Pola Makan Salah Rentan Terkena Osteoarthritis

Yudi Suyyud (kiri)

MALANGVOICE – Penyakit degeneratif tulang sendi atau dalam dunia medis dikenal sebagai Osteoarthritis (OA), ternyata juga menyerang pada usia produktif atau di bawah usia 45 tahun

Senior General Manager Medical Combiphar, Yuddi Suyyud menjelaskan, gaya hidup anak muda yang tidak sehat baik melalui lifestyle maupun makanan, dapat menumbuhkan penyakit ini sejak dini.

“Salah satu yang sering terkena penyakit ini adalah wanita, karena kebanyakan mereka memakai high heels,” kata Suyyud, Sabtu (22/8).

Dijelaskan, pemakaian high heels yang terlalu berlebihan dapat mengganggu tulang persendian utamanya lutut. Berbagai penelitihan menyebut, sebagian besar mereka pemakai high heels mengalami banyak gangguan.

“Selain high heel masalah lain adalah makanan, ini juga penting karena penyakit OA bisa disebabkan karena makanan,” bebernya.

Dijelaskan, konsumsi makanan yang mengandung gula dan karbohidrat berlebih bisa menjadi penyebab utama penyakit OA.

“Makanan olahan atau makanan kaleng dan asam lemak jenuh, bisa menjadi penyebab termasuk pula garam,” imbuhnya.

Karenanya, ia mengimbau kepada masyarakat agar mengkonsumsi buah dan sayuran, omega 3, minyak zaitun dan perbanyak konsumsi vitamin D untuk mencegah terjadinya OA.

“Untuk pengobatan Combhipar selaku produsen obat memiliki produk hyalone bagi mereka yang menderita OA ini,” tegasnya.-

Tips untuk Manula, Waspadai Penyakit OA

Bagus Putu Putra

MALANGVOICE – Osteoarthritis (OA), penyakit degeneratif sendi tulang yang umumnya diderita pasien usia lanjut, kini menjadi momok tersendiri dalam dunia medis.

Pakar penyakit reumatologi, Bagus Putu Putra Suryana mengatakan, sekitar 70 persen manusia yang berusia 60 tahun mengalami OA pada sekitar lutut mereka.

“Ada beberapa gejala OA salah satunya adalah nyeri sendi, krepitasi, kaku sendi, serta gangguan aktifitas,” kata Bagus Putu dalam Combihealth forum, Sabtu (22/8) di Malang.

Dijelaskan, selain menyerang kaki, OA juga mengena pada bagian tangan, punggung, tulang panggul. Khusus mengena tulang panggul, penyakit OA ini menyebabkan pasien tidak bisa berjalan.

Lebih lanjut, Putra memaparkan, beberapa faktor termasuk usia, kegemukan, jenis kelamin wanita, faktor genetik serta cidera sendi, merupakan penyebab utama timbulnya penyakit ini.

“Penyakit ini juga bisa menyerang mereka yang berusia di bawah 45 tahun,” imbuhnya.

Karenanya, guna mencegah timbulnya penyakit OA sejak dini, perlu dilakukan beberapa tindakan, termasuk mengkontrol berat badan, olahraga teratur serta pencegahan cidera sendi. “Cara terbaik adalah mencegah sejak dini,” terangnya.-

Melatih Kesimbangan Otak Kanan dan Otak Kiri

Peserta festival egrang saat berjalan disaksikan masyarakat Kota Batu. (Fathul/MalangVoice)

MALANGVOICE – Permainan tradisional sudah mulai ditinggalkan. Saat ini, anak-anak dimanjakan dengan game cyber yang mengurangi pergaulan sosial mereka.

Hal inilah yang menjadi dasar diadakannya Festival Egrang dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-70 oleh Pemerintah Kota Batu pada Rabu (19/8) siang hingga sore.

“Saat ini anak-anak kecil lebih suka bermain dengan gadget mereka dibandingkan dengan permainan tradisional, karena itulah kita menggagasnya,” kata Ketua Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) Kota Batu, Eni Rahayuningsih.

Maka dari itu, partisipasi siswa-siswi sekolah di Batu ini sangat diapresiasinya. Karena ternyata, masih banyak yang peduli dengan budaya tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia.

