UMM Latih SDM Pendamping Proses Produk Halal

Elfi Anis Saati, salah satu narasumber pelatihan produk halal. (Dok Humas UMM/Mvoice)

MALANG — Halal Centre Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Pelatihan Pendamping Proses Produk Halal 23-25 Mei.

Humas UMM, Sugeng Winarno, mengatakan, pelatihan ini untuk meningkatkan pemahaman dan proses sertifikasi halal khususnya bagi warga Muhammadiyah.

“Agenda pada 23-25 Mei itu diisi oleh sederet pemateri yang berkompeten di bidangnya. Salah satunya Direktur Utama Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH-KHT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ir. M. Nadratuzzaman Hosen, M.S., M.Ec., Ph.D,” ujarnya.

Agenda ini, lanjutnya, hasil kerja sama Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag RI serta LPH-KHT PP Muhammadiyah.

“Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan sinergisitas kegiatan bertema Halal Thoyib dan juga kompetensi stakeholder Muhammadiyah, utamanya di Malang dan Jawa Timur,” ujarnya lagi dalam rilis yang diterima malangvoice.com.

Sementara Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P, Kepala Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM menjelaskan, agenda ini juga memiliki target.

“Salah satunya yakni Halal Centre Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dapat bekerja sama dalam proses pendampingan sertifikasi halal UMKM,” ujarnya.

Apalagi, kata Elfi, jumlah UMKM mencapai 62,5 juta. Selain itu juga mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatihan serta menyumbangkan aktivitas solutif berupa pendampingan.

Dalam paparannya, Elfi menegaskan pembuatan produk halal sangat baik untuk pasar Indonesia maupun global. “Apalagi melihat bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, yakni sebanyak 240 juta. Bahkan mencapai 40 persen dari total penduduk Asean,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut, kini sertifikat halal sudah diakui oleh World Trade Organization (WTO). Selain itu halal juga sudah menjadi gaya hidup banyak orang dan mendorong tumbuhnya eknomi syariah.

Produk halal juga berefek pada rasa aman yang dimiliki oleh apra konsumen muslim. Maka dari itu, pemerintah, pengusaha, perguruan tinggi, serta lembaga penelitian harus mengupayakan percepatan pengembangan produk halal.

Dalam kesempatan itu pula Elfi menjelaskan, sampai saat ini terdapat 25 persen UMKM yang memiliki sertifikat halal, 58 persen P-IRT, dan 38,24 persen memiliki MD namun belum melengkapi CPPOB (Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik).

Maka dari itu, Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM terus melakukan kegiatan penunjang sertifikasi halal.

“Salah satunya dengan melaksanakan Lokakarya Keamanan dan Kehalalan Pangan” dengan guru SMA Jawa Timur, UMKM Malang, Asosiasi Patpi dan Persagi, dan Mahasiswa,” ujar Elfi.

Ada juga pelatihan uji deteksi cepat bahan makanan berbahaya, pengabdian ke SMA Kediri, Probolinggo, Pasuruan, termasuk pedagang martabak di Malang, serta membuat kantin sehat.

“Lebih dari itu kami juga selalu melakukan penelitian dengan luaran paten dan jurnal Nasional serta Internasional,” tambahnya.

Di lain sisi, Hosen menambahkan proses sertifikasi halal saat ini masih melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Adapun penilaian produk didasarkan pada titik kritis yang ada. Dimulai dengan pemeriksaan bahan yang terbagi menjadi bahan baku dan bahan tambahan.

Keduanya harus bebas dari hal yang haram. Adapula bahan penolong yang diharuskan tidak berasal dari babi, anjing dan tubuh manusia.

Titik kritis selanjutnya yakni dari segi proses. Tempat dan proses produksi tidak boleh tercemar bahan najis.

“Kalaupun tercemar bahan najis selain mughalladhah, maka harus ada pencucian secara syari. Hal lain yang tidak kalah penting yakni kesucian alat serta bahan kemasan,” katanya.

