31 January 2023
31 January 2023
22.9 C
Malang
ad space

Mendag Kaget Harga Ayam dan Cabai di Malang Murah

Menteri Perdagangan RI, Zulkifli Hasan saat memantau harga sembako di Pasar Besar Malang. (istimewa)

MALANGVOICE – Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Zulkifli Hasan berkunjung ke Pasar Besar Kota Malang pada Jumat (28/10). Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini memantau harga kebutuhan pokok di sana.

Setelah mengecek harga kebutuhan pokok di beberapa pedagang, Zulkifli mengaku kaget dengan murahnya harga di Malang.

“Di sini harga ayam Rp32 ribu. Menurut saya kemurahan, kenapa kok kemurahan karena kalau Rp32 ribu, itu peternak ayam bisa bangkrut,” kata Zulhas, sapaan akrabnya.

Baca Juga: Mensos Lengkapi Bantuan Presiden Jokowi ke Korban Tragedi Kanjuruhan

Zulhas menilai harga wajar daging ayam berkisar Rp35 ribu. Hal itu dikarenakan modal awal bisa mencapai Rp24 ribu belum ditambah ongkos dan keuntungan pedagang.

“Jadi harga yang wajar adalah Rp35 ribu. Kalau Rp32 ribu mesti pedagang peternak ayamnya itu rugi. Termurah harganya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Zulhas juga mengomentari harga jual cabai rawit dan cabai merah yang murah di Pasar Besar Kota Malang.

“Cabai sangat murah sekali ini masak cabe Rp35 ribu per kg cabe rawit, lho. Kalau cabai merah Rp30 ribu di sini jadi murah. Kalau beras yang premium bervariasi tetapi beras yang medium Bulog Rp9 ribu, gak bisa naik gak bisa turun tetap dimana-mana,” lanjutnya.

Selebihnya Mendag mengapresiasi Pemerintah Kota Malang yang sudah berupaya menstabilkan harga bahan pokok. Seperti telur Rp26 ribu per kilo, dan bawang merah Rp30 ribu per kilo.

“Jadi saya senang Pak Wali Kota Malang bisa memaintain sembako di sini harganya stabil karena ini keperluan masyarakat banyak dan memang harga harus kita kontrol agar tidak naik,” katanya juga didampingi Wali Kota Malang, Sutiaji.(der)

Mensos Lengkapi Bantuan Presiden Jokowi ke Korban Tragedi Kanjuruhan

Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini memberikan bantuan ke keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Menteri Sosial (Mensos) RI, Tri Rismaharini melengkapi bantuan Presiden Joko Widodo kepada korban Tragedi Kanjuruhan. Bantuan ini diserahkan di Kantor Kecamatan Lowokwaru, Jumat (28/10).

Mensos Risma didampingi Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko dan beberapa pejabat Pemkot Malang.

Bantuan dari Presiden Joko Widodo diserahkan langsung kepada para ahli waris korban sejumlah enam orang.

Mensos RI, Tri Rismaharini bersama Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko. (Deny/MVoice)

Baca Juga: Kota Batu Pertahankan Lahan Sawah Seluas 643 Hektare

“Kalau dari Kemensos nambah satu, presiden ada 6. Kemarin ditindaklanjuti presiden dan sudah ngaturkan seluruhnya. Jadi hingga hari ini tuntas seluruhnya,” kata Risma dengan meyakinkan bantuan untuk 135 korban sudah tersalurkan semua.

Mantan Wali Kota Surabaya ini menambahkan, bantuan yang diberikan tentu tidak bisa mengembalikan nyawa para korban, namun merupakan bentuk tanggung jawab dari pemerintah untuk meringankan beban keluarga korban.

Selain itu, Risma mengatakan, pemerintah akan terus memperhatikan kondisi keluarga korban, termasuk anak-anak yatim dan piatu yang ditinggal orang tuanya dalam peristiwa itu.

“Selain santunan ini kami akan tindaklanjuti dan perdalam kebutuhan untuk bantu ringankan keluarga korban,” imbuh Risma.

Kepada keluaga korban yang alami luka-luka dan masih menjalani penyembuhan, Risma sudah berkoordinasi dengan kepala daerah di Malang untuk mengurus segala keperluan korban, temasuk mengganti biaya berobat.

“Kalau warga Kota Malang, Pak wakil wali kota sudah sampaikan akan diganti. Tapu kalau Kabupaten Malang, bupati juga sudah janji mengatasi. Soal rumah sakit itu kan provinsi, nanti juga akan saya sampaikan. Intinya (biaya) korban luka diganti,” tandasnya.(der)

Kapolda Jatim Pastikan Proses Hukum Tragedi Kanjuruhan Terus Berlanjut

Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto, memastikan proses hukum para tersangka Tragedi Kanjuruhan terus berlanjut meski sudah dilakukan penahanan tersangka.