Jika dipikirkan secara mendalam, egrang bukan hanya sebuah permainan penghilang suntuk. Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari permainan tradisional ini.

Bila kita perhatikan, orang yang bermain egrang membutuhkan keberanian lebih saat hendak menaiki bambu penopang. Setelah naik, ia harus terus maju karena jika berhenti maka ia akan jatuh.

Seperti yang dijelaskan oleh Wakil Ketua II PHBN Bidang Non Kenegaraan Kota Batu, Drs Achmad Suparto. Bahwa bermain egrang membutuhkan kemampuan untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri.

“Dalam dunia olahraga seni bermain egrang merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara gerak motorik dan psikomotor,” ungkap Achmad kepada MVoice, Rabu (19/8).

Ia melanjutkan bahwa dalam bermain egrang, dibutuhkan satu kesatuan gerak tubuh dan intelektual sehingga bisa berdiri, berjalan, dan pada akhirnya adalah tercapainya tujuan.

Seni egrang memang jenis permainan yang populer di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Bahkan di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan beberapa daerah di Sulawesi, egrang masih berkembang hingga saat ini.

Sayangnya, belum ada literasi yang menyebutkan asal muasal permainan egrang. Namun dari sumber di internet, disebutkan bahwa “egrang” berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang.

Sementara dari daerah Sumatera Barat, egrang dikenal dengan nama “tengkak-tengkak” dari kata Tengkak atau pincang. Untuk bahasa Bengkulu disebut Ingkau yang berarti sepatu bambu.

Ada juga yang menyebut egrang sebagai Jangkungan di Jawa Tengah yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Lalu dalam bahasa Banjar di Kalimantan Selatan, egrang disebut Batungkau.

Salah satu warga yang ikut menikmati Festival Egrang tersebut, Evi, mengakui bahwa permainan egrang membutuhkan ketekunan karena ia sering menyaksikan anaknya bermain.

“Anak saya belajar tiap hari kalau di rumah. Ia butuh seimbang dan latihan terus menerus. Saya setuju bahwa Egrang bukan sekedar bermain, apalagi di motori oleh guru-guru sekolah,” tandasnya.-

Egrang Punya Banyak Filosofi

Peserta festival egrang saat berjalan disaksikan masyarakat Kota Batu (Fathul/MalangVoice).

MALANGVOICE – Pemilihan egrang sebagai sebuah festival di Kota Batu, karena mengandung banyak filosofi.

Wakil Ketua II PHBN Bidang Non Kenegaraan Kota Batu, Drs Achmad Suparto menjelaskan, bahwa keunikan bermain egrang adalah mampu membangkitkan tantangan.

“Seni bermain egrang tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan fisik semata, namun juga harus didukung oleh keseimbangan otak kanan dan kiri,” ungkap Achmad kepada MVoice.

Falsafah lainnya, jelas Achmad, adalah bermain egrang membutuhkan kesatuan gerak tubuh dan intelektual sehingga peserta bisa berdiri.

Serta dengan kesatuan tubuh dan intelektual juga, maka peserta bisa berjalan. “Lalu dengan kesatuan tubuh dan intelektul ini pula, kita bisa mencapai tujuan,”tandasnya.-

KPPI Berharap Jangan Direalisasi

Ketua KPPI Kota Malang, Ya'qud Ananda Gudban.

MALANGVOICE – Keputusan Kementerian Pertahanan yang membolehkan PNS di lingkungannya berpologami, sangat disayangkan oleh Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kota Malang.

Tanpa ingin membenturkan aturan agama dan aturan hukum, Ketua KPPI,Ya’qud Ananda Gudban berharap agar putusan itu tidak direalisasi.

“Kalau kami melihat aturan mengenai hal itu (Poligami PNS) sebenarnya sudah jelas, jadi saya harap agar tidak direalisasi Kemenhan,” kata Nanda kepada MVoice, Sabtu (15/8).

Dijelaskan, harusnya segala aturan mengenai PNS sebaiknya jadi satu dengan aturan yang ada di Kementeriam Pendayagunaan Apartur Negara (Kemenpan), sebab bila aturan poligami dibolehkan salah satu kementerian bukan tidak mungkin akan diikuti instansi lainnya.

“Harusnya ada sinkronisasi antar kementerian, jadi aturan untuk PNS bisa seragam,” tandasnya.

