batang rokoknya, dengan secangkir kopi di atas meja.
“Karena Mattali tak lake’ ” kata perempuan gempal setelah sebelumnya melirik ke arah Mattali.
“Jadi gara-gara itu Mattali cerai dengan Markoya.”
“Gara-gara apa lagi kalau bukan itu.”
“Mestinya Mattali sudah siap jamu sebelum menikah. Kalau seperti ini kan malu.”
“Malu sama siapa?”
“Malu sama semua orang.”
“Untung suamiku lake’.”
“Ya jelas suamimu lake’ lah, anakmu sudah tiga. Apalagi aku.” Kelakar tawa meledak di halaman. Mattali menoleh, melihat pada perempuan-perempun itu.
Mendadak degup jantung Mattali melaju lebih cepat. Ia merasa perempuan-perempuan itu tengah mengunjingkan dirinya. Sempat ia bersitatap dengan salah satu perempuan itu, tersenyum mengejek, merendahkan. Gegas Mattali masuk ke dalam. Terlampau sakit hati Mattali. Laki-laki paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian bersama napas yang ia lepas, tangannya memukul meja hingga cangkir kopi di atasnya bergelinding ke lantai, pecah.
Ingin dimakinya perempuan-perempuan di taneyan lanjang[4] itu. Mendidih darah Mattali. Laki-laki itu meludah, membuang rasa kesal terhadap perempuan-perempuan itu. Ia berdiri di ambang pintu, berpikir ulang, menimbang-nimbang, apa melabrak perempuan-perempuan itu akan menyelesaikan persoalan? Lagi pula, ia tahu, perempuan-perempuan di Tang-Batang gemar berguncing, atau memang demikian perempuan kebanyakan.
Khawatir malah akan dipermalukan di taneyan lanjang itu oleh perempuan-perempuan yang duduk memanjang, menisik rambut, disertai berbagai ragam gunjingan. Mattali mengurungkan niat. Menutup pintu rumahnya kembali. Ia mengatur alur laju napasnya. Asap rokok menyumbat tenggorokannya.
Mattali baru ingat, ternyata Markoya pernah bilang, “kita akan rujuk kalau kamu sudah lake’’´ ingatan itu mampir dalam tempurung kepalanya tepat ketika laki-laki paruh baya itu berusaha meredam amarah. Dan perempuan-perempuan itu sudah lenyap di taneyan lanjang. Mattali memandang penuh selidik, takut mendadak muncul perempuan-perempuan itu di hadapannya. Bergegas ia melewati taneyan lanjang, tempat perempuan-perempuan itu semula menisik kutu.
Dalam remang sore hari, lepas maghrib Mattali melangkah begitu lekas, melewati gang-gang rumah yang sempit. Ia terus melangkah untuk segera sampai di rumah Matrah, tukang pijat di desa sebelah, juga seorang dukun yang sering dimintai tolong bila berususan dengan kelelakian. Keringat membasuh tubuhnya.
Mattali kian mempercepat langkahnya. Tak menjawab apalagi sekadar menoleh ketika seseorang menyapanya dari teras rumah. “Tak biasanya Mattali acuh seperti itu,” bisik lelaki di teras rumah itu. “Paling-paling karena orang-orang bilang tak lake’ ia jadi begitu Kak,” sambung istrinya. Pasangan suami-istri itu saling tatap, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua bahunya.
Setelah susah payah berjalan kaki, Mattali tiba di halaman rumah Matrah, lelaki yang dikenal bisa mengatasi segala persoalan kelelakian. Seorang lelaki tua, rambutnya hampir putih seluruhnya, memegang tongkat di tangan sebelah kanan berdiri di depan kobhung[5] tempat Matrah biasa menerima tamu-tamunya. Lampu teplok meliuk-liuk, bertahan dari tiupan angin.
