Pedagang Ikan Koi Kota Batu Masih Murung Karena Sepi Pembeli

Joko dengan Dagangan Ikan Koinya (Achmad Sulchan An Nauri)
Article top ad

MALANGVOICE – Turunnya perekonomian diberbagai sektor juga dirasakan oleh peternak ikan hias. Contohnya pembudi daya ikan koi yang berada di Pasar Ikan Kali Mawar, Desa Sidomulyo Kecamatan Batu.

Mereka mengeluhkan tentang sepinya pembeli yang datang imbas pandemi. Salah satu pelaku usaha koi, Joko Sarono menyebutkan jika pembeli yang datang anjlok drastis.

“Pemasukan sangat menurun mas semenjak pandemi. Waktu itu pengiriman luar kota pun tidak bisa,” ungkapnya Sabtu, (28/11). Memang, ia merasa sangat kesulitan beberapa bulan kebelakang dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah. Mengingat kebanyakan konsumennya berada di luar kota, seperti Surabaya dan Sidoarjo.

Joko mengaku kini ia hanya bisa menjual dua sampai tiga ekor saja setiap 2 hari. Sangat anjlok dibandingkan kondisi normal.

Ketika ia per harinya bisa menjual kurang lebih 45 ekor ikan. Ikan yang ia jual sudah dikenal memiliki kualitas yang baik.

Berbagai jenis ikan yang memili banyak varian warna bisa ditemui disini. Setiap ekornya dihargai Rp 100 hingga 350 ribu tergantung dari besar kecil dan juga pola warnanya.

Penanggulangan terkait masalah tersebut disiasati dengan cara belanja bibit yang tidak sebanyak sebelumnya. Ia hanya menumpuk stok sejumlah permintaan yang ada.

Heningnya suasana pasar lantaran minimnya pengunjung membuat tidak semua toko yang ada buka. Dari 14 lapak yang disediakan hanya dua pedagang yang aktif berjualan sampai sekarang.

Bahkan, paguyuban pedagang bentukan pasar tersebut terpaksa bubar. “Bagaimana lagi kondisinya seperti ini. Nanti jika kondisi jadi normal paguyuban akan dibentuk lagi,” ucapnya.

Hal tersebut dibenarkan oleh setiyo husen, pedagang ikan koi lain yang juga berjualan di pasar itu. Ia mengatakan bahwa setiap harinya ia hanya bisa menjual satu sampai dua ekor ikan saja.

Padahal peminat hewan air asal jepang ini cukup besar. “Semoga pasar bisa ramai seperti dulu. Kalau gini terus kasian ikannya juga, karena pendapatan tidak bisa diputar sebagai pakan,” tutupnya.(der)