MALANGVOICE– Kolaborasi multipihak merumuskan langkah strategis dalam melindungi keberlanjutan sumber mata air. Berbagai rekomendasi dihasilkan melalui gelaran Rembuk Ekologi dalam rangkaian Festival Mata Air ke-3 yang berpusat di Balai Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Gelaran Rembuk Ekologi diikuti 100 peserta dari berbagai latar belakang. Mulai dari dari perwakilan Perum Perhutani, pengelola Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam) se-Kecamatan Bumiaji, kalangan pemerintahan, akademisi hingga tokoh masyarakat.
Kebaya Merah Sukarni, Simbol Perjuangan Perempuan di Tengah Jalanan di Hari Kartini
Forum strategis ini bertujuan merumuskan sinergi antara kebijakan pemerintah, kajian akademis, dan kearifan lokal guna menjamin keberlanjutan sumber air di wilayah hulu yang menjadi penopang hidup masyarakat Malang Raya. Sejumlah butir rekomendasi strategis terkait perlindungan sumber mata air diserahkan kepada Pemkot Batu sebagai bahan pertimbangan penyusunan regulasi lingkungan di masa mendatang.
Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, hadir langsung dalam diskusi tersebut. Ia menegaskan bahwa Desa Bulukerto memiliki peran vital sebagai benteng alam. Jika ekosistem di hulu rusak, maka dampak krisis air akan dirasakan langsung oleh masyarakat di wilayah hilir.
“Setiap tetes air adalah pertaruhan antara hidup dan kehidupan. Karena itu, menjaga sumber air bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyangkut masa depan generasi kita,” tegas Heli Suyanto.
Menurutnya, butuh kolaborasi triple helix antara pemerintah sebagai pembuat kebijakan, akademisi sebagai penyedia landasan ilmiah, dan masyarakat sebagai garda terdepan pelaksana di lapangan. Karena gerakan konservasi mata air tidak bisa dilakukan secara parsial.
Forum ini menghadirkan perspektif lintas disiplin melalui sejumlah narasumber kompeten seperti Prof. Rachmad Kristiono Dwi Susilo (Kaprodi S2 Sosiologi UMM) yang menyampaikan materi Meninjau dari aspek sosial dan penguatan komunitas.
Kemudian M. Fahrudin Andriansyah Dosen Ilmu Hukum Unisma yang menitikberatkan pada aspek legal dan perlindungan hukum sumber air. Serta Kepala DLH Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan yang memaparkan implementasi kebijakan lingkungan di tingkat daerah.
Dalam forum ini, keterlibatan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (Unisma) mendapat apresiasi khusus. Heli mendorong agar hasil riset mengenai lingkungan tidak hanya berhenti di perpustakaan kampus, melainkan didigitalisasi agar bisa diakses oleh masyarakat luas.
“Kita butuh aksi nyata yang terintegrasi. Saya berharap riset dari para peneliti bisa masuk ke perpustakaan daerah dalam bentuk digital. Dengan begitu, generasi muda bisa belajar konservasi dari sumber yang kredibel,” tambah pria asli Kota Batu tersebut.
Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, menjelaskan bahwa Festival Mata Air ini merupakan agenda konsisten tahunan yang kini memasuki tahun ketiga. Baginya, posisi geografis Bulukerto di dataran tinggi adalah sebuah tanggung jawab moral yang besar.
“Bulukerto berada di kawasan hulu yang menjadi benteng alam. Setiap kebijakan yang kami ambil di tingkat desa harus benar-benar berpihak pada pelestarian mata air. Ini adalah komitmen kami untuk warga Batu dan sekitarnya,” jelas Suhermawan.(der)