Yang perlu diperhatikan lagi, lanjut Hosen, sebelum proses pengajuan sertifikasi halal yakni jangan sampai ada bahan dari tubuh manusia. Kalau ada, tentu saja pasti ditolak. Yang mengandung babi itu juga akan ditolak.

“Adapun kalau cuma tercampur najis mutawassithah, itu bisa dipertimbangkan asal bisa dibersihkan lagi dengan baik,” pungkasnya.(end)

Terduga Teroris Ditangkap Densus 88 di Malang Masih Aktif Kuliah di FISIP UB

Konferensi pers di gedung rektorat UB, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Densus 88 menangkap seorang pria berinisial IA (22), atas dugaan tindak pidana dugaan terorisme di Kota Malang beberapa waktu lalu. Ternyata terduga teroris tersebut merupakan mahasiswa aktif di Universitas Brawijaya (UB).

Diketahui, IA merupakan mahasiswa UB yang menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) dan mengambil program studi Hubungan Internasional (HI) angkatan 2019.

Wakil Rektor III Universitas Brawijaya Bidang Kemahasiswaan, Abdul Hakim, mengaku tidak menyangka yang bersangkutan terlibat dalam jaringan teroris. Sebab, IA selama ini tergolong dalam mahasiswa yang cerdas.

“Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang bersangkutan itu tergolong cerdas karena IPK di atas angka tiga, saat ini yang bersangkutan sudah masuk semester enam,” ujarnya, Rabu (25/5).

Namun, secara detail terkait aktivitas keseharian atau kegiatan kemahasiswaan IA belum diketahui secara detail, karena masih dalam tahap penelusuran lebih lanjut dari tim Wakil Rektor III UB Bidang Kemahasiswaan.

“Saat ini tim masih terus melakukan pengumpulan data yang bersangkutan. Mulai dari data jejaring kelompok diskusi di kampus, mengikuti unit kegiatan kemahasiswaan apa, itu semua masih coba kita telusuri,” Kata Abdul.

Sementara itu, pihak UB juga akan berkolaborasi dengan pihak aparat penegak hukum untuk berbagi informasi kegiatan mahasiswa baik di dalam maupun diluar kampus.

“Harapannya melalui hubungan intens dengan aparat baik petugas militer dan kepolisan tersebut dapat mencegah adanya aktivitas terlarang di area kampus Universitas Brawijaya ini,” ucap dia.

Abdul juga menyerahkan sepenuhnya kasus dugaan keterlibatan IA dengan jaringan teroris itu sepenuhnya kepada aparat hukum. Apabila IA dipastikan terlibat dalam jaringan teroris, maka pihak kampus juga akan memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Jika sudah ada penetapan hukum pasti atau inkra, maka rektor akan memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku di kampus,” tandasnya.(der)

Aksi 10 Juta Pohon Bernilai Terapi Kejut

Guru dan siswa SMP Muhammadiyah Karangasem Bali sedang melakukan aksi menanam pohon. (Ist/Mvoice)

MALANG – Aksi penanaman 10 juta pohon yang digalang Kementerian Koordinator bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) memiliki nilai terapi kejut terhadap sakitnya etika lingkungan yang sudah akut.

“Agar aksi ini tidak berhenti menjadi sebatas jargon, harus ada kebijakan nasional yang tertulis untuk menjamin keberlanjutannya,” kata Dr Abdul Azis SR, Rabu (25/5).

Azis yang dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Brawijaya (UB) Malang ini lebih lanjut menambahkan tanam pohon itu proyek generasi dan berjangka panjang.

Menko PMK Muhadjir Effendy yang launching secara virtual. (Dok Kemenko PMK/Mvoice)

Aksi penanaman 10 juta pohon dilaunching Menko PMK Muhadjir Effendy, Selasa (24/5/2022) di Bali. Aksi ini merupakan agenda Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Sekaligus bentuk komitmen Indonesia mendukung The Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022.

