Mr Mo, Komunitas Motor yang Dijuluki Bikers Syariah

Komunitas Mr Mo. (istimewa)
Komunitas Mr Mo. (istimewa)

MALANGVOICE – Malang dikenal sebagai kota yang banyak memiliki komunitas, salah satunya komunitas motor yang memiliki ciri khas tersendiri, termasuk Malang Raya Max Owner (Mr MO).

Berdiri sejak 2015, kini jumlah anggota Mr Mo sekitar 90 orang. Sesuai namanya, anggota pasti punya kendaraan jenis Yahama Max series, entah itu NMax atau XMax.

Diketuai Yuyud Erawanto, Mr Mo bisa dibilang berkembang menjadi komunitas yang disegani di Malang. Bukan karena tampang anggotanya yang sangar, tapi karena kesantunannya dan persaudaraan yang erat. Karena itu Mr Mo sangat mencari kualitas daripada kuantitas saat merekrut anggota baru.

“Masuknya itu ketat sekali. Calon anggota harus paling tidak ikut kopi darat (kopdar) sebanyak tiga kali. Tujuannya agar akrab sama anggota lain. Dengan begitu persaudaraan bisa terjalin antar anggota,” kata Yuyud kepada MVoice.

Selain itu, menunjukkan kesantunannya, komunitas yang setiap Jumat berkumpul di depan Gereja Ijen ini menerapkan tertib berlalu lintas. Yuyud menekankan pada setiap anggota agar tidak mencoreng nama Mr Mo dengan tindakan yang melanggar aturan. Termasuk menggunakan narkoba, mabuk-mabukan di jalan dan hal lain. Sampai-sampai, Mr Mo dijuluki komunitas syariah atas peraturan tersebut.

Hal itu juga tampak dari sepeda motor anggota Mr Mo yang lengkap dengan spion, kenalpot standar, ban besar serta tidak menggunakan sirine atau rotator.

“Ada yang juluki kami bikers syariah. Memang di sini begitu aturannya. Dilarang menyalahi hukum, saling menghormati dan terpenting tidak bicara politik di sini,” lanjut pria yang punya hobi motor sejak kecil.

Di beberapa kesempatan, Mr Mo menggalang dana untuk membantu masyarakat yang sedang kesusahan. Diingat Yuyud, terakhir memberikan sumbangan ke Pacitan berupa barang dan uang. “Selain itu kami rutin ke panti asuhan atau fakir miskin lain. Pasalnya kami bentuk divisi sosial untuk menggalang dana. Semua murni dari kami,” lanjutnya.

Selain itu, paling unik dari komunitas ini adalah saling mendukung untuk terjun ke dunia wirausaha. Banyak anggota Mr Mo yang menggrluti dunia usaha bahkan setelah masuk ke komunitas itu. Yuyud sendiri mengaku sampai berhenti dari tempatnya bekerja hanya untuk menjadi wirausahawan. Padahal, waktu itu, kata Yuyud, posisinya sangat mapan.

“Teman-teman banyak yang heran. Padahal kerja saya sudah enak. Untung keluarga saya support. Akhirnya sempat saya jualan nasi. Karena kalau di kerjaan nanti gak bisa touring dan lain-lain,” jelasnya sambil terkekeh-kekeh.

Namanya komunitas motor, rasanya kurang afdol ketika tidak melakukan touring. Sama dengan Mr Mo, setiap tahun selalu mengadakan touring. Yuyud mengaku sudah pernah ke Aceh, Sumbawa dan Kalimantan.

Terdekat, agenda touring dilakukan pada Juni 2018 ke Banda Aceh. “Dulu pertengahan 2016 ke Aceh, nanti lagi touring nasional ke sana lagi. Terus ada lagi ke Magelang dan Balikpapan,” sambungnya.

Salah satu anggota lain, Lukman Hakim, mengaku baru pertama kali senang mengikuti komunitas motor. Padahal ia 26 tahun tidak pernah menaiki sepeda motor.

“Awalnya pinjam temen. Sekali naik NMax kok enak, akhirnya saya beli sendiri terus gabung ke sini. Di sini ya saya cari seneng, gak mikir apa-apa. Karena rasa persaudaraan itu, kalau gak kopdar itu rasanya kangen,” tuturnya.

