Sepanjang Februari Ada 50 Nakes di Kota Malang Terpapar Covid-19

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif saat diwawancarai awak media, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Meningkatnya kasus Covid-19 ternyata membuat Tenaga Kesehatan (Nakes) yang berada di garda terdepan penanganan pandemi turut terpapar virus asal Wuhan, China tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif mengatakan sejak awal Februari 2022 sampai hari ini Kamis (17/2), di Kota Malang ada sebanyak 50 Nakes yang terpapar Covid-19.

“Puluhan nakes terpapar Covid-19 itu ada yang dari Puskesmas dan ada juga dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Nakes itu ada dokter, bidan, pegawai kebersihan dan security,” ujarnya, Kamis (17/2).

Menurut Husnul kebanyakan Nakes yang terpapar Covid-19 tersebut menjalani Isolasi Mandiri (Isoman) di rumah masing-masing karena tidak memiliki gejala sedang maupun berat.

“Kami juga tidak melakukan penutupan pada Puskesmas yang Nakes-nya terpapar Covid-19. Jadi tidak ada penutupan Puskesmas sama sekali di Kota Malang,” kata dia.

Ia pun menyampaikan, ada beberapa cara yang dilakukan untuk mensiasati kurangnya tenaga di Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) saat ada yang terpapar Covid-19.

“Jadi kita siasati dengan cara pengurangan jam pelayanan, jenis pelayanan atau jumlah pasien yang dilayani di Fasyankes baik Puskesmas maupun Rumah Sakit,” jelasnya.

Sementara itu, terkait riwayat nakes yang terpapar Covid-19, dikatakan Husnul, kebanyakan berasal dari interaksi dengan pengunjung yang datang ke Fasyankes.

“Karena pelayan publik jelas terus berinteraksi. Sedangkan kita nggak tau pengunjung yang datang ke Fasyankes itu terpapar Covid-19 atau tidak,” tandasnya.(der)

Kluster Bhakti Luhur di RS Lapangan Tinggal Enam orang

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif, saat diwawancarai awak media, (MG2).

MALANGVOICE – Dari perkembangan 170 penghuni Yayasan Bhakti Luhur yang dinyatakan positif Swab antigen, 43 penghuni dipindahkan ke RS Lapangan untuk mendapatkan penanganan lebih.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif kini updatenya penghuni yang masih dirawat di RS Lapangan sebanyak 6 orang. Sisanya sudah dinyatakan membaik dan dikembalikan ke yayasan Bhakti Luhur.

“Sekarang tinggal enam orang yang di RS Lapangan. Jadi risikonya sudah berkurang. Keluhannya juga sudah berkurang dan bisa dilakukan pengawasan oleh yayasan, tapi dipisahkan,” ungkapnya saat diwawancarai awak media, Rabu (10/3).

Sementara bagi yang melakukan Isolasi Mandiri (Isoman) di Yayasan Bhakti Luhur, kini telah masuk dalam pantauan ketat Dinkes Kota Malang dan pihak terkait.

“Sudah ada pengawasnya dan pengasuhnya yang memang spesialis untuk difabel. Kita akan terus memberikan motivasi dan sosialisasi protokol kesehatan dalam pendampingan selama isolasi,” paparnya.

Selanjutnya, pihaknya akan melakukan Swab antigen lagi pada Kamis (11/3) kepada penghuni yang mengikuti Isoman.

“Hasil swab antigen sebelumnya kita gunakan untuk evaluasi kondisinya. Kemudian akan kita lakukan lagi secara bertahap. Hasil swab antigen nanti yang positif dan negatif tentu akan dipisah. Yang positif tetap menjalani isolasi dengan pengawasan,” tandasnya.(end)

Puluhan Wartawan Jalani Vaksinasi di RSUD Kanjuruhan

Ketua PWI Malang Raya, Cahyono, saat divaksin. (Toski D).

MALANGVOICE – Puluhan jurnalis yang bertugas di Kabupaten Malang akhirnya mendapat kesempatan ikuti vaksinasi tahap pertama, Senin (22/3).

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya, Cahyono mengatakan, pelaksanaan vaksinasi terhadap para jurnalis ini dilakukan di RSUD Kanjuruhan, Kepanjen.

“Jurnalis ini bagian dari garda depan selain tenaga medis serta TNI-Polri. Jurnalis sebagai penyalur informasi kepada masyarakat di masa pandemi. Dengan vaksinasi ini diharapkan teman-teman yang setiap hari di lapangan bisa aman dan tenang saat menjalankan tugas,” ucapnya.