Aksi ini merupakan kerja kolaborasi Kemenko PMK dengan lintas kementerian melibatkan kalangan perguruan tinggi, sekolah, organisasi sosial kemasyarakatan dan pelbagai elemen masyarakat lain.

Penananam 10 juta pohon sebagai bentuk aksi akan dilakukan di 34 provinsi seluruh Indonesia sepanjang tahun 2022 – 2023.

Dosen FISIP UB, Abdul Azis. (Dok Pribadi/MVoice)

Menurut Abdul Aziz, aksi tanam 10 juta pohon ini pada momentum terbaik dan sangat strategis katena saat ini kondisi lingkungan sangat memprihatinkan.

“Hal ini terjadi karena sudah sangat lama kegiatan pembangunan fisik dan ekonomi cederung abai terhadap etika lingkungan,” imbuhnya.

Dampaknya, kata penulis buku Ekonomi Politik Monopoli ini, terjadi kerusakan lingkungan seperti merebaknya kawasan lahan kritis, menyusutnya sumber air, pengikisan pantai.

Kerusakan ini, menurutnya, bukan hanya menjadi masalah domestik tetapi memberi kontribusi terhadap kerusakan global.

Aksi ini bukan semata-mata proyek, tapi harus menjadi gerakan pemerintah bersama masyarakat. Kalaulah disebut proyek, ini merupakan proyek jangka panjang atau proyek generasi.

Menurut mantan Direktur Eksekutif Centre for Public Policy Studies (CPPS) Surabaya – lembaga pemikir yang menjadi mitra Pemprov Jatim zaman Gubernur Imam Oetomo – proyek atau aksi semacam ini sudah sering kali dilakukan. Misalnya rebosiasi hutan.

Tapi yang sering terjadi, proyek semacam ini tidak jelas kelanjutannya. Awal-awal saja kelihatan giat, penuh semangat tapi cepat sekali hilang tanpa kabar. Berhenti menjadi jargon semata.

“Saya kira pernyataan Pak Menko PMK Muhadjir Effendy agar aksi ini tidak berhenti menjadi jargon merupakan ajakan atau otokritik agar kalangan pemerintah melakukan instropeksi, atau istilah Jawa mulat salira hanggroso wani,” katanya.

Aziz mengatakan, Indonesia ini terkenal sebagai negara yang kaya jargon. Mulai dari pusat sampai daerah hebat membuat jargon. Misalnya, keadilan untuk semua, kesejahteraan rakyat, maju bersama.

Sayangnya jargon-jargon itu berhenti sebagai wacana politik karena sangat sulit terwujud dalam kenyataan sosial dan ekonomi.

Otokritik Muhadjir ini baru berarti jika mampu menggoyang pemerintahan. Bukan menggoyang masyarakat dan kalangan pencinta lingkungan.

“Kunci aksi tanam pohon ini pada keberlanjutannya. Untuk itu harus ada aturan tertulis yang memayunginya. Harus ada pemegang otoritas yang bertanggung jawab,” kata editor buku Politik Indonesia Kini dan buku Republik Salah Kelola ini.(end)

Ratusan Sapi Terjangkit PMK, Pemkot Malang Minta Penyemprotan Disinfektan Rutin Dilakukan

Dokter menyuntik sapi yang terjangkit PMK, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Ratusan sapi yang ada di Rumah Potong Hewan (RPH) dan Peternakan wilayah Kota Malang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Temuan kasus tersebut menunjukkan, penyebaran PMK di wilayah Kota Malang meningkat drastis. Sebab, dua pekan lalu kasus PMK hanya bertambah 7 dan sekarang sudah tembus hingga 150 sapi yang terjangkit.

“Sampai saat ini total sudah ada 150 ekor sapi yang terjangkit PMK. Data masih terus kita kumpulkan. Teman-teman juga masih melakukan survei,” ujar Kabid Peternakan Dispangtan Kota Malang, Anton Pramujiono, Selasa (25/5).

Peningkatan jumlah sapi yang terjangkit PMK kali ini, dikatakan Anton, berada di luar ekspektasi-nya. Sebab, sebelumnya 10 sapi yang terjangkit PMK tersebut berada di dalam RPH dengan indikasi sapi dari luar Kota Malang.

