Awal Tahun, Kota Batu Sudah Disambut 33 Bencana

Longsor di Desa Tlekung (Aan)

MALANGVOICE – Baru masuk tahun 2021 sudah ada 33 peristiwa bencana di Kota Batu pada bulan januari. Tanah longsor menjadi musibah yang paling banyak terjadi.

Hal ini disebabkan pada bulan Januari hingga Februari ini musim hujan telah mencapai puncak-puncaknya. Musim hujan kali ini curah hujan harian di Kota Batu bisa mencapai 300-500 milimeter.

Sampai tanggal 18 Januari, Kasi Logistik dan Kedaruraran BPBD Kota Batu, Achmad Choirul Rochim secara detail bencana yang terjadi di Kota Batu. Yakni 24 kali longsor, 3 kejadian plengsengan ambrol dan banjir luapan sebanyak 4 kali.

Beberapa dampak harus dirasakan masyarakat Kota Batu, mulai dari plengsengan ambrol, rumah rusak, hingga drainase rusak. “Secara material seluruh kerugian diperkirakan mencapai Rp 1,6 miliar,” ujar Rochim.

Anggaran sebesar Rp 2,9 miliar harus dikucurkan untuk menanggulangi dampak bencana itu. Anggaran itu diambil dari anggaran belanja tak terduga (BTT) yang pada tahun 2021 ini sebesar Rp 10,8 miliar.

Bencana tanah longsor di Kota Batu ini memang sering terjadi. Pada bulan Desember tahun 2020 BPBD mencatat ada 25 bencana longsor terjadi. Tidak ada korban jiwa akibat bencana itu.

Untuk menghindari adanya korban akibat bencana yang terjadi. BPBD Kota Batu melakukan tindakan kesiapsiagaan dengan menargetkan 15 unit pemasangan alat early warning system (EWS) pendeteksi tanah longsor.

Sementara itu, ditambahkan oleh Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu untuk mengantisipasi adanya korban ketika terjadi bencana longsor. BPBD Kota Batu tahun ini menganggarkan enam alat EWS.

Saat ini Kota Batu telah memiliki empat unit EWS. Sedangkan untuk kebutuhan 15 unit. Artinya BPBD masih membutuhkan sembilan alat pendeteksi longsor.

“Karena itu kami mengajukan enam alat pendeteksi longsor tahun 2021. Pengadaan dilakukan secara bertahap. Enam alat tersebut nantinya akan dipasang di pada desa/kelurahan yang rawan terjadi longsor. Seperti permukiman yang disekitarnya terdapat daerah lereng,” bebernya.

BPBD memetakan beberapa daerah yang rawan longsor seperti di Kecamatan Bumiaji meliputi Desa Sumber Brantas, Tulungrejo, Gunungsari, Sumbergondo. Selain itu, satu titik berada di kawasan payung, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu.

“Alat ini nantinya akan mengidentifikasi pergerakan tanah yang dideteksi oleh kabel baja ekstensometer. Sehingga ketika ada pergeseran tanah, alarm akan berbunyi,” ungkapnya.

Untuk harga per unit EWS membutuhkan anggaran sekitar Rp 110 juta. Dengan rincian ekstensometer sekitar Rp 55 juta dan warning sistemnya sekitar Rp 47 juta.(der)

Dewan Harapkan Pemkot Batu Serius Tangani Bencana Longsor dan Banjir

Wali kota Batu, Dewanti Rumpoko tinjau daerah rawan banjir (Aan)

MALANGVOICE – Letak geografis Kota Batu yang di bawah lereng pegunungan membuat Kota ini rawan terkena bencana longsor. Hal itu dikarenakan banyak wilayah di Kota Batu yang dalam keadaan miring.

Dalam satu hari, Senin (18/01) telah terjadi dua bencana longsor. Yakni di kawasan Wisata Payung yang sempat menghambat akses jalan selama berjam-jam dan juga di Desa Tlekung.

