Kisah Aisyah Nur Rahma, Bayi Kota Batu Hydrocephalus-Kista

Tubuhnya Tertanam Dua Selang, Ceria Saat Nyanyi Baby Shark

(Aziz Ramadani/MVoice)

Bagi setiap pasangan, bayi anugerah dari Sang Pencipta, tak terkecuali Aisyah Nur Rahma. Namun, Rahma panggilan bayi usia 1,4 tahun ini nasibnya jauh berbeda dari bayi lainnya. Dia tengah berjuang melawan penyakit hydrocephalus, kista dan radang paru.

MALANGVOICE – Dari dalam rumah sederhana dengan dinding berbahan anyaman bambu, Kamis pagi (7/12) terdengar tangisan bayi. Rumah itu berada paling sudut Dusun Gerdu RT02, RW17, Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Tangis bayi bernama Aisyah Nur Rahma itu perlahan berhenti. Ini setelah ibundanya, Nur Azizahtur Roddyah memutar video animasi Pink Fong- Baby Shark di layar gawai. Rahma pun langsung ceria.

“Memang sering rewel nangis, mas. Biasanya ya minta gendong terus,” tutur Azizah ditemui MVoice.

Sekilas memang tampak tidak ada perbedaan dari kondisi Rahma. Namun jika diamati ukuran kepala tampak besar tak wajar. Rahma mengidap hydrocephalus pada otak bagian kiri. Otak bagian kanan terserang kista. Kondisi itulah yang menyebabkannya sering menangis. Ditambah lagi paru-paru bagian kanan alami radang atau pneumonia.

“Saat umur 4 bulan sakit sesak nafas. Pernah satu bulan opname karena penyakit kuning. Polindes merujuk ke RS Karsa Husada karena ada indikasi pembesaran pada kepala,” kenangnya.

Azizah melanjutkan setelah dari RSU Karsa Husada dirujuk ke RS Saiful Anwar dengan alasan tak ada alat medis. Saat di RS Saiful Anwar, dokter mendiagnosis buah hatinya mengidap hydrocephalus dan pneumonia.

“Setelah itu semakin parah. Sempat kejang -kejang sampai tak sadar. Setelah CT Scan (Computerized Tomography Scan) diketahui juga ada kista di otak kanan,” jelasnya.

Rahma terpaksa menjalani serangkain operasi untuk mengeluarkan cairan dari dalam otaknya. Tercatat sudah lima kali Rahma keluar masuk- meja operasi. Mulai Desember 2016 – September 2017.

“Setiap operasi, keluar cairan 1 liter setiap hari. Saat ini sudah terpasang dua selang untuk mengeluarkan cairan di otak melalui pipis,” ujar Azizah sembari menunjukkan bekas sayatan operasi.

Saat ini, lanjut Azizah, diakui kondisi keuangannya serba keterbatasan. Apalagi suaminya, Siswari (30) hanya buruh harian lepas sebagai tulang punggung keluarga. Untuk menutup kontrol rutin dua kali seminggu tak mencukupi. Apalagi untuk kehidupan sehari-hari. Dua hari lalu sepeda motor suaminya terpaksa dijual untuk membayar hutang.

“Beberapa minggu ini memang tidak kontrol fisioterapi. Ada BPJS tapi kami pilih poli umum supaya tidak antri panjang. Kasihan anaknya,” kata Azizah sembari menahan tangis.

Azizah berharap hanya bisa terbantu biaya kontrol setiap harinya. Azizah juga tak pernah terpikir apa yang dialami buah hatinya sebagai ujian dan musibah.

“Ini hadiah bukan ujian. Kami ikhlas,” tutupnya lirih.(Der/Yei)