Akan tetapi, kini penyebaran PMK tersebut sudah terjadi hingga ke peternak-peternak lain di Kota Malang. Sehingga Dispangtan Kota Malang perlu melakukan tindakan cepat, salah satunya dengan meminta peternak rutin menyemprot kandang dengan desinfektan.

“Selain itu, dari Dispangtan Kota Malang juga melakukan pengobatan. Jadi yang sakit kita injeksi, kita suntik. Sejauh ini dari 150 ekor yang terjangkit PMK itu ada sebagian sudah diobati dan sembuh. Ada 8 ekor juga dipotong,” kata Anton.

Sementara itu, pihak Dispangtan Kota Malang mengaku belum mengetahui indikasi penularan ratusan sapi yang terjangkit PMK itu berasal dari mana.

“Kita belum tahu (indikasi penularan PMK). Tapi yang perlu diwaspadai adalah lalu lintas hewan, kendaraan maupun orang yang dari luar,” tandasnya.(der)

Mahasiswa di Kota Malang Jadi Terduga Teroris, Sutiaji Minta Masyarakat Lebih Waspada

Wali Kota Malang, Sutiaji saat diwawancarai awak media, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Warga Kota Malang sempat digemparkan penangkapan terduga teroris di sebuah kos, wilayah Lowokwaru, pada Senin (23/5) lalu.

Terduga teroris berinisial IA (22) ternyata merupakan mahasiswa aktif di salah satu perguruan tinggi di Kota Malang.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Malang, Sutiaji, meminta masyarakat waspada dan lebih menguatkan pendidikan karakter masing-masing, sehingga tidak mudah terprovokasi dengan paham terorisme.

“Penguatan pendidikan karakter membuat kita tidak gampang terprovokasi. Untuk itu saya minta kewaspadaan semuanya, RT, RW dan terutama orang tua pada anak-anak,” ujarnya, Rabu (25/5).

Ia menyampaikan, untuk menuntaskan permasalahan paham terorisme tersebut, perlu dilakukan revolusi paradigma pendidikan.

“Paradigma pendidikan itu harus kita ubah tidak hanya verbalis. Dengan adanya merdeka belajar itu, anak diajak menghadapi tantangan nyata supaya tidak gampang terprovokasi,” kata dia.

Sutiaji mengatakan akan kembali menguatkan komunikasi dengan perguruan tinggi, terkait dengan pencegahan penyebaran paham terorisme.

“Akan kita kuatkan lagi komunikasi dengan perguruan tinggi, makanya harus ada kewaspadaan dari masyarakat,” tandasnya.(end)

Ketua PSSI Kota Malang Soroti Prestasi Timnas Indonesia di SEA Games: Perlu Evaluasi Mendalam

Haris Thofly (tengah). (Istimewa)

MALANGVOICE – Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Askot Malang Dr. Haris Thofly, menyoroti prestasi Timnas Indonesia di gelaran SEA Games.

Diketahui Timnas Indonesia asuhan pelatih Shin Tae Yong (STY) hanya meraih perunggu usai mampu mengalahkan Malaysia lewat adu penalti.

Haris menilai Timnas di ajang itu belum maksimal sehingga perlu ada evaluasi mendalam agar mampu mendapatkan prestasi membanggakan.

“Apalagi, STY kan sering memainkan pemain-pemain muda. Hal itu patut diapresiasi dalam rangka memunculkan bakat-bakat potensial yang bisa berkiprah di liga Eropa dan Asia,” tambahnya.

Haris, sapaan akrabnya mengatakan, pada dasarnya sepak bola usia dini Indonesia cukup membanggakan. Namun, masalahnya terletak pada proses junior ke senior. Banyak aspek yang melatarbelakangi fenomena layunya performa para pemain. Salah satunya yakni profesi sepak bola Indonesia yang belum menjanjikan untuk dijadikan mata pencaharian sehari-hari.

