Erani Yustika: Bonus Geografi Besar, Sayang Banyak Faktor Tak Memadai

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika saat memberi materi kepada mahasiswa UB. (Lisdya)
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika saat memberi materi kepada mahasiswa UB. (Lisdya)

MALANGVOICE – Indonesia saat ini dikategorikan masuk dalam bonus demografi, hal ini dikarenakan penduduknya berada di rentang usia 15 hingga 64 tahun.

“Kenapa bisa dikatakan bonus demografi? Sebab, penduduk bangsa kita masuk dalam usia produktif,” ujar Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika saat memberikan materi kepada mahasiswa UB.

Dijelaskannya, penduduk Indonesia yang rentang usia tersebut masih dapat menyumbangkan tenaga, pikiran, inovasi, gagasan dan karya yang terbaik, sehingga bisa membuat negara tersebut melesat dengan cepat, khususnya dalam pertumbuhan ekonomi.

BNN Kota Malang

Pada tahun 2018, usia produktif di Indonesia sudah mencapai 68 persen dari total penduduk. Sehingga, diperkirakan periode puncak Indonesia dalam urusan berkah demografi akan terjadi pada 2020 hingga 2025. Setelah itu, akan mengalami penurunan proporsi usia produktif hingga pada 2035.

“Bisa dilihat lima tahun mendatang merupakan periode puncak dari berkah demografi di Indonesia. Kemudian ada waktu sepuluh tahun berikutnya untuk terus memacu perekonomian,” paparnya.

Apabila komposisi usia produktif cukup besar, menurutnya, maka Indonesia akan berpeluang untuk membuat lompatan yang besar.

“Tapi ya percuma saja, jika memiliki masyarakat yang usia produktifnya banyak, tapi dari sisi kualitas dan mutunya tidak memadai, sehingga tidak bisa menjadi sandaran bagi kemajuan suatu bangsa,” ungkapnya.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2018 terus meningkat hingga mencapai 71,39. Hal ini menggambarkan masyarakat Indonesia semakin mudah dalam mengakses pendidikan, pendapatan dan kesehatan dari semua hasil pembangunan yang telah dilakukan selama ini.

Sedangkan untuk pendidikan, menurut Erani, di Indonesia lambat tahun mulai berkembang. Hanya saja jika dilihat dari data yang ada, struktur tenaga kerja di Indonesia ternyata paling banyak adalah dari tamatan Sekolah Dasar (SD) yakni sekitar 40 persen, sedangkan SMP hanya 17 persen. Hal ini menandakan mayoritas tenaga kerja Indonesia pendidikannya masih rendah.

“Jika kita terus seperti ini, maka tidak akan bisa. Apalagi pada situasi perubahan yang demikian cepat, yang mengandalkan pada teknologi dan informasi, makin susah,” terangnya.

Sedangkan di sektor kesehatan, pada 2013 setidaknya sekitar 37 persen balita di Indonesia mengalami stunting. Dengan demikian, jelas ada 37 persen tenaga kerja Indonesia yang tidak akan optimal, karena perkembangan masa balitanya tidak ideal.

“Pemerintah masih memiliki PR, bagaimana menurunkan stunting di bawah 20 persen. Karena kalau bebannya terlalu tinggi, betul mereka memasuki usia produktif, tapi kalau tidak optimal maka bukan menjadi pendorong bagi kemajuan,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan FEB UB, Nurkholis mengatakan, melalui kegiatan yang dikuti 2.500 mahasiswa tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan terkait bagaimana perekonomian pada masa mendatang, memanfaatkan bonus geografi, dan pengelolaan bisnis ke depan.

“Agar mereka tahu strategi yang cocok untuk mengembangkan profesionalisme yang diperlukan perekonomian di masa yang akan datang,” tandasnya.(Der/Aka)