28 November 2022
28 November 2022
21.6 C
Malang
ad space

Gilang Mengundurkan Diri Sebagai Presiden Arema FC

Gilang Widya Pramana bersama Sudarmaji. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Gilang Widya Pramana menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Presiden Arema FC. Pernyataan ini disampaikan langsung pada Sabtu (29/10).

“Maka per hari ini saya nyatakan mundur dari Presiden Arema,” ujarnya di Kandang Singa.

Alasan Gilang mundur ini dikarenakan bentuk tanggung jawab dan murni keputusannya sendiri.

Baca Juga: 10 Tersangka Dilimpahkan ke Kejari Kota Malang

“Pengunduran diri tidak ada tekanan pihak manapun, itu murni karena tanggung jawab moral saya, murni karena saya merasakan kesedihan, traumatis, dan saya bertanggung jawab untuk mundur,” lanjutnya.

Dengan keputusannya ini, selanjutnya Gilang akan menyerahkan kembali posisinya ini ke manajemen dan owner sekaligus mencari penggantinya.

“Saya memutuskan untuk istirahat rehat dari dunia sepak bola, dengan situasi sekarang ini di Arema FC saya merasa memerlukan sosok yang lebih baik dan dirasa mampu mengelola Arema menjadi tim solid dan kuat,” jelasnya.

Selain itu, bos Juragan 99 ini menyatakan posisinya sebagai Presiden Arema FC hanyalah investor.

“Posisi presiden klub adalah posisi kehormatan, saya sebagai investor diberikan istilah presiden oleh owner dan direksi. Ini merupakan suatu kehormatan buat saya,” tegasnya.

Sebelum berpamitan, ia mengucap banyak terima kasih kepada seluruh pihak, mulai manajemen, Aremania, hingga sponsor yang sudah mendukung Gilang selama satu tahun setengah ini.

“Terima kasih atas kerja samanya selama ini. Saya ucapkan terima kasih ke pemain, pelatih, staf, semua Aremania Aremanita. Saya minta maaf kalau saya banyak kesalahan, kekurangan,” tandasnya.(der)

Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Kembali Bersedia Ajukan Autopsi

Devi Athok. (istimewa)

MALANGVOICE – Rencana autopsi korban Tragedi Kanjuruhan kembali mencuat. Hal ini setelah salah satu pihak keluarga korban menyetejui proses autopsi melalui surat yang dikirim ke Polda Jatim.

Surat ini dibuat dan ditulis Devi Athok (48) warga Bululawang, Kabupaten Malang. Ia merupakan ayah dari dua anaknya yang menjadi korban Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober silam, yakni Natasya Deby Ramadhani dan Nayla Deby Anggraeni.

Hal ini dibenarkan kuasa hukum Devi Athok, Imam Hidayat. “Sudah (diserahkan ke Polda Jatim) melalui LPSK. Copy surat kesediaan autopsi kembali, aslinya ada di saya,” kata Imam kepada wartawan.

Baca Juga: Sumpah Pemuda, Semangat Positif Membangun Bangsa

Surat itu dikirim LPSK ke Polda Jatim pada 24 Oktober 2022. Surat itu berisi tiga poin penting, yakni membatalkan pernyataan mencabut permohonan autopsi jenazah dua anaknya yang diberikan ke Polda Jatim pada 17 Oktober lalu.

Selanjutnya, Devi Athok juga siap dan menyetujui proses autopsi kedua jenazah anaknya seperti niat awal pada 10 Oktober lalu.

Ia juga menyebut alasan pencabutan pernyataan kesiapan autopsi pada 17 Oktober itu karena mendapat tekanan secara psikis sehingga saya membuat pencabutan dalam keadaan tertekan dan bingung.

Imam Hidayat menambahkan, surat itu ditulis pada 22 Oktober dengan ditandatangani atas materai. Hal ini menegaskan kesiapan Devi Athok untuk melanjutkan proses autopsi.

“Ya sudah bersedia kembali,” jelasnya.

Terpisah, Kapolda Jatim, Irjen Pol Toni Harmanto, siap mengakomodir permintaan proses autopsi apabila ada keluarga korban yang mengajukan kembali.

