Uprisesurabaya dan Rockinsurabaya Sukses Gelar Konser Musik di Ketinggian Kota Batu

Konser Hutanda di Bukit Glagah Wangi, Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur (istimewa)
Article top ad

MALANGVOICE – Konser musik bernama Hutanda di alam terbuka pada 1.400 meter di atas permukaan laut (MDPL) berhasil digelar. Konser itu diselenggarakan di Bukit Glagah Wangi, Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, berlangsung dua hari Sabtu dan Minggu ini.

Pagelaran seni suara itu digelar oleh kolaborasi Uprisesurabaya dan Rockinsurabaya. Uprisesurabaya adalah wadah pecinta alam di Surabaya. Sesangkan Rockinsurabaya adalah platform musik bagi anak-anak muda di Surabaya dan sekitarnya.

“Hasil kolaborasi dari Uprisesurabaya dan Rockinsurabaya ini kami tuangkan dalam berbagai kegiatan alam, termasuk menggelar mini konser oleh Iksan Skuter, dan The Orcas,” ujar Panitia acara Hutanada, Affan Haris Shofwanadi (21/11).

Dalam malam yang dingin itu berhasil dihangatkan suasananya oleh beberapa tembang dari Iksan Sekuter, seperti judul Bingung dan Rindu Sahabat. Meskipun semakin malam semakin dingin dengan suhu 20 derajat celcius para penonton tetap betah menyaksikan konser tersebut.

Setelah itu suasana semakin hangat ketika digelar diskusi tentang alam. Keakraban dari peserta yang mayoritas adalah pecinta alam dari berbagai daerah di Surabaya, Malang, Jombang, Kediri dan kota sekitarnya menjadikan acara ini makin meriah.

Dalam diskusi itu dibahas materi seperti Navigasi Darat dari pemateri berasal dari komunitas pecinta alam Semanggi Alas. “Ada juga sesi diskusi manajemen pendakian dari APGI (Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia),” ungkap Affan.

Selain itu ada materi dari Dagelan Adventure tentang ultralight hiking. Ultralight hiking adalah pergi ke alam bebas dengan barang bawaan seringan mungkin tanpa meninggalkan kenyamanan dan keamanan di alam bebas.

Dalam kesempatan lain pengurus SuperAdventure Surabaya Faris Affandy, pendukung acara ini mengatakan tetap mematuhi protokol kesehatan covid-19. “Hanya ada 50 peserta saja dan penghuni tenda juga dibatasi serta ada tempat cuci tangan dan masker kami sediakan,” jelasnya.

Respon dari peserta juga sangat positif, mereka bahkan meminta acara ini digelar secara rutin. Terlebih acara ini bukan sekadar menghibur dan makin mengakrabkan sesama pendaki. Namun, juga banyak ilmu yang diberikan oleh pemateri yang sudah ahli di bidangnya masing-masing.(der)