Proyek Pembangunan MCC ‘Ngotot’ Delapan Lantai, Sutiaji Klaim Didukung Presiden

Wali Kota Malang Sutiaji menghadiri dialog publik di Hotel Pelangi, Senin (18/11). (Aziz Ramadani MVoice)
Wali Kota Malang Sutiaji menghadiri dialog publik di Hotel Pelangi, Senin (18/11). (Aziz Ramadani MVoice)

MALANGVOICE– Meski menuai polemik, proyek pembangunan Malang Creative Center atau MCC jalan terus. Pemkot Malang mengklaim tidak ada masalah mengenai proyek yang dianggarkan Rp 125 miliar pada APBD tahun 2020 itu.

Hal ini ditegaskan Wali Kota Malang Sutiaji saat menghadiri dialog publik di Hotel Pelangi, Senin (18/11). Bahwa proyek MCC bakal dibangun sesuai konsep awal, yakni delapan lantai. Sebelumnya, proyek mercusuar ini dituding oleh banyak pihak hanya buang-buang anggaran. Bahkan legislatif, melalui Ketua DPRD kota Malang I Made Rian Diana menganggap proyek tersebut terkesan dipaksakan. Terlebih belum ada kejelasan mengenai pengelolaan gedung setelah dibangun.

“Saya kira ini (polemik MCC) sudah clear dan ada DED (detail engineering design),” kata Sutiaji.

Disinggung tentang rencana pimpinan DPRD Kota Malang bakal meminta Pemprov Jatim merevisi APBD Pemkot Malang tahun anggaran 2020, Sutiaji terkesan menyayangkannya. Sebab, menurutnya, selain sudah direncanakan dalam RPJMD, proyek MCC merupakan implementasi keinginan Presiden Joko Widodo.

“Bahkan Pak Jokowi menyampaikan sentral industri kreatif di Kota Malang,
Itu yang harusnya kita ditangkap,” sambung dia.

Ia menambahkan, MCC juga bukan atas inisiatif pribadinya. Sebab, ada 180 komunitas yang bergerak di dunia kreatif ikut mendorong adanya tempat untuk meningkatkan produktivitas.

“Jadi semuanya ini hasil dari permintaan komunitas, ada yang diajak bicara ada yang tidak itu wajar, tapi semua perwakilan sudah masuk,” ujar alumnus IAIN Malang ini.

Namun, ia tetap mengapresiasi banyak kritikan yang dilayangkan kepadanya.

“Memang sesuatu yang baru (akan menimbulkan) banyak reaksi,” imbuhnya.

Tentang siapa yang bakal mengelola gedung megah tersebut, Sutiaji telah mengintegrasikan OPD terkait, yakni Dinas Perindustrian. Secara teknis akan dirancang oleh OPD bersangkutan.

“Pengelolaan nanti bisa saja dibuat BLUD (Badan Layanan Umum Daerah),” jelasnya. (Hmz/Ulm)

Sempat Kejar-kejaran saat Ditangkap, Maling Motor Takluk Didor Polisi

Rilis kasus pencurian motor yang diungkap Polres Malang Kota. (deny rahmawan)
Rilis kasus pencurian motor yang diungkap Polres Malang Kota. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Aksi kawanan pelaku curanmor digagalkan unit Reskrim Polres Malang Kota. Satu pelaku ditangkap setelah dilumpuhkan karena berusaha kabur.

Pelaku, Suntra, tak berkutik setelah petugas memberikan hadiah timas panas di kakinya saat hendak ditangkap di kawasan Tlogomas, Lowokwaru, beberapa waktu lalu.

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander, mengatakan, sebelum ditangkap, pelaku sudah diberikan tembakan peringatan, namun pelaku berupaya kabur dan menedang kendaraan polisi. Sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara pelaku dengan polisi sebelum pelaku dilumpuhkan.