“Kalau memang ada kesediaan artinya ini akan memperjelas kembali ya. Artinya autopsi ini untuk memperjelas sebab kematian tentunya. Ya kami bersedia mengakomodir itu,” ujarnya pada 26 Oktober 2022 di Malang.(der)

Mensos Lengkapi Bantuan Presiden Jokowi ke Korban Tragedi Kanjuruhan

Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini memberikan bantuan ke keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Menteri Sosial (Mensos) RI, Tri Rismaharini melengkapi bantuan Presiden Joko Widodo kepada korban Tragedi Kanjuruhan. Bantuan ini diserahkan di Kantor Kecamatan Lowokwaru, Jumat (28/10).

Mensos Risma didampingi Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko dan beberapa pejabat Pemkot Malang.

Bantuan dari Presiden Joko Widodo diserahkan langsung kepada para ahli waris korban sejumlah enam orang.

Mensos RI, Tri Rismaharini bersama Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko. (Deny/MVoice)

Baca Juga: Kota Batu Pertahankan Lahan Sawah Seluas 643 Hektare

“Kalau dari Kemensos nambah satu, presiden ada 6. Kemarin ditindaklanjuti presiden dan sudah ngaturkan seluruhnya. Jadi hingga hari ini tuntas seluruhnya,” kata Risma dengan meyakinkan bantuan untuk 135 korban sudah tersalurkan semua.

Mantan Wali Kota Surabaya ini menambahkan, bantuan yang diberikan tentu tidak bisa mengembalikan nyawa para korban, namun merupakan bentuk tanggung jawab dari pemerintah untuk meringankan beban keluarga korban.

Selain itu, Risma mengatakan, pemerintah akan terus memperhatikan kondisi keluarga korban, termasuk anak-anak yatim dan piatu yang ditinggal orang tuanya dalam peristiwa itu.

“Selain santunan ini kami akan tindaklanjuti dan perdalam kebutuhan untuk bantu ringankan keluarga korban,” imbuh Risma.

Kepada keluaga korban yang alami luka-luka dan masih menjalani penyembuhan, Risma sudah berkoordinasi dengan kepala daerah di Malang untuk mengurus segala keperluan korban, temasuk mengganti biaya berobat.

“Kalau warga Kota Malang, Pak wakil wali kota sudah sampaikan akan diganti. Tapu kalau Kabupaten Malang, bupati juga sudah janji mengatasi. Soal rumah sakit itu kan provinsi, nanti juga akan saya sampaikan. Intinya (biaya) korban luka diganti,” tandasnya.(der)

Aremania Kembali Turun ke Jalan, Temui Sutiaji Bacakan 9 Tuntutan

Aksi Aremania turun ke jalan. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Ratusan Aremania kembali turun ke jalan pada Kamis (27/10). Mereka berkumpul dari Alun-alun Merdeka menuju Tugu Balai Kota Malang.

Massa ini datang membawa keranda hitam dan “pocong-pocongan” yang bertuliskan angka 135 sebagai penanda jumlah korban dalam Tragedi Kanjuruhan. Selama aksi tidak ada pengawalan polisi di lapangan.

Sesampainya di depan Balai Kota, para Aremania menunggu kedatangan Wali Kota Malang, Sutiaji untuk dibacakan tuntutan.

Setelah beberapa menit menunggu, Sutiaji akhirnya datang menemui massa di depan Balai Kota Malang.

Baca Juga: Anugerah Humas Indonesia, Sutiaji Tekankan Fungsi Penting Peran Humas

Aksi Aremania turun ke jalan. (Deny/MVoice)

Perwakilan aksi turun ke jalan ini kemudian membaca tuntutan. Total ada 9 tuntutan yang dibacakan, yakni:

1. Menuntut Aparat Kepolisian serta Penegak Hukum yang lain terkait 6 tersangka yang sudah ditetapkan sebagai tahanan dilakukan proses hukum seadil-adilnya dan menuntut penambahan pasal 338 bahkan 340 dari yang sebelumnya disangkakan ole penyidik pasal 359 KUHP

2. A. Menuntut pertanggung jawaban moral seluruh jajaran PSSI (mundur darijabatan saat ini). PSSI harus merevisi regulasi keselamatan dan keamanan penyelanggaran Liga di Indonesia sesai dengan statuta FIFA. Dan juga merevolusi menyeluruh terhadap sepak bola nasional
B. Menuntut pihak broadcaster Liga untuk mengganti jam pertandingan di malam hari, terutama saat laga riskan

3. Meminta aparat kepolisian dapat segera menyelediki, mengadili dan merilis siapa saja eksekutor penembak gas air mata saat Tragedi Kanjuruhan