Vaksinasi bagi jurnalis ini bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

“Saya sangat mengapresiasi Pemkab Malang yang telah memberikan kesempatan bagi teman-teman wartawan,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Cahyono, dengan adanya vaksinasi ini dapat mengedukasi masyarakat. Bahwasanya, vaksin itu aman dan halal, sesuai yang didengungkan pemerintah selama ini.

“Vaksinasi ini aman dan halal, masyarakat jangan khawatir,” tegasnya.

Sebagai informasi, vaksinasi ini merupakan wujud sinergitas nyata antara media dan penyelenggara pemerintah, apalagi Presiden Joko Widodo berharap, seluruh insan pers di Tanah Air segera melakoni vaksinasi.(der)

10 Tips Hidup Sehat dan Bugar Sederhana

Ilustrasi olahraga (doc pinterest).

MALANGVOICE – Menjaga gaya hidup dan kesehatan itu sangat penting untuk setiap manusia, agar ketika menjalankan aktivitas sehari-hari bisa berjalan semaksimal mungkin.

Dilansir dari Yourtango, ada 10 cara yang bisa dilakukan supaya tubuh dan pikiran anda bisa lebih sehat.

1. Pelihara sisi fisik
Perawatan tubuh itu sangat penting dilakukan dan merupakan keharusan.

2. Mengatur pola makan
Setiap makanan yang dikonsumsi pasti berpengaruh pada kondisi tubuh dan pikiran. Dari situ sebaiknya kurangi makan-makanan olahan dari toko dan membeli bahan-bahan yang memiliki vitamin tinggi untuk diolah sendiri.

3. Minum air yang cukup
Jangan sampai lupa untuk mengkonsumsi air, karena itu sangat penting. Sehingga disarankan untuk minum air sebanyak delapan gelas dalam satu hari.

4. Miliki Program Latihan
Pakar kebugaran mengatakan jika setiap orang harus aktif setiap hari dalam seminggu setidaknya selama 30 menit. Bisa dilakukan dengan hal yang sederhana seperti membersihkan rumah, memotong rumput, atau mengatur garasi.

5. Tidur tepat waktu dan teratur.
Kebanyakan orang-orang kurang memperhatikan tidur mereka, padahal hal itu sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Sebisa mungkin tidur tepat waktu yang sama disetiap malam dan bangun pada waktu yang sama setiap pagi.

6. Ciptakan lingkungan rumah yang baik
Rumah merupakan tempat seseorang tinggal dan menghabiskan waktu. Sehingga jangan sampai biarkan rumah itu kacau dan rusuh, karena dari kekacauan itu akan membawa energi negatif.

7. Kelilingi diri dengan orang yang tepat.
Sesekali seseorang perlu meluangkan waktu untuk melakukan evaluasi terhadap beberapa orang yang selalu ada di sekeliling. Dan jika diketahui ada yang memiliki pengaruh buruk jangan ragu-ragu untuk meninggalkannya.

8. Perdalam hubungan dengan pasangan
Pasangan hidup sangat memiliki pengaruh pada kehidupan seseorang kedepannya. Jadi perlu meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal bersama, guna meningkatkan hubungan yang dimiliki.

9. Pastikan anda memiliki karier yang cocok
Memiliki pekerjaan yang cocok itu sangatlah penting, karena karier yang cocok itu akan mempengaruhi semua bidang lain dalam hidup anda.

10. Maafkan Masa lalu
Setiap orang mungkin memiliki sesuatu dimasa lalu yang ingin dilupakan. Dari situ perlu dimaafkan baik itu kepada orang lain ataupun diri sendiri. Sebab hal itu dapat berpengaruh pada semua bagian dalam hidup seseorang kedepannya.(der)

Fasilitas Terbatas, Tak Buat Semangat Dokter RSUD Kota Malang Surut Tangani Covid-19

dr R.A.Siti Juhariyah,SpP. (Istimewa)
Kominfo Pemkot Malang
Kominfo Pemkot Malang

MALANGVOICE – Keterbatasan fasilitas yang dimiliki RSUD Kota Malang karena baru menjadi rumah sakit tipe C, ternyata tidak menyurutkan semangat dokter dan tenaga kesehatan (nakes) untuk terus menangani pasien Covid-19.