“Kamu mau pijat?” Matrah mengajukan pertanyaan. Ia mengambil minyak urut yang diselipkan di tiang kobhung.
“Tidak Ke[6]” Mattali mengulas senyum, disertai gelengan kepala.
“Lalu?” Laki-laki tua itu memburu jawaban dari Mattali.
“Saya tak lake’. Beri saya jalan keluar. Karena ini, saya sampai cerai dengan Markoya.” Mendengar penjelasan itu, Matrah mengangguk-anggukan kepala. Matrah keluar sebentar dari dalam kobhung dan kembali dengan membawa beberapa butir telur dalam genggaman tangannya. Mattali mengernyitkan kening, seolah ingin bertanya, apa maksudnya?
“Saya yakin kamu belum jamu telur ini sebelum menikah,” Matrah menunjukkan tiga butir telur kampung ke hadapan Mattali. Laki-laki setengah baya itu menggeleng.
“Dengan telur kampung ini. Insya Allah kamu akan lake’.”
“Kenapa tiga butir Ke?” Mattali mengambil telur itu dari genggaman Matrah.
“Saya tidak tahu pasti soal itu. Yang jelas harus berjumlah ganjil. Barangkali karean Tuhan suka yang ganjil-ganjil.”
“Apa ada campuran lain selain telur ini Ke?” Mattali tidak sabar ingin membuktikan khasiat telur ayam kampung. Laki-laki itu menyesal, kenapa dulu, sebelum menikah ia tak bertanya perihal ini. Mana mungkin Mattali sempat bertanya tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Pernikahannya dengan Markoya terjadi secara mendadak, berlangsung cepat begitu saja, tanpa persiapan.
“Nanti saya beri tahu,” Mattali mengangguk. Beberapa menit kemudian, Matrah berbisik di telinga Mattali, mengatakan telur ayam yang digunakan untuk jamu adalah telur ayam kampung dan dengan jumlah ganjil juga dicampur bahan-bahan lain. Mattali membayangkan wajah Markoya, ia yakin Markoya akan terpuaskan di atas ranjang.
“Karena telur kampung itu, anak saya dua belas. Sekarang ini, saya juga punya cucu belasan.” Tawa Matrah meledak disusul derai tawa Mattali.
Tiga minggu setelah Mattali minun jamu dicampur telur tiga butir, sebagaimana anjuran Ke Matrah, birahi laki-laki itu meronta-ronta, minta digesek batang kemaluannya. “Saya sudah lake’.’” Gumam Mattali dengan binar-binar kebanggaan di matanya. Tanpa pikir panjang, ia berkunjung ke rumah Markoyah, berniat rujuk, siap membuktikan khasiat tiga butir telur pada perempuan cantik, rebutan lelaki kampung itu.
Mattali berdiri dengan mulut ternganga, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan, begitu melihat Markoya digandeng laki-laki keluar dari dalam rumah. Matanya terpaku pada laki-laki yang mengalungkan tangan pada bahu Markoya. Berusaha meredam golak di dadanya, Mattali menelan ludah.
“Saya sudah menikah, kita tak bisa rujuk. Dia benar-benar lake’ tidak sepertimu!’” kata Markoya sembari tersenyum memandang laki-laki di sampingnya, suaminya itu.
“Siapa dia?” Mattali menekan suaranya.
“Dia anak Ke Matrah. Dua hari lalu kami menikah.” Jantung Mattali terasa akan lepas dari tangkainya begitu Markoya menyebut nama Matrah. Huh! Gigi Mattali bergemerutuk. Ia melenggang pulang membawa kesedihan. Terus bergegas lekas langkah Mattali, dan ia seolah begitu berhasrat mencincang tubuh Matrah, lelaki tua yang baru saja mengajarinya cara meramu butir telur ganjil agar menjadi lake’.
Pulau Garam, 2017