“Proses ini masih bergulir ya seperti yang diketahui sejak dua hari lalu untuk kita sudah melakukan penahan kepada mereka yang sudah diduga sebagai trsangka,” kata Toni di Malang, Rabu (26/10).

Soal kemungkinan adanya tersangka baru, Kapolda Jatim masih belum bisa menjelaskan lebih lanjut. “Kita masih proses mendalami lagi begitu ya karena ini masih berjalan,” singkatnya.

Baca Juga: Ketua KONI Kota Malang Minta Cabor Segera Gelar Muskot

Terkait rencana autopsi jenazah korban, Toni mengaku tetap akan mengakomodir semua permintaan keluarga korban. Dikatakannya, autopsi justru mempermudah penyelidikan penyebab kematian korban.

“Kalau memang ada kesediaan artinya ini akan memperjelas kan kembali ya. Artinya autopsi ini untuk memperjelas sebab kematian tentunya,” imbuhnya.

“Ya kami bersedia mengakomodir itu. Kan sudah terjawab minggu lalu kita lakukan rekonstruksi,” Toni menandaskan.(der)

Lewati Masa Kritis dan Sukses Jalani Operasi, Korban Tragedi Kanjuruhan Pulang dari RS Saiful Anwar

Afrizal diperbolehkan pulang dari RS Saiful Anwar. (istimewa)

MALANGVOICE – Muhammad Afrizal (11), salah satu korban Tragedi Kanjuruhan diperbolehkan pulang dari RS Saiful Anwar pada Rabu (26/10). Ia sudah menjalani perawatan dan melewati masa kritis sejak peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober lalu.

Bersama keluarganya, Afrizal menggunakan kursi roda mulai meninggalkan RS Saiful Anwar. Meski masih belum bisa berjalan, namun dikatakan Dokter Spesialis Bedah Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), dr Yudi Siswanto.,Sp.B.P.R.E kondisinya kini sudah sangat baik.

“Sekarang sudah membaik, diperbolehkan pulang, kedepan tinggal kontrol di klinik,” kata Saiful.

Saat pertama kali masuk rumah sakit, Saiful menjelaskan, Afrizal mengalami penurunan kesadaran sehingga kembali dimasukkan ke ruang Intensive Care Unit (ICU) selama 7 hari. Setelah mendapat perawatan intensif korban membaik sampai sekarang.

Baca Juga: Kapolda Jatim Bantu Fasilitasi Kebutuhan Keluarga Korban ke-135 Tragedi Kanjuruhan

Sebelum diperbolehkan pulang, bocah asal Bululawang ini menjalani operasi selama lima kali. Terakhir, ia menjalani operasi penanaman kulit paha karena alami memar cukup parah.

“Terakhir operasi penanaman kulit, sehingga bekas lukanya sudah tidak terlihat dan sudah sembuh 100 persen,” lanjutnya.

Meski masih menggunakan kursi roda, nantinya Afrizal akan menjalani rawat jalan dan terapi di rumah. “Untuk terapi jalannya bisa dilakukan bertahap dan tidak ada kendala terkait itu,” sambungnya.

Ibunda Bersyukur Anaknya Selamat dari Peristiwa Tragedi Kanjuruhan

Sementara itu ibu Afrizal, Aminayu (44) mengaku sangat bersyukur anaknya bisa pulih dan lolos dari maut dalam Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang.

“Yang penting anak saya sembuh, alhamdulilah selamat,” ujarnya.

Afrizal menonton pertandingan di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober lalu itu bersama sang ayah. Kondisi ayahnya tidak separah Afrizal meski ada luka di mata dan kaki.

“Nonton sama ayahnya di gate 8. Tapi bapak tidak mau dirawat di rumah sakit jadi di rumah. Tinggal mata sama kaki agak pincang,” ulasnya.

Aminayu sendiri sempat kesulitan mencari putranya ketika kericuhan meletus usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya itu. Semalaman ia mencari Afrizal ke rumah sakit di sekitar Kanjuruhan namun tidak ada hasil.

“Saya cari seluruh rumah sakit di Kanjuruhan sampai Gondanglegi saya cari sampai tiga kali, tidak ketemu akhirnya balik ke Kanjuruhan tanya petugas katanya ada yang bawa dia ke rumah sakit ada yang gendong nangis nyari mamanya,” ungkap Aminayu.