“Sepak bola di Indonesia memang masih belum 100% menjadi profesi yang menjanjikan dalam menyambung kehidupan. Terlebih sepak bola di Indonesia masih dalam proses menjadi sebuah industri,” ujar Pembina UKM Sepak Bola UMM itu.

Menurutnya, ada banyak tantangan yang harus dihadapi untuk membina sepak bola usia muda. Lebih lanjut, salah satu cara melatih anak -anak adalah dengan sering diajak mengikuti turnamen, terutama turnamen resmi, Karena hal itu mampu mengasah mentalitas dan teknik. “Bagi saya, yang terpenting anak usia muda minimal harus 25 kali bertanding dalam turnamen resmi” terang Dosen FH UMM itu.

Lebih lanjut, ia menilai pembinaan usia muda cukup berat. Oleh sebab itu, untuk menanganinya diperlukan pelatih yang sudah memiliki lisensi tinggi, bukan yang berlisensi rendah. Bahkan hal itu sudah diterapkan sepak bola eropa sejak lama. Baginya, dasar-dasar sepak bola harus dilakukan dan diterapkan secara benar dengan pelatih yang sudah terbukti secara akademik. Utamanya sejak usia dini.

Selain itu, juga bisa melakukan kolaborasi institusi pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Tujuannya adalah jika di tempat belajar mereka mendapatkan prasarana yang memadai, maka akan mudah untuk menemukai pemain andal.

Di samping itu, Indonesia juga harus mampu membuat kompetisi profesional yang baik. Hal itu akan berefek pada bagusnya fisik, mental, teknik dan psikis pemain muda. Lebih lanjut, PSSI seharusnya melahirkan kompetisi dari seluruh kategori usia muda.

“Tanpa adanya kompetisi bagus, tak akan ada pula pemain muda yang bagus. Salah satunya seeprti yang akan kita lakukan nanti di tanggal 17-19 Juni. Akan ada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Forum Sekolah Sepak Bola Indonesia (FOSSBI) U-12 di stadioun UMM,” tambahnya.

Haris berpesan agar pemain muda terus menagsah diri dan mencari jalan menuju sepak bola profesional. Menurutnya, mnejadi pahlawan tidak hanya saat mengusir penjajah, tapi juga mengahrumkan nama bangsa di kancah internasional.

“Saya menaruh harapan besar terhadap sepak bola Indonesia. Apalagi melihat anak-anak muda kita yang potensial dan melimpah,” pungkasnya.(der)

Akhir Tahun 2022, MLFF Gantikan E-Toll untuk Pembayaran Jalan Tol

Gerbang Tol Singosari. (istimewa)

MALANGVOICE – Akhir 2022 pemerintah akan menerapkan multi lane free flow (MLFF) sebagai alat pembayaran jalan tol yang saat ini masih menggunakan kartu tol.

Sistem baru dengan nirsentuh ini untuk meminimalisasi waktu transisi kendaraan di gerbang tol sehingga diharapkan dapat menghilangkan waktu antrean menjadi nol detik.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Danang Parikesit mengatakan, masa transisi pelaksaan MLFF akan dilakukan secara bertahap di beberapa ruas jalan tol.

Ia mengatakan, nantinya pengendara selaku pengguna jalan tol tidak perlu lagi berhenti di gerbang tol. Apalagi mengantre untuk merekam kartu uang elektronik saat melakukan pembayaran.

“Teknologi yang diterapkan pada MLFF ini menggunakan Global Navigation Satelit System (GNSS). Ini merupakan sistem yang memungkinkan melakukan transaksi melalui aplikasi di smartphone dan dibaca melalui satelit,” ujar Danang.

Sebagai informasi, nantinya perangkat yang rencananya digunakan pada transaksi nirsentuh MLFF yakni, Electronic On-Board Unit atau dikenal dengan E-OBU, dan perangkat Electronic Route Ticket.

Pengguna dapat memilih titik masuk dan keluar sesuai rute perjalanan sekali pakai.