4. Menuntut Transparansi aparat Kepolisian terkait hasil sidang etik Eksekutor penembak gas air mata saat tragedi kanjuruhan, jika terbukti ada pelanggaran maka harus dipidana

5. A. Menolak rekontruksi yang dilakukan oleh Polda Jatim yang menyebutkan bahwa tembakan tidak diarahkan ke arah tribun. Karena sesuai bukti video dan foto yang beredar memang benar adanya penembakan gas air mata ke arah tribun. Dan harus dilakukan rekontruksi ulang sesuai dengan fakta di lapangan
B. Menuntut BRIN merilis kandungan zat dalam gas air mata yang telah expired yang digunakan dalam Tragedi Kanjuruhan

6. Menuntut Manajemen Arema FC harus turut andil mengawal proses Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan, Selaras dengan perjuangan Aremania yang menuntut keadilan

7. Menuntut Pemerintah bersinergi dengan Komnas HAM dan menetapkan bahwa para tersangka melakukan kejahatan Genosida

8. Mengutuk segala bentuk intimidasi dari pihak manapun terhadap para saksi dan korban Tragedi Kanjuruhan

9. Meminta 3 Kepala Daerah dan DPRD seluruh Malang Raya turut andil mengawal tragedi kanjuruhan bersama Aremania hingga tuntas.

Aremania tidak melindungi siapapun termasuk jika ada Aremania yang terlibat pelanggaran hukum saat kejadian, akan tetapi jika tidak ditemukan fakta hukum atau keterlibatannya, maka Aremania siap mengawal proses pembelaan

“Sehubungan dengan Tragedi Kanjuruhan, maka Aremania dan seluruh elemen suporter di Indonesia mendorong proses perbaikan tata kelola sepak bola Indonesia secara menyeluruh,” kata orator aksi.

“Aremania akan terus melakukan aksi jika tuntutan-tuntutan tersebut tidak terpenuhi secara keseluruhan,” imbuhnya.

Wali Kota Malang, Sutiaji menerima tuntutan dari Aremania. (Deny/MVoice)

Sementara itu Wali Kota Malang, Sutiaji, ikut mengamini apa yang menjadi tuntutan dari Aremania. Ia mengatakan, siap mengawal proses hukum yang saat ini tengah berjalan.

“Terus kawal proses hukum dan harus fair. Saya sampaikan dengan cara sendiri untuk terus menuntut keadilan,” kata Sutiaji.

Sutiaji kemudian ikut menandatangani tuntutan yang diberikan. Ia menegaskan akan meneruskan tuntutan itu ke pihak terkait melalui email.

“Saya akan teruskan lewat email ke pusat, Kapolri, Komnas HAM, karena kita sepakat kawal terus proses hukum,” tegasnya.

“Menjadi keharusan pemimpin itu mengayomi, melindungi, menberikan jaminan, dan kepastian hukuma, apalagi ini 135 nyawa melayang,” tandas Sutiaji.(der)

Kapolda Jatim Pastikan Proses Hukum Tragedi Kanjuruhan Terus Berlanjut

Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto, memastikan proses hukum para tersangka Tragedi Kanjuruhan terus berlanjut meski sudah dilakukan penahanan tersangka.

“Proses ini masih bergulir ya seperti yang diketahui sejak dua hari lalu untuk kita sudah melakukan penahan kepada mereka yang sudah diduga sebagai trsangka,” kata Toni di Malang, Rabu (26/10).

Soal kemungkinan adanya tersangka baru, Kapolda Jatim masih belum bisa menjelaskan lebih lanjut. “Kita masih proses mendalami lagi begitu ya karena ini masih berjalan,” singkatnya.

Baca Juga: Ketua KONI Kota Malang Minta Cabor Segera Gelar Muskot

Terkait rencana autopsi jenazah korban, Toni mengaku tetap akan mengakomodir semua permintaan keluarga korban. Dikatakannya, autopsi justru mempermudah penyelidikan penyebab kematian korban.

“Kalau memang ada kesediaan artinya ini akan memperjelas kan kembali ya. Artinya autopsi ini untuk memperjelas sebab kematian tentunya,” imbuhnya.