Catatan:
[1] Tak Lake’ Ongghu Bekna Kak : sungguh tidak jantan kamu Mas (ucapan ini dimaksudkan kepada lelaki yang tidak dapat memuaskan istrinya di ranjang).
[2] Lake’: jantan, merujuk pada kelelakian, juga bisa dimaknai laki-laki.
[3] Tarebung: pohon siwalan
[4] Taneyan lanjang : halaman panjang
[5] Kobhung : berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati, atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hampir semua bangunan di Madura memiliki kobhung. Letaknya rata-rata di sebelah barat. Kobhung berfungsi sebagai tempat peristirahatan, berkumpulnya kerluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan beribadah keluarga. Kobhung ini juga sebagai tempat pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.
[6] Ke: kakek

*)Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal, seperti; Jurnal Nasional. Femina. Nova. Republika. Suara Merdeka. Padang Ekspres. Kuntum. Almadina. Joglo Semar. Banjarmasin Post. Merapi. Radar Surabaya. Kabar Madura. Suara Madura Koran Madura. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (2013) Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (2013) Perempuan dan Bunga-bunga (2014).Gisaeng (2015). Tinggal di Madura. Email; lelakipulaugaram@gmail.com

BNN Kota Malang

Mattali

Oleh: Zainul Muttaqin*

Belum genap satu tahun ketika Mattali angkat kaki setelah ribut besar dan istrinya berkata lantang sampai gendang telinga laki-laki paruh baya itu hampir pecah, “Tak Lake Ongghu Bekna Kak[1]. Ceraikan saja aku!” Bagai dirobek harga diri Mattali mendengar istrinya berkata, tinggi suaranya, tepat di depan wajahnya.
Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Wajah Mattali menegang. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis meliuk-liuk, seperti terombang-ambing. Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Tirai jendela disibak oleh tiupan angin. Mattali menelan ludah berkali-kali.

“Apa tidak ada cara lain selain bercerai?” Mattali menekan suaranya.

“Tidak!” Istrinya memandang wajah Mattali. Laki-laki itu mengatur laju napasnya. Dipandanginya wajah istrinya, tampak berharap cepat-cepat Mattali menghilang dari pandangannya.

Belum sempat Mattali mengucap cerai, istrinya berujar, mendahului Mattali, “Kita bisa rujuk setelah kau benar-benar lake[2].” Binar-binar di mata Mattali terpancar selepas istrinya berkata seperti itu. Pelan-pelan ia mulai mengulas senyum.

Jarum jam berhenti tepat di angka dua belas dini hari. Dengan gemetar, terbata-bata, Mattali berujar, “Aku ceraikan kau,” berderai air mata laki-laki paruh baya itu. Markoya menggeleng kepala. Markoya menutup pintu kamar dan membiarkan Mattali berdiri di ruang tamu dengan perasaan tercabik-cabik. Mattali mencangkuli dirinya sendiri.

Duduk di kursi berwarna biru tua, dengan cat yang mulai mengelupas karena usia. Mattali berpikir sesaat. Dia mencari jalan keluar atas persoalan rumit yang tengah menimpanya. Sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Dengkur Markoya dari dalam kamar mengusik pikirannya, ingin ia seranjang lagi, tapi buru-buru Mattali mengucap istighfar .

Detak jarum jam bergeser begitu lambat dirasakan Mattali. Laki-laki itu mengelus dada. Saat asap rokoknya lenyap, Mattali menampari pipi dan kaki. Nyamuk hutan dari belakang rumah ternyata berusaha menghisap darah laki-laki kekar itu sejak tadi. Puntung rokok di dalam asbak bergelimpangan.

Bangun pagi-pagi sekali Markoya sudah tidak melihat Mattali di ruang tamu, di kursi lapuk itu. Bau keringat Mattali juga tak tercium. Markoya berjalan ke halaman depan rumahnya, menarik napas dalam-dalam, melegakan dada ringkihnya yang semakin menyempit. Kicau burung di atas pohon tarebung[3] mengingatkannya pada Mattali.

Sampai perceraian itu terjadi belum sanggup Mattali memetik bunga indah yang tumbuh di pangkal paha Markoya. Laki-laki itu menjadi tak lake menghadapi istrinya yang bersedia bunga mekar di selangkangannya dipetik oleh Mattali. Berkali-kali Mattali berusaha, berkali-kali pula kesia-siaan itu terjadi pada dirinya. Itulah yang mendasari Markoya minta dicerai kepada Mattali.

Sekalipun Mattali tidak menceritakan perihal rumah tangganya yang tercerai-berai, tapi warga Tang-Batang sudah bisa mengendusnya. Orang-orang memang berusaha mengetahui, maksud Mattali berada di rumah ibunya, sepanjang waktu, sejak satu minggu lalu. Melintas pikiran curiga, tepatnya bertanya-tanya, apa penyebab Mattali menceraikan Markoya, kembang desa yang dulu diperebutkan semua laki-laki?

