29 January 2023
29 January 2023
23.4 C
Malang
ad space

Anak Dikenalkan Protokol Kesehatan Melalui Dongeng

Zoom meeting perkenalkan prokes kepada anak. (istimewa)

MALANGVOICE – Peringati momen Hari Anak, PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM Honda Jatim) distributor sepeda motor Honda wilayah Jatim dan NTT memberikan edukasi tentang protokol kesehatan kepada anak – anak melalui dongeng, Sabtu (17/07).

Diikuti 40 anak dengan usia antara 2 – 8 tahun antusias mengikuti kegiatan ini melalui virtual meeting.

Edukasi protokol kesehatan melalui dongeng interaktif disampaikan Kak Rizka dari Komunitas kumpul dongeng surabaya dengan menggunakan gambar menarik dan disampaikan dengan bahasa anak – anak. Peserta yang merupakan putra putri dari karyawan MPM Honda Jatim ini diberikan edukasi cara memakai masker, dan mencuci tangan.

Selain dongeng juga ada nyanyian tentang ajakan mematuhi protokol kesehatan yakni memakai masker, mencuci tangan dan selalu menjaga jarak yang selanjutnya dinyanyikan bersama dengan peserta.

Pengenalan prokes kepada anak. (Istimewa)

Hatmarto selaku HR & GA Division Head MPM Honda Jatim, mengatakan, pembelajaran kepada anak ini diharap mampu mengurangi risiko terpapar Covid-19. Sekaligus mengajak anak menerapkan pola hidup sehat.

“Pandemi memaksa anak-anak berkegiatan di rumah. Untuk itu anak – anak juga membutuhkan perhatian dan edukasi yang baik mengenai pandemi Covid-19. Salah satu edukasi yang efektif, bisa dilakukan sambil bermain dan bercerita. Edukasi pencegahan penyebaran Covid-19 melalui penerapan protokol kesehatan keluarga dimulai dari kedisiplinan di dalam rumah. Harapannya agar semua pihak juga anak – anak dan keluarga untuk tetap menerapkan protokol kesehatan,” kata Hatmarto.

Di akhir kegiatan ini, bagi anak – anak yang aktif mengikuti kegiatan mendapatkan hadiah dari MPM Honda Jatim.(der)

Pemkot Malang Antisipasi Covid-19 Varian Baru

Wali Kota Malang, Sutiaji (tengah) saat diwawancarai awak media beberapa waktu lalu, (MG2).

MALANGVOICE – Beberapa daerah yang berada di Jawa Timur (Jatim) kini sudah mulai menemui kasus varian baru Covid-19. Hal itu membuat Wali Kota Malang, Sutiaji akan melakukan langkah antisipasi untuk mencegah varian baru itu menyebar di Kota Malang.

Berdasarkan data yang dihimpun, ada dua daerah di Jatim yang sudah terdeteksi, yakni di Bangkalan, Madura varian B117, dan Jember ditemukan B1351.

Meski di Kota Malang hingga saat ini masih belum terdeteksi ditemukannya varian baru, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melakukan langkah antisipasi, salah satunya dengan deteksi dini virus varian baru. Deteksi dini itu dilakukan dengan cara mengidentifikasi gejala-gejala yang ditimbulkan pada pasien yang terjangkit.

“Jadi jenis-jenis yang sesuai kan kita sudah tahu kelas indikasi ciri-cirinya. Dasar indikator-indikatornya kan bagaimana cara penyebarannya dan gejala-gejalanya,” ujar Sutiaji, Kamis (17/6).

Selain itu, pria nomor satu di Kota Malang ini, menekankan hal terpenting yang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran virus tersebut, yaitu dengan terus memperkuat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala Mikro.

“Nanti insyallah akhir pekan ini kami koordinasi, dengan semua lintas. Nanti saya juga akan maraton ke kecamatan-kecamatan untuk memperkuat PPKM Mikro seperti dulu lagi,” tuturnya.