Melalui penerapan transaksi nirsentuh MLFF memiliki manfaat sangat besar karena bisa menghilangkan waktu antrean menjadi nol detik.

Sebelumnya dengan penggunaan uang elektronik (e-Toll) juga telah mengurangi waktu transaksi maksimal 5 detik.

“Manfaat lain adalah efisiensi biaya operasi dan juga meminimalisasi bahan bakar kendaraan,” katanya lagi.

Jadi, lanjutnya, selain memudahkan pengguna jalan karena bayar tol tanpa hambatan, informatif, aman, nyaman dan berkelanjutan, juga dapat meningkatkan efisiensi pendapatan tol, serta mengurangi tingkat kemacetan pada jam-jam padat.(end)

Penyerobot Lahan Bella Vista Segera Dipolisikan

Rumah Bela Vista yang berada di belakang Gedung DPRD Kota Malang, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Pemilik rumah tua Bella Vista di Jalan Gajah Mada, Nomor 3, Kota Malang akan melaporkan seorang pria berinisial WST ke polisi atas dugaan penyerobotan lahan.

Kuasa pemilik lahan, Sagib (60) mengatakan, sebelumnya telah mencoba untuk mengingatkan terduga pelaku beberapa kali. Tapi WST ternyata tidak menghiraukan peringatan tersebut.

Dikatakan Sagib, WST mengaku memiliki hak untuk menempati lahan itu, karena mengantongi surat kuasa dari PT Kantor Tata Usaha Verluis yang berkantor di Jalan Ungaran nomor 1 Malang.

“Dia menunjukkan surat kuasa Verluis tersebut. Padahal itu surat tahun berapa. Dan para pemilik sudah memiliki bukti kepemilikan persil dengan Sertifikat Hak Milik (SHM) nomor 544 dan 545,” ujarnya, Selasa (24/5).

Bahkan, dengan berpegangan pada surat kuasa tersebut, WST diduga memanfaatkan dan mengambil keuntungan dengan cara menyewakan lahan tersebut.

“Para Pemilik tidak pernah merasa berhubungan dengan pelaku. Jika menyewakan lahan itu sama artinya dengan melakukan tindakan pungli,” kata Sagib.

Perlu diketahui, tanah berstatus Hak Guna Bangunan (HGB) yang dimiliki enam orang itu sebenarnya memiliki luas 2.065 meter persegi. Tapi karena akan di SHM-kan, maka dipecah menjadi dua persik SHM berukuran 1.864 dan 201 meter persegi tahun 2013.

Sementara itu, terkait dugaan penyerobotan lahan itu, Sagib mengaku sebenarnya sudah dipersoalkan hingga ke pihak kepolisian, hingga berbuntut pada pengusiran WST pada sekitar tahun 2013-2014.

Kemudian pada tahun 2021, terduga pelaku kembali berulah dengan membobol gembok pagar rumah yang berada di belakang Gedung DPRD Kota Malang tersebut.

“Dengan membobol gembok itu kan berarti melakukan penyerobotan. Belum lagi dia menyewakan lahan tersebut pada beberapa pemilik warung. Kita akan segera laporkan lagi ke kepolisian,” tandasnya.(der)

Mahasiswa Terduga Teroris di Kota Malang Merupakan Penggalang Dana dan Penyebar Materi ISIS

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen pol Ahmad Ramadhan saat memberikan keterangan dalam konferensi pers, (Dokumen Divisi Humas Polri).

MALANGVOICE – Seorang mahasiswa berinisial IA (22) ditangkap densus 88 di sebuah kos wilayah Lowokwaru, Kota Malang, Senin (22/5) lalu. Penangkapan itu dilakukan karena pria tersebut diduga memiliki keterlibatan dengan jaringan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen pol Ahmad Ramadhan mengklaim, penangkapan terhadap IA itu sudah disertai dengan Barang Bukti (BB) yang cukup, terkait keterlibatan tersangka dalam tindak pidana terorisme.