Hal ini dipertanyakan oleh Anggota Komisi C DPRD Kota Batu, Sudjono Joenet mengapa banyak terjadi bencana longsor.

Sudjono Joenet meminta agar Pemkot Batu betul-betul serius menangani persoalan sampah dan sistem jaringan drainase di Kota Batu. Katanya, persoalan sampah dan jaringan drainase di Kota Batu belum digarap secara baik. Bencana banjir dan longsor diduga kuat terjadi karena dua persoalan tersebut.

“Sebenarnya apa yang terjadi di atas sana? Kan seharusnya Sungai Brantas itu bisa dimanfaatkan sebagai muara drainase, namun hal itu tidak dilakukan. Padahal Sungai Brantas itu bisa menampung ribuan kubik aliran air,” paparnya.

Dengan begitu longsor dan banjir dapat diminimalisir. Ia menambahkan bahwa Kota Batu ini adalah Kota Wisata yang seharusnya terhindar dari banjir. “Seharusnya sebagai Kota Pariwisata harus aman dari bencana semacam banjir,” bebernya.

Namun berdasarkan pengamatannya ketika hujan deras tiba di Pusat Kota seperti Kelurahan Sisir selalu disusul banjir. Ia mengatakan bahwa diperlukan sistem drainase yang cermat karena tanpa hal itu akan selalu terjadi banjir.

Ia mengatakan bahwa Pemkot Batu harus seris menangani hal ini. Dikarenakan jika ditarik 10 tahun kebelakang hal ini tidak terjadi. Pembukaan lahan untuk alih fungsi banyak memapas ruang hijau Kota Batu sehingga dampaknya bisa dirasakan sekarang.

“Akhir-akhir ini sering terjadi banjir-banjir kiriman. Artinya ada PR untuk melihat keadaan terkini di bagian utara yang berada di ketinggian. Ada kegiatan apa di bagian atas kok sampai meluber ke bawah?” urai Djonet.

Sementara itu, Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko sudah melalukan peninjauan di beberapa titik lokasi bencana alam. Seperti pada akhir pekan lalu ia meninjau aliran kali di Dusun Beru, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji.

Juga datang langsung ke lokasi longsor di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Tinjauan itu dilakukan untuk mengetahui duduk perkara bencana alam yang terjadi di Kota Batu.

Sepekan sebelumnya, aliran kali yang terletak di Dusun Beru meluap karena tak menampung air saat hujan deras mengguyur. Luapan air juga menggerus plengsengan teknis pembatas sungai dengan dimensi panjang 2,4 meter, lebar 30 centimeter dan tinggi 95 centimeter.

Ambrolnya plengsengan itu membuat material lumpur yang terbawa arus menutup badan jalan bahkan masuk hingga ke pemukiman warga. “Ya sangat membahayakan dan mengganggu sekali karena banjir. Batu-batunya menggunung,” kata Dewanti.

Sumbatan-sumbatan di aliran kali tersebut dibersihkan secara manual karena alat berat tak bisa menjangkau. Jikapun dibersihkan dengan alat berat harus diawali lebih dulu dengan membongkar jembatan beton.

Dewanti juga menawarkan relokasi terhadap puluhan warga yang rumahnya rawan terbawa longsor di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Batu. Tawaran itu disampaikan Dewanti kepada warga setelah sebelumnya melihat langsung kondisi rumah yang berada dekat dengan patahan longsor.(der)

Longsor Akibatkan Hambatan Akses Jalan Selama 3,5 Jam di Kawasan Payung

Proses evakuasi jalan oleh BPBD Kota Batu (Istimewa)

MALANGVOICE – Bencana alam longsor terjadi di Jalan Brigjen Moh Mana, kawasan wisata Payung, Kota Batu. Longsor itu terjadi pada pukul 2.30 WIB, Senin (18/01) akibat hujan deras semalaman.

Hal itu dibenarkan Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Kota Batu, Achmad Choirul Rochim yang mengatakan bahwa longsor itu terjadi akibat hujan deras semalaman. Ia mengatakan pada hari Minggu (17/01) hujan deras terjadi secara merata di Kota Batu.

