Bajang, Pecinta Alam dan Pengrajin Miniatur Rumah Pohon dari Bumiaji

Bajang dan karya buatannya (anja)
Bajang dan karya buatannya (anja)
Article top ad

MALANGVOICE – Usia bukan halangan untuk pria ini terus kreatif berkarya. Ialah Samadi Bajang, pria usia 58 tahun, asal Bumiaji yang ulet membuat miniatur rumah dari kayu pohon bekas.

Bajang, begitu dia akrab disapa, mulai mencoba-coba membuat miniatur rumah awal Januari 2017. Rumah-rumah mini itu dia buat dari bahan dasar kayu bekas, ranting, dan akar-akar pohon. Bahan-bahan itu membuat karya Samadi terlihat unik dan punya nilai seni.

Bajang tidak asal membuat miniatur rumah pohon. Segala aspek, mulai ukuran, jenis pohon, bentuk bangunan rumahnya ia harus samakan ketika akan membuat rumah pohon di hutan. Ya, cita-cita Samadi adalah mewujudkan miniatur rumah pohonnya ke rumah pohon sungguhan.

“Tidak hanya rumah pohon, buat arena camping, outbond. Iseng-iseng cari di internet, kenapa kok gak coba buat miniatur saja dulu buat contoh. Dari situ langsung cari bahan buat miniatur rumah pohon,” kata Bajang,” Bajang bercerita.

Rumah pohon itu, lanjut dia, rencananya akan didirikan di jalur pendakian gunung Arjuna, desa Tegal Sari. Memang Bajang dari dulu gemar mendaki. Bahkan diusianya tak lagi muda, pria ini masih sanggup menaklukkan gunung-gunung aktif di Jawa Timur.

Ia mengatakan, luas hutan yang akan ia jadikan sebagai arena camping, rumah pohon itu sekitar 2 hektar. Terlebih dahulu ia harus mengurus izin dari Perhutani.

“Menyesuaikan keadaan hutannya. Miniatur yang saya buat sendiri ini ialah miniatur yang memang cocok untuk dibangun di hutan. Seperti rumah pohon menyerupai pondok. Karena tidak banyak bangunan,” tutur buruh tani yang juga sebagai sesepuh pendiri komunitas Pecinta Alam Cansabalas ini.

Namun sayang, banyak anak muda menolak membantu dirinya membuat kerajinan yang ia buat itu. Alasannya, banyak di antara mereka yang mengaku tidak kreatif dan tidak telaten.

“Dari pada mereka nganggur tidak jelas saya ajak untuk buat kerajinan ini. Meskipun hanya sekedar menghaluskan kayu saja mereka katanya tidak telaten,” kata Bajang.

Padahal, lanjutnya, niat Bajang baik untuk memberikan hasil tambahan kepada anak-anak muda di sekitar kediamannya.

Hasil kerajinan Bajang sudah dibeli oleh beberapa orang. Ia memberikan harga sesuai kerumitan rumah pohon yang ia buat. Karyanya ia jual Rp 30-200 ribu.