Selamat Jalan Sam Idur!

Rudy Satrio Lelono.

MALANGVOICE – “Yang Perkasa Garang Menantang
Dialah sang Juara
Singa-singa Lari menerjang
Menggapai kemenangan
Kita semua.. Arek-Arek Malang
Jantan dan ksatria
Kita semua.. Arek-Arek Malang
Singa-singa bola…”

Penggalan lirik lagu itu mungkin tak asing bagi warga Malang. Ya, lagu berjudul ‘Singa Bola’ ini bahkan jadi lagu andalan yang selalu diputar saat tim Arema bertanding di Stadion Kanjuruhan. Lagu ini bisa jadi sebagai penyemangat skuat Singo Edan sebelum bertanding menghadapi siapapun lawannya.

Lirik lagu itu ditulis Rudy Satrio Lelono yang dinyanyikan Arema Voice pada sekitar 1990 silam. Rudy biasa dipanggil Sam Idur adalah sosok penting dibalik pembuatan lagu itu serta band Arema Voice sendiri.

BNN Kota Malang

Lahir pada 14 Juli 1963 silam di Bareng, Kota Malang, Sam Idur menjadi dalang pendirian Arema Voice. Diceritakan vokalis Arema Voice, Wahyoe GV, Sam Idur membuat lagu itu karena kecintaannya dengan Arema, tim kebanggaan Arek Malang.

“Album pertama Arema Voice itu kebanyakan karya Sam Idur. Termasuk Tegar, dan masih banyak lagi karya beliau,” katanya.

Kecintaan pada Arema tak hanya itu saja, bapak dua anak ini juga berperan dibalik pembuatan logo Arema FC, mulai dari era Galatama dan sekarang yang dikenal dengan logo singa mengepal. Logo ini bukan sekadar logo, ada makna dan filosofis di dalamnya.

Sam Idur pernah bercerita, logo itu dibuat dengan perhitungan matang dan makna tersendiri. Ia menceritakan, warna biru tua pada logo Arema FC yang digunakan sekarang ini menggambarkan sifat jiwa yang mantap, tenang dan bijak oleh pengalaman.

Warna merah bisa diartikan sebagai pemberani, pantang menyerah, dan semangat yang tak pernah padam untuk terus berjuang dan menyalakan semangat hidup.

Warna putih diartikan sebagai niat baik, sportif, menjunjung kebenaran dan visi yang tak ternoda.

Sedangkan gambar singa berdiri dengan mulut siap menerkam dan mengepalkan kaki ke depan ini, kata Sam Idur berarti siap menghadapi segala tantangan, fight, tegas dan selalu bangkit dari keterpurukan.

Selain itu ada tiga lingkaran yang menunjukkan elemen. Lingkaran putih berarti manajemen dan tim yang solid, lingkaran merah berarti keberanian, semangat, tekad bulat dan daya juang yang kokoh. Sedangkan lingkaran digambarkan sebagai masyarakat dan Aremania yang selalu mendukung, peduli, menjaga, dan menjunjung kebersamaan sejati. Tak hanya itu, Sam Idur juga memperhitungkan angka yang ada pada logo.

Logo pertama, kata Sam Idur, dibuat sekitar tahun 1987-1989. Saat itu, ia menggambar menggunakan pensil dan spidol. Baru setelah itu diretouch menggunakan komputer. Bahkan, dikatakannya Lucky Acub Zaenal ikut membantu menggarisi bulu singa tersebut.

Selain karyanya bersama Arema, orang yang mempunyai senyum khas ini juga dikenal sebagai pria dengan segala kreativitasnya.

Pada tahun 1980-an, Sam Idur berkarya di radio KDS 8. Di sana, ia membuat cerita yang sempat melegenda dan disukai banyak orang.

Sam Idur, seperti yang diceritakan Prof Dr Djoko Saryono, sahabat yang sudah 40 tahun mengenal sosok Rudy Satrio Lelono ini memang dikenal memiliki banyak kemampuan. Segala macam seni bahkan.

Di bidang film, di akhir 1980, Sam Idur pernah terlibat pembuatan film serial di TVRI bersama Dedi Setiadi, maestro film waktu itu. Prof Djoko Saryono menceritakan, ide yang dimunculkan Sam Idur tentang anak difabel mencari sekolah. Kira-kira sudah tayang 50 episode dan kebanyakan mengambil lokasi syuting di Malang. Ya, Sam Idur waktu sebagai Asisten Sutradara Dedi Setiadi.

“Dia melakukan apapun selalu bahagia dan gembira. Dia bagi saya adalah budayawan organik, artinya selalu menjadi bagian apa yang dia perjuangkan,” kata Prof Dr Djoko Saryono.