“Hujan deras merata di Kota Batu mengakibatkan tebing jenuh dan terjadi longsor dengan dimensi panjang 5 m, lebar 3 m dan tinggi 7 m,” kata dia, Senin (18/01). Ia menambahkan bahwa pohon dan rumpun bambu di tebing ikut terbawa longsor.

Akibat bencana itu akses jalan sempat terhenti. Pasalnya material longsor seperti tanah bercampur batu menutup sebagian jalan.

Pengendara yang lewat jalan itu sempat terhambat. Mereka menunggu hingga evakuasi dan pembersihan jalan selesai.

Evakuasi itu selesai pada hari Senin pukul 6.00 WIB. Setelah itu kendaeaan baru bisa melintasi jalan itu kembali.(der)

Kejayaan Apel di Kota Batu Sudah di Ujung Tanduk

Petani apel asal Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menunjukan apelnya yang terkena mata ayam (Aan)

MALANGVOICE – Branding Kota Batu sebagai Kota Apel kali ini bagaikan fatamorgana belaka. Pasalnya sudah tiga tahun ini petani apel merugi tanpa solusi yang jelas.

Branding Kota Apel ini dirasa oleh petani apel di Kota Batu tidak sejalan dengan perhatian Pemkot Batu kepada mutu kualitas apel serta kesejahteraan petani apel. Bahkan menurut Petani dan Tengkulak Apel asal Desa Bulukerto, Kecamatan Bumjaji, Usman Hudi, kejayaan apel di Kota Batu hanya sampai tahun depan saja.

“Sudah tiga tahun ini kami mengalami kerugian dan tidak ada interfensi Pemkot Batu,” ujar Usman yang memiliki kebun apel seluas 5 hektare dengan sekitar 5000 pohon, Senin (18/01). Kerugian ini disebabkan penyakit pada buah apel bernama tutul mata ayam.

Penyakit ini dikatakan Usman berasal dari bakteri yang dibawa oleh lalat buah. Usman telah berusaha untuk mengentaskan penyakit ini namun tidak dapat menuai keberhasilan.

Usaha seperti memberi berbagai macam obat tidak membuahkan hasil. Menurut Usman, seluruh petani apel di Kota Batu mengalami prahara semacam ini dan mengalami kerugian besar-besaran.

“Semua apel saya kena penyakit itu sehingga buahnya tidak bisa dijual,” jelasnya. Usman mengatakan, setiap panen dirinya harus membuang 80 persen hasil panennya karena tak layak jual akibat penyakit tersebut.

“Jadi yang bisa dijual hanya 20 persen, itupun harganya cuma Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu per kilo,” keluhnya. Sebelum penyakit ini ada, Usman dapat menjual apelnya seharga Rp 7 ribu keatas.

Satu pohonnya, Usman membutuhkan modal sebesar Rp 90 ribu untuk biaya perawatan. Sedangkan keuntungan yang ia dapatkan di satu pohon hanya mencapai Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu.

Usaha yang dilakukan Usman agar tidak terlalu merugi ialah memproduksi kripik apel sebagai oleh-oleh khas Kota Batu. Namun karena pandemi ini penjualannya tidak seberapa membantu.

Dengan adanya penyakit ini dan kerugian yang dialami petani apel selam tiga tahun serta tidak ada perhatian dari Pemkot Batu, kejayaan apel di Kota Batu akan mengalami kepunahan.

“Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Batu tidak pernah turun ke lapangan. Kita juga tidak pernah dibantu untuk mencari solusi. Jadi ya apel di Kota Batu akan mengalami kepunahan,” tegasnya.

Selain itu, petani apel dari tempat yang sama Abdul Muhammad Rokhim mengatakan dirinya sampai terlilit hutang hingga ratusan juta akibat selalu merugi tiga tahun belakangan.