“Ya kami bersedia mengakomodir itu. Kan sudah terjawab minggu lalu kita lakukan rekonstruksi,” Toni menandaskan.(der)

Lewati Masa Kritis dan Sukses Jalani Operasi, Korban Tragedi Kanjuruhan Pulang dari RS Saiful Anwar

Afrizal diperbolehkan pulang dari RS Saiful Anwar. (istimewa)

MALANGVOICE – Muhammad Afrizal (11), salah satu korban Tragedi Kanjuruhan diperbolehkan pulang dari RS Saiful Anwar pada Rabu (26/10). Ia sudah menjalani perawatan dan melewati masa kritis sejak peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober lalu.

Bersama keluarganya, Afrizal menggunakan kursi roda mulai meninggalkan RS Saiful Anwar. Meski masih belum bisa berjalan, namun dikatakan Dokter Spesialis Bedah Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), dr Yudi Siswanto.,Sp.B.P.R.E kondisinya kini sudah sangat baik.

“Sekarang sudah membaik, diperbolehkan pulang, kedepan tinggal kontrol di klinik,” kata Saiful.

Saat pertama kali masuk rumah sakit, Saiful menjelaskan, Afrizal mengalami penurunan kesadaran sehingga kembali dimasukkan ke ruang Intensive Care Unit (ICU) selama 7 hari. Setelah mendapat perawatan intensif korban membaik sampai sekarang.

Baca Juga: Kapolda Jatim Bantu Fasilitasi Kebutuhan Keluarga Korban ke-135 Tragedi Kanjuruhan

Sebelum diperbolehkan pulang, bocah asal Bululawang ini menjalani operasi selama lima kali. Terakhir, ia menjalani operasi penanaman kulit paha karena alami memar cukup parah.

“Terakhir operasi penanaman kulit, sehingga bekas lukanya sudah tidak terlihat dan sudah sembuh 100 persen,” lanjutnya.

Meski masih menggunakan kursi roda, nantinya Afrizal akan menjalani rawat jalan dan terapi di rumah. “Untuk terapi jalannya bisa dilakukan bertahap dan tidak ada kendala terkait itu,” sambungnya.

Ibunda Bersyukur Anaknya Selamat dari Peristiwa Tragedi Kanjuruhan

Sementara itu ibu Afrizal, Aminayu (44) mengaku sangat bersyukur anaknya bisa pulih dan lolos dari maut dalam Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang.

“Yang penting anak saya sembuh, alhamdulilah selamat,” ujarnya.

Afrizal menonton pertandingan di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober lalu itu bersama sang ayah. Kondisi ayahnya tidak separah Afrizal meski ada luka di mata dan kaki.

“Nonton sama ayahnya di gate 8. Tapi bapak tidak mau dirawat di rumah sakit jadi di rumah. Tinggal mata sama kaki agak pincang,” ulasnya.

Aminayu sendiri sempat kesulitan mencari putranya ketika kericuhan meletus usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya itu. Semalaman ia mencari Afrizal ke rumah sakit di sekitar Kanjuruhan namun tidak ada hasil.

“Saya cari seluruh rumah sakit di Kanjuruhan sampai Gondanglegi saya cari sampai tiga kali, tidak ketemu akhirnya balik ke Kanjuruhan tanya petugas katanya ada yang bawa dia ke rumah sakit ada yang gendong nangis nyari mamanya,” ungkap Aminayu.

Pada waktu subuh 2 Oktober Aminayu datang ke RS Saiful Anwar dan barulah ia menemukan Afrizal sedang dirawat. Ia mengingat saat itu paha anaknya ada luka di paha.

“Saya tidak tahu keinjak atau bagaimana, paha dia menghitam sehingga harus dilakukan pembuangan agar tidak sampai infeksi,” sambungnya.

Saat ini keluarga masih akan tetap fokus pemulihan kondisi Afrizal sampai benar-benar pulih dan bisa berjalan. Diketahui ia sama sekali tidak berjalan selama 24 hari karena harus berbaring di rumah sakit.

“Ya semoga cepat pulih dan berjalan lagi, soalnya belum pernah belajar berjalan semenjak di sini,” tandasnya.(der)

Kapolda Jatim Bantu Fasilitasi Kebutuhan Keluarga Korban ke-135 Tragedi Kanjuruhan

Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto, mengunjungi korban ke-135 Tragedi Kanjuruhan, Farzah Dwi Kurniawan (20) di kediamannya Jalan Sudimoro Utara, Rabu (26/10).

