Tanam Kopi Arabica, Masyarakat Desa Bulukerto Jadikan Kawasan Hutan sebagai Lahan Produktif

Pj Wali Kota, Aries Agung Paewai ikut memanen perdana kopi yang ditanam Bumdesma Giri Arjuna Pemdes Bulukerto yang ditanam di kawasan hutan lereng Gunung Arjuna. (MVoice/Pemkot Batu).

MALANGVOICE– Pj Wali Kota Batu, Aries Agung Paewai termotivasi agar komoditas kopi menjadi unggulan Kota Batu. Serta dapat memanfaatkan perkebunan kopi sebagai magnet menarik animo wisatawan. Lantaran berada di wilayah ketinggian yang menawarkan keindahan panorama alam.

Potensi tersebut kini mulai digalakkan di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Lahan seluas 2.500 meter persegi yang berada di lereng Gunung Arjuna ditanami kopi arabica. Budidaya kopi di kawasan hutan tentu memberi manfaat ganda. Yakni mengangkat kesejahteraan masyarakat serta gerakan melestarikan kawasan hutan.

“Ini sudah mulai dikembangkan di Desa Bulukerto, dan kita berharap akan menjadi destinasi wisata baru yang semakin meningkatkan jumlah wisatawan ke Kota Batu,” ujar Aries.

Baca juga:

Pj Wali Kota Malang: Percepatan Pengurusan PBG – SLF Agar Tidak Hambat Investasi di Kota Malang

Unik, Petani Kota Batu Hadirkan Citarasa Kopi Beraroma Apel

Agroforestri Kopi Lereng Arjuna, Peluang Kota Batu Cetak Desa Devisa

Harga Sayur Fluktuatif, Petani di Batu Diajak Beralih Tanam Kopi

Penanaman kopi di lereng Gunung yang dilakukan masyarakat Desa Bulukerto membuat Aries kagum. Ia pun turut ikut melakukan panen perdana di lahan milik Oktavian Dwi Suhermanto, BUMDesma Bulukerto.

Menurutnya pertanian sistem tumpang sari, Desa Bukukerto menghasilkan rasa kopi yang berbeda. Sehingga membuat kopi Bulukerto yang berada di lereng Gunung Arjuno memiliki rasa yang khas yang tidak dimiliki daerah lainnya.

“Ini sudah kita canangkan di tahun lalu. Dengan menanam kopi, tanah lebih produktif dan dapat mencegah terjadinya banjir dan longsor dengan mekanisme tumpangsari,” ungkapnya.

Aries mengatakan, komoditas kopi memiliki harga tinggi dan cenderung stabil. Produk kopi berupa bubuk maupun biji-bijian atau green bean mampu dijual dengan harga cukup tinggi. Untuk produk kopi bubuknya ada 2 yaitu 100 gram harganya Rp20 ribu dan 200 gram harganya Rp.40.000. Sedangkan untuk produk olahan green bean, harganya mencapai Rp.350.000 per 5 kilogramnya.

“Dengan menanam kopi perekonomian masyarakat akan semakin meningkat. Karena tingginya harga kopi dan masih banyaknya peluang pemasaran kopi baik dalam dan luar negeri,” ujar dia.(der)