“Kondisi apel di Kota Batu, ngguling, hancur terkena cuaca ekstrem dan harga pasar yang anjlok,” jelasnya. Biasanya dirinya dapat memanen 20 ton dari kebunnya yang seluas 2 hektare.

Namun saat ini ia mengatakan bahwa dapat memanen 2 ton saja sudah untung. “Untung seperempat saja sekarang sudah bagus,” kata dia.

Ia berpasrah dengan keadaan seperti ini karena hanya pekerjaan ini yang dapat ia lakukan. Abdul hanya bisa mengambil kesempatan untuk beralih untuk menanam jeruk.

“Namun jeruk itu panennya setahun hanya sekali, dan masa umur pohonnya singkat hanya delapan sampai sepuluh tahun,” katanya.

Sedangkan apel, menurutnya adalah pohon yang paling enak untuk dijagakan sebagai penghasilan utama. Usia yang lama sampai 25 tahun juga panen dua kali setahun menjadi keuntungan utama memiliki kebun apel.

“Tapi ya bagaimana, sudah tiga tahun ini kami mengalami kerugian. Jadi ya harus beralih ke jeruk. Kebun yang diatas ketinggian 1000 mdpl kami ganti apel semuanya,” tandasnya.(der)

Hujan Akan Melanda hingga Februari, Masyarakat Diimbau Waspada

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang, Retno Wulandari (Aan)

MALANGVOICE – Hujan yang melanda hampir setiap hari membuat berbagai sektor kalang kabut. Para petani mengeluh tentang sulitnya perawatan tanaman maupun destinasi wisata yang mengalami penyusutan wisatawan.

Namun, cuaca ektrem seperti ini masih akan terjadi hingga akhir bulan Februari atau awal Maret. “Selain dampak dari fenomena la nina, memang normalnya puncak musim hujan terjadi pada bulan-bulan ini. Apalagi di wilayah dengan topografi tinggi,” ujar Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang, Retno Wulandari.

Dengan curah hujan tinggi potensi bencana yang ada pun juga turut mengancam. Hujan lebat disertai petir, banjir dan tanah longsor contohnya.

“Kami himbau seluruh masyarakat untuk selalu siap siaga. Tetap memantau update terbaru dari BMKG agar mengetahui situasi yang sedang terjadi juga jalan keluar,” ucapnya.

Adanya awan dimusim hujan yang menghalangi radiasi dari luar angkasa ke bumi juga menyebabkan udara dingin terjadi belakangan ini. Rata-rata suhu yang ada di Malang raya beberapa hari kebelakang berkisar dari 20 sampai 21 derajat celcius.

“Ini bukan yang terdingin, suhu malam hari pada musim kemarau lebih dingin. Karena tidak adanya awan yang menutupi bumi menyebabkan radiasi terjadi dengan maksimal,” jelasnya. Hal tersebut normalnya terjadi pada bulan Juli dan Agustus.

Lebih lanjut ia mengatakan pihaknya akan mengadakan rapat pada bulan depan untuk mengetahui kapan beralihnya musim hujan ke kemarau. Rilis hasil segera dipublikasikan di akhir Februari atau awal Maret.

“Untuk para petani yang kesusahan karena hujan mengganggu pertanian, bisa terus memantau update dari kami. Karena disana ada perkiraan jam turun hujan berbasis per-kecamatan seluruh Malang Raya,” tutupnya.(der)

Dinkes Kota Batu Siap Lakukan Vaksinasi, Tinggal Tunggu Distribusi

Simulasi Vaksinasi di RS Baptis (Aan)

MALANGVOICE – Pada tahap pertama vaksinasi, Kota Batu akan memiliki 76 tenaga vaksinator yang telah terverifikasi. Seiring berjalannya waktu jumlah itu akan terus ditingkatkan untuk menunjang layanan vaksinasi di Kota Batu di sembilan fasilitas kesehatan.

Sembilan faskes yang ditunjuk sebagai penyedia layanan vaksinasi di antaranya RS Karsa Husada, RS Hasta Brata, RS Etty Asharto, dan RS Baptis. Serta lima puskesmas di Kota Batu. Dijadwalkan vaksinasi di Kota Batu akan dilakukan pada Februari nanti.

