29 January 2023
29 January 2023
22.1 C
Malang
ad space

Warga Kota Malang Kembalikan Uang “Money Politics” ke Bawaslu

Warga datangi kantor Bawaslu Kota Malang (Istimewa)

MALANGVOICE – Beberapa warga Kota Malang mendatangi kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada Senin (6/5). Mereka datang untuk mengembalikan uang dari “money politic” yang diterima jelang Pemilu 17 April 2019 lalu.

Salah satu warga yang mengembalikan uang tersebut adalah, Agus Mulyono. Ia menegaskan jika beberapa warga yang datang ke Bawaslu itu, takut akan isu yang beredar jika lembaga anti rasuah yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang turun untuk menindak praktik money politics.

“Ada beberapa orang mengembalikan uang money politik, saya tidak kenal, pas waktu saya berangkat ke Bawaslu, ternyata juga ada yang mengembalikan uang tersebut,” kata Agus

Ia menegaskan, jika pihaknya tidak melakukan laporan. Hanya secara moral mengembalikan uang yang tidak pantas diterima dalam kontestasi Pemilu 2019. “Saya tidak laporan tidak menyebut nama caleg tertentu. Saya hanya mengembalikan uang yang tidak seharusnya diterima,” tukasnya

Terpisah, Komisioner Bawaslu Kota Malang Hamdan Akbar Safara mengatakan memang ada beberapa warga yang mendatangi kantornya untuk mengembalikan diklaim uang namun masih dalam amplop tersegel. Pihaknya pun menolak menerima karena tidak disertai bukti-bukti lain yang kuat.

“Akadnya cuma ingin mengembalikan uang. Kami menyarankan ada laporan silahkan asal ada bukti formil yang kuat, misal video atau minimal bukti rekaman percakapan,”

Ia menduga warga ketakutan dan khawatir menerima sanksi juga akibat money politics. Padahal dalam undang undang, penerima tidak terkena sanksi.

“Masalah, mereka datang ke Bawaslu cuma ngasihkan uang tersebut, tidak memberikan info kapan pemberiannya dan pemberinya siapa,” tutupnya.(Hmz/Aka)

Foto Diduga dari Dalam Lapas Kota Malang Beredar di Medsos

Ilustrasi Lapas Kelas 1 Lowokwaru Kota Malang.(deny rahmawan)

MALANGVOICE – Media sosial dihebohkan dengan postingan salah satu pengguna Facebook di grup. Foto itu kemudian viral dan menjadi perbincangan.

Betapa tidak, akun atas nama Indra Kusuma ini mengunggah foto aktivitas di dalam penjara beserta caption. Foto itu diduga diambil di dalam Lapas Kelas 1 Lowokwaru, Kota Malang.

Pihak Lapas Kelas 1 Malang melalui Kepala Keamanan, Giyono, mengaku sudah mendapat informasi itu. Petugas lapas pun segera melakukan interogasi internal. Hasilnya diketahui akun tersebut menggunakan foto narapidana narkoba, Indra Sugianto.

“Setelah ketemu orangnya kami interogasi. Yang bersangkutan menyangkal bahwa itu di FB tulisannya,” katanya saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (20/6).

Meski mengelak, pihak lapas tetap menganggap Indra sudah melanggar. Hal itu berdasar dari bukti yang ada di foto-foto akun Facebook tersebut. “Karena kami dasarnya dari bukti di akun itu, maka tetap dianggap pelanggaran. Yang bersangkutan kami proses sampai tahap berikutnya,” ujarnya lagi.

Proses penyelidikan pihak Lapas Kelas 1 Kota Malang ini juga melibatkan pihak Polres Malang Kota. Tim dari polisi diminta melacak jejak akun atau nomor yang dicurigai sebagai pengunggah konten di Facebook.

“Kami jelas koordinasi dengan Polres Malang Kota untuk ungkap ini. Sudah diketahui posisinya,” lanjutnya Giyono.