“Kami sempat melakukan upaya tegas terukur dengan tembakan peringatan. Akhirnya pelaku bisa ditangkap setelah dilumpuhkan kakinya,” ujar Dony, Senin (18/11).

Dijelaskan lebih lanjut, penangkapan pelaku ini berawal dari pengintaian tim di lokasi kejadian. Tepatnya di sebuah rumah di kawasan Tologomas.

“Satu pelaku menunggu di luar dan satu lagi si Suntra ini masuk ke rumah dengan merusak gembok pagar dan mencuri motor,” ujarnya.

Suntra ini bekerja selalu bersama rekannya yang kini menjadi DPO. Modusnya membobol rumah dan mencuri motor menggunakan kunci T. Aksinya ini sudah dilakukan sebanyak lima kali.

“Pelaku beraksi selalu dini hari mengincar rumah yang ada motornya. Rentang waktunya sekitar pukul 12-4 dini hari,” jelasnya.

Kini Suntra, warga Pasuruan yang bekerja sebagai pemotong kayu ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia dikenai pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

“Kami masih selidiki terus kasus ini sambil memburu pelaku lain yang DPO. Kami belum bisa mengetahui apakah ada sindikatnya,” tandas Dony.(Der/Aka)

Pengedar Pil Koplo di Kepanjen Diciduk Polisi

Pelaku Ahmad Yusuf Khoiruddin saat digelandang di Mapolres Malang. (Istimewa/Humas).
Pelaku Ahmad Yusuf Khoiruddin saat digelandang di Mapolres Malang. (Istimewa/Humas).

MALANGVOICE – Jajaran Satuan Reserse Narkoba (Sat-Reskoba) Polres Malang berhasil mengamankan seorang pengedar pil dobel L atau pil koplo, di wilayah Kepanjen pada Jumat (8/11) kemarin.

Petugas berhasil mengamankan pelaku yang bernama Ahmad Yusuf Khoiruddin (28) warga Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, di sebuah rumah di Desa Jatirejoyoso, Kepanjen.

Kasat Resnarkoba Polres Malang, AKP Anton Widodo mengatakan, sebelum mengamankan Yusuf, petugas terlebih dahulu mengamankan seorang saksi berinisial CH yang mengaku memperoleh pil koplo dari Yusuf.

“Pelaku Yusuf ini kami ditangkap saat akan mengantarkan pil dobel L ke rumah CH sebanyak 1.000 butir. Yusuf mengaku jika mendapat pil ini dari seorang yang saat ini masih dalam pengejaran petugas,” ungkapnya, saat menggelar rilis, Senin (18/11).

Berdasarkan pengakuan pelaku, lanjut Anton, pelaku Yusuf membeli pil koplo seharga Rp750 ribu per seribu butir, dan dijual kembali dengan harga Rp850 per seribu butir.

“Pelaku menjualnya tidak diecer, jadi per seribu butir itu keuntungan dia Rp 100 ribu, ngakunya baru tiga bulan. Dijualnya di sekitar Kepanjen sini,” tegasnya.

Sementara itu, dihadapan petugas, pelaku mengaku juga sebagai pengguna pil koplo tersebut, selain itu juga hanya mengedarkan pil koplo tersebut diantara rekan-rekannya saja.

“Transaksinya di Jalan Ijen, ketemu disana, ambil barangnya. Ya kenalnya pas ngopi-ngopi. Enggak, enggak ke pelajar, sama teman saja,” akunya.

Akibat perbuatannya, pria mengaku bekerja sebagai sopir angkutan barang itu bakal dijerat pasal 196 subsider pasal 197 undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.(Der/Aka)

d’Kross Beri Support dan Dukung Potensi WBP Lapas Lowokwaru

Personel d'Kross berkolaborasi dengan MakaryoMan di Lapas Kelas 1 Lowokwaru. (Istimewa)
Personel d'Kross berkolaborasi dengan MakaryoMan di Lapas Kelas 1 Lowokwaru. (Istimewa)

MALANGVOICE – Salam perdamaian bisa tersiar dari manapun. Termasuk dari tempat ‘extra ordinary’ sekalipun seperti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas/LP).