Kepala Dinkes Kota Batu, Kartika Trisulandari mengatakan, pihaknya juga menyiapkan tim Komisariat Daerah Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (Komda KIPI). Komda KIPI terdiri dari dokter spesialis untuk menangani keluhan kejadian pasca imunisasi.

Ia juga menjelaskan, dalam setiap vaksinasi tak jarang bisa menimbulkan efek samping. Yang biasanya disebut dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). “Jadi setiap ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh kita. Terkadang bisa menimbulkan reaksi-reaksi tertentu dari setiap individu yang berbeda,” ungkapnya.

Untuk kejadian KIPI yang paling banyak timbul ini contohnya seperti demam, kemudian juga terjadi pembengkakan di sekitar area penyuntikan. Namun untuk jenis vaksin yang digunakan ini, berdasarkan uji klinis tahap tiga beberapa waktu lalu. Tidak ada laporan efek samping yang berat.

“Untuk meningkatkan keamanan, di Kota Batu juga telah membentuk Kopda (Komisariat Daerah) untuk penanganan KIPI. Berisi dokter-dokter spesialis. Yang akan menangani pasien-pasien jika setelah dilakukan vaksinasi mengalami kejadian yang tak diinginkan,” papar dia.

Ia berharap, di Kota Batu tak ada yang melakukan penolakan terhadap program vaksinasi ini. Karena program itu adalah program dari pemerintah. Yang mana harus dipatuhi, demi kebaikan bersama.

Prioritas utama dalam program vaksinasi ini adalah masyarakat yang berusia 18-59 tahun. Seperti yang dijelaskan oleh Kartika pemilihan usia itu berdasarkan range usia yang merupakan memiliki jumlah populasi terbesar.

“Dengan dilakukannya vaksinasi pada komunitas sebesar itu. Kami berharap kekebalan tubuh bisa terbentuk. Sehingga bisa saling melindungi antar setiap kelompok,” katanya.

Diketahui untuk program vaksinasi pada Februari nanti, Kota Batu mendapat 1680 ampul vaksin. Pemberian vaksin akan dilakukan dua kali dengan interval waktu 14 hari dari penyuntikan pertama. Sebanyak 1662 ampul vaksin dibagikan kepada 840 nakes. Sedangkan 10 ampul vaksin diberikan kepada lima pejabat forkompimda.

Menyambut pelaksanaan vaksinasi, terlebih dulu dilakukan simulasi yang digelar di Rumah Sakit Baptis Kota Batu pada Rabu lalu (13/01). Simulasi ini untuk memastikan kesiapan di Kota Batu.

Dalam pelaksanaan vaksinasi, BPJS Kesehatan diberi amanat untuk melakukan pendataan penerima vaksin melalui aplikasi P-Care (Primary Care). Pendataan itu meliputi daftar penerima, skrining hingga penerbitan kartu vaksin.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Komisariat Kota Batu, dr Susana Indahwati menjelaskan alur dari vaksinasi Covid-19. Tahap pertama, penerima vaksin harus melakukan registrasi.

“Sebelum melakukan vaksinasi. Teman-teman dan masyarakat akan mendapatkan SMS dari KPC PEN. Setelah mendapat SMS itu, selanjutnya diwajibkan untuk menunjukkan SMS itu sebagai e-ticket vaksinasi,” ujarnya.

Diwajibkannya menunjukkan SMS itu bertujuan agar petugas dapat memastikan. Apakah orang tersebut benar-benar terdata dalam sasaran vaksinasi. Setelah registrasi, kemudian dilanjutkan menuju proses screening.

“Disitu masyarakat akan dilihat kondisi kesehatannya apakah bisa dilakukan vaksinasi atau tidak. Setelah screening selanjutnya diarahkan langsung pada tahap imunisasi,” jelas Susan.