Meski begitu, Giyono mengakui sulitnya melacak penyelundupan HP dari luar lapas. Dikatakannya ada 3.122 warga binaan di Lapas Kelas 1 Kota Malang saat ini sehingga tidak bisa mengawasi satu persatu warga binaan lapas.

“Kami berusaha zero HP di lapas. Tapi dengan hunian 3.122 per hari ini kami tidak bisa menjamin 100 persen. Yang jelas petugas di lapas juga sudah disumpah agar tidak memasukkan HP dan narkoba,” tandasnya. (Der/Ulm)

Satu Mahasiswi Polinema Positif Covid-19, Kampus Terus Pantau Perkembangan

Tenda pengecekan kesehatan para tamu Polinema. (istimewa)
Tenda pengecekan kesehatan para tamu Polinema. (istimewa)

MALANGVOICE – Satu mahasiswi Politeknik Negeri Malang (Polinema) positif terjangkit virus corona (Covid-19).

Satu mahasiswi ini sekarang menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD Kanjuruhan.

“Memang benar ada mahasiswi dari jurusan Teknik Elektro,” kata Kepala UPT Humas Polinema, Dr Nur Salam.

Satu orang yang dinyatakan positif ini sudah diisolasi sejak 21 Maret lalu. Mahasiswi ini diketahui tinggal di kawasan Kabupaten Malang.

Menanggapi adanya satu orang yang dinyatakan positif, Polinema segera tanggap dengan aktif memantau perkembangan pasien. Termasuk teman-teman satu kelas.

“Alhamdulilah teman satu kelas dengan pasien melaporkan dalam keadaan sehat pada Senin kemarin. Tapi kami masih tetap terus memantau perkembangan selanjutnya dan berharap semua baik-baik saja,” ujarnya.

Selain itu, untuk menjaga penyebaran virus yang berasal dari Wuhan ini, Polinema menerapkan kebijakan screening atau protokol masuk ke dalam kampus. Yakni wajib menggunakan masker, memakai hand sanitizer dan dicek suhu tubuh.

“Kami menerapkan one gate system sekarang. Jadi dipusatkan masuk di satu pintu untuk pengecekan para tamu sesuai SOP,” tandasnya.(Der/Aka)

Ketua PP Muhammadiyah: Pintar Ngaji Pintar Nyanyi, Muhadjir itu Bisa Jadi Role Model

Muhadjir mendorong kakak nomor tiga Ahmad Asfahani. (Mvoice/dok keluarga)

MALANGVOICE – “Pak Muhadjir itu bisa menjadi role model. Dia seorang guru besar. Menjadi menteri dua kali. Menjadi Ketua PP Muhammadiyah. Pintar ngaji juga pintar menyanyi. Jarang sekali tokoh demikian,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir.

Haedar mengungkapkan itu saat peresmian Perguruan Muhammadiyah Caruban, Madiun, beberapa waktu lalu. Yang dia maksud adalah Prof Dr Muhadjir Effendy Map, Menteri Koordinator bidang Permberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).

Saat ini Muhadjir juga menjadi Ketua I PP Muhammadiyah. Di samping itu juga guru besar Universitas Negeri Malang (UM). Ketua Dewan Pengawas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menjabat Mendikbud pada Kabinet Jokowi Jilid 1.

Baca Juga: Ketua Askot PSSI Kota Malang Minta Maaf dan Lakukan Pembenahan

Muhadjir dikenal pintar mengaji Quran, termasuk qiraat (membaca dengan lagu). Dalam Tanwir Muhammadiyah di Samarinda tahun 2014, panitia kebingungan mencari pembaca Quran untuk acara pembukaan. Bayangkan betapa hebohnya jika Tanwir tanpa diawali dengan qiraat bak rawon tanpa kluwak.

“Masak warga Muhammadiyah sebanyak ini tidak ada yang bisa qiraat,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin.

