Stray Cat Defender, Penolong Kucing Terlantar

Kegiatan SCD. (istimewa)
Kegiatan SCD. (istimewa)
Article top ad

MALANGVOICE – Perkembangbiakan kucing di tengah kota yang tak terkendali memaksa hewan berbulu ini kadang tersisihkan. Manusia yang tak ingin keberadaannya kadang memperlakukan kucing semena-mena, mengusir bahkan menyakitinya.

Tak jarang banyak kasus kematian kucing liar di perkampungan sering terjadi. Atau bahkan tertabrak di jalanan.

Beruntung, di Kota Malang terdapat Stray Cat Defender (SCD). Komunitas yang lebih mempedulikan kucing segala jenis yang mengalami masalah dengan memberikan aksi pembelaan hak hidup pada kucing sakit dan terlantar. SCD dibentuk pada 8 Agustus 2015 lalu, bertepatan dengan International Cat Day.

SCD prakarsai tiga orang atas dasar banyaknya kucing yang sakit dan terlantar serta maraknya animal abuse di Indonesia, khususnya Kota Malang.

Sejak pertama terbentuk hingga sekarang, SCD memiliki 12 anggota yang disebut skuat. Mereka kebanyakan berusia 20-28 tahun dan didominasi mahasiswa. Penanggung jawab SCD, Suci Cisika Putri, mengaku tidak terhitung jumlah kasus yang ditangani terhadap masalah kucing.

“Dari semua kasus itu ada yang selamat dan tidak. Serta ada pula yang sudah diadopsi atau dirilis kembali ke alam liar,” katanya pada MVoice.

Cisi sapaan akrabnya menjelaskan, beberapa kasus kucing yang pernah ditangani SCD antara lain, mengalami sakit parah seperti cancer, tumor, patah kaki, eyeball prolapse, pyometra, dan lain-lain.

SCD juga menangani kucing yang mengalami kasus animal abuse. Beberapa di antaranya yaitu Rambo yang perutnya diikat tali dan digantungi botol body lotion hingga berbulan-bulan. Selain itu Lucas, yang di dalam tubuhnya terdapat peluru hingga meninggal, namun sempat bertahan sekitar tiga bulan.

“Kucing didapat dari mana saja, khusus area Kota Malang. Kucing di’rescue’ jika tim menemukan kasus secara langsung atau menurut laporan dari orang-orang,” jelas Cisi.

Kucing yang direscue apabila sudah sembuh akan dicarikan adopter. Kucing yang disteril melalui program TNR (Trap-Neuter/Spay-Release) akan dilepas kembali di tempat asalnya atau tempat aman, karena tidak mungkin semua bisa ditampung. Program TNR bertujuan untuk mengendalikan populasi kucing di lingkungan sekitar.

Saat ini kucing yang dikeep si shelter berjumlah 24 ekor. Menariknya, SCD tidak mau memberikan lokasi shelter secara gambalng, pasalnya, menurut Cisi, hal itu bisa berdampak pada kelangsungan SCD.

“Kami pernah diusir karena tetangga tidak berkenan adanya banyak kucing. Selain itu bisa mencegah masyarakat membuang kucing di tempat kami,” paparnya.

Untuk menangani kasus over populasi, salah satu cara yang paling ampuh ialah sterilisasi yang dilakukan oleh dokter hewan dan memiliki banyak manfaat. Tidak disarankan untuk suntik KB karena sangat berbahaya bagi kucing. Selain itu, saat ini marak terjadi “breeding”, terutama kucing ras non domestic seperti Persia, Angora, dan sebagainya.

Alasan orang mengembangbiakkan kucing beragam, mulai dari keingingan orang untuk punya kitten yang lucu hingga untuk alasan ekonomi. “Jauh lebih baik kita mengadopsi dari jalan atau shelter daripada membeli. Untuk itu kami tak hentinya mengkampanyekan “adopt don’t buy!” tegasnya.

Selama ini, SCD tidak sendirian. Mereka ditolong para dermawan yang rutin memberikan donasi. Selain itu, lanjut Cisi, dana berasal dari swadaya tim dan usaha mandiri. “Kami menjual produk kreatif serta barang second yang layak pakai. Hasilnya digunakan untuk aktivitas rescue serta operasional tim,” ia menambahkan.

SCD berharap penyiksaan pada hewan lucu ini bisa berkurang. Sehingga penyelamatan juga berkurang. Beberapa kasus yang sering dialami soal kucing berpemilik ialah minimnya pengetahuan owner soal merawat kucing hingga kucingnya sakit bahkan terlantar, serta kucing yang dibiarkan beranak-pinak hingga owner kewalahan.

“Rescue adalah program jangka pendek. Sementara sterilisasi dan edukasi adalah program jangka panjang. Bumi bukan milik manusia saja. Adil dan berbagilah dengan makhluk hidup lain,” pesannya.(Der/Aka)