Pada waktu subuh 2 Oktober Aminayu datang ke RS Saiful Anwar dan barulah ia menemukan Afrizal sedang dirawat. Ia mengingat saat itu paha anaknya ada luka di paha.

“Saya tidak tahu keinjak atau bagaimana, paha dia menghitam sehingga harus dilakukan pembuangan agar tidak sampai infeksi,” sambungnya.

Saat ini keluarga masih akan tetap fokus pemulihan kondisi Afrizal sampai benar-benar pulih dan bisa berjalan. Diketahui ia sama sekali tidak berjalan selama 24 hari karena harus berbaring di rumah sakit.

“Ya semoga cepat pulih dan berjalan lagi, soalnya belum pernah belajar berjalan semenjak di sini,” tandasnya.(der)

Kapolda Jatim Bantu Fasilitasi Kebutuhan Keluarga Korban ke-135 Tragedi Kanjuruhan

Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto, mengunjungi korban ke-135 Tragedi Kanjuruhan, Farzah Dwi Kurniawan (20) di kediamannya Jalan Sudimoro Utara, Rabu (26/10).

Toni datang bersama Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Dirmanto dan Dirkrimsus Polda Jatim Kombespol Totok Suharyanto.

Kapolda Jatim menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Farzah kepada orang tua dan kakak almarhum.

Baca Juga: Ketua KONI Kota Malang Minta Cabor Segera Gelar Muskot

“Ini juga menjadi satu langkah kami untuk lebih menegaskan bahwa kita juga sebagai manusia biasa menyampaikan permohonan maaf kami kepada keluarga almarhum atas peristiwa yang terjadi,” kata Toni.

Dalam kunjungannya ke rumah korban, Toni mengaku siap mengakomodir apapun kebutuhan korban, termasuk membantu fasilitasi kakak Farzah dalam pekerjaan untuk membantu keluarga.

“Kebetulan kakak almarhum kita akan coba memfasilitasi bisa bekerja di suatu tempat untuk membantu meringankan hidup keluarganya. Kebetulan kakak almarhum ini kan profesinya seperti bidan jadi dengan kemampuannya sendiri tadi diskusi,” tandasnya.

Farzah meninggal dunia pada Ahad (23/10) setelah menjalani perawatan intensif di RS Saiful Anwar Pasca-tragedi Kanjuruhan 1 Oktober lalu.

Ia juga dinyatakan positif Covid-19 dari hasil swab terakhir 15 Oktober. Jenazah mahasiswa UMM ini kemudian dimakamkan di TPU Sudimoro pada Senin (24/10) pagi.(der)

Tersangka Tragedi Kanjuruhan Ditahan, Kuasa Hukum Abdul Haris Bikin Surat Permohonan ke Penyidik

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo. (istimewa)

MALANGVOICE – Tersangka kasus Tragedi Kanjuruhan mulai ditahan hari ini, Senin (24/10). Keenam tersangka ini sebelumnya menjalani pemeriksaan di Mapolda Jatim.

“Selesai nanti pemeriksaan tambahan ke-enam tersangka tersebut oleh penyidik langsung dilakukan penahanan,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo, Jakarta.

Adapun ke-enam tersangka yang dilakukan penahanan yakni, Direktur Utama LIB AHL, Ketua Panitia Pelaksana Arema Malang AH, Security Officer SS. 

Baca Juga: UMM Turut Berduka, Farzah Dikenal Sebagai Mahasiswa Gigih dan Sopan

Kemudian, Kabag Ops Polres Malang Kompol WSP, Kasat Samapta Polres Malang AKP BSA dan Komandan Kompi Brimob Polda Jatim AKP H.

Menurut Dedi, pihak tim investigasi Polri, sedang mempercepat proses pemberkasan agar dapat segera dilimpahkan ke pihak Kejaksaan.

“Semuanya masih berproses tim masih bekerja, Insya Allah dalam waktu dekat juga berkas perkara akan dilimpahkan ke JPU. Nanti akan diteliti oleh jaksa penuntut umum dari Kejati Jawa Timur,” ujar Dedi.

Sementara itu kuasa hukum tersangka Ketua Panitia Pelaksana Arema Malang Abdul Haris, Sumardhan SH, membenarkan penahanan kliennya.

“Benar Pak Haris ditahan tadi pukul 19.00,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga sudah membuat surat permohonan untuk tidak dilakukan penahanan ke tim penyidik, namun belum ada tanggapan.

Meski demikian, Sumardhan belum bisa menjelaskan lebih lanjut sebab permohonan untuk tidak ditahan itu.

