Gamal Albinsaid Luncurkan InMed, Aplikasi Panggil Dokter Online

dr Gamal bersama Asisten I Pemkot Malang Abdul Malik dan Kadinkes Asih Tri Rachmi mengenalkan aplikasi berbasis android InMed di Library Cafe, Selasa (23/10). (Aziz Ramadani/MVoice)
dr Gamal bersama Asisten I Pemkot Malang Abdul Malik dan Kadinkes Asih Tri Rachmi mengenalkan aplikasi berbasis android InMed di Library Cafe, Selasa (23/10). (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – Aplikasi layanan medis atau kesehatan berbasis android, InMed lahir di Kota Malang. Pencetusnya adalah dr. Gamal Albinsaid, ‘si dokter sampah’.

Ya, pria penggagas Klinik Asuransi Sampah Kota Malang ini menciptakan inovasi kesehatan. Tujuannya mempermudah pasien memperoleh akses pelayanan kesehatan. Aplikasi ini dapat diunduh gratis di Google Play Store.

Pada peluncuran perdana yang turut disaksikan Asisten 1 Setda Kota Malang Abdul Malik dan Kepala Dinas Kesehatan Asih Tri Rachmi itu, aplikasi InMed memiliki dua fitur yang telah siap digunakan, yakni MedVisit dan MedTalk. Namun penggunaan aplikasi ini masih terbatas di Kota Malang saja.

“Misinya ingin merubah budaya tentang tenaga kesehatan konvensional. Dengan aplikasi ini layaknya aplikasi ojek online.
Tenaga medis mendatangi pasien,” kata Gamal dalam konferensi pers di Library Cafe, Selasa (23/10).

Fitur MedTalk misalnya, lanjut Gamal, pengguna aplikasi dapat menghubungi dokter hingga psikolog yang ingin dikonsultasikan. Pengguna secara real time dapat berdialog dengan tenaga kesehatan tersebut.

Sedangkan, MedVisit merupakan fitur bagi pasien untuk memanggil tenaga medis, baik itu dokter, perawat, bidan, fisioterapi, ahli gizi, atau psikolog ke lokasi pasien (home visit).

“Jadi pasien jadi tidak perlu repot berangkat ke rumah sakit karena mengantre berjam-jam,” sambung Gamal.

Namun panggilan tenaga medis tidak diperbolehkan untuk kasus gawat darurat. Apabila kasus gawat darurat maka hal yang perlu dilakukan membawa pasien segera ke IGD.

“Kami berharap aplikasi berdampak kepada masyarakat yang membutuhkan dan menginspirasi kota lain,” jelas alumnus SMAN 3 Malang ini.

Aplikasi ini tidak hanya ditujukan untuk latihan ekonomi menengah ke atas saja. Tetapi pasien dari kalangan kurang mampu pun bisa menikmatinya.

“Para pengguna tidaknya berasal dari pasien atas aja pasien kurang mampu pun bisa mendapat layanan ini. Karena kita mempunyai sumber pendanaan bagi pasien kurang mampu melalui crowdfunding dari situlah nantinya pasien kurang mampu bisa membayar tenaga medis,” pungkas pria penghargaan pertama untuk kategori pemuda Sustainable Living Young Entrepreneurs dari Kerajaan Inggris ini.

Kepala Dinkes Kota Malang Asih Tri Rachmi mengatakan, jumlah dokter praktek swasta banyak di Kota Malang banyak. Namun realitanya aksesnya belum bisa maksimal. Sementara, misi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang Sutiaji – Sofyan Edi Jarwoko inginkan pelayanan kesehatan 24 jam.

banner

“Aplikasi ini bisa jadi solusinya.
Tentunya pemerintah akan berat mewujudkan ini jika tidak ada peran serta masyarakat, termasuk inovasi ini.
Ini luar biasa,” kata Asih.

Asih menambahkan, selanjutnya akan dikombinasikan kembali dengan pimpinan untuk merespon kolaborasi dan kerja sama. Sebab, menurutnya, perlu juga dinaungi payung hukum sebelum resmi beroperasi.

“Inovasi harus tetap terpayungi hukum.
Lalu ke depan mungkin bisa bekerjasama dengan BPJS. Saya informasikan ke kementrian, agar kemudian mendapatkan payung hukum,” pungkasnya.(Der/Aka)