Seperti yang dilakukan dr. R.A. Siti Juhariyah, SpP (47) salah satu dokter spesialis paru RSUD Kota Malang. Setiap harinya, ia menangani pasien dengan penyakit paru dan juga pasien Covid-19.

“Menemui tantangan dan hambatan pasti ada. Tapi sebagai profesional terus berupaya melayani pasien sebaik mungkin. Baik itu pasien dengan gangguan pada paru-paru atau pasien Covid-19,” ujar Siti Juhariyah, Senin (25/10/2021).

Perempuan yang pernah mendapatkan penghargaan Nakes Berprestasi Juara II Tahun 2020 tingkat Jawa Timur (Jatim) itu mengaku pada awal pandemi Covid-19, menjadi momen paling menantang selama hampir empat tahun dia bekerja di RSUD Kota Malang.

“Menangani pasien Covid-19 pada awal pandemi saya rasa penuh tantangan, karena RSUD Kota Malang belum menjadi rumah sakit rujukan yang ditunjuk Kemenkes. Jadi siap tidak siap harus menerima pasien Covid-19 dan memang persiapannya juga cukup singkat supaya kita bisa menerima pasien Covid-19,” ucap dia.

Lebih lanjut, pihak RSUD Kota Malang sendiri tengah bersiap menghadapi perubahan dari pandemi ke endemi dengan menyediakan layanan terpisah untuk menangani pasien yang memiliki penyakit umum dan pasien Covid-19.

“Kita tangani dengan jalur Covid-19 dan pasien yang tidak kita curiga ya Covid-19 ya pada jalur yang reguler biasa. Jadi kita sudah menyiapkan ada poli Covid-19 ada IGD Covid-19 termasuk rawat inap Covid-19, lalu yang saat ini disiapkan adalah OK Covid-19. Kita sedang persiapan untuk membikin seperti itu,” kata dia.

Meski layanan pasien sudah dipisahkan, penerapan protokol kesehatan (prokes) tetap harus dijalankan utamanya penggunaan masker. “Seperti saat ini pun kita harus pakai masker. Dipakai, tidak hanya selama di rumah sakit (RS) apalagi saat di RS tidak boleh tidak. Dan tidak hanya mengikat kita sebagai pegawai RS juga si pengunjung, pasien, keluarga pasien itu harus tetap kita jalankan,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif mengimbau kepada masyarakat supaya tetap mematuhi prokes dan regulasi yang sudah ditentukan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang.

“Selain itu, vaksinasi kepada warga Kota Malang yang masih belum vaksin maka diimbau untuk vaksin baik dosis satu maupun dosis ke dua,” ucap dia.

Hal itu, dilakukan untuk mengantisipasi perkiraan gelombang ke-3 lonjakan kasus Covid-19 pada bulan Desember tahun 2021.

Sementara itu, Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji mengatakan, Pemkot Malang telah mengaktifkan proses pemulasaraan jenazah Covid-19 di RSUD Kota Malang sejak 11 Juli 2021 lalu. Hal ini untuk mengatasi overload di rumah sakit rujukan Covid-19 yang ada di Kota Malang.

“Saat ini Covid-19 sudah melandai, tapi saya mengimbau kepada warga Kota Malang agar tidak bereforia, tetap taat protokol kesehatan. Sehingga kita bisa segera menghirup udara bebas Covid-19 dan ekonomi warga bisa bangkit kembali,” pungkasnya.(der)

Ruang IGD Penuh, Sutiaji Ajak Masyarakat Taat Prokes dan Patuhi PPKM Darurat

Forkopimda meninjau rumah sakit. (Istimewa)

MALANGVOICE – Wali Kota Malang, Sutiaji meninjau ketersediaan ruang IGD RS Saiful Anwar dan RS Lavalette, Rabu (7/7).

Dalam peninjauan itu terlihat penuhnya kapasitas IGD kedua Rumah Sakit tersebut. Hal itu langsung membuat Sutiaji prihatin.

“IGD sampai penuh, bahkan waiting list nya juga sudah sangat banyak. Dari kapasitas 20 pasien yang ditangani; di luar masih ada 40 pasien lagi yang waiting list. Ini betul-betul menunjukkan kedaruratan Kota Malang,” ujarnya.

Peninjauan bersama pimpinan Forkopimda lainnya, dikatakan Sutiaji adalah dalam rangka menjunjung kemanusiaan; agar tahu secara langsung bagaimana situasi di lapangan.