Mengusung misi tersebut, segenap awak d’Kross Community yang dipimpin langsung sang frontman; Sam Ade d’Kross, menyambangi Lapas Klas 1 Lowokwaru, Malang, Jumat (15/11) sore.

Kehadiran nawak-nawak d’Kross dan Aremania disambut hangat Kalapas Agung Gde Krisna dan jajarannya.

Yang menarik, kehadiran rombongan langsung disambut penampilan band MakaryoMan yang personelnya notabene warga binaan Lapas. Gayung bersambut, Sam Ade dan para personel band d’Kross langsung berkolaborasi nge-jam bareng MakaryoMan. Lagu ‘Kabar Damai’ pun mengalun dari dalam lapas sore itu.

“Melalui MakaryoMan, kami ingin mengabarkan kepada khalayak luas bahwa warga binaan juga memiliki potensi dan tetap mampu berkarya secara positif. Mereka bahkan telah beberapa kali melakukan show di luar dan bakal punya agenda manggung di salah satu hotel setiap malam minggu,” ujar Kalapas Klas 1 Malang, Agung Gde Krisna.

Pria asal Bali ini berharap MakaryoMan bisa diterima oleh masyarakat, begitu pula dengan warga binaan Lapas lainnya saat sudah menyelesaikan masa tahanannya nanti. Selama menjadi warga binaan, mereka telah banyak belajar agar dapat berubah menjadi lebih baik.

Harapan Agung diamini arek-arek d’Kross dengan wujud support langsung kepada MakaryoMan.

“Akan kami bantu promosikan dan supaya bisa dapat jadwal manggung rutin di luar, tentunya seizin Kalapas dan sesuai mekanisme yang berlaku,” ungkap Road Manager d’Kross, Yoga Barjog.

Dalam kesempatan tersebut, nawak Aremania dan d’Kross juga memberikan tali asih berupa beberapa peralatan musik serta sejumlah merchandise Arema.

Frontman d’Kross, Sam Ade mengatakan, tali asih dan bantuan ini merupakan salah satu bentuk dukungan bagi warga binaan agar terpacu untuk terus mengembangkan potensi dan bakat yang dimiliki.

“Saya rasa sepertinya tidak hanya MakaryoMan saja yang punya potensi. Saya yakin warga binaan di Lapas Klas I Malang ini pasti juga memiliki potensinya masing-masing. Untuk itu saya harap semua (warga binaan) tetap bersemangat untuk menggali potensi dan mengembangkan bakatnya,” seru tokoh Aremania yang juga dikenal sebagai musisi ini.

Pria yang kesehariannya menjabat Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang tersebut menegaskan, kunjungan komunitas d’Kross Aremania kali ini bukan sebatas formalitas. Lebih dari itu, hal ini merupakan wujud sambang seduluran untuk merajut tali silaturahmi dan menyampaikan kabar damai ke seantero penjuru negeri.

“Masyarakat di luar sana juga harus ingat bahwa masih ada saudara-saudara kita di dalam Lapas yang ada masanya nanti kembali ke tengah-tengah kita. Jangan dipandang sebelah mata, karena bagaimanapun mereka tetaplah saudara kita,” tandas Sam Ade d’Kross.(Der/Aka)

ACT Terus Kirimkan Bantuan ke Ratusan Warga Korban Serangan Israel

Bantuan yang dikirim ACT untuk korban di Palestina. (Istimewa)
Bantuan yang dikirim ACT untuk korban di Palestina. (Istimewa)

MALANGVOICE – Sebagian besar korban eskalasi serangan Israel ke Gaza adalah perempuan dan anak-anak. Pernyataan itu diungkapkan Menteri Kesehatan Palestina dokter Mai al-Kaila dalam pernyataan persnya, dilansir dari International Middle East Media Center.