Seperti diketahui dalam Surat Edaran Nomor SE/71/VII/2015 dengan judul “Persetujuan/Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai di Lingkungan Kemhan” itu, terdapat aturan PNS boleh berpoligami dengan syarat-syarat tertentu.

Ada tiga syarat kumulatif yang membolehkan PNS di lingkungan Kemenhan untuk berpoligami.-

Wali Kota Minta Yayasan Poltekom Dibenahi

MALANGVOICE – Wali Kota Malang, HM Anton, mengimbau pihak Politeknik Kota Malang (Poltekom) agar segera memperbaiki kepengurusan yayasan.

Bila yayasan tetap dalam kondisi seperti saat ini, maka Pemkot Malang tidak bisa menggelontorkan anggaran untuk kampus tersebut.

“Secara administrasi tidak dibenarkan jika yayasan atas nama pribadi lalu digelontor dana dari pemerintah, nanti salah kaprah,” kata Anton, Jum’at (14/8).

Ia menjelaskan, seharusnya, yayasan segera diserahkan kepada Pemerintah Kota Malang agar status Poltekom segera bisa dicarikan jalan keluar. Karena, bila yayasan masih atas nama pribadi maka temuan BPK akan menghiasi hasil audit pada tahun mendatang.

“Pemakaian dana APBD tidak boleh salah sasaran, jadi kita tata dulu bagaimana soal kepengurusan yayasan,” imbuhnya.

Selama ini, lanjut Anton, pembina yayasan itu diatasnamakan secara pribadi tanpa disebutkan adanya jabatan wali kota di dalamnya. Karenanya ia berharap ke depan kepengurusan Poltekom harus ditata dengan baik.

“Masalah anggaran kita akan kaji lagi, yang jelas struktur yayasan harus dibenahi dulu, karena kita gak boleh nutup lembaga pendidikan” bebernya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Malang, Wasto mengaku masih mencari cara agar Poltekom bisa secara legal mendapat dana dari APBD.

Dua cara terdekat yakni dengan menjadikan Poltekom sebagai Badan Layanan Umum (BLU) atau membentuk yayasan Pemkot.

“Kita akan kaji bagaimana jika Pemda mengelola perguruan tinggi, tentunya solusi ini butuh referensi dan informasi dari segala hal, termasuk konsekuensinya bagaimana,” beber Wasto.

Mengenai pendanaan Poltekom sampai akhir tahun ini? “Kalau pakai anggaran APBD untuk talangan jelas tidak mungkin karena sudah ada peruntukannya. Nanti kita akan pikirkan solusi untuk anggaran, manakala yayasan sudah beres” jelas Wasto.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota Malang menghentikan anggaran Poltekom, lantaran temuan BPK tidak memperbolehkan Dinas Pendidikan membawahi perguruan tinggi.

Konsekuensinya, saat ini kampus dengan 300 mahasiswa ini menjadi terkatung-katung dari segi pendanaan gaji karyawan. Meski setiap mahasiswa dikenakan SPP, namun hasil itu hanya mampu digunakan untuk biaya operasional kampus.-

Omah Munir Ajarkan Pendidikan HAM

MALANGVOICE – Omah Munir punya cita-cita kuat untuk memasukkan mata pelajaran pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Kini, mereka membuat sebuah modul pendidikan HAM yang nantinya akan dimasukkan dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di dua kota, Batu dan Bogor sebagai pilot project pendidikan HAM.

“Kita fokus pendidikan HAM kepada masyarakat, kepada siswa, atau audience yang berdialog dengan kami secara khusus,” ungkap Direktur Eksekutif Omah Munir, Salmah Safitri kepada MVoice, Kamis (13/8).

Salmah mengatakan bahwa ia telah membangun kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Batu jauh-jauh hari, termasuk dialog dengan guru PKN dari sekolah yang bersangkutan terkait modulnya tersebut.

Tidak sampai disitu saja. Salmah juga menjajaki kerja sama dengan Kementrian Agama untuk memasukkan pendidikan HAM di SMP-SMP. Salmah berharap agar ke depan, anak-anak sudah faham terkait HAM sehingga bisa menjaganya.

“Di Kota Batu ini kita kerja sama dengan SMP Negeri 1 dan MTs Surya Buana, sedangkan di Bogor kami ada di SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2,” jelasnya.