“Tadi sudah buat suratnya,” singkatnya.

Adapun para tersangka ini dijerat Pasal 359 dan atau Pasal 360 KUHP dan atau Pasal 103 ayat (1) jo Pasal 52 Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.(der)

Pihak RSSA Bantah Covid Penyebab Meninggalnya Farzah: Disebabkan Multiple Trauma

Wakil Direktur Bagian Pelayanan Medik dan Perawatan, dr Syaifullah Asmiragani dan dr M Akbar Sidiq. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Meninggalnya Farzah Dwi Kurniawan dalam Tragedi Kanjuruhan dengan kondisi positif Covid-19 dikonfirmasi pihak RS Saiful Anwar.

Farzah meninggal dunia pada Ahad (23/10) pukul 22.40 WIB setelah menjalani perawatan intensif selama 23 hari.

Wakil Direktur Bagian Pelayanan Medik dan Perawatan, dr Syaifullah Asmiragani, membenarkan almarhum positif Covid-19. Hal itu berdasar swab terakhir yang dilakukan pada 15 Oktober lalu.

Baca Juga: Korban Terakhir Tragedi Kanjuruhan Berstatus Positif Covid-19

“Memang Farzah saat awal masuk salah satu prosedur melakukan swab sebelum intubasi, ia mengalami hipoksia, dan hasilnya positive Covid-19,” kata Syaifullah, Senin (24/10).

Meskipun dalam kondisi positif Covid-19, namun penyebab kematian Farzah bukanlah karena Covid-19, melainkan multiple trauma yang didapat pasca-tragedi Kanjuruhan 1 Oktober.

Syaifullah menjelaskan, saat masuk ke RS Saiful Anwar, kondisi korban sudah kritis.

“Meninggal bukan karena covid, tapi karena pasca trauma sampai hilang kesadaran,” jelasnya.

Ditambahkan dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr M Akbar Sidiq Sp An, luka yang dialami Farzah ada di beberapa titik sehingga mengalami kritis.

“Luka cedera di kepala, dada, paru-paru, perut juga ada. Ada juga kekurangan oksigen atau hipoksia. Tapi yang memberatkan ada di kepala dan paru,” imbuhnya.

Kondisi Farzah dikatakan Sidiq sempat mengalami perbaikan setelah dua minggu pemasangan ventilator. Namun setelah dicoba lepas intubasi, kondisinya menurun dan tidak bisa bertahan sampai dinyatakan meninggal dunia.

“Jadi kondisi naik turun, kemarin ada perburukan sampai meninggal. Intinya kondisi multiple trauma yang memberatkan kondisi pasien,” tegasnya.(der)

Korban Terakhir Tragedi Kanjuruhan Berstatus Positif Covid-19

Proses pemakaman Farzah Dwi Kurniawan. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Meninggalnya Farzah Dwi Kurniawan (20) menambah panjang daftar korban Tragedi Kanjuruhan.

Mahasiswa UMM ini meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama 23 hari di RS Saiful Anwar. Almarhum menghembuskan napas terakhirnya pada Ahad (23/10) pukul 22.40 WIB.

Jenazah korban langsung dimakamkan keluarga di TPU Sudimoro pada Senin (24/10) pagi tadi. Ratusan kerabat, keluarga, dan Aremania mengiringi proses pemakaman.

Baca Juga: Korban Kanjuruhan Masih Bertambah, Kini Jadi 135 Nyawa Melayang

Salah satu teman dekat almarhum, Amanda Febriani Putri (20), mengatakan, korban terpisah dari rombongan yang ikut melihat pertandingan di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober lalu. Korban bersama 9 orang teman satu kampung duduk di tribun selatan.

“Liat sama anak kampung, saya tidak ikut di ekonomi karena saya lihat di VIP. Waktu kejadian itu Farzah digotong badannya biru semua sampai RS Saiful Anwar dinyatakan kritis,” kata dia.

Selama 23 hari menjalani perawatan, Farzah dilaporkan tim medis positif Covid-19. Sehingga tidak bisa dijenguk kerabat dan hanya bisa dijaga kakaknya saja.

Dari hasil itu, Amanda malah mempertanyakan kenapa bisa Farzah terkena Covid-19.

“Padahal asli dari Kanjuruhan tapi kok dicovidkan,” timpalnya.

Sementara itu Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medik dan Perawatan RS Saiful Anwar, dr Syaifullah Asmiragani, membenarkan almarhum meninggal dunia dengan status positif Covid-19.

“Memang Farzah saat awal masuk salah satu prosedur melakukan swab sebelum intubasi dan hasilnya positive Covid-19,” singkatnya.