Pada tahap itu, kata dia, akan dilakukan pemantauan suhu vaksin. Jadi vaksin yang akan diberikan adalah vaksin yang betul dan telah memenuhi standar suhu. Yang telah disyaratkan, yakni bersuhu sekitar 2-8 derajat. “Setelah dari tahap imunisasi, selanjutnya masyarakat yang sudah dilakukan vaksinasi akan diarahkan ke meja 4 atau di area 4,” jelasnya.

Di lokasi itu pasien akan dilakukan monitoring dan observasi selama 30 menit. Hal itu bertujuan untuk melihat apakah akan timbul efek samping atau tidak pasca dilakukan vaksinasi.

“Sementara itu untuk satu kali pelayanan vaksinasi akan memakan waktu kurang lebih 40 sampai 45 menit. Ini karena proses monitoringnya saja telah memakan waktu 30 menit,” terang dia.(der)

Pendataan Pasien Covid-19 di Kota Batu Berbeda-beda, Ini Alasannya

Kepala Dinkes Kota Batu, Kartika Trisulandari (Istimewa)

MALANGVOICE – Kota Batu dinilai salah satu Kota di Jawa Timur yang persebaran covid-19 begitu pesat. Pasalnya hingga saat ini Kota Batu belum pernah menyentuh zona hijau.

Tingginya angka penularan Covid-19 di Kota Batu karena perbedaan metode perhitungan. Kepala Dinkes Kota Batu, Kartika Trisulandari mengatakan untuk mengukur reproduksi efektif digunakan beberapa macam perhitungan.

Komponen perhitungan yang digunakan Dinkes Kota Batu hanya memasukkan data terkonfirmasi positif saja. Sedangkan Satgas Covid-19 Provinsi Jawa Timur menggunakan metode bonza.

Metode Bonza ini tak hanya menghitung angka terkonfirmasi positif saja. Namun juga menginput angka suspek, probable, diisiolasi, dan discarded.

“Itu yang membuat perbedaan perhitungan di Kota Batu. Metodenya berbeda dan komponennya juga berbeda,” terang Kartika.

Ia mengatakan, sekalipun tingkat penularannya di bawah angka 1 ataupun 2, persebaran Covid-19 masih masif. Ia meminta masyarakat mematuhi 3M dan 3T ditambah pula dengan program vaksinasi sebagai kunci penting.

“Jadi kolaborasinya itu,” timpal dia.

Sementara itu, Wali kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan laju transmisi yang cepat karena laporan dari rumah sakit seiring banyaknya kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

“Akhirnya transmisinya tinggi. Karena kasus terkonfirmasi dan tingkat kematian. Itu akumulasi penghitungan. Sehingga transimisi tinggi. Kita harus berhati-hati,” kata dia

Ia menjelaskan, upaya untuk menekan angka penularan Covid-19 melalui pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk taat protokol kesehatan.

“Itu intinya, kalau tidak ada keperluan mending jangan keluar rumah. Kalau merasa kurang fit lebih baik istirahat di rumah,” lanjut Dewanti.(der)

Harga Bawang Air Tetap Stabil di Curah Hujan Tinggi

Petani Bawang Air (Aan)

MALANGVOICE – Hujan yang hampir setiap hari melanda menyebabkan petani mengalami hanyak dampak negatif. Hasil panen bahkan sempat menyusut akibat terlalu banyaknya air yang masuk ke tanaman. Seperti yang dialami petani bawang daun, Yono Supomo di Kelurahan Sisir, Batu.

“Untungnya cuma tidak nyiram saja mas. Lebih banyak rugi sebenarnya,” ungkapnya (15/01). Penyusatan yang dialaminya bahkan hampir menyentuh 30 persen. Dari lahan yang memiliki luas seribu meter persegi ini biasanya bisa menyentuh 1,5 ton ketika musim kemarau.

Tapi, sekarang menyusut hanya menjadi 1 ton saja sekali panen. Pupuk yang tidak bisa terserap secara maksimal pada tanaman, menjadi alasan utamanya.

