Situs Purbakala di Tol Mapan Diekskavasi

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya

MALANGVOICE – Penemuan benda purbakala peninggalan kerajaan Majapahit di area pembangunan jalan tol Malang-Pandaan (Mapan) di Desa Sekarpuro, Kabupaten Malang, sempat menghebohkan warga sekitar. Bahkan warga sekitar sempat berburu harta tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disaprbud) Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara mengatakan, penemuan situs purbakala peninggalan kerajaan Majapahit ini memang sempat menghebohkan, untuk itu pihaknya langsung melakukan tindakan untuk mengamankan situs tersebut.

“Kami sementara hanya melaporkan dan berkoordinasi dengan pihak Badan Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Jawa Timur untuk melakukan pengamanan,” ungkapnya singkat.

Sementara itu, Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, mulai hari ini hingga Sabtu (16/3) besok, pihaknya melakukan penggalian atau ekskavasi untuk meneliti dan mengumpulkan data terkait potensi cagar budaya dari situs yang ditemukan.

“Kita lihat dulu selama lima hari kedepan. Kemungkinan pra atau sebelum Majapahit. Tapi kita lihat dari hasil temuan dari teman-teman, konteks fragmen porselin terus mata uang dan segala macam lainnya batu bisa ditentukan,” ungkapnya.

Wicaksono menjelaskan, ekskavasi yang dilakukan selama lima hari ini ditargetkan mampu merekonstruksi bentuk situs purbakala tersebut. Nantinya, hasil dari ekskavasi diharapkan menjadi dasar untuk melestarikan situs yang ditemukan di dusun Sekaran Desa Sekarpuro, Pakis.

“Hasilnya nanti berupa rekomendasi terkait apa yang akan dilakukan untuk melestarikan situs Sekaran ini,” jelasnya.

Selain itu, tambah Wicaksono, BPCB juga akan mencari benda purbakala yang ditemukan oleh warga sekitar.

“Kami akan menelusuri temuan-temuan lepas yang sudah diambil oleh warga. Rencananya nanti sore sekitar pukul 16.00 atau 17.00 WIB kami akan mengumpulkan warga yang telah menemukan benda-benda purbakala di Kantor Desa Sekarpuro,” pungkasnya.

Perlu diketahui, situs purbakala ini terletak di kilometer 37 atau area pembangunan seksi lima tol Malang-Pandaan.(Der/Aka)

Terpilih sebagai Kades Tegalgondo, Nur Mahmud Kalahkan Calon Petahana

Panitia Pilkades Desa Tegalgondo usai penghitungan suara.(Miski)

MALANGVOICE – Nur Mahmud terpilih sebagai Kepala Desa (Kades) Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Minggu (30/4).

Cakades nomor urut 2 ini memperoleh 1.479 suara. Unggul dari tiga calon lainnya. Nomor urut 1, M Efendi memperoleh 428 suara, nomor 3, Bustami, sebanyak 333 suara dan calon nomor 4, Usman Junaidi, sebanyak 1.201 suara.

Nur Mahmud sebelumnya menjabat Kepala Dusun Gondang. Ia mengalahkan calon petahana, Usman Junaidi, yang tersandung kasus Pungutan Liar (Pungli).

Sedangkan surat suara tidak sah sebanyak 69 suara. Jumlah warga yang menggunakan hak pilihnya 3.510 dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 4.705 suara.

Pantauan MVoice, Nur Mahmud lantas diarak oleh pendukungnya, dari Balai Desa menuju kediamannya.

Tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya Bantu Olah TKP Kebakaran Pasar Lawang

Situasi pasar Lawang yang terbakar. (Toski D)

MALANGVOICE – Tim Labfor Polda Jatim dikerahkan untuk olah TKP kebakaran Pasar Lawang yang terjadi pada Rabu (17/4) malam.

Kebakaran itu mengakibatkan ratusan kios dan los, serta bedak/toko hangus dengan kerugian mencapai Rp 10 miliar.

“Tadi malam kami telah menghubungi Tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya yang ada di Polda Jatim untuk menyelidiki penyebab dari kebakaran ini. Untuk waktunya silakan hubungi Kasat Reskrim,” kata Kaporles Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, Kamis (18/4).

