MALANGVOICE – Ramadan 1447 Hijriah dimaknai berbeda oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum kebangkitan peradaban kaum intelektual.
Pesan itu disampaikan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., saat memberikan ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin, Selasa (17/2).
Menurutnya, Ramadan tidak boleh berhenti pada rutinitas ritual. Ibadah harus menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus penguatan intelektual. Dari sana, lahir generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan nyata.
Nazar mengajak jamaah merenungi esensi ibadah sejak malam pertama Ramadan. Sholat, puasa, dan zakat, kata dia, harus terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi pendorong kemajuan sosial tanpa pamrih. Ia mencontohkan bangsa-bangsa maju yang terus berinovasi karena memiliki etos perbaikan berkelanjutan, nilai yang sejatinya juga ditekankan dalam ajaran Islam.
“Jika seluruh dimensi ibadah melekat terintegrasi sebagai bagian dari kehidupan keseharian kita, maka selalu akan ada dorongan untuk membuat kemajuan-kemajuan baru, bukan justru melakukan perusakan,” tegasnya.
Gagasan itu tidak berhenti pada level personal. Dalam konteks pendidikan tinggi, Kampus Putih berkomitmen menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi Center of Excellence. Nazar memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi bangsa, dari karakter pasif menjadi pribadi yang tangguh dan progresif.
Ia mendorong mahasiswa dan dosen menjadi Ulul Albab, yakni insan yang cerdas secara intelektual sekaligus peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Pendidikan, menurutnya, harus dimaknai sebagai ibadah yang melahirkan kebudayaan luhur dan semangat pembaruan demi kemaslahatan umat.
Dalam ceramahnya, Nazar juga menyinggung berbagai tantangan sosial, mulai ketidaktertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of commons. Perilaku koruptif, kata dia, bukan hanya soal materi, tetapi juga ketidakmampuan menahan ego dalam ruang sosial. Di sinilah puasa berfungsi sebagai latihan disiplin.
“Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan, sekaligus kedisiplinan itu dapat mencegah karakter yang korup, di mana perilaku korup bisa dimaknai luas sebagai ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelas Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut.
Ia juga mengurai makna jihad dalam perspektif modern. Jihad tidak lagi dimaknai sempit, melainkan sebagai badzlul juhdi atau ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya. Muslim yang berpuasa, menurutnya, harus memiliki etos kerja superior, solutif, dan inovatif agar tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi juga produsen kebudayaan yang disegani.
“Bangsa yang unggul adalah bangsa yang di dalam kesehariannya selalu berpikir untuk melakukan perubahan sedapat mungkin, perubahan yang membawa kebaikan, perubahan yang memberi dampak kemajuan dan membesarkan hati semua orang,” ujarnya.
Menutup ceramah, Nazar berharap Ramadan menjadi gerakan kolektif di lingkungan kampus. UMM diharapkan tak hanya melahirkan insan saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial dan intelektual, serta mampu memberi solusi konkret bagi persoalan bangsa.
“Marilah kita jadikan titik berpikir kita bagaimana mewujudkan the society of Ulul Albab, masyarakat yang dipenuhi keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik dan memberikan kemajuan bagi lingkungannya,” pungkasnya.(der)