MALANGVOICE– Kota Batu berubah menjadi lautan kendaraan setiap kali liburan tiba. Jalan-jalannya yang sempit tiba-tiba harus menelan volume kendaraan yang membeludak. Momen libur Lebaran 2026 pun diprediksi menjadi ujian terbesar.
Diproyeksikan pergerakan kendaraan mencapai sekitar 1,72 juta atau rata-rata 242 ribu kendaraan dalam sehari. Angka itu gambaran nyata dari padatnya wisatawan yang berbondong-bondong menuju barometer pariwisata Jawa Timur ini.
Di tengah hiruk-pikuk kemacetan yang hampir pasti terjadi di setiap ruas jalan, Sat Lantas Polres Batu bergerak cepat. Mereka tak hanya menyiapkan skenario rekayasa lalu lintas, tetapi juga mengerahkan senjata paling andal bernama Tim Urai.
Lebih dari tiga puluh personel gabungan dari Sat Lantas dan Sat Sabhara dikerahkan bukan untuk berjaga di satu titik, melainkan bergerak dinamis menyisir simpul-simpul kemacetan. Mereka adalah tim khusus yang dibentuk untuk membedah sumbatan kendaraan di lapangan.
Setiap hari selama Operasi Ketupat Semeru 2026, Tim Urai disebar di titik-titik yang sudah dikenal sebagai langganan kepadatan. Mulai dari jalur masuk Kota Batu di Jalan Ir Soekarno (Pendem), Alun-Alun Kota Batu, hingga kawasan destinasi wisata.
Perhatian juga diarahkan ke ruas-ruas rawan seperti Simpang Songgoriti, Jalur Klemuk, hingga Payung. Mereka tak hanya bertugas melancarkan arus, tetapi juga memantau area rawan kecelakaan dan memastikan keselamatan berkendara tetap terjaga di tengah desak-desakan kendaraan.
Kasat Lantas Polres Batu, AKP Kevin Ibrahim, menjelaskan, kehadiran Tim Urai memiliki peran lebih dari sekadar mengurai macet. “Kami ingin meningkatkan kedisiplinan wisatawan yang kerap abai terhadap aturan saat kondisi jalanan padat,” ujarnya.
Patroli intensif yang dilakukan pun menjadi cara untuk menekan pelanggaran lalu lintas sekaligus membangun kesadaran di lapangan. Namun, Tim Urai tak bekerja sendiri. Mereka terhubung dengan skenario besar yang telah disiapkan. Sistem satu arah yang diberlakukan secara insidental, pengalihan arus ke jalur alternatif via Karangploso atau Giripurno, serta pemantauan melalui CCTV yang terintegrasi.
“Situasional dalam hal ini melihat dari situasi di lapangan. Begitu terdeteksi ada kepadatan melalui pantauan tim di lapangan maupun CCTV, skema pengaturan langsung dieksekusi,” jelas Kevin.
Semua bergerak situasional, mengikuti denyut lalu lintas yang dinamis. Di luar kesiapan di jalan, pesan keselamatan juga terus digaungkan. Para pengendara diimbau untuk memastikan kendaraan dalam kondisi prima, terutama fungsi pengereman sebelum melintasi Kota Batu yang kontur jalannya menanjak dan menurun.
Di tengah gelombang liburan yang tak terhindarkan, Tim Urai hadir sebagai pengurai krisis yang bergerak lincah. Mereka adalah denyut nadi yang menjaga Kota Batu tetap bernapas di saat arus kendaraan hampir membanjiri setiap sudutnya. Sebab, kelancaran arus tak hanya soal jumlah kendaraan yang melaju, tetapi juga bagaimana setiap pengendara tiba dengan selamat.
“Pastikan kondisi rem pengereman kendaraan berjalan baik,” tandas Kevin.(der)