Muhadjir maju ke mimbar untuk qiraat. Ia membaca surah Maryam 1-15. Bacaannya tartil. Mahrajnya sempurna. Suaranya merdu. Kalangan qari (pembaca Quran) mengakui bacaan ayat-ayat ini rumit. Ada yang nadanya sangat tinggi, ada yang sangat rendah. Butuh nafas panjang.

Baca Juga: Kenaikan Biaya Sekolah Ikut Andil Naikkan Inflasi Kota Malang

Ayat ini yang sering dibaca Muhadjir saat menjadi qari sejak muda di banyak acara seperti pernikahan, keagamaan. Bacaan ini pula yang mengantar dia juara musabaqah tilawatil Quran di Madiun saat remaja. Di samping surah Maryam, yang sering dia baca antara lain, Surah Al Isra 1-11, surah Ali Imran 144-150.

Kepiawian membaca Quran itu dia mulai sejak sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Islam, Mojorejo, Caruban, Madiun yang didirikan ayahandanya, Guru Soeroya. Malam hari mengaji di masjid peninggalan kakeknya, Kiai Moh. Tolhah. Berlanjut saat dia sekolah di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Madiun. Dia juga dikenal jago dhibaan barzanji, srokalan (asyraqal badru) dan nasid.

Jangan heran kalau sampai sekarang menyukai lagu-lagu religi terutama dari penyanyi Palestina Maher Zen seperti Ya Nabi Salam Alaika, Barakallah.

Baca Juga: Ketua Askot PSSI Kota Malang Minta Maaf dan Lakukan Pembenahan

Dia juga jago nyanyi lagu-lagu pop, baik Barat maupun Indonesia. Setiap ada kesempatan menyanyi di suatu acara, dia akan menyanyi. Lagu Barat yang ia gemari misalnya, Hello dari Lionel Richie. Lagu pop Indonesia misalnya Kenangan Terindah dari Samson.

Pendekar Suling Sakti
Bukan hanya bisa menyanyi, dia juga bisa menggunakan alat musik mulai seruling, keyboard. Saat mahasiswa IAIN Sunan Ampel Malang, dia kos di Dinoyo berdekatan rumah Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi. Muhadjir hobi meniup seruling bambu pada tengah malam. Alunan suaranya merdu memecah keheningan malam. Lantaran alunan sulingnya, KH Hasyim yang memiliki hubungan sangat akrab dengan Muhadjir menjulukinya “Pendekar Suling Sakti”.

Semasa sekolah di PGAN dia memiliki grup musik dangdut (waktu tahun 1970-an disebut musik melayu). Muhadjir memegang arkodion sekaligus vokal. Di antara lagu yang dia gemari adalah Peristiwa yang Silam yang pernah dinyanyikan Muhsin Alatas, Ida Laila, Kristina. Lagu Harapan Hampa dan Ratapan Anak Tiri karya M Mashabi.

Baca Juga: Bapenda Pemkot Malang Gulirkan Program Pemutihan Pajak Mulai Agustus – Oktober

Muhadjir juga bergabung dengan kesenian jedor. Musik tradisional Jawa yang terdiri dari beduk, kencreng, arkodion. Tahun 1970-an ada improvisasi di kesenian jedor. Selain mengalunkan selawatan sebagai pakem, ditambah dangdutan. Ia biasanya pegang harmonika atau harmonium dan vokal.

Ia juga menggemari kesenian tradisional Jawa karawitan. Ayahandanya kebetulan seorang guru yang juga dalang wayang purwa yang termasyhur di Jawa Timur. Sejak kanak-kanak Muhadjir suka memainkan wayang kulit buatan ayahandanya. Karena kebiasaan memainkan wayang pagi-lagi dan belum mandi sampai diluki “Dalang Kepet”. Wayang buatan ayahandanya ada dua kotak (set). Yang satu kotak disimpan di rumah keluarga, yang satu kotak dihibahkan ke UMM.