“Untuk menetapkan tersangka, petugas harus memiliki bukti. Alat bukti yang dimiliki densus 88 (menangkap IA) sudah cukup,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (24/5).

Ahmad pun menyampaikan, IA memiliki keterlibatan sebagai penggalang dana bagi jaringan ISIS di Indonesia. Selain itu, IA juga mengelola media sosial (Medsos) yang digunakan untuk menyebarkan materi-materi jaringan teroris ISIS.

“IA juga diketahui berkomunikasi secara intens dengan tersangka dari kelompok JAD (Jamaah Ansharud Daulah) berinisial MR yang sudah ditangkap pada awal tahun 2022, dalam rangka merencanakan Amaliah (bom bunuh diri) terhadap fasilitas umum dan kantor polisi,” Kata dia.

Kini densus 88 melakukan pendalaman secara intensif terkait keterlibatan IA dengan jaringan ISIS di Indonesia. Dalam penangkapan tersebut, petugas telah mengamankan sejumlah barang bukti dari kamar kos tersangka IA.

Sejumlah barang bukti itu meliputi, Laptop, buku, flashdisk, tiga bendera berlafadz syahadat, busur panah, pisau komando dan baju loreng mirip prajurit.(der)

508 Calon Jemaah Kota Malang Ikuti Bimbingan Manasik Haji

Wali Kota Malang, Sutiaji saat membuka kegiatan bimbingan Jamaah Haji, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang mengadakan kegiatan bimbingan manasik haji reguler tingkat kota bagi ratusan calon jemaah pada Selasa (24/5).

Bimbingan yang akan berlangsung selama enam hari ini diadakan untuk membantu calon jemaah haji tahun 2022, mempersiapkan diri dalam menjalani ibadah di Tanah Suci Mekah nantinya.

Kepala Kemenag Kota Malang, Muhtar Hazawawi mengatakan, kegiatan bimbingan bagi 508 calon jemaah haji di Kota Malang itu, dilaksanakan di tingkat kecamatan dan kota.

“Jadi haknya calon jemaah haji itu, mendapatkan bimbingan manasik haji di tingkat Kecamatan 4 kali dan tingkat kota 2 Kali. Saat ini pembukaan bimbingan di tingkat kota,” ujarnya, Selasa (24/5).

Ia menambahkan, 508 calon jemaah haji yang mengikuti bimbingan kali ini sebenarnya adalah kloter tahun 2020 yang tertunda karena pembatasan kegiatan masyarakat akibat pandemi Covid-19.

“Tahun 2022 kali ini kan baru diadakan lagi haji, jadi tahun 2020 yang tertunda kemarin diberangkatkan tahun ini, tapi hanya sekitar 50 persen. Jadi total ada 508 calon jemaah haji,” kata Muhtar.

Ratusan calon jemaah haji tersebut juga dipastikan sudah menjalani vaksinasi minigitis dan vaksinasi Covid-19 dosis dua sebagai syarat keberangkatan haji.

Sementara itu, Wali Kota Malang, Sutiaji menyampaikan rasa syukur atas kembali dibukanya pemberangkatan jemaah haji pada tahun 2022 kali ini.

“Tahun ini mulai buka (pemberangkatan jamaah haji), mudah-mudahan teman-teman jamaah diberikan kesehatan Allah SWT. Saya titip doakan masyarakat kota malang diberikan ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan,” kata dia.

Ia berpesan kepada calon jemaah haji dari Kota Malang agar senantiasa melakukan persiapan sebelum berangkat ke Tanah Suci hingga pelaksanaan ibadah haji nanti. Sehingga para jamaah dapat menunaikannya dengan khusyuk dan lancar.

“Tentu dalam menyambut panggilan Allah ke Tanah Suci yang sangat mulia, diperlukan pula kesiapan secara matang, baik dari aspek fisik maupun rohani. Tidak hanya pada saat di Tanah Suci, namun jauh hari sebelum keberangkatan hingga sekembalinya dari haji,” tandasnya.(der)