“Covid ini nyata, jangan lagi ada praduga masyarakat yang mengatakan kegiatan kami ini hanya untuk pencitraan; kami bersama – sama bekerja sekuat kami untuk mengendalikan penyebaran Covid di Kota Malang,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, kerja keras jajaran Pemkot Malang dan Forkopimda Kota Malang tidak akan berhasil jika masyarakat tidak mendukung.

“Saya meminta masyarakat untuk taat prokes dan aturan yang berlaku selama PPKM Darurat diterapkan; hanya sampai tanggal 20 Juli agar setelahnya kondisi Kota Malang menjadi lebih baik,” tegasnya.

Usai meninjau langsung kondisi IGD di RSSA dan RS Lavalette, Walikot Sutiaji beserta rombongan melanjutkan peninjauan ke Pemakaman Umum Samaan.

“Nakes dan petugas pemakaman telah bekerja tanpa henti, tanpa lelah untuk dapat terus melayani masyarakat; ada puluhan pasien dan pemakaman yang harus ditangani setiap harinya, jadi berdasarkan azas kemanusiaan maka saya meminta masyarakat untuk patuh,” tambah Sutiaji.

Sementara itu, dr Widodo Mardi S, selaku dokter yang bertugas di RSSA turut menyampaikan imbauannya agar masyarakat taat terhadap protokol kesehatan.

“Bahwa kita betul-betul harus menjaga protokol kesehatan dengan ketat. Satu kata dalam pandemi ini, bahwa instruksi itu satu bahwa dari pemerintah. Turuti itu protokol kesehatan yg diperintahkan oleh pemerintah. Kita jaga itu, kita menjaga semuanya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tenaga kesehatan di RSSA terus berupaya yang terbaik dalam memberikan penanganan.(der)

Cegah Pneumonia, Kota Malang Gratiskan Imunisasi PCV

Imunisasi PCV pada balita. (Istimewa)

MALANGVOICE – Kota Malang menjadi salah satu dari delapan kota di Jatim yang mendapat prioritas imunisasi PCV dari Kemenkes RI. Delapan daerah itu adalah Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Malang, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Jember, Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kota Malang.

Terpilihnya Kota Malang ini membuat Dinas Kesehatan Pemkot Malang memberikan secara gratis imunisasi PCV (Pneumokokus Konyugasi Vaksin) untuk mencegah penyakit pneumonia (radang paru) pada bayi dan balita.

“Kalau harus suntik secara mandiri di dokter spesialis, harga sekali suntik bisa sampai sejuta. Ayo ibu-ibu manfaatkan kesempatan ini. Kota Malang dapat prioritas untuk imunisasi PCV dari pemerintah,” ungkap Kadinkes Kota Malang dr Husnul Muarif melalui Pengelola Program Imunisasi, Endah Susyanty S.KM, Kamis (18/11).

Dijelaskan Endah, imunisasi PCV diberikan agar bayi terbebas dari penyakit pneumonia atau radang paru akibat bakteri Pneumokokus. Pemberiannya dilakukan tiga kali. Yakni ketika bayi berusia dua bulan, tiga bulan, dan 12 bulan.

Imunisasi PCV ini bisa dibilang melengkapi imunisasi dasar lengkap (DPT, BCG, Campak, dsb) yang memberikan perlindungan ganda dari penyakit pneumonia.

“Ayah bunda yang punya bayi usia di bawah 9 bulan, ajak bayinya ke fasilitas kesehatan di seluruh Kota Malang, tanpa syarat apa pun dan tanpa biaya apapun. Tentunya kondisi bayinya sehat dahulu. Karena syarat imunisasi ya tentu bayinya sehat,” ajak Endah.

Dalam pemberian imunisasi PCV ini, Endah mengingatkan bahwa petugas puskesmas nanti akan mengeluarkan jadwal imunisasi PCV. Jadwal itu berguna karena dalam imunisasi PCV minimal terkumpul 4 bayi dalam satu jadwal vaksin.

Harus ada minimal empat bayi dalam satu jadwal disebabkan satu vial (botol kecil) vaksin PCV diperuntukkan bagi empat (4) bayi.

“Nanti korim (koordinator imunisasi) tiap puskesmas akan mengatur jadwalnya. Ibu tinggal mendaftar dan menunggu jadwalnya saja,” jelas Endah.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis anak Dr dr Ery Olivianto Sp.A(K) menegaskan bahwa pneumonia alias radang paru adalah number one killer (pembunuh nomor satu) pada bayi dan balita di dunia.