Jika ditemukan adanya varian baru covid-19 di daerah Kota Malang, maka pihaknya akan melakukan lokalisir daerah tersebut sebagai bentuk pencegahan agar tidak menyebar luas.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif menambahkan, jika ditemukan adanya pasien covid-19 varian baru, maka sampelnya akan diserahkan ke laboratorium Airlangga, Surabaya, untuk dilakukan identifikasi genome sequencing.

Hal itu dilakukan karena sampai sekarang laboratorium yang dimiliki sejumlah rumah sakit rujukan Kota Malang dan Dinkes Kota Malang belum mumpuni untuk mengidentifikasi genome dari varian baru tersebut.

“Yang mendeteksi seperti (virus corona varian baru) ini yang bisa di Laboratorium Unair, Surabaya, Jawa Timur,” tandasnya.(der)

Kenali Gejala Varian Omicron dan 5 Cara Pencegahannya

Ilustrasi virus
Ilustrasi virus

MALANGVOICE – Varian baru Covid-19 jenis Omicron mulai menyebar di Indonesa termasuk Jawa Timur. Varian ini membuat masyarakat harus tetap waspada.

Diketahui sebagian besar gejala varian Omicron ini ringan, dan masih banyak perdebatan dan ketidakpastian mengenai gejalanya. Namun, beberapa orang yang mengalami gejala terinfeksi Covid-19 varian Omicron cukup mengganggu aktivitas, sehingga gejalanya pun perlu diwaspadai agar penularan bisa dicegah.

Dilansir dari Suara.com, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menyebutkan gejala-gejala terinfeksi Covid-19 varian Omicron, antara lain:

1. Demam atau kedinginan
2. Batuk
3. Sesak napas atau kesulitan bernapas
4. Kelelahan
5. Nyeri otot dan tubuh
6. Sakit kepala
7. Hilangnya indra penciuman dan perasa
8. Sakit tenggorokan
9. Hidung tersumbat atau pilek
10. Mual atau muntah
11. Diare

Walaupun gejala yang ditimbulkan mungkin tidak parah, namun dapat mengganggu sistem kesehatan yang tidak sepenuhnya siap.

Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Derktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat meminta kepada masyarakat untuk selalu mewaspadai penyebaran varian Omicron tersebut.

Dilansir dari laman Promkes.Kemkes. go.id, untuk bisa keluar atau terhindar dari Covid-19 varian Omicron, vaksinasi saja tidak, jika tidak dibarengi dengan pengetatan protokol kesehatan

Hal itu disampaikan oleh Dr. Tedros Adhanom selaku Direktur Jenderal WHO (World Health Organization), dimana untuk bisa membuat sebuah negara keluar dari situasi krisis seperti saat ini, selain vaksinasi juga perlu dilakukan pengetatan Prokes, agar proteksi terhadap tubuh dan lingkungan dapat terbentuk secara sempurna.

Berikut ini merupakan beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran varian Omicron, yaitu

1. Menggunakan masker dengan benar
2. Menjaga jarak minimal 1 meter dan menjauhi kerumunan
3. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir
4. Buka jendela, untuk ventilasi yang lebih baik
5. Segera melakukan vaksinasi apabila dalam kondisi sehat dan telah mendapatkan jadwal.

Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, diharapkan kasus varian Omicron tidak meluas dan menimbulkan gelombang ketiga atau Third Wave.

Tetap waspada, jangan panik dan segera dapatkan Vaksinasi Covid-19 secara lengkap melalui fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Jika merasakan dan menduga sedang terinfeksi virus corona, lebih baik segera melakukan tes Covid-19. Selain itu, juga perlu melakukan isolasi mandiri selama 10 hari.(der)

Proem1 Siap Hijaukan Zona Merah Covid di Indonesia

Bantuan Proem1. (Istimewa)

MALANGVOICE – PT Agro Mitra Alimentare (AMA) dengan produknya Proem1 mendonasikan ribuan botol pro biotik cair ke Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus.

Donasi AMA untuk memerangi Covid-19 ini yang kesekian kalinya. Terakhir, Kabupaten Bangkalan yang menjadi sasaran donasi dari perusahaan yang berpabrik di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang ini.

