Polemik Ojek dan Taksi Online di Kota Malang

Tak Ada Angkot, Pasien RSSA Itu Sempat Kebingungan

Pasien RSSA yang akan pergi kemoterapi (foto: Instagram @dahliairawati)
Pasien RSSA yang akan pergi kemoterapi (foto: Instagram @dahliairawati)

MALANGVOICE – Sudah empat hari, sejak Senin, sopir angkot mogok kerja menolak kehadiran transportasi berbasis daring alias online. MVoice berkesempatan merasakan dan mengikuti rute angkutan gratis bagi para warga, Kamis (9/3).

Banyak warga memanfaatkan layanan dadakan dari Forkopimda itu. Salah satunya pasien yang baru keluar setelah dirawat di RSSA.

Hal itu terlihat dari bekas suntikan infus ditutup plester masih melekat di lengan kanannya, saat naik bus gratis Arjosari menuju Gadang.

Ibu yang diperkirakan berusia 45 tahun itu didampingi laki-laki yang kerepotan membawa beberapa barang bawaan, seperti bantal dan termos air.

Sayang, belum sempat MVoice berbincang dengan ibu tersebut, mereka sudah turun di sekitar stasiun Kota Baru.

Salah satu jurnalis dari koran nasional, Dahlia Irawati, juga pernah menemukan pasien RSSA terkatung-katung karena tidak ada angkutan beroperasi.

Suasana di dalam bus (Tika)
Suasana di dalam bus (Tika)

Lia, demikian dia biasa disapa, bercerita, ketika dirinya meliput demo angkot Selasa (7/3), dia bertemu dengan sekeluarga dari Blitar.

“Saya sempat ngobrol sejenak, ibunya bernama Nurtin dan anaknya M Rahmad (6),” kata dia kepada MVoice, Kamis (9/3).

Mereka, lanjut Lia, akan menuju ke RSSA. Rahmad merupakan penderita kanker. Setiap 15 hari sekali harus kemoterapi.

Keluarga itu dari Blitar, turun di terminal Gadang. Kebingungan karena tidak ada angkot yang membawa mereka ke RSSA.

“Aku ketemu mereka di depan stasiun. Mereka kebingungan nggak ada angkot. Kemudian ada orang yang mengajak naik bus gratis, turun di depan stasiun, lanjut ke RSSA naik mobil bak terbuka Satpol PP,” beber jurnalis jebolan UGM itu.

Empat hari sopir angkot mogok, sore ini mereka kembali beroperasi. Bahkan menggratiskan angkutan bagi para penumpang.