Berderet ikan-ikan dijemur di halaman. Amis menyeruak. Perempuan-perempuan itu duduk memanjang dengan rambut terlepas digerai sebahu, mereka bergunjing sembari menisik kutu. Diam-diam mereka mencuri pandang pada Mattali. Laki-laki itu duduk di beranda rumah, menghisap batang rokoknya, dengan secangkir kopi di atas meja.

“Karena Mattali tak lake ” kata perempuan gempal setelah sebelumnya melirik ke arah Mattali.

“Jadi gara-gara itu Mattali cerai dengan Markoya.”

“Gara-gara apa lagi kalau bukan itu.”

“Mestinya Mattali sudah siap jamu sebelum menikah. Kalau seperti ini kan malu.”

“Malu sama siapa?”

“Malu sama semua orang.”

“Untung suamiku lake.”

“Ya jelas suamimu lake lah, anakmu sudah tiga. Apalagi aku.” Kelakar tawa meledak di halaman. Mattali menoleh, melihat pada perempuan-perempun itu.

Mendadak degup jantung Mattali melaju lebih cepat. Ia merasa perempuan-perempuan itu tengah mengunjingkan dirinya. Sempat ia bersitatap dengan salah satu perempuan itu, tersenyum mengejek, merendahkan. Gegas Mattali masuk ke dalam. Terlampau sakit hati Mattali. Laki-laki paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian bersama napas yang ia lepas, tangannya memukul meja hingga cangkir kopi di atasnya bergelinding ke lantai, pecah.

Ingin dimakinya perempuan-perempuan di taneyan lanjang[4] itu. Mendidih darah Mattali. Laki-laki itu meludah, membuang rasa kesal terhadap perempuan-perempuan itu. Ia berdiri di ambang pintu, berpikir ulang, menimbang-nimbang, apa melabrak perempuan-perempuan itu akan menyelesaikan persoalan? Lagi pula, ia tahu, perempuan-perempuan di Tang-Batang gemar berguncing, atau memang demikian perempuan kebanyakan.

Khawatir malah akan dipermalukan di taneyan lanjang itu oleh perempuan-perempuan yang duduk memanjang, menisik rambut, disertai berbagai ragam gunjingan. Mattali mengurungkan niat. Menutup pintu rumahnya kembali. Ia mengatur alur laju napasnya. Asap rokok menyumbat tenggorokannya.

Mattali baru ingat, ternyata Markoya pernah bilang, “kita akan rujuk kalau kamu sudah lake´ ingatan itu mampir dalam tempurung kepalanya tepat ketika laki-laki paruh baya itu berusaha meredam amarah. Dan perempuan-perempuan itu sudah lenyap di taneyan lanjang. Mattali memandang penuh selidik, takut mendadak muncul perempuan-perempuan itu di hadapannya. Bergegas ia melewati taneyan lanjang, tempat perempuan-perempuan itu semula menisik kutu.

Dalam remang sore hari, lepas maghrib Mattali melangkah begitu lekas, melewati gang-gang rumah yang sempit. Ia terus melangkah untuk segera sampai di rumah Matrah, tukang pijat di desa sebelah, juga seorang dukun yang sering dimintai tolong bila berususan dengan kelelakian. Keringat membasuh tubuhnya.

Mattali kian mempercepat langkahnya. Tak menjawab apalagi sekadar menoleh ketika seseorang menyapanya dari teras rumah. “Tak biasanya Mattali acuh seperti itu,” bisik lelaki di teras rumah itu. “Paling-paling karena orang-orang bilang tak lake ia jadi begitu Kak,” sambung istrinya. Pasangan suami-istri itu saling tatap, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua bahunya.

Setelah susah payah berjalan kaki, Mattali tiba di halaman rumah Matrah, lelaki yang dikenal bisa mengatasi segala persoalan kelelakian. Seorang lelaki tua, rambutnya hampir putih seluruhnya, memegang tongkat di tangan sebelah kanan berdiri di depan kobhung[5] tempat Matrah biasa menerima tamu-tamunya. Lampu teplok meliuk-liuk, bertahan dari tiupan angin.

