MALANGVOICE – Pemkot Malang mengejar kekurangan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) sebesar 14 persen.
Pj Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan, untuk menutupi kekurangan 14 itu, bisa digenjot dengan memanfaatkan dana APBD, APBN melalui DAK dan CSR.
“Pertama memang karena ketersediaan anggaran. Memang permintaan banyak. Kita coba tidak hanya dari APBD tapi dari PAK APBN. Sebetulnya kita sudah di atas rata-rata, hanya kurang 14 persen,” katanya setelah menyerahkan bantuan IPAL dari Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang di Islamic Center, Sabtu (6/7).
Baca Juga: Gelaran AUG 2024 Catat Sejarah, Indonesia Juara Umum
Meriahkan Porwakot 2024, SIWO Batu-PWI Malang Raya Gelar Kejuaraan Catur dan Tenis
Dibahas mengenai CSR, Wahyu menjelaskan pada saat Musrenbang di setiap wilayah yang terdapat perusahaan didorong untuk membangun IPAL komunal atau pribadi.
Saat ini dari lima kecamatan di Kota Malang terdapat dua kecamatan yang menjadi fokus. Alasannya karena memiliki kepadatan penduduk yang tinggi di Lowokwaru dan Kedungkandang.
“Fakta di lapangan, banyak warga di kedua kecamatan itu, dalam memenuhi hajatnya, banyak yang memanfaatkan sungai. Kebiasaan seperti itu, secara masif harus disosialisasikan agar mau beralih ke IPAL komunal,” jelasnya.
Apabila program itu terus berlanjut serta diimbangi kesadaran masyarakat, Wahyu berharap target menutup 14 persen bisa terwujud pada 2025.
“Kemudian dengan APBN, CSR bisa kita selesaikan dan tidak sampai target 2030. Tapi kita coba nanti di 2025 akan kita coba dengan berbagai skema, kita akan bisa selesaikan,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, menjelaskan pada program sanitasi ini, khususnya DAK dari pemerintah untuk tahun 2024 Pemkot Malang mendapatkan Rp8,7 miliar. Dan program itu dialokasikan dan diimplementasikan di 13 kelurahan.
“Nanti yang 2 kelurahan untuk IPAL Komunal masing-masing di Bandungrejosari dan Kiduldalem. 11 kelurahan untuk tangki septic individu untuk masing-masing 54 KK, Cemorokandang, Buring, Sukun, Tanjungrejo, Samaan, Bunulrejo, Tulusrejo, Tunggulwulung, Tunjungsekar, Jatimulyo dan Merjosari,” tutup Dandung.(der)