“Kalau tidak ada hujan kan setelah di siram baru diberi pupuk, jadi penyerapan bisa di lakukan tumbuhan dengan baik. Sekarang, belum terserap saja udah hilang kena hujan,” jelasnya.

Tanaman yang busuk juga jadi faktor susutnya jumlah panen. Ia mengaku jika telat sedikit saja dalam perawatan maka resikonya untuk busuk pasti tinggi. Tak jarang dia harus puas akan hasil yang minim dan tidak sebanding dengan pengeluaran.

Upaya penanggulangan yang bisa Yono lakukan, ialah pembuatan got sebagai tempat pembuangan air. Parit di setiap petak lahannya dibuat agak dalam, mencegah agar tidak terjadi genangan. Dengan begitu, resiko untuk tanamannya terendam sedikit bisa diminimalisir.

Penjualan terbesarnya meliputi Surabaya, Tulungagung dan sebagian besar kota di Jawa Timur. “Selain kestabilan harga pasar yang baik. Saya berharap agar cuaca bisa mendukung, supaya petani juga tidak terlalu rugi dengan biaya dan tenaga yang sudah dikeluarkan,” Harapnya.

Harga bawang daun sekarang mencapai Rp 5 ribu per satu kilogramnya. Cendrung stabil dengan harga yang ada di beberapa minggu lalu.(der)

Anggaran Vaksinasi Kota Batu Mengalami Perubahan

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko. (Aan)

MALANGVOICE – Vaksinasi tahap pertama di Kota Batu dijadwalkan pada Februari ini. Demi menyongsong vaksinasi itu Pemkot Batu menyiapkan anggaran khusus sebesar Rp2,9 miliar.

Anggaran tersebut meliputi belanja modal, belanja bahan habis pakai, dan belanja sosialisasi tingkat kota dari APBD 2021.

Rinciannya untuk belanja modal senilai Rp 1,9 miliar berupa vaccine refrigerator 6 unit, vaccine carrier 90 box. Belanja bahan habis pakai senilai Rp 986 juta. Meliputi spuit 3 CC 1000 box, safety box 1.975 pcs, alkohol swab 2.000 box, plasterin 1.000 box, apron disposible 1.050 box.

Kemudian untuk face shield 500 pcs, masker 3 ply 1.000 box, masker n-95 1.000 box, sarung tangan 1.500 box. Sedangkan untuk belanja sosialisasi tingkat kota senilai Rp14,4 juta.

Tak hanya dari APBD, sumber daya penunjang lainnya juga diberikan oleh Dinkes Pemprov Jatim. Meliputi APD vaksinator sejumlah 1400 APD, safety box 25 pcs, ads 1.400 pcs, dan vtm 800 pcs.

Seiring dengan terbitnya Keputusan Menteri Keuangan nomor 30/KM.7/2020, Pemkot Batu akan melakukan perubahan anggaran vaksinasi 2021. Keputusan Menteri Keuangan itu, mengatur tentang penggunaan sebagian dana alokasi umum (DAU) atau dana bagi hasil untuk mendukung pendanaan vaksinasi Covid-19.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko usai menghadiri sosialisasi vaksinasi Covid-19 di Gedung Graha Pancasila Kota Batu (Jum’at, 15/1).

Dalam aturan tersebut dijelaskan, minimal provinsi ataupun kabupaten/kota menganggarkan 4 persen dari DAU 2021. Atau disesuaikan dengan kebutuhan daerah dengan memperhatikan jumlah penduduk dan jangkauan wilayah distribusi.

Bagi daerah yang tak mendapat alokasi DAU 2021, pendanaan vaksinasi bisa diambilkan dari dana bagi hasil sesuai kemampuan keuangan daerah.

“Anggaran vaksin mengalami perubahan. Kami harus mendukung itu karena jaminan kesehatan adalah prioritas. Kalau nggak sehat melakukan aktivitas juga tak bisa optimal,” papar dia.

