Poltekom Malang Menyulam Masa Depan, Pertemukan Logika Digital dan Bahasa Global

MALANGVOICE– Di era di mana teknologi dan humaniora sering dipandang sebagai dua kutub yang berseberangan, sebuah institusi vokasi di Malang mengambil langkah berani untuk menyatukannya. Politeknik Kota Malang (Poltekom) pasca transformasi dan rebranding pada 2024, tidak hanya mengubah nama. Ia segera membuktikan diri lewat aksi nyata.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) perdananya yang menyasar siswa MIN 2 Kota Malang, bukan sekadar pengajaran tambahan. Ia adalah eksperimen pedagogis visioner, sebuah upaya menyelaraskan ketepatan logika komputasi dengan keluwesan komunikasi global. Program yang digelar selama 3 bulan mulai 23 Agustus-15 November 2025 itu dirancang sebagai fondasi ganda untuk anak-anak menghadapi abad ke-21. Literasi digital melalui pemikiran komputasional dan literasi bahasa melalui Bahasa Inggris praktis.

Motor Wajib Masuk Gedung Parkir Kayutangan, Melanggar Disiapkan Sanksi Tilang

Kekuatan dan keunikan program ini terletak pada konfigurasi tim pengabdinya. Sebuah kolaborasi langka yang melibatkan dosen dari empat program studi berbeda. Antara lain, Teknik Informatika, Teknik Mekatronika, Teknik Telekomunikasi, dan Destinasi Pariwisata.

“Ini representasi dari semangat baru Poltekom. Kami ingin kehadiran kami berdampak nyata, menyiapkan generasi muda Malang yang adaptif teknologi sekaligus kompeten dalam komunikasi global,” tegas Ketua LPPM Politeknik Kota Malang, Betta Wahyu RM, (Selasa, 6/1).

Sinergi lintas keahlian inilah yang memungkinkan pendekatan pembelajaran yang holistik dan komprehensif terwujud. Materi tidak dirancang secara terpisah, tetapi saling mengisi. Di ruang kelas, penyelarasan kedua dunia itu terjadi secara nyata dan interaktif.

Siswa diperkenalkan pada dasar-dasar pemrograman bukan melalui sintaksis yang rumit, tetapi melalui platform Code.org yang menggunakan blok visual. Setiap blok yang disusun adalah latihan konkret dalam logika algoritma, pemecahan masalah, dan berpikir terstruktur.

Secara paralel, mereka diajak menguasai Bahasa Inggris dengan pendekatan praktis. Kosakata dan percakapan sederhana diperkenalkan, tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai alat untuk berkolaborasi secara global, termasuk dalam ranah teknologi.

“Materi dirancang khusus untuk membekali anak usia dasar menghadapi tantangan abad ke-21. Ini bukan sekadar tugas akademik,” tambah Betta.

Program ini mungkin baru sebuah langkah awal, tetapi ia menanamkan benih sebuah paradigma, bahwa masa depan yang kompetitif tidak meminta anak-anak untuk memilih antara menjadi ahli teknologi atau komunikator ulung. Melainkan, menjadi generasi yang fasih dalam kedua bahasanya—bahasa logika digital dan bahasa percakapan dunia.

Bagi Poltekom, program perdana ini adalah bukti konkret dari reposisi institusinya. Ia bergerak dari yang sekadar mencetak tenaga kerja teknis terampil, menjadi katalis inovatif yang aktif membentuk ekosistem literasi digital di masyarakat, dimulai dari usia sedini mungkin.

Keberhasilan ini menjadi pijakan untuk rencana yang lebih ambisius. Poltekom berencana memperluas jangkauan program serupa ke lebih banyak sekolah dan komunitas di Jawa Timur.

“Transformasi Poltekom bergerak maju dengan misi jelas, menyelaraskan logika mesin dengan kecerdasan manusia. Menyiapkan generasi penerus yang tak hanya bisa berbicara dengan komputer, tetapi juga mampu bersuara di panggung global,” pungkas Betta.(der)

Berita Terkini

Arikel Terkait