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda mengatakan, rencananya tim Labfor Polda Jatim akan ke TKP mulai Jumat (19/4) besok.

Untuk itu, lanjut Adrian, hingga saat ini pihaknya masih belum bisa memastikan penyebab kebakaran yang meludeskan 509 kios, lapak (los), dan toko/bedak dari 1.300 dari total yng ada di Pasar Lawang.

“Kami belum bisa pastikan penyebabnya. Besok Tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya baru lakukan oleh TKP,” pungkasnya. (Der/Ulm)

Adukan Penebangan Pohon, Warga Datangi Polres Malang

Perwakilan Warga Desa Ngenep saat ditemui awak media di Media Center Polres Malang. (Toski D).
Perwakilan Warga Desa Ngenep saat ditemui awak media di Media Center Polres Malang. (Toski D).

MALANGVOICE – Puluhan warga Desa Ngenep, Karangploso, datang ke Polres Malang, untuk mengadukan adanya Penebangan Pohon Kemiri jenis kemiri yang tumbuh diareal sumber mata air desa setempat, Rabu (4/12).

Mereka merasa kecewa atas Penebangan tiga Pohon tersebut, yang dilakukan oleh Kepela Desa Ngenep, Suwardi. Masyarakat menilai, tiga pohon kemiri yang ditebang itu sebagai penyanggah sumber air di sekitar pohon kemiri tersebut.

“Kedes menebang pohon-pohon tersebut dengan alasan sudah mati, tapi pohon masih hidup kok. Penebangan pohon ini membuat warga desa tak terima. Karena keberadaan pohon selain untuk penghijauan, juga menjadi penyanggah sumber air dan kehidupan warga desa,” ungkap tokoh masyarakat sekaligus koordinator warga Desa Ngenep, Karangploso, Niti Ahmad, saat ditemui awak media do media Center Polres Malang, Rabu (4/12).

Menurut Niti, pihak pemerintahan desa telah melakukan tindakan semena-mena, dengan menyuruh pak Ngateman untuk melakukan pemotongan pohon kemiri tersebut yang berada di atas tanah milik desa.

“Pak Ngeteman melakukan pemotongan pohon kemiri tersebut atas dasar disuruh kamituwo desa Mulyono dan Kades Ngenep, Suwardi. Pihak Desa memotong pohon tersebut tanpa musyawarah dengan warga desa. Padahal, pohon kemiri disekitar sumber sesuai aturan desa tidak boleh ditebang,” jelasnya.

Pihak desa, lanjut Niti, melakukan penebangan pohon pada tanggal 3 Oktober 2019, selang beberapa hari baru mengumpulkan warga untuk diajak musyawarah tentang penebangan pohon tersebut. Bahkan pihak desa tiba-tiba menyerahkan uang sebesar Rp.2 juta rupiah ke Karang Taruna dan Bendahara desa.

“Apalah artinya uang Rp 2 juta kalau pohon diatas sumber kemudian ditebang. Sehingga karang taruna dan bendahara desa tidak mau menerima uang tersebut karena tidak melalui musyawarah desa lebih dulu,” tegasnya.

Atas permasalahan itu, puluhan perwakilan warga Desa Ngenep, datang ramai-ramai untuk melaporkan ke Polres Malang.

“Kami sudah mengadu ke Unit 2 Satreskrim Polres Malang. Petunjuk dari Unit 2 kita disuruh melengkapi berkas data atau bukti peta tanah krawangan desa. Karena lokasi pohon yang ditebang itu masuk tanah milik desa. Selain itu, kami juga melaporkan kasus pemalsuan data soal tanah milik warga yang dijadikan tempat penampungan sampah, justru diklaim dan diatasnamakan istri dari kepala desa,” tandasnya. (Der/ulm)

Sanusi: Semua Daerah di Wilayah Kabupaten Malang Rentan Jadi Zona Merah Covid-19

Bupati Malang HM Sanusi. (Toski D).
Bupati Malang HM Sanusi. (Toski D).