Direktur Utama PT AMA, Recta Geson, yang langsung memimpin delegasi donasi itu menyebutkan Proem1 sudah menjalani uji klinis sehingga manfaatnya tak perlu diragukan lagi.

“Uji klinis Proem1 dilakukan di RSUD dr Soetomo, baik untuk preventif maupun kuratif,” jelas Recta dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mvoice, Selasa (22/6).

Selain menyerahkan ribuan botol Proem1 ukuran 473ml dan 90 ml, Recta juga memberikan nano spray kepada Bupati Kudus, HM Hartopo, seraya memberi contoh cara pemakaiannya.

“Harapan kami donasi ini bisa membantu Pak Bupati menghijaukan kembali Kudus dari zona merah,” kata Recta di Pendopo Kabupaten Kudus.

Bupati Hartopo yang mendengar penjelasan farmasis lulusan Universitas Surabaya itu mengaku gembira. Bahkan berharap Proem1 bisa menurunkan jumlah penderita Covid-19 di Kudus.

“Atas nama pemerintah Kudus kami sampaikan terima kasih. Semoga, melalui donasi obat herbal Proem1  ini covid19 bisa segera melandai di daerah kami,” ucap Hartopo.

Bupati dari PDIP itu kemudian akan menyalurkan bantuan Proem1 ke beberapa rumah sakit dan Puskesmas sebagai bentuk  uji coba.

Bahkan Hartopo berjanji jika Proem1 ada hasilnya, akan meminta Dinkes melakukan pengadaan Proem1 untuk disalurkan lagi ke rumah sakit dan Puskesmas.

Tentang penanggulangan Covid-19 sendiri, Hartopo menyampaikan telah melakukan langkah konkret antara lain PPKM mikro zonasi dan juga penerapan 5 M termasuk upaya tracing, testing dan treatment.

“Vaksinasi juga kita terus kita galakkan agar masyarakat mendapatkan kekebalan tubuhnya sendiri,” pungkas bupati yang saat itu didampingi sejumlah asisten, kepala BPBD dan kepala dinas kesehatan kabupaten Kudus.(end)

7 Ribu Dosis Vaksin Milik Dinkes Kota Malang Akan Kedaluwarsa Bulan Februari

Ilustrasi vaksin Bio Farma, (MG2).

MALANGVOICE – Sekitar 7 ribu dosis vaksin yang ada di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang akan expired atau kedaluwarsa pada bulan Februari 2022 mendatang.

“Dari sekitar 70 ribu dosis vaksin yang ada di Dinkes Kota Malang, sekitar 7 ribu akan expired pada bulan Februari,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif, Jumat (14/1).

Meski begitu, Ia menegaskan vaksin yang diberikan kepada peserta vaksinasi di Kota Malang dipastikan aman dan belum mencapai masa kedaluwarsa.

“Vaksin yang kita berikan kepada warga adalah yang tidak expired,” tegasnya.

Sementara itu, dari sekitar 70 ribu dosis vaksin yang ada di Dinkes Kota Malang, sekitar 50 ribu dosis akan digunakan untuk vaksinasi dosis ketiga atau booster pada Senin (17/1) mendatang.

Sedangkan sisa vaksin sekitar 20 ribu dosis digunakan untuk melanjutkan vaksinasi primer dosis satu dan dua menyasar masyarakat umum, lansia dan anak usia 6-11 tahun di Kota Malang.(der)

4.728 Anak Usia 6-11 Tahun Ditargetkan Tervaksin Hari Ini

Wali Kota Malang, Sutiaji melihat proses vaksinasi anak usia 6-11 tahun, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melaunching vaksinasi anak usia 6-11 tahun sejak hari ini, Senin (20/12). Vaksinasi tersebut digelar di 16 Sekolah yang sudah ditentukan.

“Dari 16 sekolah itu saya harap hari ini ada 4.728 anak usia 6-11 tahun yang tervaksin,” ujar Wali Kota Malang, Sutiaji usai melakukan peninjauan vaksinasi anak usia 6-11 tahun di SDN Model, Kota Malang, Senin (20/12).