Mengenai alasan pemilihan anak-anak SMP dan bukannya SMA atau SD sebagai project pendidikan, Salmah menjelaskan bahwa sesuai riset kepada anak SMP didapat kesimpulan jika mereka lebih bisa faham kondisi HAM dan masih bisa dibentuk.

“Kita mulai dengan SMP, nanti kalau sudah expert mungkin bisa berlanjut ke tingkat lainnya. Mungkin SD nanti ke depannya”jelasnya lebih lanjut.

Adapun modul pendidikan HAM tersebut akan dilaunching pada akhir bulan ini di Batu dan di Bogor. Apalagi respon guru PKN terhadap modul tersebut dinilai Salmah sangat positif.

“Mereka senang, bahkan sudah diuji cobakan dan try out itu siswa-siswanya senang. Karena kita susun modulnya untuk memudahkan guru, dan kepada siswanya pakai cara play. Jadi tidak terasa mereka juga belajar,” sambung Salmah.

Karena fokusnya pada pendidikan HAM, maka Salmah menegaskan bahwa dari Omah Munir tidak bisa serta merta bisa diminta oleh publik untuk membeberkan kasus HAM yang sudah diselesaikannya, atau juga untuk mengadvokasi orang yang dilanggar HAM-nya.

“Kalau turut serta menandatangani petisi, atau mendukung gerakan moral tertentu itu bisa kami lakukan karena itu bagian dari pendidikan. Publik perlu dididik terus menerus dalam hal ini,” jelas Salmah.

Kata Salmah, bersama-sama dengan publik ia akan terus menagih janji pemerintah untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM yang terjadi melalui petisi dan gerakan moral.

“Omah Munir hanya ada di Batu, tapi bahwa yang ikut bekerja untuk Omah Munir itu ada yang di Jakarta, Surabaya, dan banyak sekali volunteernya,” ungkap Salmah.

Volunteer dan organisasi HAM pendukung Omah Munir inilah yang biasanya melakukan advokasi atau pendampingan pelanggaran HAM. Sedangkan Omah Munir fokus ke pendidikannya.-

Sukses ‘Trisula’ Kota Malang, Suksesnya Rock Kemerdekaan

salah satu band yang tampil di pre event (hamzah/malangvoice)

MALANGVOICE – Mega konser ‘Rock Kemerdekaan’ bisa diselenggarakan karena adanya dukungan berbagai stake holder yang ada di Kota Malang.

Konser yang bakal digelar di depan Kantor Balai Kota Malang ini, digagas oleh tiga tokoh yakni, Wali Kota Malang HM Anton, Pengasuh Ponpes Bahrul Maghfiroh, Gus Lukman dan Kepala Dinas Pendapatan (Dispenda) yang juga pemimpin dkross, Ade Herawanto.

Salah seorang rocker, yang juga panitia acara ini, Nonot Yudho, mengaku bangga karena ada pihak yang masih peduli pada musik rock di Kota Malang.

Acara ini juga didukung oleh Dandim dan Kapolresta Malang, ”Jadi kami mewakili rockers mengucapkan terima kasih atas dukungannya,” ucap Nonot.

Personel Band Predator ini menambahkan, dalam acara pre event yang digelar selama tiga hari ini, rupanya banyak diikuti oleh grup band pendatang baru, disamping band rock yang sudah punya nama.

“Kebanyakan band yang ikut adalah band baru, jadi ini sangat bagus bagi regenerasi musik rock Kota Malang,” tandasnya.

Hentikan Pengiriman PRT ke 21 Negara

Agusdin Subiantoro, Deputi Penempatan BNP2TKI. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Indonesia menghentikan pengiriman pembantu rumah tangga (PRT) ke 21 negara. Hal ini akibat perlindungan di negara tujuan belum memenuhi standar yang diharapkan.

“Kalau di negara-negara Timur Tengah sudah kita hentikan secara bertahap dimulai tahun 2009, tahun 2011 ada, dan puncaknya adalah 21 negara pada tahun 2015,” ungkap Deputi Penempatan BNP2TKI, Agusdin Subiantono di Batu, Rabu (5/8).

Agusdin menjelaskan. penghentian tenaga kerja hanya untuk PRT dan pekerjaan non profesional lainnya. Sementara untuk bidang pekerjaan formal,Y tetap dipertahankan.