MALANGVOICE – Bupati Malang HM Sanusi menyebutkan, semua daerah di wilayah Kabupaten Malang saat ini rentan menjadi zona merah penyebaran Covid-19.

“Semua Kecamatan di Kabupaten Malang saat menjadi daerah yang rentan menjadi daerah penyeberan Covid-19,” ungkap Sanusi, saat ditemui awak media di Pantai Licin, Desa Lebakharjo, Ampelgading, beberapa waktu lalu.

Menurut Sanusi, dari total 33 kecamatan di Kabupaten Malang semua berpotensi memiliki pasien terkonfirmasi positif terpapar Covid-19.

“Semua kecamatan sudah rentan menjadi daerah yang tertular, tapi saat ini hanya di beberapa kecamatan yang sudah ada pasien terkonfirmasi positif terpapar Covid-19,” tukasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data yang dihimpun dari laman Twitter @JatimPemprov, yang merupakan akun resmi milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur, di Kabupaten Malang total kasus terkonfirmasi positif terpapar Covid-19 ada 20, dengan rinciannya, 6 orang dinyatakan sembuh, 1 orang telah meninggal dunia, dan sisanya 13 orang ini masih dalam perawatan.

Sedangkan, dari laman satgascovid19.malangkab.go.id, warga Kabupaten Malang yang berstatus ODP berjumlah 310 orang, dengan rincian 109 orang dalam pantauan, 31 orang dalam perawatan, dan 168 orang dinyatakan sembuh, serta 2 orang meninggal dunia.

Sementara, untuk warga yang berstatus PDP saat ini ada 129 orang, rinciannya, 42 orang dalam perawatan di Rumah Sakit (RS), 17 orang dirawat di rumah, 63 orang sembuh, dan 7 orang meninggal dunia.(Der/Aka)

Ditangkap Polisi Gara-Gara Sabu, Pria Asal Sumawe Ngaku ‘Kapok’

Tersangka dan barang bukti saat diamankan di Polres Malang. (Istimewa)

MALANGVOICE – Edi Samroni (40), warga Desa Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) dibekuk jajaran Satresnarkoba Polres Malang. Ia kedapatan memiliki 26 poket narkotika jenis sabu dengan berat total 30 gram di rumahnya saat dilakukan penggrebekan pada, Jum’at (7/12) lalu.

Kaur Bina Operasi (KBO) Satreskoba Polres Malang Iptu Suryadi mengatakan, dari 26 poket itu seharga Rp 35 hingga 40 juta.

Menurut keterangan tersangka, lanjut Suryadi, ia mendapatkan barang haram tersebut dengan metode ranjau yang dikendalikan dari balik lapas. Akibat ulahnya, tersangka dijerat pasal 114 sub pasal 112 UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

“Tersangka merupakan pelaku baru. Ia mengaku mendapatkan barang tersebut dari wilayah kota Malang diduga jaringan lapas. Setelah itu barang ini diranjau mengambil di suatu tempat yang dijanjikan,” jelasnya.

Sementara itu, dihadapan petugas, Edi mengaku baru lima bulan berbisnis barang haram tersebut. Ia mendapatkan barang narkotika dari Kota Malang dan sebagian untuk dikonsumsi sendiri.

“Sebagian saya pakai sendiri dan saya jual ke arek-arek (pemuda) di sekitar kampung. Saya tahu sabu dari teman saya di Sumbermanjing kemudian dikasih nomer telpon, janjian ngambilnya di tempat mana gitu. Saya dapat biasanya janjian dulu ke daerah Sukun,” katanya.

Kini pria yang sehari-sehari bekerja sebagai penjual sembako di pasar tersebut mengaku kapok atas perbuatannya.

“Kapok mas inget anak istri kalau ditahan gini,” ungkapnya sedih. (Der/Ulm)

7 Kecamatan di Kabupaten Malang Potensi Langganan Kekeringan

Petugas Saat memberikan droping air bersih. (Istimewa)

MALANGVOICE – Dampak musim kemarau, di wilayah Kabupaten Malang tercatat ada 7 dari 33 Kecamatan yang memiliki potensi langganan kekeringan.