Saat ini jumlah korban Tragedi Kanjuruhan berjumlah 135 orang. Sedangkan ratusan lainnya mengalami luka-luka.(der)

Korban Kanjuruhan Masih Bertambah, Kini Jadi 135 Nyawa Melayang

Jenazah Farzah dibawa ke tempat pemakaman. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Farzah Dwi Kurniawan (20) menjadi korban ke 135 Tragedi Kanjuruhan. Ia meninggal dunia pada Ahad (23/10) pukul 23.00 WIB di RS Saiful Anwar.

Farzah dirawat selama 23 hari setelah peristiwa kelam pada 1 Oktober lalu. Jenazah Farzah langsung dibawa ke rumah duka di Jalan Sudimoro Utara pada Senin (24/10) dini hari.

Jenazah mahasiswa Teknik Sipil UMM ini baru dimakamkan pagi tadi sekitar pukul 9.15 WIB di TPU Sudimoro.

Baca Juga: Javier Roca Sebut Pemain Arema FC Masih Banyak Trauma, Butuh Psikolog Dua Minggu

Paman almarhum, Arifin Candra, mengatakan, kondisi Farzah sempat dinyatakan membaik dan pindah ke ruang biasa di RS Saiful Anwar. Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama dan harus dipindah lagi ke ICU.

“Sempat tiga hari membaik terus keluar dari ICU, tapi beberapa hari mengalami penurunan sampai kemarin,” katanya saat ditemui usai pemakaman.

Arifin mengaku Farzah baru pertama kali melihat Arema bertanding di stadion. Akan tetapi, laga itu sekaligus yang terakhir bagi dia.

“Dia berangkat sama sekitar 9 orang teman sebayanya di kampung sini. Dia juga baru kali ini diajak nonton Arema,” lanjutnya.

Saat ini keluarganya hanya bisa pasrah dan menyerahkan proses selanjutnya kepada tim Arema FC.(der)

Ini Alasan Keluarga Batalkan Autopsi Jenazah Korban Tragedi Kanjuruhan

Devi Athok. (istimewa)

MALANGVOICE – Rencana autopsi korban Tragedi Kanjuruhan dibatalkan. Kapolda Jatim Irjen Toni Harmanto mengumkan pembatalan karena tidak ada persetujuan keluarga korban.

Salah satu keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, Devi Athok membenarkan membatalkan proses persetujuan autopsi ke anggota Polda Jatim.

Ia beralasan pembatalan rencana autopsi karena kesal berjuang sendiri tidak ada yang mendampingi.

“Kenapa pihak keluarga dari korban meninggal Tragedi Kanjuruhan yang lainnya enggak ikut mengajukan autopsi. Kalau usut tuntas, ya harus berkorban dan jangan hanya bicara. Yang saya sesalkan sampai sekarang ini, kok cuma saya yang bikin pengajuan autopsi, yang lainnya kemana kok tidak ikut bikin pengajuan autopsi,” keluhnya.

Diketahui Devi kehilangan kedua putrinya saat Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, yakni Naila D Angraini (14) dan Natasya D Ramadani (16). Keduanya meninggal dunia saat berada di tribun selatan Stadion Kanjuruhan.

Athok awalnya sangat semangat mengajukan proses autopsi kedua anaknya karena ingin tahu pasti apa penyebab buah hatinya meninggal dunia.

Keinginan proses autopsi ini disampaikan ke Ketua Tim Advokasi Tragedi Kanjuruhan (TATAK) Peradi Kabupaten Malang, Imam Hidayat pada Senin, (10/10/2022) lalu.

“Saya ingin mengetahui secara pasti kematian anak saya. Karena kondisi jenazah kedua anak saya itu membiru dan menghitam, tidak ada sama sekali luka di badan, dan untuk kondisi Naila keluar busa dari hidungnya. Selain itu, dari kedua baju anak saya itu berbau menyengat seperti bau gas,” lanjut Athok.

Setelah proses pengajuan itu, ia kemudian kerap didatangi banyak anggota polisi. Mulai dari Polres Malang, Polda Jatim, hingga yang mengaku dari Mabes Polri.

Pada saat itu, ia merasa tidak ada yang mendampingi. Bahkan tim LPSK juga tidak menemuinya.

“Di sana saya menghadapi sendirian. Yang datang tak hanya satu, dua, tapi berombongan sampai berjejer di depan rumah,” lanjut pria 43 tahun.

Akhirnya pada 17 Oktober lalu, ia menandatangani surat pembatalan rencana autopsi di depan anggota Polda Jatim.(der)