Meski begitu, pihaknya masih belum secara rinci menyebutkan perubahan besaran anggaran. Secara teknis, pihaknya masih menunggu pembahasan antara Tim Anggaran Pemkot Batu dan Badan Anggaran DPRD.

“Belum harus dilakukan pembahasan dulu untuk itu,” lanjut dia.

Di sisi lain, Dewanti menyerukan pentingnya vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat. Sehingga segala aktivitas kehidupan kembali pulih sediakala. Alasan itulah yang dijadikan pemerintah untuk melakukan vaksinasi sebagai jaminan kesehatan kepada masyarakat.

Vaksinasi yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu kemarin (13/1), menurut Dewanti sebagai upaya testimoni untuk memberi jaminan kepercayaan pada masyarakat, kalau vaksin aman. Dengan begitu akan melenyapkan berita negatif di masyarakat.

“Hampir setahun ini pandemi Covid-19 membelenggu sendi-sendi kehidupan. Saya bangga dengan presiden yang bekerjasama dengan pabrik-pabrik farmasi untuk menyuplai kebutuhan vaksin di dalam negeri,” ungkap dia.

Dirinya sangat menyayangkan, semisal masyarakat menolak bahkan menghalangi vaksinasi. Karena inti dari program ini untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Apalagi,lanjut Dewanti, mendatangkan vaksin bukan pekerjaan mudah. Ia berpendapat negara-negara lain, negara tetangga merasa iri dengan Indonesia yang mampu mendatangkan vaksin.

“Meskipun saat ini didatangkan dalam jumlah kecil itu bukan perkara mudah. Nanti secara bertahap didatangkan. Sehingga bisa mem-back up kebutuhan untuk sebagian besar masyarakat,” timpal dia.(der)

Dewanti Tinjau Aliran Kali yang Kerap Meluap di Dusun Beru

Walikota Batu, Dewanti Rumpoko lakukan peninjauan terhadap kali di Dusun Beru, Kota Batu (istimewa)

MALANGVOICE – Aliran kali di Dusun Beru, Bumiaji, Kota Batu kerap kali meluap. Seperti yang terjadi pada Minggu (10/01) ketika aliran kali itu meluap pada saat hujan deras mengguyur.

Hari ini Jumat (15/01) pukul 07.00 WIB Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko melakukan peninjauan terhadap kali tersebut. Dalam tinjauan itu Dewanti menemukan bahwa luapan air juga menggerus plengesengan teknis pembatas sungai dengan dimensi panjang 2,4 meter, lebar 30 centimeter dan tinggi 95 centimeter.

Terjadinya keambrolan plengsengan itu mengakibatka material lumpur yang terbawa arus menutup badan jalan bahkan masuk hingga ke pemukiman warga. Dewanti mengatakan sedimentasi di aliran kali cukup tebal, bahkan bongkahan batu berukuran cukup besar menghambat aliran air.

“Ya sangat membahayakan dan mengganggu sekali karena banjir. Batu-batunya menggunung dan sulit untuk ditanggulangi karena plengsengan sudah dibeton dan harus dibongkar jika menggunakan alat berat,” kata Dewanti.

Sumbatan-sumbatan di aliran kali tersebut dibersihkan secara manual karena alat berat tak bisa menjangkau. Dan jikapun dibersihkan dengan alat berat harus diawali lebih dulu dengan membongkar jembatan beton. Namun tidak dobongkar karena akan menambah pekerjaan baru. Akhirnya diputuskan dikerjakan secara manual.

“Yang memungkinkan manual dilakukan dengan gotong royong bersama masyarakat membersihkan aliran kali. Endapannya sedikit demi sedikit dipindah ke atas,” urai Dewanti.

Saat mendatangi lokasi, Dewanti menilai masyarakat antusias saat bergotong royong membersihkan aliran kali. Pihaknya juga meminta bantuan kepada TNI/Polri untuk memberikan kontribusi tenaganya di area tersebut.

“Kami juga berkomunikasi dengan Kepala Dinas DPUPR agar segera cepat teratasi,” tandasnya.(der)