Kondisi terkini, lebih dari 70 kali serangan dan pemboman yang menyasar warga Palestina di Gaza. 34 orang tewas dan 120 orang terluka. Di antara 34 orang yang tewas, ada 8 orang anak-anak dan 3 orang wanita.

Hal ini adalah sebuah fakta mengerikan, bahwa apa yang dilakukan Israel adalah kejahatan serius, kejahatan terencana. Dengan kondisi yang ada, pihak-pihak kemanusiaan internasional semestinya tidak tinggal diam, salah satunya lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Khodor Aldaraj, peneliti soal konflik di Gaza menggambarkan soal penjajahan yang sangat mempersulit masyarakat di Gaza. Warga yang tinggal, tidak diperbolehkan membawa masuk barang apa pun, termasuk perlengkapan medis. Dengan serangan ini, makin lengkap penderitaan warga setempat akibat kekurangan alat medis dan obat-obatan.

“Jadi, kita harus membantu dan mendukung mereka agar mereka dapat merasa tenang, atau paling tidak merasa memiliki sesuatu yang dapat mendukung mereka. Situasi di Gaza sangat buruk saat ini. Orang- orang memenuhi jalanan di Gaza, tanpa rumah atau tempat bernaung. Pemboman masih terjadi, banyak orang tewas, serta banyak yang kehilangan rumah,” kata Khodor.

Sejumlah korban yang terluka pun masih mendapat perawatan medis dari tim ACT. “Sejak serangan terjadi pada Selasa (12/11), relawan dan mitra ACT di Gaza terus bergerak turut memberikan dukungan medis. Saat ini salah satunya adalah bantuan kruk dan kursi roda,” jelas Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) – ACT.

Selain bantuan medis, ACT juga memberikan bantuan peralatan rumah tangga untuk korban yang rumahnya mengalami kerusakan serangan. “Kami masih terus memberikan pelayanan kepada para korban. Di samping bantuan pascaserangan, ACT juga masih menjalankan program bantuan pangan bagi penduduk Gaza,” terang Faradiba.

Hingga saat ini, bantuan penyediaan Bank Darah yang diinisiasi ACT juga dimanfaatkan untuk warga Gaza yang menjadi korban serangan. Kolaborasi ACT dengan Central Blood Association di Khan Younis Gaza, tersedia di banyak titik di jalur Gaza, seperti di universitas, di masjid, dan di tempat umum lainnya. S

Sejak September lalu, ACT telah menargetkan kesediaan 1.000 kantong darah untuk menyuplai kebutuhan pasien-pasien di Gaza. Hingga Desember nanti, 1.000 kantong darah ditargetkan mampu memenuhi jumlah kebutuhan darah di Gaza.

Aksi Cepat Tanggap terus mengajak masyarakat dermawan untuk bersama membantu warga terdampak konflik kemanusiaan di Palestina. Sahabat Dermawan dapat berdonasi langsung melalui tautan www.indonesiadermawan.id/PalestineUnderAttack.(Der/Aka)

Hasil Konsultasi Kemendagri, Dewan ‘Kepras’ Pembangunan Gedung MCC Jadi Dua Lantai

Ketua DPRD Kota Malang, I Made Rian Diana Kartika. (Doc.Kantor).
Ketua DPRD Kota Malang, I Made Rian Diana Kartika. (Doc.Kantor).

MALANGVOICE – Pembangunan gedung Malang Creative Center (MCC) diprediksi tak sesuai rencana awal. Semula bakal dibangun delapan lantai, kekinian proyek pembangunan rumah bagi pelaku industri kreatif itu hanya jadi dua lantai.

Hal ini diungkapkan Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian Diana. Bahwa rencana pembangunan yang telah diproyeksikan pada APBD Pemkot Malang tahun anggaran 2020 tersebut diupayakan agar dievaluasi (direvisi) melalui Pemprov Jatim.

