Kpw BI Jatim: Kurangi Impor Agar Rupiah Tetap Stabil

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah. (Lisdya)

MALANGVOICE – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini, Jumat (15/2), terpantau melemah di kisaran Rp 14.100.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah, naik turunnya nilai tukar rupiah merupakan hal yang wajar dan biasa terjadi.

“Ketidakstabilan ini memang sudah wajar. Kalau kemarin rupiah menguat, ya saat ini yang dibutuhkan hanya kestabilan saja,” katanya belum lama ini.

Ia pun menjelaskan, masalah kurs rupiah tak lain dikarenakan tingginya transaksi, seperti misalnya transaksi ekspor impor.

Tak dipungkiri, saat ini Indonesia banyak mengambil berbagai macam produk dari luar negeri. Seperti bahan sandang, pangan, barang elektronik, hingga barang – barang mewah.

“Selama proses impor barang masih tinggi maka, nilai rupiah dinilai masih rawan untuk tukarnya,” tegasnya.

Adapun cara yang ampuh guna menguatkan kembali nilai rupiah adalah dengan mengurangi impor produk dan mulai belanja produk lokal.

“Kuncinya kurangi impor dan perbanyak ekspor. Jangan terlalu banyak membeli produk yang berasal dari luar negeri, selain itu juga kita harus mencari devisa negara yang banyak,” jelasnya.

Saat ini, devisa negara Indonesia yang paling berpotensi guna membantu menguatkan nilai tukar Rupiah adalah sektor pariwisata. Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat Indonesia mengurangi berwisata ke luar negeri dan diganti dengan wisata dalam negeri.

“Masyarakat saat ini lebih sering mengejar promo ke luar negeri untuk berwisata. Padahal, eksotisme wisata kita juga nggak kalah menarik,” pungkasnya.(Der/Aka)

Ekonomi Indonesia Turun, Terutama Dalam Sektor ini

Staff Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika saat memberi sambutan dalam acara Seminar Kampus di UB Malang. (Lisdya)

MALANGVOICE – Selama 56 tahun terakhir perekonomian Indonesia menurun drastis terutama dalam kontribusi sektor pertanian.

Dari data Kementrian Keuangan (Kemenkeu) mencatat angka kontribusi sektor pertanian di tahun 2018 sebesar 13 persen. Sedangkan pada tahun 1962 mencapai 56,3 persen, angka ini sangat jauh dari yang telah ditargetkan.

Staff Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika mengatakan, lambatnya transformasi ekonomi pertanian menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya daya serap tersebut.

“Sangat berjalan lambat ekonomi kita,” kata Erani Yustika saat memberi sambutan pada seminar kampus di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis (13/9).

Ternyata daya serap tenaga kerja untuk sektor pertanian berkisar diantara 38 persen hingga 40 persen. Seharusnya, daya serap tenaga kerja yang tinggi tersebut mampu mendongkrak kontribusi pertumbuhan ekonomi.

“Kalau daya serap tenaga kerja tinggi, seharusnya kontribusi ekonomi juga tinggi,” tegasnya.

Dikatakannya, ketidakseimbangan tersebut terjadi karena para petani ataupun pengusaha melakukan penjualan pertanian tanpa diolah.

“Mereka menjual bahan mentah, jadi hasilnya kecil. Coba lihat, mahal mana kelapa sawit atau minyaknya yang sudah diolah?,” katanya seraya mencontohkan.

Dia menyarankan agar percepatan transformasi ekonomi dibarengi dengan peningkatan SDA di setiap daerah. Jika nantinya dua hal ini dijalankan bersama, maka kontribusi sektor pertanian akan semakin meningkat. (Hmz/Ulm)

Kurangi Rasio Gini Kota Malang, Ini Saran Anggota DPR RI

Anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo. (Lisdya)

MALANGVOICE – Anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo mengatakan di tahun 2018, rasio gini di Kota Malang meningkat hingga 0,42 persen. Maka, untuk mengurangi angka rasio gini tersebut perlu adanya peningkatan UMKM naik kelas.

Dikatakannya, rasio gini yang melebar di Kota Malang ditunjang oleh sektor jasa meliputi pendidikan, usaha rumah kos, dan warung makan yang cepat berkembang sehingga menyalip sektor UMKM.

“Untuk itu kita harus benar-benar mengedepankan agar UMKM ini naik kelas,” katanya.

Dia mengatakan untuk mengakhiri permasalahan ini yakni dengan menjadikan inklusivitas sebagai kunci untuk mengembangkan UMKM, hanya saja untuk mencapai itu datanya harus benar.

“Data UMKM yang benar harus betul-betul menjadi perhatian. Dengan data yang benar, maka UMKM akan naik kelas, dari mikro menjadi kecil, kecil menjadi menengah, dan menengah menjadi besar,” tegasnya.

Andreas menambahkan, agar UMKM naik kelas perlu adanya lembaga jasa keuangan yang menopang, seperti jaminan kredit UMKM dari pemerintah daerah untuk disalurkan berupa pinjaman modal ke UMKM lewat bank dengan skema channeling.

“Harus ada pendanaan seperti itu, dana yang dipinjam juga harus benar-benar dimanfaatkan. Jangan sampai keuntungannya dihabiskan untuk membayar cicilan,” pungkasnya. (Hmz/Ulm)

Inflasi Bulan Juni Turun, Kota Malang Paling Rendah di Jatim

Kepala BPS Kota Malang, Mohammad Sarjan usai menerangkan inflasi Kota Malang. (Lisdya Shelly)
Kepala BPS Kota Malang, Mohammad Sarjan usai menerangkan inflasi Kota Malang. (Lisdya Shelly)

MALANGVOICE – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang menyampaikan laporan inflasi bulan Juni 2018 sebesar 0,25 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Mei 2018 sebesar 0,29 persen.

Selain itu, inflasi Juni Kota Malang juga paling rendah dibandingkan dengan beberapa kota di Jawa Timur.

“Biasanya di bulan Juni itu inflasi tinggi. Saya yakin ini semua keberhasilan dari TPID yang sudah berusaha untuk mengendalikan harga,” ujar Kepala BPS Kota Malang, Mohammad Sarjan kepada awak media, Senin (2/7).

Ditambahkan, inflasi kalender tahun 2018 paling rendah yakni bulan Juni dibandingkan dengan 8 tahun lalu yakni sebesar 0,68 persen.

Begitu juga dengan inflasi tahun ke tahun (year or year), dibandingkan dengan 8 tahun lalu, hingga bulan Juni ini terbilang rendah yakni sebesar 2,25 persen.

“Ada beberapa komoditas yang menyebabkan inflasi bulan Juni terkendali,” imbuhnya.

Beberapa komuditas itu antara lain, angkutan umum, keuangan, junkfood, rokok, kesehatan dan bahan makanan. “Sandang turun mengikuti harga emas serta perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar,” imbuhnya.

Sedangkan komoditas penyumbang inflasi antara lain, angkutan udara, daging ayam, daging ayam ras, angkutan antar kota, tiket KA, tahu mentah, nasi dan lauk, travel, ayam goreng, dan daging ayam kampung.

Sementara komoditas penghambat inflasi yakni telur ayam ras, bawang merah dan putih, emas perhiasan, cabai merah, tomat sayur, kentang, mujair, tongkol, serta minyak goreng.

“Meski beberapa harga komuditas menurun tapi perlu diingatkan, ada kenaikan BBM. Oleh sebab itu TPID dan masyarakat harus menyikapi dengan tenang, agar inflasi bulan Juli terkendali,” pungkasnya.(Der/Ak)