“Kamu mau pijat?” Matrah mengajukan pertanyaan. Ia mengambil minyak urut yang diselipkan di tiang kobhung.

“Tidak Ke[6]” Mattali mengulas senyum, disertai gelengan kepala.

“Lalu?” Laki-laki tua itu memburu jawaban dari Mattali.

“Saya tak lake. Beri saya jalan keluar. Karena ini, saya sampai cerai dengan Markoya.” Mendengar penjelasan itu, Matrah mengangguk-anggukan kepala. Matrah keluar sebentar dari dalam kobhung dan kembali dengan membawa beberapa butir telur dalam genggaman tangannya. Mattali mengernyitkan kening, seolah ingin bertanya, apa maksudnya?

“Saya yakin kamu belum jamu telur ini sebelum menikah,” Matrah menunjukkan tiga butir telur kampung ke hadapan Mattali. Laki-laki setengah baya itu menggeleng.

“Dengan telur kampung ini. Insya Allah kamu akan lake.”

“Kenapa tiga butir Ke?” Mattali mengambil telur itu dari genggaman Matrah.

“Saya tidak tahu pasti soal itu. Yang jelas harus berjumlah ganjil. Barangkali karena Tuhan suka yang ganjil-ganjil.”

“Apa ada campuran lain selain telur ini Ke?” Mattali tidak sabar ingin membuktikan khasiat telur ayam kampung. Laki-laki itu menyesal, kenapa dulu, sebelum menikah ia tak bertanya perihal ini. Mana mungkin Mattali sempat bertanya tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Pernikahannya dengan Markoya terjadi secara mendadak, berlangsung cepat begitu saja, tanpa persiapan.

“Nanti saya beri tahu,” Mattali mengangguk. Beberapa menit kemudian, Matrah berbisik di telinga Mattali, mengatakan telur ayam yang digunakan untuk jamu adalah telur ayam kampung dan dengan jumlah ganjil juga dicampur bahan-bahan lain. Mattali membayangkan wajah Markoya, ia yakin Markoya akan terpuaskan di atas ranjang.
“Karena telur kampung itu, anak saya dua belas. Sekarang ini, saya juga punya cucu belasan.” Tawa Matrah meledak disusul derai tawa Mattali.

Tiga minggu setelah Mattali minum jamu dicampur telur tiga butir, sebagaimana anjuran Ke Matrah, birahi laki-laki itu meronta-ronta, minta digesek batang kemaluannya. “Saya sudah lake.” Gumam Mattali dengan binar-binar kebanggaan di matanya. Tanpa pikir panjang, ia berkunjung ke rumah Markoyah, berniat rujuk, siap membuktikan khasiat tiga butir telur pada perempuan cantik, rebutan lelaki kampung itu.

Mattali berdiri dengan mulut ternganga, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan, begitu melihat Markoya digandeng laki-laki keluar dari dalam rumah. Matanya terpaku pada laki-laki yang mengalungkan tangan pada bahu Markoya. Berusaha meredam golak di dadanya, Mattali menelan ludah.

“Saya sudah menikah, kita tak bisa rujuk. Dia benar-benar lake tidak sepertimu!” kata Markoya sembari tersenyum memandang laki-laki di sampingnya, suaminya itu.

“Siapa dia?” Mattali menekan suaranya.

“Dia anak Ke Matrah. Dua hari lalu kami menikah.” Jantung Mattali terasa akan lepas dari tangkainya begitu Markoya menyebut nama Matrah. Huh! Gigi Mattali bergemerutuk. Ia melenggang pulang membawa kesedihan. Terus bergegas lekas langkah Mattali, dan ia seolah begitu berhasrat mencincang tubuh Matrah, lelaki tua yang baru saja mengajarinya cara meramu butir telur ganjil agar menjadi lake.

Pulau Garam, 2017

Catatan:
[1] Tak Lake Ongghu Bekna Kak : sungguh tidak jantan kamu Mas (ucapan ini dimaksudkan kepada lelaki yang tidak dapat memuaskan istrinya di ranjang).
[2] Lake: jantan, merujuk pada kelelakian, juga bisa dimaknai laki-laki.
[3] Tarebung: pohon siwalan
[4] Taneyan lanjang : halaman panjang
[5] Kobhung : berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati, atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hampir semua bangunan di Madura memiliki kobhung. Letaknya rata-rata di sebelah barat. Kobhung berfungsi sebagai tempat peristirahatan, berkumpulnya kerluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan beribadah keluarga. Kobhung ini juga sebagai tempat pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.
[6] Ke: kakek

*)Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal.