Plt Bupati Malang HM Sanusi menjelaskan, untuk antisipasi kekeringan pihaknya telah menyiagakan 10 unit truk tangki air. Kendaraan tersebut bersiaga untuk mengirimkan air keseluruh wilayah Kabupaten Malang yang mengalami kekeringan.

“Selain itu, kami juga mempersilakan pada masyarakat yang membutuhkan sumur bor supaya mengajukan pada pemerintah desanya dan nantinya akan diteruskan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Bambang Istiawan mengatakan, berdasarkan data yang ada 7 daerah yang berpotensi, yaitu di Kecamatan Kalipare, Donomulyo, Jabung, Singosari, Lawang, Sumberpucung, dan Sumbermanjing Wetan (Sumawe).

“Kami akan merangkul perusahaan-perusahaan di Kabupaten untuk memberikan bantuan berupa fasilitas air bersih dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan,” ucapnya.

Di Kabupaten Malang sendiri, lanjut Bambang, ada banyak perusahaan swasta yang akan memberikan bantuan CSR.

“Sementara ini ada beberapa perusahaan yang sudah pasti memberikan bantuan CSR, yaitu PT Pindad, PG Kebonagung, PG Krebet, dan PT Bentoel,” jelasnya.

Di sisi lain, jajaran Kepolisian Resor (Polres) Malang juga berusaha memberikan kontribusi untuk menanggulangi bencana kekeringan, dengan membagikan pasokan air bersih kepada warga yang terdampak.

”Memasuki musim kemarau, kami rutin bagikan pasokan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Bahkan, truk tangki air bersih milik Polres kami siagakan di Polsek Donomulyo,” pungkas Kasubbag Humas Polres Malang, AKP Ainun Djariyah. (Der/Ulm)

Anggota Legislatif Kabupaten Malang Diminta Tetap Tingkatan Kinerja

Ketua DPRD Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto. (Toski D).
Ketua DPRD Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto. (Toski D).

MALANGVOICE – Di tengah merabaknya Pandemi pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19) atau Virus Corona yang semakin masif, anggota legislatif Kabupaten Malang harus tetap menjalankan dan meningkatkan kinerja.

“Seluruh teman-teman DPRD harus memaksimalkan tugasnya, mereka tidak harus ngantor, langsung kelapangan (daerah dapil masing-masing, red) untuk melakukan pengawasan kinerja desa, kecamatan, Puskesmas, apa mereka sudah melaksanakan surat edaran Bupati apa belum,” ucap Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/4).

Menurut Didik, selain melakukan pengawasan, mereka juga harus menampung aspirasi masyarakat di dapil masing-masing di tengah Pandemi Covid-19.

“Dengan melakukan pengawasan di daerah dapil masing-masing dinilai sangat efektif, teman-teman bisa menampung masukkan dari masyarakat langsung, mana yang harus disikapi,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Didik, sebagai anggota legislatif diwajibkan untuk memberikan edukasi dan imbauan kepada masyarakat untuk bisa menjalankan dan ikut berperan dalam percepatan pencegahan penyebaran Covid-19 ini dengan menghidari adanya kerumunan massa, pemakaian dinsifektan yang baik dan benar, dan pentingnya pola hidup sehat.

“Saat ini kan masyarakat lagi giat-giatnya gotong royong. Berikan edukasi mengenai penyemprotan disinfektan, agar bisa efektif penggunaannya. Target kita saat ini bagaimana cara membatasi penyeberan mata rantai virus ini. Sebenarnya banyak cara, seperti lewat cuci tangan, dan menjaga kebersihan lingkungan,” pungkasnya.(Der/Aka)

Pemkab Malang Fokus Bangun Kepanjen jadi Pusat Perekonomian

Bupati Malang HM Sanusi. (Toski D)
Bupati Malang HM Sanusi. (Toski D)

MALANGVOICE – Kecamatan Kepanjen telah menjadi ibu kota dan pusat pemerintahan Kabupaten Malang sejak tahun 2008 lalu. Keputusan ini didasari surat Nomor 135.7/093/421.202/2007 tanggal 17 Januari 2007 kepada Ketua DPRD Kabupaten Malang, serta disetujuinya usulan tersebut dalam Keputusan Nomor 3 Tahun 2007 tanggal 12 Maret 2007.