Sam Idur kecil dahulu merupakan siswa di SD dan SMP Madiwiyata, kemudian meneruskan pendidikan di SMA 3 Malang dan kuliah S1 di Sastra Universitas Negeri Malang (UM) angkatan 1982. Waktu kecil, salah satu guru Sam Idur adalah Daldjono. Tak ayal, Sam Idur ketika dewasa paham betul bagaimana membaca not balok dan musik secara keseluruhan.

Sam Idur bersama Prof Dr Djoko Saryono dan Fajar Murwantoro, pernah bekerja bersama membuat tabloid digital di tahun 1999-2000. Tabloid itu mereka beri nama Malangvoice yang waktu itu berkantor di Jalan Banten. Meski tak bertahan lama, tabloid itu sempat jadi jujukan pembaca warga Malang. Isinya tentang perkembangan Malang Raya, isu sosial dan budaya.

Di pertengahan 2015, Sam Idur kembali muncul dan termasuk salah satu pendiri media online Malangvoice. Bisa ditebak, pemilih nama Malangvoice adalah Sam Idur sendiri sekaligus tagline Asli Gak Ngawur!. Sam Idur menjadi otak, nyawa, dan spirit Malangvoice hingga sekarang. Ia juga bisa dikatakan menjadi bapak bagi seluruh karyawan Malangvoice yang selalu membimbing dan memberi arahan.

Salah satu karyanya di Malangvoice adalah Paitun Gundul. Di rubrik itu, Sam Idur menuliskan cerita tentang Paitun Gundul dengan ciri khas menggunakan bahasa Malang, walikan. Setiap cerita, Sam Idur mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai kurang tepat atau tidak pro rakyat.

Tulisan Sam Idur itu menjadi andalan dan sangat ditunggu pembaca. Ringan dan menggelitik. Tulisan itu juga jadi rujukan bagaimana menggunakan bahasa walikan dengan benar.

Selain di media online Malangvoice, Sam Idur juga aktif mengajar di UMM sebagai dosen Prodi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fisip. Sebelumnya ia juga pernah mengajar di Polinema.

Salah satu sahabatnya, Abel Purmono, menceritakan kisah saat keduanya ditawari melanjutkan study S2 di UMM. Namun, rencana itu belum terealisasi karena belum mencukupi kuota. Dari lima orang, hanya Sam Idur, Abel dan rekannya lagi Panjul Arfan yang sudah pasti, sehingga masih menunggu dua orang lain. “Rencananya sekolah S2 dilanjutkan Mei nanti,” kata Abel.

Perjuangan Sam Idur baru-baru ini adalah membentuk Dewan Kebudayaan Malang. Ia menjadi ketua tim formatur DKM. Hingga akhirnya Komite Kebudayaan Kota Malang (K3M) terbentuk dan akan dilantik akhir Maret ini.

Ketua Terpilih dan Pengurus K3M bersama Wali Kota Malang Sutiaji usai audiensi di Balai Kota Malang, Senin (11/3). (Dok. MVoice)

Di kehidupan pribadi, Sam Idur yang menikahi Endah Sri Sunarti ini dikaruniai dua anak. Anak pertama diberi nama Kharisma Tegar Vidiarga (25) dan anak kedua Vania vidiarista (20). Keluarga bahagia itu tinggal di Perum Pondok Sukun Indah.

Bagi Kharisma Tegar, Sam Idur adalah sosok ayah yang sempurna. Selain setia kepada istri, menyayangi keluarga, Sam Idur dinilai mempunyai pendirian teguh, prinsip yang jelas dan tegas.

“Beliau selalu mengajarkan banyak hal. Sangat kreatif dan supel kepada orang,” katanya.

Namun, pada Jumat (22/3) sekitar pukul 17.10 WIB, kabar buruk datang dari ruang ICU RS Soepraoen Malang. Sam Idur yang baru sehari dirawat di sana menghembuskan napas terakhir. Ia dinyatakan meninggal dunia karena sakit. Jenazahnya sempat disemayamkan di rumah duka dan dimakamkan pada Sabtu (23/3) pagi tadi di pemakaman Sukun.

Sejak Jumat malam, para pelayat satu persatu datang ke rumah Sam Idur. Seakan memberi doa dan perpisahan terakhir bagi sang budayawan organik. Begitu cepat kepergiannya, tapi umur siapa yang tahu kecuali Tuhan.

Malang berduka, Malang kehilangan sosok kreatif yang sangat berpengaruh. Paitun Gundul kehilangan penulisnya. Keluarga juga kehilangan sosok penuh tanggung jawab dan setia.

Selamat jalan Sam Idur, semoga tenang engkau di sana. Karyamu akan selalu kami kenang. Terima kasih, Rudy Satrio Lelono.(Der/Aka)