“Angka kematian anak di dunia, 15 persen karena pneumonia. Ini number one killer bagi balita dan anak-anak,” tutur dokter Ery yang bertugas di Klinik Anak Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Di RSSA sendiri, pada 2020 tercatat kasus pneumonia semua usia yang menjalani rawat inap sejumlah 271 pasien dan rawat jalan 95 pasien.

Sementara pada 2021 sampai Oktober 2021, yang menjalani rawat inap 195 pasien dan rawat jalan 75 pasien.

“Kalau di RSSA biasanya yang kasus berat. Saya yakin di rumah sakit lainnya yang kasus-kasus ringan masih banyak. Jadi penyakit ini patut diwaspadai,” tutur dr Ery yang merupakan konsultan respirologi ini.

Para ibu, lanjut dr Ery, sudah seharusnya mengetahui gejala awal serangan pneumonia pada bayi dan balita. Gejala utama adalah batuk dan demam. Lalu perhatikan nafas anak atau balita, cepat atau tidak, sesak atau tidak.

Bila anak kelihatan sesak, apalagi bayi malas minum, kejang, segera bawa ke dokter atau hubungi petugas puskesmas. Nanti dokter akan mendeteksi dan memastikan apakah ada serangan pneumonia atau tidak.

Untuk pencegahan serangan pneumonia, harus melihat faktor risiko terlebih dahulu. Janin yang lahir prematur, gizi buruk, atau tidak diberikan ASI ekslusif selama enam bulan punya risiko tinggi terserang pneumonia.

Lalu balita yang berada di ruangan dengan polusi udara, misal asap rokok juga rentan pneumonia. Bayi yang imunisasinya kurang lengkap, juga lebih rentan terserang pneumonia.
Selain menjaga lingkungan dan menjauhi faktor risiko, pencegahan pneumonia juga dengan imunisasi.

Ada beberapa jenis imunisasi yang bisa mencegah pneumonia pada anak. Antara lain imunisasi DPT (dipteri pertusis tetanus). Imunisasi pertusis itu mencegah infeksi saluran nafas penyebab pneumonia. Lalu imunisasi Campak. Penyakit Campak ini komplikasi yang paling mengerikan adalah pneumonia.

Lalu ada imunisasi influenza yang juga bisa mencegah pneumonia. Dan yang terbaru adalah imunisasi PCV yang mencegah bakteri Pneumokokus mengganas, bakteri penyebab utama pneumonia atau radang paru-paru.

“Pengalaman di negara lain, setelah pemberian vaksin PCV, kasus pneumonia turun. Di Indonesia baru mulai vaksinasi secara masal di puskesmas sekarang. Sehingga ini kesempatan yang bagus bagi para ibu dan balita untuk mendapatkannya secara gratis. Kalau bayar hampir sejutaan,” kata dr Ery.

Terkait darimana anak bisa mendapatkan bakteri Pneumokokus penyebab pneumonia? dr Ery menjelaskan bakteri Pneumokokus bisa didapat dari udara melalui saluran napas. Bisa juga ada orang batuk dan menyebarkan kuman ke udara. Celakanya anak menghirup udara itu dan masuk sampai ke paru-paru. Atau anak tertular dari droplet orang dewasa yang menyebarkan bakteri Pneumokokus.

“Tidak ada faktor keturunan dalam penyakit pneumonia. Belum tentu orang tua kena pneumonia, anak juga kena pneumonia. Kalau tertular mungkin bisa. Tetapi bukan keturunan,” jelasnya.(der)

Mata Gatal di Malam Hari Ketahui Penyebabnya

Mata (Pixabay/Ist).

MALANGVOICE – Mata Gatal biasanya sering terjadi, terutama disaat malam hari. Dimana seseorang bisa merasakan tubuh lebih extra dibandingkan saat beraktifitas di pagi atau siang hari.

Mata Gatal sendiri dapat disebabkan karena beberapa hal. Berikut delapan penyebab mata gatal dilansir dari Medical News Today.

