MALANGVOICE – Seorang perempuan di Malang viral di media sosial setelah berani speak up soal dugaan pelecehan seksual dan manipulasi psikologis yang dialaminya. Terduga pelaku disebut sebagai seorang oknum gus yang kerap merekrut perempuan sebagai talent atau muse konten.
Korban, pemilik akun Instagram @rizkanhy, membagikan pengalamannya yang terjadi pada akhir 2025. Ia mengaku awal mula kejadian bermula dari ketertarikannya pada lowongan kerja sebagai muse konten di media milik terduga pelaku.
Polisi Panggil Tiga Saksi Tambahan dari Kasus Perundungan Siswi SMP di Sukun
Saat itu, korban diminta datang untuk shooting bersama kru. Namun sejak awal, tidak ada penjelasan rinci mengenai konsep video yang akan dibuat.
“Dibilangnya cuma butuh muse untuk shooting. Nggak ada penjelasan detail konsepnya. Aku kira kayak photoshoot biasa,” ujar Rizka, Kamis (5/2).
Menurut pengakuannya, proses produksi berlangsung tidak jelas. Lokasi syuting berpindah-pindah hingga akhirnya diketahui berada di wilayah Pakis, Kabupaten Malang.
“Dia sering hire muse perempuan, tapi briefing-nya nggak jelas. Baru di lokasi, semuanya berubah,” lanjutnya.
Pengalaman serupa juga diungkapkan korban lain, pemilik akun @sovinovitav. Ia menyebut kejanggalan mulai terasa sejak hari produksi. Hampir seluruh kru di lokasi berjenis kelamin laki-laki dan tidak ada penjelasan ulang terkait alur kerja maupun konsep konten.
Sesi shooting disebut molor berjam-jam dan berpindah-pindah tempat, bahkan dilakukan di lokasi yang tidak lazim untuk produksi konten, seperti area penjualan hingga tempat penyembelihan hewan.
Puncaknya, korban mengaku diminta melakukan adegan sumpah pocong secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Tag-nya molor banget. Di tengah-tengah baru dikasih tahu kalau diminta sumpah pocong,” ungkap Rizka.
Sejumlah korban sempat menolak. Namun mereka mengaku berada dalam posisi tertekan karena lokasi yang terpencil, situasi yang tidak kondusif, serta dominasi kru laki-laki di sekitar mereka.
Tak hanya di lokasi shooting, korban lain juga mengungkap adanya pendekatan personal yang dilakukan oleh asisten terduga pelaku. Percakapan awalnya terkait pekerjaan, namun perlahan melebar ke topik uang, relasi pribadi, hingga kriteria pasangan hidup.
Korban kemudian diarahkan untuk bertemu langsung dengan sosok yang disebut sebagai gus, dan diminta mengikuti aktivitas yang diklaim sebagai pembuktian spiritual.
Sovi mengaku diminta menuliskan nama dan tanggal lahir, lalu diberi narasi bernada ramalan tentang kesialan, kematian, hingga masa depan hidupnya.
“Aku takut, nangis, bingung harus ngapain. Posisi mental aku benar-benar tertekan,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, ia mengaku diarahkan melakukan tindakan fisik yang sama sekali tidak berkaitan dengan pekerjaan, termasuk diminta memijat pelaku dengan dalih ritual atau penangkal tertentu.
Korban berusaha menghindari situasi itu dengan berpura-pura kelelahan dan tertidur, hingga akhirnya bisa meninggalkan lokasi pada dini hari.
Pengakuan para korban menunjukkan pola yang serupa, mulai dari job talent fiktif, briefing tidak transparan, manipulasi spiritual, hingga dugaan tindakan asusila.
Menyadari kasus dugaan pelecehan seksual kerap sulit diproses secara hukum karena minim bukti visual maupun visum, para korban memilih menyampaikan pengalaman mereka melalui media sosial sebagai bentuk peringatan.
“Tujuannya bukan hate speech. Cukup saling mengingatkan, report, dan block,” tegas salah satu korban.
Para korban juga memilih tidak menyebutkan identitas pelaku secara gamblang, dengan berbagai pertimbangan, termasuk aspek hukum.
Kasus ini diharapkan menjadi pengingat bagi pekerja kreatif, khususnya perempuan, agar lebih berhati-hati menerima tawaran kerja. Mulai dari memastikan adanya kontrak tertulis, briefing yang jelas, detail konsep konten, hingga keamanan lokasi dan kru.
“Dia jual agama, manipulatif. Kontennya penistaan. Sumpah pocong, pemaksaan untuk percaya ilmu sihir,” pungkasnya.(der)