Ia menambahkan dari data yang masuk secara keseluruhan ada 76.570 anak usia 6-11 tahun di Kota Malang yang akan mengikuti vaksinasi Covid-19.

“Harapannya kami dari 76 ribu itu sudah tersasar semua baik sekolah formal, non formal atau mungkin yang belum sekolah. Kami targetkan awal Januari tahun 2022 sudah tervaksin semua,” kata Sutiaji.

Berdasarkan ketentuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), anak usia 6-11 tahun yang baru mengikuti Imunisasi Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) harus menunggu selama 28 hari sebelum menerima vaksinasi Covid-19.

“Secara medis memang harus menunggu 28 hari. Ini masih ada (anak usia 6-11 tahun) yang masih 10 hari lalu mengikuti Imunisasi,” jelas Sutiaji.

Pria Nomor Satu di Kota Malang itu juga menyampaikan ada sekitar 99,9 persen wali murid telah menyetujui anaknya menjalani vaksinasi Covid-19.

Anak yang menjalani vaksinasi, (Bagus/Mvoice).

“Untuk sisanya 0,1 persen belum tau, bisa jadi belum mengembalikan atau mendaftarkan anak ke Google form yang disebar itu,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif menyampaikan untuk ketersediaan vaksin jenis Sinovac di Kota Malang saat ini ada sekitar 70 ribu dosis.

“Anak kan vaksin pakai jenis Sinovac, dan stok vaksin di Dinkes Kota Malang aman untuk target ini,” ucap dia.

Ia membeberkan, pelaksanaan launching vaksinasi anak usia 6-11 tahun kali ini melibatkan vaksinator dari 16 Puskesmas yang ada di Kota Malang.

“Hari ini satu puskesmas menangani satu sekolah. Kalau besok satu puskesmas bisa menangani dua sampai tiga sekolah sekaligus. Sehingga target vaksinasi besok bisa lebih tinggi dari launching kali ini,” imbuhnya.

Sedangkan bagi anak usia 6-11 tahun yang tidak masuk dalam data Disdikbud Kota Malang akan ditangani Dinkes Kota Malang berkoordinasi dengan RT/RW dan Kelurahan.

“Bagi yang lewat RT/RW itu nanti akan menjalani vaksinasi di Puskesmas terdekat. Tapi untuk saat ini datanya belum masuk ke kami, ini masih proses pendataan,” tandasnya.

Sebagai informasi selain di 16 sekolah, vaksinasi anak usia 6-11 tahun juga dilaksanakan di sentra vaksin RSI UNISMA dan Polkesma.(***)

Puluhan Nakes di Kabupaten Malang Batal Divaksin

Kadinkes Pemkab Malang, Arbani Mukti Wibowo. (Toski D).

MALANGVOICE – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mencatat ada 60 tenaga kesehatan (Nakes) batal divaksin.

“Sampai hari ini (Selasa 2/2) nakes yang sudah divaksin mencapai 2.900 orang, ada 60 nakes gagal divaksin karena memiliki riwayat komorbid (penyakit penyerta),” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Pemkab Malang, Arbani Mukti Wibowo, Selasa (2/2).

Menurut Arbani, selain 60 nakes yang batal divaksin, juga ada sebanyak 150 nakes yang ditunda dalam pelaksanaan vaksinasinya karena tekanan darah mereka cenderung tinggi.

“Untuk yang 60 nakes itu tidak ada solusi lain, beda dengan yang 150 itu, bisa ikut lagi di hari selanjutnya, asal tekanan darahnya harus 140/90,” jelasnya.

Akan tetapi, lanjut Arbani, dirinya menargetkan jika pelaksanaan vaksinasi bagi 7.762 Nakes di Kabupaten Malang dapat diselesaikan di hari Jumat (5/2) mendatang.