Kegemarannya akan karawitan dilanjutkan dengan menghibahkan seperangkat gamelan untuk almamaternya, MI Al Islam Mojorejo. Ia sangat senang saat menengok murid-murid latihan untuk acara di pendopo Kabupaten Madiun.(end)

Baru Jabat Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, AKP Azi Langsung Serius Tekan Kejahatan Jalanan

Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, AKP Azi Pratas Guspitu. (Istimewa)
Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, AKP Azi Pratas Guspitu. (Istimewa)

MALANGVOICE – AKP Azi Pratas Guspitu menerima mandat sebagai Kasat Reskrim Polresta Malang Kota. Hal itu langsung direspon dengan program serius.

Pria yang pernah menjadi Kasat Rekrim Polres Malang pada 2017 lalu ini mengatakan siap memetakan kejahatan jalanan yang menjadi atensi Kapolresta Malang Kota Kombespol Leonardus Simarmata.

“Saya akan segera petakan kasus yang ada. Memang sejak di Polda kasus terbanyak adalah curanmor,” katanya usai sertijab, Senin (27/4).

AKP Azi Pratas menggantikan pejabat lama, Kompol Yunar Hotma Parulian yang pindah ke Polda Jatim sebagai Kanit IV Subdit V Ditreskrimsus.

Azi sendiri sudah tak asing dengan kondisi Kota Malang. Saat ini juga di Polresta Malang Kota sudah ada tim khusus yang menyasar kejahatan jalanan. Ia mengatakan siap memaksimalkan tim khusus yang diberi nama Singo Arema Police.

“Saya akan sesuaikan teknisnya untuk ungkap kasus,” jelasnya.

Terpisah, Kapolresta Malang Kota Kombespol Leonardus Simarmata, menegaskan bahwa kejahatan jalanan seperti curas, curat dan curanmor akan terus diberantas.

“Kami akan melakukan tindakan tegas terukur terhadap siapapun pelaku atau calon pelaku yang akan mencoba beraksi di wilayah hukum Kota Malang,” tandasnya.(Der/Aka)

Akademisi UB: Pasca Pilpres 2019, Pancasila ‘Mati’, Berubah jadi Pancatuna

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Prof Dr Unti Ludigdo dalam agenda diskusi bertajuk Harmoni Pasca Pilpres di Hotel Savana, Sabtu (29/6). (Aziz Ramadani MVoice)

MALANGVOICE – Akademisi serius menyoroti dampak di masyarakat, pasca pemilu presiden (pilpres) 2019. Sebab, yang terjadi akibat pesta demokrasi itu justru adanya perubahan dari ideologi Pancasila menjadi Pancatuna.

Hal ini diungkapkan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Prof Dr Unti Ludigdo dalam agenda diskusi bertajuk Harmoni Pasca Pilpres di Hotel Savana, Sabtu (29/6). Dalam paparannya berjudul Disharmoni dalam Pluralitas dan Kematian Pancasila, Unti menyatakan bahwa ironi yang terjadi kekinian adalah prinsip Ketuhanan telah terkalahkan dengan nilai keuangan, prinsip kemanusiaan telah tergadaikan dengan spirit kekuasaan, prinsip persatuan telah tergerus dengan ego lokalitas berbasis SARA, prinsip kepemimpinan dengan hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan tergantikan dengan kepemimpinan berdasarkan kontestasi suara individual, dan prinsip keadilan sosial telah bertransformasi menjadi keadilan oligopolis (keadaan pasar).

“Realitas dalam Pancatuna, Tuhan diyakini ada namun ditiadakan dalam sikap dan perilaku serta agama hanya sekedar sebagai aksesoris gaya hidup. Lokalisme baru berbasis SARA cenderung menjadi arus untuk melemahkan persatuan dan juga kegotongroyongan Indonesia. Kepemimpinan dibangun dalam suasana yang lebih kompetitif daripada sinergi. Keadilan sosial tereduksi oleh keserakahan beberapa pihak yang memiliki akses pada kekuasaan,” jelasnya.

Ia melanjutkan, disharmoni (ketidakselarasan) akibat Pancatuna diantaranya, kelaziman saling fitnah terjadi, kebohongan sebagai hal lumrah, kesantunan Indonesia telah tereduksi, take for all sebagai hasil kontestasi.