1. Mata Kering
Suatu kondisi karena mata tidak mendapat cukup pelumas sepanjang hari.

2. Alergi
Kontak dengan benda asing yang menyebabkan gatal, seperti riasan, serbuk sari, dan ketombe.

3. Dermatitis Atopik
Jenis eksim yang menyebabkan kulit merah, gatal, serta kering.

4. Kelelahan Mata
Dikarenakan menatap layar komputer terlalu lama atau mengemudi jarak jauh.

5. Konjungtivitas
Infeksi yang sangat menular sering disebut sebagai mata merah muda yang menyebabkan mata merah, gatal, dan terbakar.

6. Blefaritis
Peradangan pada kelopak mata yang disebabkan tersumbatnya folikel.

7. Disfungsi Kelenjar Meibom
Ketika kelenjar Meibom tersumbat dan tidak menghasilkan cukup cairan untuk melumasi mata.

8. Obat-obatan Tertentu
Penyebab umum yang dapat mengakibatkan mata kering termasuk antihistamin dan obat tekanan darah.

Apabila mata gatal yang dirasakan cukup sering terjadi, sebaiknya segera datang untuk berkonsultasi kepada dokter sehingga dapat diketahui secara pasti penyebab mata gatal di malam hari.(end)

Muhammadiyah Terima Bantuan Alat Kesehatan Penanganan Covid-19 dan TBC dari USAID

Proses serah terima alat kesehatan RS UMM dan USAID. (Deny rahmawan)

MALANGVOICE – Sebanyak 51 rumah sakit di Indonesia menerima bantuan alat kesehatan dari USAID dan Muhamadiyah. Bantuan diberikan melalui program Mentari TB For COVID-19, Mentari TBRO dan Mentari TB Recovery Plan.

Acara serah terima dilakukan di RS Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (22/2).

Melalui acara ini, Muhammadiyah yang didukung USAID resmi menyerahkan bantuan alat kesehatan kepada 30 Rumah Sakit Muhammadiyah & Aisyiyah yang tersebar di Indonesia dari program Mentari-TB For Covid-19.

Masing-masing rumah sakit mendapatkan 2 unit Kanula Hidung Aliran Tinggi (High Flow Nasal Canula (HFNC)- ventilator non invasif), 2 unit Monitor Pasien (Bedside Monitor), 4 unit Pompa Jarum Suntik (Syringe Pump), 4 unit Pompa Infus (Infusion Pump).

Sedangkan Mentari-TB Recovery Plan menyerahkan 1 unit X-Ray Mobile, 1 unit Apron untuk X-Ray Mobile, 1 unit Partition untuk X-Ray Mobile, 1 unit Google untuk X-Ray Mobile, 1 unit Box Container Specimen, dan 1 unit Refrigerator Specimen kepada masing-masing 48 Rumah Sakit Muhammadiyah & Aisyiyah penerima bantuan.

Sementara untuk program Mentari TB RO, USAID secara penuh mendukung perluasan akses pengobatan, perawatan dan layanan TB-RO melalui kegiatan renovasi bangunan klinik, ruang rawat isolasi dan laboratorium TB RO serta melengkapi prasarana pendukungnya (alat kesehatan, meubelair dan elektronik) yang dimulai prosesnya sejak April 2021 dan selesai di Februari 2022 untuk 6 RSMA di 3 Provinsi yaitu RS Muhammadyah Roemani Semarang dan RS PKU Muhammadiyah Gombong (Provinsi Jawa Tengah), RS PKU Muhammadiyah Gamping (Provinsi DIY) dan RS Muhammadiyah Lamongan, RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kediri, RSU Universitas Muhammadiyah Malang (Provinsi Jawa Timur). Ke 6 RSMA tersebut telah memulai pelayanan dan telah melakukan pengobatan pada pasien TB RO.

Acara ini dihadiri langsung oleh USAID sebagai pemberi donor yang diwakili oleh Mission Director of USAID Indonesia, Jeff Cohen; Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Dr. dr. Eka Jusuf Singka, M.Sc; Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Drh. Didik Budijanto, M. Kes; Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi Kerjasama Internasional, Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni; Ketua Umum MPKU PP Muhammadiyah, Dr. H.M Agus Samsudin, MM; serta para direktur dari Rumah Sakit Muhammadiyah & Aisyiyah penerima bantuan.

Ketua Umum MPKU PP Muhammadiyah, Dr. H. Agus Samsudin menyampaikan apresiasinya kepada USAID atas dukungannya dalam program bantuan alat kesehatan yang diberikan kepada Rumah Sakit Muhammadiyah & Aisyiyah.

Dukungan pasokan medis dan peningkatan kapasitas di ICU COVID-19 merupakan bagian dari upaya kemanusiaan dalam memerangi pandemi COVID-19.