“Jadi kita itu masih ada waktu untuk evaluasi anggaran, dan ternyata KUA- PPAS itu tidak baku,” kata Made dihubungi MVoice, Jumat (15/11).

Hal itu, lanjut dia, juga telah dikonsultasikan langsung kepada Kabag Keuangan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin lalu (11/11).

“Tiga jam kami (pimpinan DPRD kota Malang) konsultasi. Kami juga mengajak Pak Wasto (Sekretaris Daerah Kota Malang),” sambung dia.

Seperti diberitakan, MCC menuai polemik, sebab DPRD Kota Malang periode 2019 -2024 menilai proyek mercusuar Wali Kota Malang Sutiaji itu dikhawatirkan hanya buang -buang anggaran. Sebab nilainya fantastis mencapai Rp 125 miliar (setelah revisi KUA PPAS TA 2020). Semula, proyek pembangunan yang bakal dilakukan di bekas kantor PDAM Kota Malang itu dianggarkan Rp 185 miliar.

“Jadi sewaktu di Kemendagri terkuak DED (detail engineering design) MCC belum selesai sehingga anggaran bisa ditekan (dikurangi). Maka Kami usulkan dua atau tiga lantai saja, bukan delapan lantai,” urai Politisi PDI Perjuangan ini.

Perombakan total rencana pembangunan MCC bukan tanpa dasar. Made menyoroti urgensi proyek tersebut. Terlebih soal siapa yang mengelola gedung dengan anggaran fantastis itu masih belum jelas.

“Kalau delapan lantai yang mengelola siapa? Dijawab (Pemkot Malang) katanya bahasan lain, setelah gedung berdiri baru bahas pengelolaan, lah itu yang kita nggak mau,” ujarnya.

“Berarti perencanaan mereka yang lemah. Kan kita gak mau kayak gitu,” imbuh Made.

Usulan revisi APBD tahun anggaran 2020, masih kata Made, beserta hasil konsultasi dengan Kemendagri bakal diteruskan kepada Pemprov Jatim, Senin pekan depan (18/11).

“Senin ke Provinsi ke Bagian Keuangan, pimpinan dan Banggar,” tutupnya. (Der/Ulm)

Terinspirasi dari Wanita Modern, Yeti Topiah Kenalkan Koleksinya di Malang Fashion Week 2019

istimewa.
istimewa.

MALANGVOICE – Indonesia merupakan negara multi budaya yang memiliki mayoritas umat muslim. Nah, saat ini tren fesyen di Indonesia turut mengikuti tren busana muslim. Adapun empat gaya busana muslim yang ada di Indonesia, yakni Syar’i Konvensional, Syar’i Modern, Modest Konvensional, dan Modest Modern.

Lantas dari empat tren inilah yang membuat desainer asal Malang, Yeti Topiah turut mengeluarkan karyanya yang berkolaborasi dengan Batik Pandan Arum pada Malang Fashion Week 2019 beberapa waktu lalu.

Yeti mengatakan, untuk koleksinya yang dinamakan Burodame terinspirasi dari wanita kantoran yang identik dengan wanita modern.

“Untuk warna saya terinspirasi dari warna batik pandan arum seperti biru, coklat dan hijau. Dan kami mengeluarkan delapan outfit,” katanya kepada MVoice, Kamis (14/11).

Hasil karya fesyen Yeti ini sangat cocok untuk milenial khususnya para wanita muda. Bahkan karya yang berkonsep ready to wear formal ini juga sangat pas dikenakan saat mengikuti rapat atau kegiatan formal lainnya.