Toni datang bersama Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Dirmanto dan Dirkrimsus Polda Jatim Kombespol Totok Suharyanto.

Kapolda Jatim menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Farzah kepada orang tua dan kakak almarhum.

Baca Juga: Ketua KONI Kota Malang Minta Cabor Segera Gelar Muskot

“Ini juga menjadi satu langkah kami untuk lebih menegaskan bahwa kita juga sebagai manusia biasa menyampaikan permohonan maaf kami kepada keluarga almarhum atas peristiwa yang terjadi,” kata Toni.

Dalam kunjungannya ke rumah korban, Toni mengaku siap mengakomodir apapun kebutuhan korban, termasuk membantu fasilitasi kakak Farzah dalam pekerjaan untuk membantu keluarga.

“Kebetulan kakak almarhum kita akan coba memfasilitasi bisa bekerja di suatu tempat untuk membantu meringankan hidup keluarganya. Kebetulan kakak almarhum ini kan profesinya seperti bidan jadi dengan kemampuannya sendiri tadi diskusi,” tandasnya.

Farzah meninggal dunia pada Ahad (23/10) setelah menjalani perawatan intensif di RS Saiful Anwar Pasca-tragedi Kanjuruhan 1 Oktober lalu.

Ia juga dinyatakan positif Covid-19 dari hasil swab terakhir 15 Oktober. Jenazah mahasiswa UMM ini kemudian dimakamkan di TPU Sudimoro pada Senin (24/10) pagi.(der)

Arema Nyatakan Sikap Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan dan Transformasi Sepak Bola Indonesia

MALANGVOICE – Korban karena Tragedi Kanjuruhan terus bertambah menjadi 135 jiwa. Gerakan usut tuntas pun digaungkan agar mengungkap secara keseluruhan dalam peristiwa kelam sejarah sepak bola Indonesia.

Tim Arema FC secara resmi menyatakan sikap agar investigasi yang dilakukan pihak berwenang bisa tuntas dan korban mendapat keadilan.

“Sikap kami sangat jelas, kami berharap investigasi yang komprehensif dan pengusutan secara tuntas agar tragedi ini dapat diungkap secara terang benderang sehingga korban mendapatkan keadilan yang sepenuhnya,” kata Presiden Arema FC, Gilang Widya Pramana dalam rilis yang diterima MVoice, Selasa (25/10).

Baca Juga: Produksi Susu Sapi Perah Menurun Dampak PMK, Peternak Merugi

Selain itu, bos Juragan 99 ini menuntut dilakukannya transformasi besar di sepak bola Indonesia. Karena hilangnya banyak korban ini jadi evaluasi dan pelajaran sangat berharga agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Arema FC juga dengan tegas berada dalam gerakan untuk mendorong perbaikan sepak bola nasional.

“Arema FC mendukung total perbaikan, pembenahan dan proses transformasi sepak bola Indonesia yang saat ini bersama-sama sedang dilakukan. Tujuannya satu, agar sepak bola Indonesia lebih baik dan tidak ada lagi nyawa yang hilang akibat sepak bola,” tegasnya.

“Kami mendukung percepatan transformasi sepakbola indonesia untuk segera menghasilkan roadmap atau jalan terbaik perbaikan masa depan sepakbola indonesia baik secara jangka pendek ini dan bertahap secara jangka panjang nantinya,” imbuh Gilang.

Saat ini manajemen Arema FC masih tetap mengawal proses penyembuhan serta pendampingan hukum serta penanganan trauma korban luka Tragedi Kanjuruhan.

“Kami terus berusaha dan berupaya untuk melanjutkan program tanggap darurat dalam proses pemulihan korban baik melalui bantuan santunan, bantuan pendidikan, pendampingan hukum dan penanganan trauma,” jelasnya.

Mewakili manajemen Arema, Gilang sekali lagi turut berduka atas meninggalnya suporter dalam peristiwa nahas tersebut.

“Arema FC berduka, 135 korban bukanlah hanya angka tetapi adalah nilai tak terhingga yang harus hilang akibat kecintaan pada klub Arema FC. Tak seharusnya kami diam melihat hilangnya nyawa akibat cinta yang besar pada klub ini,” tutup Gilang.(der)

Tersangka Tragedi Kanjuruhan Ditahan, Kuasa Hukum Abdul Haris Bikin Surat Permohonan ke Penyidik

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo. (istimewa)

MALANGVOICE – Tersangka kasus Tragedi Kanjuruhan mulai ditahan hari ini, Senin (24/10). Keenam tersangka ini sebelumnya menjalani pemeriksaan di Mapolda Jatim.