Opa, sapaan akrabnya berharap Mr Mo ke depan bisa terus berkembang dan touring hingga keliling Indonesia. “Tidak hanya touring. Tapi menyebarkan kebaikan dan pendidikan juga ke anak-anak. Karena saya punya sekolah dan kelas inspirasi,” tandasnya.(Der/Aka)

Bantu Cegah Penularan Covid-19, Surabaya Community Turun ke Jalan Bagikan Ratusan Masker

Pembagian bantuan Surabaya Community. (deny rahmawan)
Pembagian bantuan Surabaya Community. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Anggota Surabaya Community di Malang gelar bakti sosial pemberian masker dan takjil, Rabu (13/5). Bantuan ini dilaksanakan karena peduli pencegahan wabah Covid-19.

Bantuan ini diberikan spontan ke pengendara motor dan pejalan kaki di simpang empat Jalan LA Sucipto, Blimbing.

Koordinator acara, Eti Siti Rahma Radtra, mengatakan, bantuan ini sengaja dilakukan karena peduli dengan masyarakat yang masih kesulitan memiliki masker. Padahal masker sangat penting mencegah penularan Covid-19.

“Karena bertepatan dengan puasa jadi sekalian kami beri takjil juga,” katanya.

Eti menjelaskan ada total 340 takjil dan 760 masker yang dibagikan. Semua merupakan donasi dari Surabaya Community. “Kami juga donasikan 80 masker medis ke RS Saiful Anwar,” lanjutnya.

Salah satu anggota lain, Rivan Firmanzah, mengatakan, bantuan sosial ini diharap bisa bermanfaat dan akan terus digelar.

“Ya kami juga berharap masa-masa sulit ini bisa lekas berlalu,” imbuhnya.

Sekilas tentang Surabaya Community ini merupakan komunitas dari perantauan warga Surabaya atau minimal memiliki hubungan emosional dengan Kota Pahlawan. Di Malang sendiri sudah ada 28 orang yang baru bergabung.

Komunitas ini didirikan di Jakarta pada 10 November 2006. Musisi Tanah Air, Piyu Padi tercatat pernah menjadi Ketua Umum Surabaya Community.

Adapun visinya adalah menjalin persaudaraan, kepedulian, dan rasa kebersamaan antar warga masyarakat yang mempunyai ikatan emosional dengan Surabaya.(Der/Aka)

Halalbihalal, Momen Kebersamaan dan Kekompakan HDCI Malang

Halalbihalal HDCI Malang. (istimewa)

MALANGVOICE – Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Malang menggelar halalbihalal bersama seluruh anggota dan keluarga, Senin (25/6) malam.

Momen guyub dan rukun terlihat dari semua yang hadir di Taman Indie Resto, termasuk para pelindung dan pembina dari jajaran Kapolres dan Dandim se-Malang Raya.

Sebagai wadah pecinta motor gede, acara ini dikatakan Ketua Harian HDCI Malang, Pratikno Gautama, sebagai langkah untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan.

“Ini salah satu bentuk kebersamaaan kami, apalagi ini masih momen Idul Fitri di Bulan Syawal,” katanya.

Pratikno Gautama menambahkan, diharap dengan acara ini bisa menambah kekompakan sesama anggota.

“Kegiatan sosial bisa ditingkatkan daripada tahun lalu. Kami juga akan terus sosialisasikan bagaimana berkendara dengan santun di jalan, no complaint no accident,” harapnya. (Der/Ulm)

Sam Ambon: Warga Malang Raya Kurang Tertib Jalankan Protokol Kesehatan

Khoirul Anwar alias Sam Ambon, saat melakukan solo touring. (Istimewa)

MALANGVOICE – Di tengah-tengah Pandemi Covid-19, geliat ekonomi di Malang raya mulai membaik. Namun, kedisiplinan masyarakat untuk menjalankan protokol Kesehatan masih kurang.

Salah satu anggota komunitas motor JBI Kadit Itreng yang tergabung dalam Bold Malang, Khoirul Anwar mengatakan, untuk mengobati rasa kerinduannya, dirinya menyempatkan diri untuk melakukan solo touring berkeliling Malang Raya, dengan menyisir pusat kota, daerah pinggiran Malang dan berakhir di tempat wisata Bedengan.

