Emak-emak Bagikan Kopi hingga Polisi Video Call Bayinya

Sisi Lain Ricuh Demo UU Cipta Kerja

Anggota Brimob Polda Jatim menelepon bayinya di sela-sela pengamanan unjuk rasa di Jalan Kahuripan, Kamis (8/10). (Aziz Ramadani MVoice)
Article top ad

MALANGVOICE – Aksi demonstrasi berujung anarkistis di Kota Malang terselip kisah – kisah yang patutnya menggugah sisi kemanusiaan. Lantas, sampai kapan rakyat harus terus – terusan jadi tumbal elit politik dan penguasa?

Seperti ramai diberitakan beberapa jam terakhir, aksi unjuk rasa menentang disahkannya UU Cipta Kerja Omnibus Law di depan gedung DPRD Kota Malang diwarnai aksi anarkistis, Kamis (8/10). Polisi sedikitnya telah mengamankan 80 oknum demonstran diduga sebagai biang kericuhan. Tercatat satu unit mobil Patwal Satpol PP Pemkot Malang hangus terbakar, tiga motor tersisa kerangka, dan beberapa fasilitas publik hancur berantakan di kawasan Bundaran Tugu Kota Malang.

Di sela-sela aksi mengerikan itu, ada beberapa emak-emak relawan sigap membagikan kopi dan roti gratis kepada para demonstran. Khodijah (40) menuturkan, aksi tersebut murni inisiatif masyarakat yang mendukung penolakan disahkannya UU Cipta Kerja.

“Ini murni dari para donatur yang tak bisa ikut demo,” kata perempuan asal Muharto Kota Malang ini.

Emak-emak relawan bagikan kopi dan roti kepada demonstran di depan Balai Kota Malang, Kamis (8/10). (Aziz Ramadani MVoice)

Ia juga tidak menyangka, aksi donasi untuk membagikan konsumsi kepada para demonstran direspon baik. Padahal pihaknya hanya membuat status lewat WhatsApp.

“Ini dadakan. Semalam bikin status langsung banyak yang DM,” imbuhnya.

Ia menyesalkan pemerintah tidak menggubris aspirasi rakyat di tengah pandemi Covid-19. Bukan memikirkan bagaimana melindungi kesehatan rakyat, malah mementingkan kepentingan investasi.

“Rakyat sudah susah, sekarang dibenturkan seperti ini,” keluhnya.

Terpisah, pemandangan menyentuh hati tersaji ketika salah satu aparat kepolisian Brimob Polda Jatim, Guntur Firmansyah menelepon bayinya yang masih berusia enam bulan. Berulang kali ia menebar senyum ke buah hatinya sembari menyampaikan akan segera pulang setelah tugas mengamankan unjur rasa tuntas.

“Semoga segera selesai (demonstrasi), sudah kangen anak,” ujarnya.

Ia mengaku juga takut apabila ada hal yang tak diinginkan terjadi saat mendapatkan tugas mengawal masa aksi unjuk rasa. Pria asal Kertosono Nganjuk ini tak tega harus jauh dari keluarga, terlebih anak dan istri.

“Mau bagaimana lagi karena ini kewajiban saya. Harapannya tentu tidak ingin ada bentrokan. Saya yakin jika itu teman-teman mahasiswa tidak akan sampai seperti ini (anarkistis),” pungkasnya.(der)