“Selesai nanti pemeriksaan tambahan ke-enam tersangka tersebut oleh penyidik langsung dilakukan penahanan,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo, Jakarta.

Adapun ke-enam tersangka yang dilakukan penahanan yakni, Direktur Utama LIB AHL, Ketua Panitia Pelaksana Arema Malang AH, Security Officer SS. 

Baca Juga: UMM Turut Berduka, Farzah Dikenal Sebagai Mahasiswa Gigih dan Sopan

Kemudian, Kabag Ops Polres Malang Kompol WSP, Kasat Samapta Polres Malang AKP BSA dan Komandan Kompi Brimob Polda Jatim AKP H.

Menurut Dedi, pihak tim investigasi Polri, sedang mempercepat proses pemberkasan agar dapat segera dilimpahkan ke pihak Kejaksaan.

“Semuanya masih berproses tim masih bekerja, Insya Allah dalam waktu dekat juga berkas perkara akan dilimpahkan ke JPU. Nanti akan diteliti oleh jaksa penuntut umum dari Kejati Jawa Timur,” ujar Dedi.

Sementara itu kuasa hukum tersangka Ketua Panitia Pelaksana Arema Malang Abdul Haris, Sumardhan SH, membenarkan penahanan kliennya.

“Benar Pak Haris ditahan tadi pukul 19.00,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga sudah membuat surat permohonan untuk tidak dilakukan penahanan ke tim penyidik, namun belum ada tanggapan.

Meski demikian, Sumardhan belum bisa menjelaskan lebih lanjut sebab permohonan untuk tidak ditahan itu.

“Tadi sudah buat suratnya,” singkatnya.

Adapun para tersangka ini dijerat Pasal 359 dan atau Pasal 360 KUHP dan atau Pasal 103 ayat (1) jo Pasal 52 Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.(der)

Pihak RSSA Bantah Covid Penyebab Meninggalnya Farzah: Disebabkan Multiple Trauma

Wakil Direktur Bagian Pelayanan Medik dan Perawatan, dr Syaifullah Asmiragani dan dr M Akbar Sidiq. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Meninggalnya Farzah Dwi Kurniawan dalam Tragedi Kanjuruhan dengan kondisi positif Covid-19 dikonfirmasi pihak RS Saiful Anwar.

Farzah meninggal dunia pada Ahad (23/10) pukul 22.40 WIB setelah menjalani perawatan intensif selama 23 hari.

Wakil Direktur Bagian Pelayanan Medik dan Perawatan, dr Syaifullah Asmiragani, membenarkan almarhum positif Covid-19. Hal itu berdasar swab terakhir yang dilakukan pada 15 Oktober lalu.

Baca Juga: Korban Terakhir Tragedi Kanjuruhan Berstatus Positif Covid-19

“Memang Farzah saat awal masuk salah satu prosedur melakukan swab sebelum intubasi, ia mengalami hipoksia, dan hasilnya positive Covid-19,” kata Syaifullah, Senin (24/10).

Meskipun dalam kondisi positif Covid-19, namun penyebab kematian Farzah bukanlah karena Covid-19, melainkan multiple trauma yang didapat pasca-tragedi Kanjuruhan 1 Oktober.

Syaifullah menjelaskan, saat masuk ke RS Saiful Anwar, kondisi korban sudah kritis.

“Meninggal bukan karena covid, tapi karena pasca trauma sampai hilang kesadaran,” jelasnya.

Ditambahkan dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr M Akbar Sidiq Sp An, luka yang dialami Farzah ada di beberapa titik sehingga mengalami kritis.

“Luka cedera di kepala, dada, paru-paru, perut juga ada. Ada juga kekurangan oksigen atau hipoksia. Tapi yang memberatkan ada di kepala dan paru,” imbuhnya.

Kondisi Farzah dikatakan Sidiq sempat mengalami perbaikan setelah dua minggu pemasangan ventilator. Namun setelah dicoba lepas intubasi, kondisinya menurun dan tidak bisa bertahan sampai dinyatakan meninggal dunia.

“Jadi kondisi naik turun, kemarin ada perburukan sampai meninggal. Intinya kondisi multiple trauma yang memberatkan kondisi pasien,” tegasnya.(der)