Wisata ke Kayutangan, Melihat Peninggalan Kolonial Belanda

Pameran Kayutangan Heritage di Lapangan Rampal. (Lisdya)

MALANGVOICE – Pemerintah Kota Malang telah menetapkan kawasan Kayutangan sebagai heritage sejak bulan April lalu.

Jalanan di kawasan ayutangan sejak jaman dahulu merupakan jalan porosnya Kota Malang, terlebih banyak sekali peninggalan bangunan rumah warga yang sangat kental dengan arsitektur kolonial (Belanda).

Bendahara Kayutangan Heritage, Mila Kurniawati mengatakan jika wisata tengah kota ini baru saja diberlakukan ticketing sejak awal bulan Desember. Sebelumnya, pengunjung hanya mengisi buku tamu yang telah disediakan oleh panitia.

“Dulu masih mengisi buku tamu, sekarang sudah diberlakukan ticketing sejak bulan ini. Per tiket harganya lima ribu, itu sudah mendaptkan posca dan sticker,” katanya kepada MVoice, Sabtu (29/12).

Lalu, apa saja wisata yang disuguhkan oleh Kayutangan Heritage ini?

Mila pun memaparkan ada berbagai peninggalan kejayaan masa lalu, seperti bangunan toko, Makam Eyang Honggo Kusumo, Kuburan Tandak, pasar krempyeng, irigasi Belanda, saluran air, tangga 1000, berbagai rumah jaman kolonial dan berbagai spot menarik lainnya.

“Karena lokasi tiket ada lima yakni di Basuki Rachmad gang 4 dan 6, Semeru, Dorowatu, dan Es Talun itu awalnya kendala kami. Tapi sekarang sudah tidak,” paparnya.

Nantinya, pada tahun 2019 Kayutangan Heritage akan mengisi agenda tahunan yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang.

Agenda itu meliputi, Festival Pasar Krempyeng yang akan diadakan pada 25 Januari mendatang, Riayan di Kampung Kayutangan pada hari lebaran Idul Fitri, serta agenda akhir tahun.

“Kalau untuk agenda akhir tahun itu kami belum tahu, kemungkinan festival juga. Kalau setiap bulan ada agenda rutin, mulai dari keroncongan, pameran ontel dan lain-lain,” pungkasnya.(Hmz/Aka)