Temuan Baru pada Candi Pendem Dapat Meluruskan Sejarah Kota Batu

Peripih dalam Sumuran Situs Candi Pendem. (Achmad Sulchan An Nauri)
Article top ad

MALANGVOICE – Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, dalam eskavasi Candi Pendem temukan temuan baru, Jumat (13/11). Temuan baru itu adalah peripih di tengah sumuran situs tersebut.

Temuan ini memgundang para tokoh-tokoh budaya Jawa Timur untuk melakukan selametan di situs Candi Pendem, Minggu (15/11). Pasalnya peripih merupakan bagian sakral dalam sebuah candi.

Peripih merupakan tempat sesaji atau juga tempat abu tokoh ternama pada zamannya. Namun, keduanya tidak bisa dipastikan berdasarkan kajian empiris.

Apakah memang itu, merupakan tempat pemakaman abu orang penting pada zamannya. Karena abu yang sudah berusia satu milenium lebih sulit sekali untuk diuji kepastiannya.

“Jadi kita sulit untuk membuktikan apakah Candi Pendem ini memang Candi Prabuhan atau bukan,” Ujar Arkeolog BPCB Jawa Timur, Wicaksono Dwi Anugrah pada Malangvoice.com. Candi Prabuhan merupakan candi yang sengaja dibangun sebagai monumen peringatan sekaligus makam untuk orang penting pada pemerintahan di zaman candi itu dibangun.

“Namun temuan ini menguatkan interpertasi kita sebelumnya,” lanjut Wicaksono. Yaitu bahwa Prasasti Sangguran yang merupakan prasasti pada zaman 928 Masehi itu adalah pertanda adanya sebuah candi di Desa Pendem.

Sebelumnya, Prasasti Sangguran yang terletak di Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kora Batu yang sekarang berada di Scotlandia selalu dikaitkan dengan Candi Songgoriti.

“Dari temuan ini bisa menulis interpertasi baru karena jika dikaitkan dengan Candi Songgoriti sangat jauh,” jelas Wicaksono. Ia mengatakan biasanya prasasti ditulis sebagai tanda sebuah bangunan yang ditaruh berdekatan didekat bangunan tersebut.

“Masjid saja prasastinya ditaruh di halaman bahkan di dalamnya juga ada, tidak ditaruh jauh dari masjid itu kan,” lanjut Wicaksono. Maka dengan temuan ini sejarah Kota Batu bisa ditulis kembali bahwa perdaban mandiri pandai besi yang tercantum dalam Prasasti Sangguran bukan di daerah Songgoriti, namun di Desa Pendem.

Selain itu Wicaksono menemukan bahwa gaya bangunan Candi Pendem merupakan bangunan candi yang mirip dengan candi-candi di Jawa Tengah. Pasalnya peripih yang ditemukan berada di tengah sumuran.

“Itu mirip dengan gaya Candi Prambanan, kalau candi di Jawa Timur biasanya peripihnya ada di dinding candi,” tambahnya.

Eskavasi ini berjalan hingga tanggal 18 November, sehingga tinggal tiga hari lagi proses eskavasi pada tahap ini selesai. Tahap selanjutnya akan dilanjut pada tahun 2021.

“Kita perlu untuk audiensi dengan Wali Kota Batu terlebih dahulu,” kata Wicaksono. Audiensi itu untuk membicarakan beberapa hal strategis.

“Pertama, pembebasan lahan untuk perluasan area eskavasi,” jelasnya. Kedua kebermanfaatan dan pengembangan Candi Pendem.

Salah satu kebermanfaatannya adalah Candi Pendem dijadikan sebagai wisata sejarah dan budaya. “Ya kita perlu dengan Wali Kota bersama, BPCB, Dinas Pariwisata, Sekda, Warga Desa Pendem dan pihak-pihak terkait untuk membicarakan hal ini,” tandasnya.(der)