“Sampai siang tadi (Selasa 2/2) kurang lebih sudah 2.900 orang Nakes, insyaallah Jumat (5/2) sudah kelar untuk tahap pertama, pencanangan awal kita di Sabtu (30/1),” tegasnya.

Sedangkan, tambah Arbani, dari ribuan Nakes yang mengikuti vaksinasi, hingga saat ini belum ada yang menolak pencanangan vaksinasi tersebut.

“Sejauh ini saya belum dapat kabar apakah ada Nakes yang menolak atau tidak,” pungkasnya.(der)

Cak Udin Fasilitasi Ribuan Masyarakat Malang Dapatkan Vaksinasi Covid-19

Anggota DPR RI Dapil Malang Raya M Hasanuddin Wahid memantau vaksinasi di Malang. (Istimewa)

MALANGVOICE – Anggota DPR RI Dapil Malang Raya M Hasanuddin Wahid terus memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Pada Sabtu (18/9) ini, Cak Udin, sapaan akrabnya menggelar vaksinasi di dua titik, yakni Kantor DPC PKB Kota Malang dan DPC PKB Kabupaten Malang. Tiap DPC mendapat jatah 500 dosis.

Vaksinasi menyasar tokoh agama, santri, pelajar dan masyarakat umum. Hal ini juga mendukung percepatan penanganan Covid-19 di wilayah Malang Raya.

Sebelumnya, Cak Udin memfasilitasi 3.000 dosis vaksin untuk warga Malang Raya. Kegiatan dosis pertama digelar pada Sabtu (21/8/2021).

“Kami siapkan tenaga kesehatan dari Dinskes setempat sebanyak 20 nakes. Ini adalah upaya kami mencapai herd immunity di Malang Raya,” ujarnya.

Pria kelahiran Kota Batu ini menyampaikan bahwa kegiatan percepatan vaksinasi Covid-19 nasional sesuai program Presiden RI Joko Widodo dan arahan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

“Ini arahan Ketum Gus Muhaimin untuk terus berkomitmen membantu pemerintah dalam percepatan vaksinasi. Setiap kader maupun simpatisan harus selalu siap hadir membantu masyarakat,” jelasnya.

Cak Udin menyampaikan bahwa pemenuhan vaksinasi Covid-19 dapat membantu masyarakat keluar dari belenggu pandemi yang telah melanda Indonesia hampir dua tahun.

Pihaknya terus berupaya untuk turut menyukseskan program percepatan vaksinasi Covid-19 seperti yang disampaikan Presiden RI Joko Widodo.

“Kita memperbanyak vaksinasi agar masyarakat terbentuk herd immunity,” katanya.

Dalam melaksanakan vaksinasi Covid-19 ini, Hasanuddin Wahid bekerjasama dengan sejumlah pihak yakni Kementerian Kesehatan RI, Dinkes Kota Malang, PKB di masing-masing DPC, dan Ansor Banser yang membantu proses pengamanan berjalannya vaksinasi.(der)

Punya Komorbid, Belasan Ribu Warga Kota Malang Rawan Terpapar Covid-19

Wali Kota Malang, Sutiaji saat diwawancarai awak media, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Ada sekitar 17 ribu warga Kota Malang yang memiliki penyakit bawaan atau komorbid sehingga rawan terpapar Covid-19.

Wali Kota Malang Sutiaji menyebutkan dari 17 ribu warga itu, 7 ribu diantaranya memiliki gejala komorbid dengan kategori cukup tinggi.

“Kalau kita lokalisir, di Kota Malang kan ada 17 ribu yang komorbid. Yang level tinggi, darah tinggi, jantung, diabetes dan kolestrol itu ada 7 ribu,” ujarnya, Selasa (8/3).

Bagi seseorang yang memiliki komorbid dengan kategori cukup tinggi, memiliki risiko tinggi meninggal dunia saat terpapar Covid-19.

Meski begitu, Sutiaji menyampaikan, dalam beberapa waktu terakhir warga Kota Malang pemilik komorbid jarang terpapar Covid-19.