BNN Kota Malang

Sendang Syi’ir

Senja sudah menghilang, gunung ‘pegat’ telah berkabut meskipun tipis. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing dan ada yang berbondong-bondong menuju masjid. Hari hampir gelap, rumah-rumah sudah menyala dengan lampu bohlam 5 watt-nya dan jalan sempit ini sudah mulai sepi. Jalan yang berujung pada persimpangan menuju ke sendang, ke puncak gunung pegat.

Setiap malam, setelah orang-orang telah menyelesaikan ibadahnya di masjid akan selalu terdengar alunan syi’ir yang merdu dari arah sendang. Suara-suara yang datang tiba-tiba, setelah beberapa bulan lalu ada anak kecil yang hilang tenggelam dan belum diketemukan hingga saat ini.

“Kata Ustadz Mansur itu suara Nabi Khidir,” jelas Ilul sembari memperhatikan langkah kakinya.

“Hush… yang benar saja kau ini, aku menduga ada hal aneh disana.”

“Ah… kau ini, itu kata ustadz.”

Namun percakapan kedua pemuda itu terpotong sebab Makruf  terlebih dulu sampai ke rumahnya. Sedangkan Ilul masih harus berjalan 50 meter lagi sampai di rumah, lebih dekat dengan sendang ketimbang rumah kawannya itu. Jalan itu akan selalu sepi setelah kejadian hilangnya anak kecil beberapa bulan lalu itu

Hanya ada beberapa rumah sepanjang jalan sempit itu dan rumah Ilul berada di ujung persimpangan. Jalan yang biasanya ramai kini sudah menjadi sepi dan sepanjang malam hanya akan terdengar suara syi’ir itu, tak pernah selesai. Setiap malam dan tak pernah tak ada, seharipun itu.

Saat siang sendang itu pun tetap ramai dengan pengunjung dan warga kampung, namun ketika sudah menginjak senja orang-orang akan segera bergegas meninggalkan sendang, begitu pula bagi mereka yang tengah berada di puncak gunung, akan segera turun. Ilul hanya akan menikmati suasana malam yang sepi di ujung persimpangan itu.

Saat malam, Ilul tak pernah sekalipun mencoba memastikan keberadaan suara itu, hanya ada satu orang yang pernah mencoba mendekat ke sumber suara, namun belum sempat memastikan, ia sudah terlebih dulu kembali dengan alasan takut. Dan Ustadz Mansur pun hanya dapat percaya bahwa itu memang benar-benar Nabi Khidir yang abadi.

***

Semenjak hilangnya anak kecil yang tengah berenang di sendang itu, kini orang-orang akan lebih dulu melempar beberapa uang koin sebagai bentuk amit kepada penguasa alam. Dan itu sudah menjadi kepercayaan orang-orang sekitar, sebab menurut orang-orang tua dahulu hal tersebut perlu dilakukan sebagai bentuk penghormatan agar segala bentuk kegiatan yang sedang dilakukan akan tetap terjaga. Entah, sebenarnya Ilul sendiri sempat tak pernah percaya jika ada yang akan mengganggu. Namun ia kini mulai ikut-ikutan dengan yang dilakukan warga kampung.

Anak kecil yang hilang itu pun telah diikhlaskan keluarganya namun masih terasa ada yang ganjal ketika syi’ir itu masih terdengar, apalagi Ilul yang akan selalu mendengar suara itu. Setelah kejadian itu sendang sempatsepi, namun kini sudah kembali ramai sebab desas-desus mistis sudah hilang dari telinga orang-orang.

Namun jalan sempit ini akan tetap kembali sepi saat malam, selalu sepi dan hanya syi’ir itu saja yang akan selalu terngiang di telinga Ilul dan tetangga sederet rumah sepanjang jalan itu.