“Ketidakpedulian atas suatu peristiwa yang menimpa pihak lain karena menganggap bukan bagian dari kami kebebasan menjadi segalanya dalam tata kehidupan sehingga siapapun bisa berbicara, bersikap dan bertindak apa saja,” ujarnya.

Fenomena tersebut seharusnya dapat segera ditangani. Agar terjadi atau tercipta kembali suasana bermasyarakat yang harmonis. Mengembalikan marwah ideologi Pancasila. Solusinya, adalah menjadikan Pancasila sebagai referensi nyata dalam berbangsa Indonesia namun tidak dijadikan alat politik untuk menegasikan pihak lain yang tidak dalam barisan penguasa pemerintahan. Berbagai perumusan regulasi kebijakan harus dipastikan tidak bertentangan dengan substansi nilai-nilai Pancasila.

“khususnya dalam bidang politik, instrumen demokrasi dan tata politik Indonesia perlu dievaluasi kembali kesesuaiannya dengan Pancasila. Kemudian revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam narasi kekinian di Indonesia,” pungkasnya.(Hmz/Ulm)

Satu-persatu Tirai Misteri Kematian Agus Samad Terungkap

lokasi rumah Agus Samad. (deny rahmawan)
lokasi rumah Agus Samad. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Satu-persatu tirai misteri kematian Kombes Pol (purn) Agus Samad mulai terkuak. Terakhir, polisi yang terus mendalami kasus ini menemukan fakta baru.

Kematian mantan Wakapolda Sumut itu memang menjadi perhatian. Pria 71 tahun ditemuka tergeletak tak bernyawa di taman belakang rumahnya sendiri, Perum Bukit Dieng Permai blok MB-9, Sabtu (24/2). Kakinya terikat tali rafia hitam yang dikaitkan ke balkon lantai tiga.

Tak jauh dari lokasi tersebut, sekitar 10 meter ada bercak darah diduga juga milik Agus Samad. Darah itu diduga keluar dari tangan korban yang penuh luka sayat serta muntahan.

Sedangkan rumah Agus dalam kondisi terkunci rapat dan tidak ada barang berharga dilaporkan hilang serta rumah tidak dalam kondisi teracak-acak.

Selama tujuh hari melakukan penyelidikan, polisi masih ragu menyebut ia murni bunuh diri atau dibunuh.

Terakhir, penyebab kematian Agus sudah diketahui, yakni patahnya tulang rusuk kiri hingga menembus jantung. Hal itu juga jadi pertanyaan, bagaimana tulang rusuknya bisa patah? Polisi masih merahasiakannya.

Baru-baru ini sampel darah dan cairan muntahan korban diperiksa di labfor dan dikirim ke Mabes Polri. Hasil sementara terkuak apa yang ada di dalam lambung korban.

Dijelaskan Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, hasil autopsi sementara di dalam lambung korban tidak ditemukan adanya racun serangga.

“Bukan racun serangga yang mematikan korban. Tidak ada itu sampel di lambungnya,” kata Frans kepada awak media.

Tentu hasil itu semakin membuat kasus ini mulai jelas. Polisi tak henti-hentinya melakukan olah TKP kembali di rumah korban dan memeriksa saksi.

Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri, berharap dalam waktu dekat kasus ini bisa segera terungkap. “Semoga bisa cepat terungkap, ya,” singkatnya.
(Der/Ery)

Dikira Bangkai Hewan, Pedagang Pasar Besar Matahari Malah Temukan Potongan Tubuh Manusia

Proses evakuasi korban mutilasi. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Tempat parkir lantai 2 Pasar Besar Matahari digegerkan dengan temuan potongan tubuh manusia, Selasa (14/5).

Potongan tubuh itu tercecer di bawah tangga paling pojok tempat parkir. Penemuan potongan tubuh itu pertama kali oleh pedagang pasar sekitar pukul 13.30 WIB.