“Kalau di negara lain, misalnya di Timur Tengah itu kan ada warga kita yang menjadi pilot, kerja di migas, ahli perbankan, dan driver. Hanya PRT yang kita hentikan,” tambah Agusdin.

Sampai kapan penghentian pengiriman PRT? Agusdin tidak memberikan penjelasan. Ia hanya mengatakan bahwa penghentian pengiriman PRT jangan dikaitkan dengan penganiayaan.

” Tetapi bahwasanya standar perlindungan di negara tersebut belum bisa memenuhi standar yang kita inginkan,” tegasnya.

Karawitan Bergaung Kembali di Gedung Dewan

Ketua DPRD berbaur dengan angggota karawitan pakarti di gedung dewan (hamzah/malangvoice)

MALANGVOICE – Pemandangan menarik terjadi di dalam gedung DPRD Kota Malang, Selasa (4/8) sore. Para anggota Pakarti Kota Malang datang untuk berlatih musik karawitan di gedung wakil rakyat tersebut.

Lantunan lagu-lagu khas Jawa seperti Caping Gunung, Sambel Terasi, dsb, didendangkan sangat baik oleh perkumpulan mantan pegawai negeri sipil (PNS) tersebut.

Dapat berlatih kembali di gedung DPRD, merupakan sebuah hal yang sangat dinantikan oleh para anggota Pakarti. Pasalnya, selama bertahun-tahun mereka berlatih di kawasan rumah potong hewan (RPH) Gadang yang dianggap kurang representatif.

Ceritanya, sebelum mereka berpindah latihan ke kawasan Gadang, gedung DPRD adalah markas mereka untuk berkumpul dan berlatih. Lantaran ada pembangunan gedung DPRD beberapa tahun lalu, mereka harus berpindah tempat.

Magdalena Sri Supatmi, salah seorang anggota Pakarti mengatakan pihaknya berterima kasih kepada Ketua DPRD, Arif Wicaksono, lantaran telah memperjuangkan kembali gedung dewan digunakan untuk latihan karawitan.

Selama ini, mereka merasa kesulitan, lantaran lokasi latihan di Gadang cukup jauh dan sulit dijangkau oleh kendaraan umum.

“Alhamdulilah seneng sekali bisa berlatih di gedung ini, karena tempatnya sangat nyaman sekali,” ungkap Magdalena kepada MVoice.

Ia menerangkan, Pakarti selalu latihan rutin satu minggu sekali pada hari Selasa sore. Selain ajang silaturahim, bermain musik karawitan juga merupakan hal yang perlu dilestarikan agar budaya asli tidak tergerus modernisasi.

“Ini adalah sarana kami bersosialisasi dan juga mempertahankan budaya karawitan,” tandasnya.

Ketua DPRD Kota Malang, Arif Wicaksono, yang turut hadir melihat latihan perdana Pakarti di gedung dewan merasa sangat senang bisa memfasilitasi untuk menghidupkan kembali budaya lokal.

“Ini adalah upaya wakil rakyat memfasilitasi mereka, karena saya tahu sendiri lokasi latihan mereka di kawasan RPH tidak representatif,” kata Arif.

Sekertariat dewan, lanjut Arif, bahkan membantu Pakarti dengan membangun panggung kecil sebagai tempat alat musik. Tak hanya itu, karena kondisinya yang sudah tidak diperhatikan lagi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Ia meminta agar satu set alat itu diserahkan kepada sekertariat dewan.

“Nanti akan kami minta untuk diserahkan kepada Sekwan, biar kami anggarkan biaya perawatannya,” tegas politisi PDI Perjuangan itu.

“Perkumpulan Pakarti ini sejak saya jadi dewan tahun 2004 lalu sudah ada dan sering latihan, hal positif ini perlu kita lestarikan,” kata dia.

Arif juga pernah geram, lantaran alat karawitan tidak ada di gedung dewan dan sempat melacak keberadaanya. Dalam usaha mencari alat tersebut, akhirnya ia bertemu dengan salah satu anggota Pakarti. Dari situlah, sebagai ketua dewan ia berusaha ‘memulangkan’ kembali alat karawitan ke gedung DPRD dan memfasilitasi mereka berlatih.-