“Karena ada outer dan dress dan dipadupadakan dengan batik, jadi terlihat sangat formal. Saya harap, tahun depan bisa menghasilkan karya-karya yang lebih menarik lagi,” tandasnya. (Der/Ulm)

Kurang Dua Hari Lagi, WP Diimbau Segera Manfaatkan Program Sunset Policy IV

Kepala BP2D Pemkot Malang Ir Ade Herawanto bersama jajaran saat launching Sunset Policy IV di Stadion Gajayana, 17 Agustus 2019. (Istimewa)
Kepala BP2D Pemkot Malang Ir Ade Herawanto bersama jajaran saat launching Sunset Policy IV di Stadion Gajayana, 17 Agustus 2019. (Istimewa)

MALANGVOICE – Sisa waktu efektif dua hari lagi sebelum program Sunset Policy IV berakhir pada 17 November 2019. Para WP diimbau memanfaatkan program ‘pemutihan’ denda Pajak Bumi & Bangunan (PBB) Perkotaan tersebut.

Dari data yang didapat dari Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Pemkot Malang, hingga pekan ini sudah ada 5.095 WP yang memanfaatkan program tersebut dengan nilai realisasinya mencapai Rp3,47 miliar.

“Segera manfaatkan waktu yang tersisa ini untuk menyelesaikan kewajiban pajak khususnya PBB,” imbau Kabid Penagihan dan Pemeriksaan BP2D Pemkot Malang, Dwi Cahyo TY, Rabu (13/11).

Dengan memanfaatkan program Sunset Policy, para WP PBB Perkotaan mendapat keringanan berupa penghapusan sanksi administrasi atau denda atas keterlambatan pelunasan PBB yang belum terbayar sejak tahun 1990’an hingga kurun waktu 2019.

Apabila melewati program Sunset Policy IV ini, para WP yang terlambat mengurus pembayaran akan dikenai denda 2 persen setiap bulan.

Cahyo menambahkan, proses pembayaran pajak dalam program ini sangat mudah. Para WP bisa datang langsung ke Bank Jatim dengan membawa SPPT PBB tahun ini atau boleh juga tahun sebelumnya. Data kemudian langsung diinput oleh petugas di lokasi pembayaran.

“Ini sudah otomatis ke semua Bank Jatim. Cuma menunjukkan Nop ke Bank Jatim itu langsung dihapus dendanya,” ujarnya.

Ke depan, BP2D berupaya agar program Sunset Policy ke depan tidak hanya meliputi penghapusan denda PBB semata, tapi juga berlaku untuk pajak daerah lainnya.

“Kami telah mengkaji dan sedang mematangkan Perda supaya Sunset Policy ke depan juga berlaku untuk pajak daerah lainnya selain PBB. Komunikasi intensif dilakukan dengan pihak provinsi dan menunggu keputusan Gubernur Jatim,” beber Kepala BP2D Kota Malang, Ir H Ade Herawanto MT.

Sunset Policy ini juga memberi kesadaran baru pada masyarakat supaya mereka tidak perlu menutupi atau merahasiakan kepemilikan asetnya dari jangkauan instansi pajak. Karena pada akhirnya, jumlah pembayaran akan terakumulasi berikut dendanya.

“Dengan begitu, jika selama ini masih banyak WP yang tidak terpantau alamat dan objek pajaknya, maka sekarang dapat terlacak sehingga di tahun-tahun berikutnya mereka akan menjadi WP yang aktif dan taat pajak,” papar Sam Ade d’Kross, sapaan akrab Kepala BP2D.(Der/Aka)

Direktur PT SIMC Tertemukan, Nasib Mal Alun – Alun Mulai Ada Titik Terang

Mall Alun-Alun (Ramayana). (Aziz Ramadani/MVoice)
Mall Alun-Alun (Ramayana). (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – Keberadaan pengelola Mal Alun-alun atau dikenal Mal Ramayana, PT Sadean Intra Mitra Corporation (SIMC) menemui titik terang. Ini setelah tim khusus Pemkot Malang meminta dukungan Kementerian Hukum dan HAM.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang Wasto. Dikatakannya, Direktur PT SIMC bernama Daryono telah diketahui keberadaannya, namun yang bersangkutan sakit.