“Sejak pandemi Covid-19 melanda Malang Raya dan usai diberlakukan PSBB. Untuk mengobati rasa kangen menikmati suasana jalanan, maka saya melakukan solo touring sekaligus juga untuk melihat seperti apa kehidupan di Malang sejak pandemi terjadi,” ungkap pria yang akrab disapa Sam Ambon.

Menurut Sam Ambon, dalam solo touring itu, dirinya mengambil rute mulai dari kawasan Jalan Kertanegara Karangploso, kemudian menyisir sejumlah rute di pusat kota seperti alun-alun, balai kota dan sempat mampir ke Kampung Warna-warni di Malang.

“Saat berkeliling, terlihat aktivitas masyarakat sudah mulai ramai. Geliat ekonomi juga sudah terlihat. Jalan-jalan kembali macet, mulai ramai lagi,” ujarnya.

Akan tetapi, lanjut Sam Ambon, dengan mulai normal kembali aktivitas masyarakat, dirinya merasa nyaman ikut senang, namun juga merasa prihatin lantaran masih adanya warga yang tidak disiplin dan tertib dalam menjalankan protokol kesehatan Covid-19, seperti menggunakan masker, serta menjaga jarak.

“Saya sendiri juga membekali diri dengan masker, handsanitizer, vitamin, dan menjaga fisik sebelum berangkat. Ini adalah bagian dari adaptasi untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari paparan Covid-19,” tandasnya.

Sementara itu, Koordinator Bold Riders Malang Wilson Sanada mengapresiasi solo touring bikers dari JBI Kadit Itreng yang sudah lama tidak mengaspal setelah pandemi selama hampir empat bulan terakhir ini.

“Touring adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari seorang riders, khususnya Bold Riders. Yang terpenting selama berkendara tetap menjalankan protokol kesehatan, menjaga keselamatan dalam berkendara serta saling memberikan support antar teman riders ketika berada di jalan,” pungkasnya.(der)

Ketika Penyandang Disabilitas Semangat Mandiri Berkarya

Anika Dyah Erviani, Komunitas Shining Tuli Kota Batu (STB).
Anika Dyah Erviani, Komunitas Shining Tuli Kota Batu (STB).

MALANGVOICE – Penyandang disabilitas memang memiliki keterbatasan dalam hal fisik dan mental. Tapi semangat untuk mengarungi kehidupan bisa tidak terbatas.

Pemberdayaan bagi penyandang disabilitas pun banyak dilakukan agar mereka bisa mandiri di tengah keterbatasannya.

Anika Dyah Erviani (26) melalui Komunitas Shining Tuli Kota Batu (STB) berupaya agar belasan anggotanya punya keterampilan yang bisa menghasilkan.

Sejak lahir, gadis yang memiliki hobi membaca ini sudah tak bisa mendengar alias tuli. Oleh teman-teman sesama penyandang disabilitas tunarungu, Anika didapuk menjadi Ketua Shining Tuli Kota Batu (STB) sejak tahun 2017.

Selain tak bisa mendengar, dia juga tak bisa bicara. Oleh karena itu, bahasa isyarat merupakan sarana komunikasi utamanya. Sarana lain, ia berkomunikasi lewat tulisan.

Dia lantas bercerita tentang komunitas STB dengan bahasa isyarat dan diperkuat dengan tulisan di kertas.

”Saya bergabung dengan komunitas ini setelah diajak diskusi oleh Edi (ketua komunitas Shining Tuli Kota Batu periode 2015–2017) tentang program pengembangan komunitasnya tahun 2015,” tulisnya saat ditemui MVoice di Dau Residence, Desa Sumbersekar, Kabupaten Malang.

Ia belajar banyak hal bersama anggota lain. Dia juga sering mengajak teman-teman sesama penyandang tunarungu belajar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di setiap kegiatan yang diadakan komunitasnya. Mereka saling menyemati satu sama lain untuk tetap percaya diri dan tidak minder.