“Dikira bangkai tikus atau kucing, karena baunya sampai lantai bawah,” kata salah satu pedagang, Krisno Harianto di lokasi.

Setelah dicek ternyata pedagang itu melihat potongan kaki. “Ada darah tercecer juga,” lanjutnya.

Atas temuan itu pedagang kemudian menghubungi polisi. Tak lama kemudian sekitar pukul 14.00 WIB anggota Polsek Klojen dan Inafis Polres Malang Kota beserta ambulans PMI datang ke lokasi.

Kapolsek Klojen, Kompol Budi Harianto, mengatakan, saat ini anggota masih menyelidiki temuan itu. Termasuk mencari identitas korban mutilasi itu.

“Masih diselidiki,” singkatnya. (Der/Ulm)

Dianggap Pemicu Kerusuhan di Papua, Wali Kota Malang Bakal Klarifikasi ke Mendagri

Wali Kota Malang Sutiaji. (Aziz Ramadani/ MVoice)

MALANGVOICE – Kabar akan dipanggil oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo direspon Wali Kota Malang Sutiaji. Pihaknya akan membeberkan duduk perkara dugaan pemicu kerusuhan di Papua.

Sutiaji mengatakan, pihaknya akan segera menghadap Tjahjo Kumolo begitu mendapat perintah atau undangan. Ia bakal menjelaskan detail akar permasalahan hingga terjadi insiden bentrokan antara mahasiswa asal Papua mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dengan warga, 15 Agustus lalu.

Baca Juga:Bung Edi Yakinkan Mahasiswa Papua di Kota Malang Aman

“Semua kronologis akan kami sampaikan ke Mendagri, karena ada informasi yang sepotong – sepotong,” kata Sutiaji, Selasa (20/8).

Klarifikasi, lanjut dia, juga perihal dugaan statement Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko, yang dikabarkan bakal memulangkan mahasiswa asal Papua.

“Padahal konteks (statement Sofyan Edi) sesungguhnya tidak demikian,” sambung Pria juga Politisi Demokrat ini. (Hmz/Ulm)

Seluruh Komponen Masyarakat di Kota Malang Sepakat Deklarasi Damai Pasca Pemilu 2019

Deklarasi Damai Pasca Pemilu 2019 di Porles Malang Kota. (Deny Rahmawan)

MALANGVOICE – Meredakan ketagangan pasca Pemllu 2019, Polres Malang Kota menggelar silaturahmi dengan jajaran Forpimda, tokoh masyarakat dan tokoh agama di Aula Satyanika Satyawada Mapolres Malang Kota, Kamis (2/5).

Acara tersebut juga diselingi dengan deklarasi damai pasca Pemilu 2019. Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri, menyatakan, tujuan silaturahmi ini agar situasi kondusif Kota Malang terus terjaga. Karena itu butuh komitmen dari banyak pihak.

“Perbedaan itu pasti ada, sekarang Pemilu sudah selesai dan harus kembali tetap damai,” ujar Asfuri.

Sementara itu, Wali Kota Malang, Sutiaji, mengaku banyak terima kasih kepada seluruh komponen yang sudah bekerja keras agar Pemilu 2019 berjalan lancar di Kota Malang. Mulai KPU, Bawaslu, peserta Pemilu dan petugas keamanan.

“Semua bahu membahu antara pelaksana, kontestan, dan pengamanan yang menyadari dengan baik sehingga tidak ada insiden mengarah kepada suasana yang tidak diinginkan,” kata Sutiaji.

“Terima kasih kepada KPU khususnya karena stimulannya sukses meningkatkan kepesertaan masyarakat datang ke bilik TPS tinggi. Petugas keamanan TNI-Polri, Kejaksaan semua juga selalu koordinasi untuk tercapainya suasana aman,” tandasnya.

Diketahui dalam deklarasi tersebut ada tiga poin yang disampaikan, salah satunya adalah menolak cara inkonstitusional, kekerasan, anarkis serta politisasi agama dalam penetapan Pemilu 2019. (Der/Ulm)