“Kemarin bagian hukum sudah ke Jakarta dan kami sudah menemukan direkturnya (PT SIMC). Ternyata direkturnya sakit stroke dan untuk berbuat hukum agak kesulitan,” ujar Wasto, Rabu (13/11).

Ia melanjutkan, akibat kondisi direktur PT SIMC tidak memungkinkan untuk melalui proses penuntasan prosedur hukum dan administratif terkait berakhirnya masa kontrak Mal Alun-Alun, maka terlebih dahulu harus dialihkan (dikuasakan) kepada istri yang bersangkutan. PT SIMC berkomitmen bakal mengurus berkas-berkas pemindahan surat kuasa untuk penyerahan aset.

“Sehingga akan membuat surat kuasa kepada istrinya untuk hukumnya dalam rangka penyerahan gedung itu,” sambung Wasto.

“Janjinya dalam seminggu ini akan mencari notaris untuk pembuatan surat kuasa dari direktur kepada istrinya. Setelah itu, nanti proses administrasi penyerahan,” tutupnya.(Der/Aka)

Tim Polda Jatim Nyatakan KTL Kota Malang Sudah Bagus

Tim penilai lomba KTL di Kota Malang memberi pemaparan kepada anggota Satlantas Polres Malang Kota. (deny rahmawan)
Tim penilai lomba KTL di Kota Malang memberi pemaparan kepada anggota Satlantas Polres Malang Kota. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Kawasan Tertib Lalu Lintas (KTL) di Kota Malang dinyatakan sudah bagus. Hal itu disampaikan tim juri lomba KTL Polda Jatim, Rabu (13/11).

Inspeksi dilakukan bersama tim gabungan, mulai akademisi, Dishub dan Dinas PU Pemprov Jatim, bersama jajaran Lantas Polres Malang Kota di KTL. Wakil Ketua Tim Juri lomba KTL Dirlantas Polda Jatim, Kompol Sri Kusminawati, menyatakan, ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam lomba KTL tahun ini.

“Lomba KTL ini bagaimana mencoba menggali aspek manajemen, administrasi, infrastruktur, dan SDM. Dari sini nanti diketahui apa yg diperkuat lagi agar lebih bagus,” katanya.

Meski terbilang cukup bagus, KTL di Kota Malang hanya kurang beberapa kelengkapan. Terpenting adalah adanya peta khusus. Hal itu, dikatakan Sri Kusminawati, bisa jadi sebagai sosialisasi ke masyarakat.

Diketahui Kota Malang banyak sekali pendatang dari luar kota. Ini terjadi karena sektor pariwisata dan pendidikan. Sehingga dengan adanya peta di tempat tertentu bisa menunjukkan mana kawasan tertib berlalu lintas.

“Harapannya masyarakat Malang bisa tertib di lalu lintas. Apalagi denda tilang di KTL ini lebih tinggi daripada status jalan lain,” ujarnya.

Meski begitu, ia menginginkan sinergitas antara polisi dan pemerintah daerah setempat agar sarana dan prasarana yang mendukung KTL bisa lebih baik.

“Kalau mau tertib masyarakat harus tahu dulu mana kawasan KTL. Kami juga ada misi pembinaan, apalagi di Jatim banyak yang mendapat predikat WTN,” jelasnya.

Sementara itu Kasat Lantas Polres Malang Kota, AKP Ari Galang Saputra, mengatakan, KTL akan ditambah untuk meningkatkan ketertiban masyarakat dalam berlalu lintas.

“Ada beberapa perbedaan perlakukan ya, atas identitas jalan. Kalau terjadi pelanggaran di jalur KTL, tentu berbeda sanksi dendanya dibanding jalur yang lain. Karenanya, kedepan diharapkan semuanya bisa tertip dalam berlalu lintas. Dengan perlombaan ini, secara bertahap jumlah.KTL akan semakin dierluas,” tandas Kasat Lantas.(Der/Aka)

Komunitas