Ia menambahkan, dalam komunitas itu tidak belajar bahasa isyarat semata. Mereka juga melakukan berbagai kegiatan positif lainnya. Mulai diskusi disabilitas, latihan menari, dan beragam keterampilan lainnya. Salah satunya adalah membuat batik.

”Sebagian kreasi batik teman-teman sudah dibeli oleh Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko,” tambah Alumnus IKIP PGRI Jember itu.

Tak hanya itu, kain batik anggota komunitas juga diapresiasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra mantan Presiden ke 4 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

”Bukan hanya untuk Bapak Agus saja (batiknya), tapi malah juga Bapak SBY sendiri,” tulisnya dalam secarik kertas sambil menunjukkan foto ketika Agus Hadi Yudhoyono berkunjung ke Kota Batu.

Menurut dia, keterampilan teman-temannya membantik dilatih salah seorang anggota komunitas yang kebetulan sudah piawai dalam hal membuat. Sehingga, mereka mampu belajar dari sesama penyandang tunarungu.

”Teman-teman jadi tambah semangat belajar. Karena karyanya diapresiasi para tokoh,” tambahnya.

Dengan bahasa isyarat, dia juga mengungkapkan rasa senangnya karena Dewanti Rumpoko juga punya kepedulian lebih ke penyandang disabilitas.

Kemudian ia memperlihatkan video Dewanti di Instagram yang sedang memakai bahasa isyarat di telepon genggamnya.

Diketahui, kumunitas ini juga sering diundang dalam acara yang diadakan Pemkot Batu. Mereka juga sempat dipertemukan dengan Miss Deaf Word 2011 pada November 2017 lalu.(Hmz/Aka)

Komunitas Ini Lebih Suka Kalau Sepedanya Karatan

Komunitas Sepeda Onthel. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Jumlah penggemar sepeda onthel terus membengkak. Di Malang, penggemar sepeda onthel atau lebih dikenal sepeda kebo ini tergabung dalam Komunitas Onthel Lawas Independent (OLI) Malang.

Komunitas OLI sudah berdiri selama 3 generasi atau kurang lebih 30 tahun. Setidaknya ada 30 anggota yang aktif di komunitas. Mereka memiliki kesamaan, seperti hobi, cinta, solidaritas, kebersamaan, kepedulian, dan keinginan dalam melestarikan budaya bersepeda.

“Komunitas juga tidak memandang klasifikasi, strata, atau status sosial, termasuk latar pendidikan dan pekerjaan,” kata salah seorang anggota, Sugiandi kepada MVoice, Minggu (27/6)

Dia mengatakan onthel yang punya nama lain seperti sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal, adalah sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi. Ukurannya sama seperti roda becak. Nama onthel sendiri konon berarti kayuh atau gowes.

Soal perawatan sepeda, Sugiandi mengaku perawatan onthel tidak murah. Onderdil sepeda terkadang sulit dicari dan harus beli dari luar negeri.

“Wah ini merawatnya susah,” kata dia.

Menurut Sugiandi, meski sepeda onthel terbuat dari besi dan selalu karatan, justru seharusnya tidak dicat. Karena karat itulah yang menjadi kesan ‘lawas’ atau jadul sepeda onthel.

OLI selalu aktif berpartisipasi dalam kegiatan karnaval di Kota Malang. Tiap minggu, OLI juga selalu bersepeda di Car Free Day Malang. Diskusi-diskusi soal sepeda lawas juga selalu digelar untuk berbagai info soal perawatan sepeda yang dulunya diproduksi di Belanda ini.(Der/Yei)

Komunitas Pecinta Mobil Hyundai Jatim Gelar Kopdar di Kebun Teh Lawang

Ketua TFC Pusat Yudha Yoghaswara (pegang mic), sedang memberikan sambutan pada acara kopdar Akbar 2020 TFC Jatim di Agro Wisata Kebun Teh Wonosari Lawang Malang, Minggu (12/1). (Istimewa)
Ketua TFC Pusat Yudha Yoghaswara (pegang mic), sedang memberikan sambutan pada acara kopdar Akbar 2020 TFC Jatim di Agro Wisata Kebun Teh Wonosari Lawang Malang, Minggu (12/1). (Istimewa)

MALANGVOICE – Komunitas Penggemar Mobil pabrikan Korea Selatan, Hyundai Trajet yang tergabung dalam Trajet Family Club Jawa Timur gelar Kopdar Akbar 2020 di Agro Wisata Kebun Teh Wonosari Lawang Kabupaten Malang, Minggu (12/1).

