Steven Valerian, Lalui Masa Muda dengan Segudang Gelar Duta

Steven Vallerian saat menyandang gelar Putra Batik Nusantara
Steven Vallerian saat menyandang gelar Putra Batik Nusantara
Article top ad

MALANGVOICE – Kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Peninggalan bangsa ini terus berkembang sampai kerajaan berikutnya dalam kepemimpinan banyak raja-rajanya.

Kesenian batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus di pulau Jawa setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Untuk melestarikan budaya batik, Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN) turut didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, menggelar Acara Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara 2017.

Ajang itu mempromosikan Batik Nusantara yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intagible Heritage of Humanity dari Indonesia pada tahun 2009. Steven Valerian, pria muda kelahiran Malang 3 April 1995, yang meraih juara pertama Putra Putri Batik Nusantara.

Selain itu, ia mempunyai segudang prestasi yang membanggakan orang tuanya. Steven sempat beberapa kali mengikuti ajang ‘Duta’ dan meraih juara pertama.

Awal mula ia mulai memborong prestasi, yakni saat ia masih duduk pada dunia pendidikan di SMAK Santa Maria Malang. Dia mulai mencoba dengan ajang Kakang Mbakyu Kota Malang 2012. Steven yang masih tergolong sangat muda dibandingkan peserta lainnya sempat merasa tidak percaya diri.

Namun, semangat dan dukungan dari orang terdekatnya mengantar ia sampai dengan 5 besar. “Saya minder saat itu. Untungnya pasangan saya Varina support saya. Puji Tuhan itu merupakan prestasi dan pengalaman pertama. Saya mulai tertarik untuk bagaimana caranya public speaking dan menggali potensi sebagai brand ambassador serta menjadi seorang Duta itu seperti apa. Ini jadi motivasi saya untuk mengikuti ajang lainnya,” ujar Steven saat di temui di ajang Duta Politik Malang, Minggu (7/1).

Tak hanya berhenti di situ, prestasi Steven juga ditambah dengan menjadi Putra Putri Hemat Energi 2013, serta Duta Lalu Lintas 2014. Selanjutnya, sambil menjadi Duta, Steven mulai mengikuti kompetisi permodelan.

Tahun 2013, Steven pernah mengikuti Fashion Show Batik yang diadakan di Blitar. Pada ajang ini, dia mendapat juara pertama sehingga mengharumkan nama Kota Malang lagi. Dalam kesempatan itu, Steven mengenakan batik yang menggambarkan sisi karakter Steven. Dari situlah awal mula Steven lebih mencintai Batik.

“Sebenarnya dari dulu saya sudah mengenal batik, cuma belum memahami apa itu arti motifnya. Dulu saat SMA saya sering memakai batik ketika hangout dengan teman-teman, banyak yang nge-bully tapi saya enjoy karena saya cinta budaya Indonesia,” imbuh Steven.

Mahasiswa Universitas Widyakarya ini juga terus aktif menambah prestasi. Pada tahun 2015, Steven mengikuti kompetisi Duta Kesehatan dan membawa gelar juara pertama. Ia mulai menyadari bahwa sehat itu sangat mahal. Selang 1 tahun, prestasi juga ia raih dengan menyandang gelar Duta Mahasiswa Genre dan Duta Anti Narkoba Kota Malang.

Tak puas dengan prestasinya di dunia passion, di tahun 2017 ia mulai mengikuti Putra Putri Batik Nusantara. Perjuangan Steven untuk meraih gelar itu sangat sulit, ia berjuang dan termotivasi dari sahabatnya. Bahwa, masa muda menjadi sia-sia jika hanya berhura-hura tanpa prestasi.

“Semakin kita tahu semakin kita tidak tahu apa-apa, saya tidak mengharapkan menang dalam kompetisi ini, tapi saya bertekad dan berjuang karena saya ingin memperkenalkan Batik di kancah dunia,” imbuhnya.

Setelah menjadi Putra Batik Nusantara pada 2 bulan yang lalu, ia akan mengikuti Gebyar Batik Muda Nusantara di Jakarta. Beberapa waktu lalu, Steven juga dipercaya untuk membawakan materi Menggali Potensi Diri sebagai Putra Batik Nusantara di Lamongan.

“Saya mendapat penghargaan lainnya yaitu, beasiswa postgraduate program di London School of Public Relation, serta berkesempatan mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia di dalam maupun luar negeri,” pungkasnya.(Coi/Aka)