MALANGVOICE – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat meresmikan Gedung Parkir Kayutangan, Sabtu (10/1). Peresmian ini menjadi penanda keseriusan Pemkot Malang dalam menata sistem parkir sekaligus memperkuat kawasan wisata Kayutangan Heritage.
Sejak kembali dioperasikan pada 7 Januari 2026, kendaraan roda dua sudah tidak diperbolehkan parkir di badan jalan kawasan Kayutangan. Seluruh motor kini wajib masuk dan parkir di gedung parkir yang telah disediakan.
Lahan Dirusak untuk Jalan, Kakek Solikin Minta Klarifikasi Pemkot Malang
Gedung parkir yang pembangunannya rampung akhir 2025 itu mampu menampung 800 sepeda motor dan 40 mobil. Sementara untuk kendaraan roda empat, kapasitasnya masih terbatas sehingga masih diperbolehkan parkir di badan jalan.
Wahyu Hidayat mengatakan, keberadaan gedung parkir ini diharapkan membuat kawasan Kayutangan Heritage semakin tertata dan nyaman bagi wisatawan.
Gedung Parkir ini salah satu solusi sehingga kepadatan sepanjang Kayutangan bisa teratasi. Sementara memang mobil masih boleh parkir di kiri jalan Kayutangan,” ucapnya.
Wahyu juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan pengunjung yang mulai memarkir kendaraannya di Gedung Parkir Kayutangan. Dimana sebelumnya, kendaraan pengunjung banyak terparkir di tepi jalan.
“Memang gedung parkir ini dibuka gratis sampai tanggal 13 Januari nanti. Harapannya, bisa membiasakan pengunjung untuk tidak parkir di tepi jalan,” tuturnya.
Di tepi jalan, petugas juga tampak melakukan pengawasan terhadap sepeda motor yang parkir di sepanjang Kayutangan. Rencananya, sepeda motor yang tak menaati aturan akan ditilang setelah masa sosialisasi pada 7-13 Januari 2025 selesai.
Tak berhenti di situ, Pemkot Malang juga menyiapkan rencana besar untuk mengintegrasikan Kayutangan dengan sejumlah kawasan strategis lain. Mulai dari Alun-alun Merdeka, Dewan Kesenian Malang (DKM), Pasar Splendid, Tarekot, Alun-alun Tugu hingga Stasiun Malang.
“Jadi nanti Kayutangan ini akan menyambung dengan kawasan yang ada. Seperti Splendid, DKM, Tarekot, Alun-alun Tugu, stasiun, termasuk Alun-alun Merdeka yang saat ini direvitalisasi. Semua akan kami tata,” ujar Wahyu.
Ia juga menyoroti potensi Gedung DKM sebagai rumah para seniman dan budayawan. Ke depan, Pemkot berencana menetapkan jadwal rutin pertunjukan seni dan budaya nusantara di lokasi tersebut.
Sejumlah titik lain dalam kawasan itu juga akan dipoles agar benar-benar menjadi satu kawasan wisata terintegrasi. Salah satunya Tarekot yang akan kembali dihidupkan daya tariknya.
Selain itu, Wahyu mengungkapkan rencana menghidupkan kembali Pasar Senggol. Lokasinya direncanakan berada di sekitar Pasar Splendid.
Menurutnya, Pasar Senggol bisa menjadi solusi penataan pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini kerap muncul di kawasan Alun-alun Merdeka hingga Kayutangan Heritage.
“Dulu waktu saya kecil ada Pasar Senggol. Nah, untuk mengatasi permasalahan PKL di alun-alun, salah satunya dengan mengaktivasi Pasar Senggol,” tandasnya.(der)