Sebanyak 66 unit mobil Hyundai memadati area parkiran di sebuah tanah lapang dengan membentuk formasi TFC. Para peserta termasuk keluarga yang ikut kopdar nampak gembira dan senang.

“Panitia dari Chapter Mataringga telah mendesain formasi parkiran membentuk TFC, anggota bersama keluarganya juga baris membentuk tulisan Jatim yang berada di sebelah barat lapangan, sehingga jika di lihat dari drone nampak formasi yang sangat bagus sesuai harapan bersama,” Kata Ruwiyanto, Anggota TFC 1307 dari Chapter Mataringga.

“Panitia juga menyiapkan puluhan hadiah door prize menarik yang berasal dari sponsor pendukung acara, diantaranya dari Hyundai Perwakilan Surabaya, PT Mandom Indonesia Tbk, Keriyes Camilan keluarga Sehat,” Imbuhnya.

Sementara itu Ketua Pusat TFC Yudha Yoghaswara mengapresiasi kopdar Akbar TFC Jatim yang berlangsung cukup semarak. Pria berkacamata itu juga berharap mubes akhir tahun ini bisa di selenggarakan di wilayah Jawa Timur.

“Kami mengapresiasi kopdar Akbar TFC Jatim yang berlangsung sangat kompak dan semarak, pokoknya Jawa timur mbois dan sangat luar biasa,” Kata Yudha dalam sambutannya.

Kopdar Akbar TFC Jatim juga di hadiri beberapa chapter dari daerah lain, diantaranya dari Jawa Tengah dan Yogyakarta, bahkan ada juga chapter yang berasal dari Banten.

Rangkaian acara berlangsung sangat apik, para peserta kopdar sebelum masuk seremonial di Panggung utama, diarahkan untuk keliling kebun teh sambil swafoto dengan background nuansa alam kebun teh dengan udaranya yang segar dan sejuk.

Setelah keliling dari area kebun teh, panitia mengarahkan jalan menuju tanah lapangan untuk parkir kendaraannya sesuai formasi garis yang di buat oleh panitia, kemudian diambil gambarnya melalui drone. (Der/ulm)

#PahlawanDigital​ ​Bantu UKM Malang Kenal Dunia Digital

Peserta #PahlawanDigital berfoto bersama. (Istimewa)
Peserta #PahlawanDigital berfoto bersama. (Istimewa)

MALANGVOICE – Sedikitnya 50 peserta yang berhasil terjaring dalam #PahlawanDigital akan bertugas membantu usaha kecil dan menengah (UKM). Semua peserta ini dikelompokkan menjadi buzzer, yang akan membantu pelaku UKM sebagai digital marketer; dan crafter, yang akan melakukan proses rebranding dan pengemasan.

Sebelum nantinya mereka melaksanakan tugasnya, #PahlawanDigital terlebih dahulu mengenalkan para peserta dengan para UKM di kota Malang untuk belajar banyak menjadi penguasaha dalam kegiatan bertajuk Wisata UKM. Dalam kegiatan ini, #PahlawanDigital
menggandeng Amazing Malang Raya (AMR) yang dikenal sebagai paguyuban terbesar di Kota Malang. AMR merekomendasikan beberapa UKM-nya untuk dikunjungi oleh peserta #PahlawanDigital, Minggu (15/10).

UKM yang dikunjungi seperti Omah Daster Bordir Khas Malang dan Nanda Collection. Omah Daster Bordir Khas Malang merupakan UKM yang fokus memproduksi aneka daster dengan sentuhan bordir. Tak main-main, pelanggan daster bordir Eva adalah kalangan pejabat Republik Indonesia (RI). Sedangkan Nanda Collection merupakan UKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan dengan bahan dasar kain. Nanda Collection tercatat telah mengikuti berbagai ajang pameran bertaraf nasional dan internasional.