“Sudah lama Kepanjen menjadi Ibu kota Kabupaten Malang. Saya juga terus berupaya untuk mewujudkannya. Berbagai persiapan perpindahan kantor organisasi perangkat daerah (OPD) yang masih berada di wilayah Kota Malang ke Kepanjen, sampai dengan berbagai rencana merubah wajah Kepanjen, terus saya lakakun,” ungkap Bupati Malang HM Sanusi, saat ditemui awak media, Jumat (8/11).

Menurut Sanusi, dengan menjadikannya Kepanjen sebagai Ibu kota Kabupaten Malang jelas akan ada alih fungsi lahan pertanian menjadi bangunan yang nantinya akan dijadikan pusat industri atau perekonomian di wilayah Kepanjen.

“Beberapa investor siap masuk dan beroperasi di wilayah Kepanjen. Tentunya fasilitas seperti mal dan lain sebagainya harus dibawa ke Kepanjen juga,” jelasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Sanusi, pihaknya jelas membutuhkan waktu untuk sosialisasi terkait akan bergesernya tata ruang dan wilayah Kepanjen.

“Kepanjen nantinya selain jadi ibu kota juga sebagai pusat perekonomian, rencana tersebut sudah lama dipersiapkan. Diharapkan, Kepanjen benar-benar menjadi ibu kota pemerintahan plus perindustrian yang sesungguhnya,” terangnya.

Untuk itu, tambah Sanusi, dirinya mengintruksikan pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilingkungan Pemerintah Kabupaten Malang untuk mempermudah investor masuk supaya menanamkan dananya di Kepanjen, khususnya dan Kabupaten Malang pada umumnya.

“Langkah ini merupakan bagian dari program pengentasan kemiskinan. Saya berharap kemiskinan semakin turun serta masyarakat lebih sejahtera dengan adanya investasi yang masuk,” pungkasnya.(Hmz/Aka)

Tertidur saat Rumah Terbakar, Remaja Perempuan Tewas

Petugas Damkar saat berusaha melakukan pemadaman api. (Istimewa)

MALANGVOICE – Kebakaran melanda rumah di Dusun Kebonagung, Tamanharjo Singosari, Rabu (24/6) siang sekitar pukul 08.30 WIB.

Kepala Desa (Kades) Tamanharjo, Singosari, Sumardi mengatakan, dalam kebakaran tersebut menelan korban jiwa seorang remaja perempuan berinisial AD (12).

“AD harus kehilangan nyawanya setelah mengalami luka bakar hingga 40 persen. Ia menghembuskan napas dalam perjalanan ke rumah sakit,” katanya, saat dikonfirmasi, Rabu (24/6).

Saat kejadian, lanjut Sumardi, korban sedang tertidur pulas di dalam rumah. Sedangkan kedua orang tua dan kakeknya sedang berada di luar rumah untuk bekerja.

“Jadi posisinya korban tidur sendirian. Terus korsleting di rumahnya dan kebakaran. Saya pun mendapat laporan warga bahwa apinya sudah besar,” jelasnya.

Sumardi melanjutkan, warga sempat ingin menyelamatkan AD. Namun, warga kesulitan untuk mengevakuasi anak tersebut. Pasalnya
api kebakaran sampai membuat kayu-kayu atap rumah tersebut roboh.

“Jadi puingnya banyak. Kami sempat ingin menolong tapi takut. Dengan peralatan seadanya kami mencoba untuk memadamkan api dan akhirnya ketika api agak padam kami selamatkan AD yang sudah terkena luka bakar di sekujur tubuhnya hampir 40 persen seperti di lengan dan kaki. Terus kami bawah ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) PPK Satpol-PP Pemkab Malang, Goly Karyanto mengatakan, dalam peristiwa tersebut, dirinya langsung mengerahkan 5 unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) untuk memadamkan kobaran api.

“Petugas datang di lokasi sekitar pukul 09.00 WIB, dan kami baru bisa memadamkan kobaran api sekitar 30 menit kemudian,” ucapnya.(der)