Saking seringnya Ilul mendengar syi’ir itu ia mulai hafal bait perbait, hingga setiap hari ia selalu bergeming sendiri menirukannya. Tak hanya Ilul, hampir sederetan rumahnya pun sudah mulai hafal dan terbiasa.

***

Warga kampung pun mulai menggunakan syi’ir yang mereka hafal untuk menghibur banyak pengunjung dan mereka percaya dapat membawa banyak sekali keuntungan. Begitu pula Ilul dan Makruf yang menikmati sendang ramai kembali.

Senja sudah menghilang, gunung pegat telah berkabut meskipun masih tipis. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing dan ada yang berbondong-bondong menuju masjid. Hari hampir gelap, rumah-rumah sudah menyala dengan lampu bohlam 5 watt-nya dan jalan sempit ini sudah mulai sepi lagi. Jalan yang berujung pada persimpangan menuju ke sendang, ke puncak gunung pegat.

Namun anehnya syi’ir itu tak lagi terdengar, warga kampung tak sadar mengenai itu. Namun ketika mulai bergeming dengan syi’ir itu mereka lekas tersadar bahwa tak lagi terdengar suara yang mereka yakini Sang Abadi itu.

Lekas warga kampung keluar dari dalam rumah untuk memastikan apakah benar suara itu hilang, tak terdengar lagi. Serentak mereka keluar bersamaan termasuk Makruf, lalu mereka mendekat ke persimpangan. Dalam perjalanan menuju persimpangan Makruf pun masih bergeming dengan syi’ir itu, sampailah warga kampung di persimpangan dan melihat Ilul yang terlebih dahulu tertegun menatap ke arah sendang yang memancarkan cahaya cerah.

“Di mana suara itu?” dengan mulut Makruf yang masih bergeming syi’ir itu ia menanyakan di mana keberadaan suara syi’ir itu.

“Mungkin sudah pergi, tapi lihatlah.”

“Apa maksudmu,” tertegun Makruf melihat dengan mata melotot ke arah sendang dengan mulut yang masih belum diam dengan syi’ir itu.

Warga kampung pun ikut memandang ke arah sendang yang tengah memancarkan cahaya terang.

“Kenapa kau ini? Cukup sudahi syi’irmu itu.”

“Entahlah, mulutku dengan sendirinya bergeming,” dengan syi’ir yang terpotong-potong .

Ilul menatap mata Makruf yang perlahan mulai kosong, ia mencoba menoleh kepada warga yang lain dan ternyata mulut mereka pun bergeming syi’ir tersebut, tak henti-henti.

“Sudah, hentikan!” teriak Ilul.

Namun tak ada yang mendengar sama sekali, mata Makruf telah kosong dan semua warga pun begitu. Ilul lekas mencoba menyadarkan Makruf namun ia tak berhasil. Seketika makruf melangkah dengan sendirinya menuju arah sendang, warga lainnya pun mengikuti langkah kaki Makruf yang telah lebih dulu berjalan.

Daun-daun kering berserakan Makruf lewati begitu saja meskipun ranting dan cabang pohon kering yang mati tengah menghadang, namun tetap ia terjang begitu saja. Langkah kaki mereka menuju sendang dekat dengan sumbernya. Ilul yang panik pun ikut membuntuti dari jauh.

Makruf seketika terhenti di dekat sumber, pancaran sinar cahayanya pula bersumber di sana, Ilul lekas mendekati Makruf. Dan seketika Ilul sampai ia mendapati cahaya terang itu memudar. Makruf  tersadarkan diri, namun matanya lekas tertuju pada bekas sumber cahaya tersebut. Ia tertegun menatap tubuh seseorang tergeletak di atas ratusan uang koin. Tubuh yang tergeletak itu adalah adik Makruf yang dinyatakan hilang tenggelam saat berenang di sendang beberapa bulan lalu. Ilul pun hanya terdiam, ia merasa memang ada Sang Abadi itu. Ilul merasa suara yang datang setiap malam itu datang untuk menuntun warga terutama Makruf yang tengah bersedih kehilangan adiknya tanpa diketemukan jasadnya.

*) Achmad Fathoni , berdomisili di Malang dan aktif berkegiatan bersama Pelangi Sastra Malang.

BNN Kota Malang