Berbincang soal kendala yang dihadapi pelaku UKM. (Istimewa)
Berbincang soal kendala yang dihadapi pelaku UKM. (Istimewa)

“Wisata UKM ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat berwirausaha anak muda agar setelah lulus kuliah mereka dapat menjadi wirausaha dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan empati anak muda
terhadap pelaku UKM. Ternyata untuk terjun ke dunia UKM itu diperlukan mental, konsistensi dan persintensi yang kuat,” papar Kepala Hubungan Masyarat PT Beon
Intermedia dan #PahlawanDigital, Rizky Kurniawan Suhyar.

Selain itu, Ketua paguyuban AMR, Nanang Sugeng sangat mengapresiasi kegiatan yang baru dilaksanakan sekali oleh #PahlawanDigital ini.

“Kami sangat senang jika banyak anak muda yang tertarik belajar berwirausaha. Kami di sini memfasilitasi para peserta #PahlawanDigital agar mereka tahu semakin banyak tentang seluk beluk UKM,” tukasnya.

Salah seorang peserta, Septhian Cahya Nugraha, mengaku senang karena mendapat kesenpatan berinteraksi dengan banyak pelaku UKM. Menurutnya UKM di Malang punya potensi yang luar biasa. Akan lebih luar biasa jika pelaku UKM diakrabkan dengan dunia digital.(Der/Ak)

Semakin Dekat dengan Masyarakat, HDCI Malang Bagi 700 Takjil dan Paket Sembako

HDCI Malang gelar baksos di bulan Ramadan sekaligus peringati HUT ke-59. (istimewa)

MALANGVOICE – Bulan Ramadan kali ini dimanfaatkan Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Malang untuk berbagi kebahagiaan, Sabtu (25/5).

Acara ini diawali dengan memberikan takjil di depan Masjid Jami Kepanjen. Ada total 500 bungkus takjil yang dibagikan kepada pengguna jalan yang melintas.

Ketua HDCI Malang, Eddy Wahyono, mengatakan, acara ini dibarengkan dengan memperingati HUT ke-59 HDCI.

“Selanjutnya kami pindah ke Gondanglegi untuk memberikan 150 paket sembako ke panti jompo dan panti asuhan,” ujarnya.

Ditambahkan Sekretaris HDCI Malang, Yoga Adhinata, selain berbagai berkah dan kebahagiaan di bulan Ramadan, HDCI ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Sekaligus menegaskan bahwa klub motor gede ini tidak eksklusif, melainkan inklusif.

Buktinya, kegiatan serupa terus dilakukan tak hanya di bulan Ramadan saja, melainkan di banyak kesempatan setiap tahunnya.

“Bakti sosial ini murni dari anggota untuk masyarakat. Tahun ini berasa spesial karena bulan Ramadan dan bertepatan dengan HUT HDCI,” jelasnya. (Der/Ulm)

12 Komunitas Ramaikan Kopi Darat di Together Forever

Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)
Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)

MALANGVOICE – Total 12 komunitas dari Kota Malang berkumpul dalam kegiatan Together Forever di The 1O1 Hotel Malang OJ, Rabu (25/4). Berbagai kegiatan dari komunitas seperti talkshow, demo pembuatan kopi, games, dan live music.

Ke-12 komunitas ini merupakan komunitas terpilih dari program prime time Kosmonita Malang, Coffee Morning. Coffee Morning juga merupakan program kerja sama antara Kosmonita Malang dan The 1O1 Hotel Malang OJ. 12 Komunitas ini meliputi Lukis Bareng Malang, Hijab Moms Community, Freeletics, Malang Jazz Community, Asosiasi Ibu Menyusui, Malang Foodies, Komunitas Pecinta Kopi, Pajero Club dan sebagainya.

Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)
Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)

“Dengan berkumpulnya komunitas ini diharapkan menjadi wadah untuk mereka berkolaborasi memajukan Malang. Diambil manfaatnya, silahlan berkenalan satu sama lain,” tutur General Manager The 1O1 Hotel Malang OJ, Anjar Maulana, saat ditemui MVoice, Selasa (25/4).

Anjar berharap, acara seperti ini bisa diadakan lagi tahun depan. Menurutnya, iklim komunitas di Kota Malang sudah sangat baik, sehingga perlu diperbanyak acara kolaborasi yang positif.(Der/Ak)