“Kemarin hanya berapa persen yang kena (Covid-19), karena tingkat kesadaran tinggi. Jadi mereka mayoritas tidak berani keluar dan sadar prokes,” jelasnya.

Dari situ, pihaknya terus menggencarkan vaksin bagi lansia dan masyarakat rentan untuk membentuk herd Immunity yang kuat di Kota Malang.

“Maka dari itu kita harus melakukan percepatan vaksin, karena vaksin kan harapannya herd immunity terbangun dengan baik,” kata Sutiaji.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif menambahkan, sekitar 97 persen pasien komorbid meninggal saat menjalani perawatan.

“Kalau detailnya akumulatif, tapi pasien-pasien yang melakukan perawatan meninggal hampir 97 persen komorbid,” tandasnya.

Perlu diketahui, dari catatan Dinkes Kota Malang, capaian vaksin Covid-19 saat ini pada dosis pertama sudah 115 persen dan dosis kedua 110 persen. Kemudian untuk lansia dosis pertama sudah hampir 70 persen, dosis kedua 67 persen.(der)

PPKM Tidak Efektif, Dewanti: Banyak Masyarakat Tidak Paham

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko saat diwawancarai Malangvoice.com (Aan)

MALANGVOICE – Presiden RI Jokowi mengatakan dalam Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (31/01) terkait pelaksanaan PPKM Jawa-Bali. Jokowi mengatakan secara terbuka bahwa PPKM selama 11-25 Januari ini tidak efektif.

Pasalnya ia menilai mobilitas masyarakat masih tinggi yang ia lihat dari indeks data yang ia miliki. Sehingga persebaran covid-19 di beberapa provinsi masih tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menjelaskan, semua pihak belum pernah menghadapi pandemi. Sehingga tidak memiliki pengalaman bagaimana menghadapinya sehingga yang dilakukan Pemerintah adalah trial and error.

“PPKM sebenarnya bisa efektif jika masyarakat memiliki kesadaran bahwa ini untuk kesehatan dan kebaikan mereka. Jadi petugas dan masyarakat seharusnya memiliki pemahaman yang sama,” paparnya.

Dewanti mengatakan bahwa semua pihak seharusnya mendukung langkah pemerintah untuk melakukan PPKM. Bahwa PPKM ini merupakan waktu untuk semua pihak puasa dan tirakat dua minggu untuk kesehatan bersama.

“Yang penting pemahaman bukan hanya dari petugas tapi juga masyatakat. Kalau sama sama paham tidak ada dilapangan ketidakenakan dan berantem. Tapi sama-sama paham bahwa PPKM untuk kita semua,” imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa sekarang sebagian masyarakst merasa dipasung, tidak adil dan sebagainya. Sehingga antara pemerintah dan masyarakat belum singkron untuk hal ini.

Ia merasa perlu sosialisasi yang dapat memahamkan masyarakat. Bahwa kegiatan dari pemerintah ini baik untuk masyarakat yang merupakan kepentingan kita bersama untuk kebaikan kita bersama.

“Kita berdoa semoga vaksin terdistribusi semua tapi tetap menjaga protokol kesehatan. Karena setelah divaksin belum tentu orang menjadi kebal cuma memang efeknya tidak terlalu berbahaya,” harapnya.

Menurut Dewanti keefektifan PPKM walau cuma sedikit, tapi ada perolehanmya. Walaupun belum maksimal karena masyarakat belum semua memehami dengan baik.

Ketika ditanya apakah pihaknya akan melakukan langkah pengetatan kembali, dirinya menjawab, bukan diperketat lagi tapi diberi pemahaman agar mengerti. Ia berharap masuarakat tidak perlu kongkow-kongkow tapi kalau untuk mencari sesuap nasi tidak papa namun dengan tetap menjaga prokes.

“Kalau okupansi Rumah sakit di Kota Batu masih aman. Persentase okupansinya hanya 60 persen msdih ada ruang yang lumayan. Untuk shelter masih tidak sampai 40 persen. Saya tidak mau semua terisi. Tapi yang jelas di Kota Batu masih aman,” tandasnya.(der)