“Dukungan dan distribusi peralatan medis khususnya untuk Unit Perawatan Intensif menjadi kunci peran penting untuk pelayanan kesehatan yang komprehensif untuk COVID-19 kritis dan atau berat, selain itu tujuan khusus program Mentari-TB Recovery Plan, yakni, mendukung kinerja 48 RSMA dalam penemuan kasus dan pengobatan TBC yang ditargetkan di sembilan provinsi area program,” katanya.

Agus menambahkan, sebenarnya Muhammadiyah mempunyai 117 rumah sakit. Namun, ada 51 rumah sakit yang sudah memenuhi persyaratan.

“Kami berharap TB ini program selama tiga tahun. Tapi semoga bisa diperpanjang dan membantu pengobatan mobile,” lanjutnya.

Selain itu, program TB Resisten Obat yang juga didukung USAID diharapkan mampu meningkatkan kemampuan 6 RSMA yaitu RSU UMM, RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kediri, RS Muhammadiyah Lamongan, RS Roemani Semarang, RS PKU Muhammadiyah Gombong dan RS PKU Muhammadiyah Gamping dalam penegakan diagnosis dan terapi TB yang resisten obat.

Kepala RS UMM, Djoni Djunaedi, mengatakan akan segera memanfaatkan alat yang diberikan USAID ini.

“Kami langsung data dan dipakai. Apalagi yang mobile ini sangat dibutuhkan sekali,” imbuhnya.

Upaya COVID-19 Respon oleh Mentari-TB For COVID-19 tidak hanya dilakukan melalui program penguatan kapasitas ICU COVID-19, namun juga melalui program vaksinasi yang sudah berjalan sejak Oktober 2021 di 69 kabupaten/kota.

Selanjutnya, melalui program ini dan dukungan dari USAID dan Kementrian Kesehatan RI, diharapkan Indonesia memiliki lebih banyak fasilitas kesehatan yang mumpuni untuk perawatan gejala berat dan atau kritis pasien COVID-19 serta penanganan TBC.(der)

Puluhan Ribu Anak Usia 6-11 Tahun di Kota Malang, Masih Belasan Ribu yang Disetujui Ortu Ikut Vaksin

Salah satu pelajar mengikuti vaksinasi Covid-19, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang terus melakukan pendataan peserta vaksinasi anak usia 6-11 tahun.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Suwarjana, mengatakan, pendataan itu untuk persiapan vaksinasi anak yang dilaksanakan pada tahun 2022 mendatang.

Kata Suwarjana, dari data Disdikbud Kota Malang terdapat sekitar 90 ribu anak usia 6-11 tahun di lingkup sekolah.

“Berdasar data itu Disdikbud Kota Malang telah menyebarkan form kepada wali murid atau orang tua (ortu) untuk meminta persetujuan anaknya mengikuti vaksinasi,” ujarnya.

Ditambahkan Suwarjana, dari 90 ribu anak, ada sekitar 15 ribu anak yang telah mendapatkan persetujuan dari orang tua untuk mengikuti vaksinasi.

Hanya saja, sambungnya, data itu belum final, sebab pendataan masih terus berjalan sampai sekarang.

“Untuk 15 ribu anak itu yang disetujui orang tuanya dan Kartu Keluarga-nya sudah terupdate. Ini masih akan kita update terus secara bertahap,” ujarnya, Rabu (1/11).

Selain anak usia 6-11 tahun yang terdata di sekolah, pendataan vaksinasi juga akan dilakukan di luar lingkup sekolah, seperti pondok pesantren hingga anak yang belum mendapatkan kesempatan pendidikan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif menyampaikan, pendataan anak usia 6-11 tahun di luar sekolah akan dikoordinasikan dengan pihak RT/RW.

“Yang di sekolah ditangani Disdikbud dan yang informal atau di luar sekolah masuk sasaran kami. Nanti kami akan bekerja sama dengan RT/RW,” terangnya.

Terkait teknis pelaksanaan vaksinasi anak usia 6-11 tahun, dikatakan Husnul, masih menunggu petunjuk teknis (Juknis) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Kami masih menunggu regulasi karena regulasi dari Kemenkes belum turun. Jadi nanti ketika sudah keluar, bisa diketahui pelaksanaannya dari kapan sampai kapan. Vaksin yang digunakan jenis apa,” tandasnya.(end)