Pengacauan Gerombolan Malik Cs Manfaatkan Kondisi Buruk Seusai Perang Kemerdekaan (3)

Kehidupan di Malang tahun 1950-an

MALANGVOICE – Pada masa itu, gerakan para gerombolan mencapai puncaknya. Pembunuhan, pengacauan, perampokan, pencegatan, dan aksi kekejian lainnya telah diperbuat oleh Malik cs. Komandan Brigade IV Divisi I Letkol Abimanjoe mengeluarlkan surat perintah pada 17 Januari 1951 untuk mengambil tindakan tegas terhadap gerombolan-gerombolan yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Pada 31 Januari 1951 Kompi IV Batalyon 3 di daerah Wonorejo berhasil menangkap Raup beserta 2 orang Kepala Desa, seorang Carik, dan seorang penghubung. Gerakan pembersihan pun dimulai meliputi seluruh wilayah Territorium V dan disebut sebagai Operasi Merdeka Territorium V. Kekuatan militer dikerahkan untuk menumpas gerombolan Malik cs. dan gerombolan bersenjata lainnya.

Keadaan ini dibarengi dengan berawalnya perpecahan yang terjadi antara Malik dan Klowor di bulan Maret 1951. Penyebabnya dipicu oleh tidak diakuinya lagi gerombolan Klowor sebagai bagian dari jaringan Malik cs, karena Klowor cs. dianggap terlalu sering melakukan perampokan untuk kepentingannya sendiri. Kala itu, Klowor adalah pemimpin gerombolan Sukorejo dengan daerah kekuasaan meliputi Purwosari, Sengon, Lawang, Purwodadi, dan Sukorejo.

BNN Kota Malang

Adanya operasi pembersihan membuat aktivitas para gerombolan mulai menurun, tetapi tidak jarang masih terjadi kejadian-kejadian yang mengamcam keamanan dan ketertiban umum, seperti: golongan perampok-perampok biasa yang ditampung oleh Malik, golongan bekas mata-mata Belanda yang hidupnya terlantar, juga kaki tangan Belanda yang belum rela meninggalkan Indonesia.

Upaya-upaya pembersihan yang dilakukan antara lain dengan berpatroli menggunanakan uniform, menyamar, penggerebegan kepala desa-kepala desa dan rumah-rumah yang diperguakan gerombolan untuk rapat atau bersembunyi, pengawasan terhadap lalu lintas kendaraan dan kereta api, menghidupkan lagi pertahanan rakyat berupa Pager Desa, melakukan operasi simpati dengan dengan memberikan obat-obat, dan alat-alat bercocok tanam dsb., juga menangkap orang-orang yang sebenarnya memimpin di belakang layar.

Dalam Operasi Merdeka Territorial V, inti dari pasukan pemukul adalah Batalyon 512 yang dikomandani Kapten Soemitro dengan jajaran Komandan Kompi I Lettu Sudarto, Komandan Kompi II Letda Sunyoto, Komandan Kompi IV Letda Sukarman, dan Kompi Bantuan/Pengawal Lettu Pamoedji. Kompi Bantuan saat itu bertugas mengamankan lali lintas mulai dari jembatan Porong hingga ke daerah Lawang-Bangil.

Pada 12 Mei 1951, pukul setengah enam pagi, dalam sebuah operasi di daerah Bangil, pasukan Kompi I Lettu Sudarto berhasil menangkap pemimpin-pemimpin gerombolan, yakni Malik dan Paenu alias Sirad Dulkamid di desa Kaliputih. Tangan kanan Malik, Bakri Arifin alias Tahar terbunuh ketika berusaha melarikan diri. Malik sendiri ternyata adalah mantan IVG, mata-mata dan kaki tangan Belanda.

Sewaktu operasi lebih digencarkan, beberapa anggota gerombolan mulai menyerahkan diri beserta persenjataannya seperti LE dan Landsister. Gerakan Untung cs. juga terdesak sampai sekitar gunung Bromo. Kompi IV berbaku tembak dengan gerombolan di desa Mojotengah, Sukorejo, seorang anggota geromnolan tewas dan satu lagi tertangkap. Di daerah Purwosari rakyat berhasil menangkap seorang anggota Klowor dan menyita senjata pistol. Namun, masih saja ada anggota gerombolan Klowor dan Kamaruddin yang masih berkeliaran di daerah Kejayan, penculikan modin, gerakan gerombolan Hargo, serta gangguan gerombolan Hamid di daerah Pasuruan meski Hamid sudah ditangkap.

Keamanan wilayah berangsur pulih, kekuatan gerombolan makin melemah. Kehidupan masyarakat di daerah Malang dan sekitarnya kembali berjalan lancar dengan meredanya gangguan pengacauan dan perampokan bersenjata. (idur)