Pasar Pintar Pertama di Malang, Utamakan Kenyamanan dan Pembayaran Cashless

Kondisi pasar pintar modern Joyo Agung Market. (deny rahmawan)
Kondisi pasar pintar modern Joyo Agung Market. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Seiring berkembangnya zaman, pasar rakyat pun ikut berubah menjadi pasar modern. Salah satu pasar modern ada di Kota Malang adalah Joyo Agung Market.

Pasar yang dikelola pihak swasta, PT Joyo Agung Semesta ini mengusung konsep modern dengan mengutamakan belanja secara cashless. Penjual dan pembeli pun dimudahkan belanja menggunakan aplikasi.

BNN Kota Malang

Konsep pasar pintar ini dikatakan penanggung jawab Joyo Agung Market, Djoko Tritjahjana, yang membedakan dengan pasar lain adalah fasilitas, pelayanan, dan kebersihan.

Di Joyo Agung Market, pembeli dimudahkan memilih produk sesuai kategori. Ada blok sayur, ikan, makanan olahan dan daging.

“Blok daging ada di belakang dan diberi sekat sehingga memberi kenyamanan sekaligus kemudahan bagi pengunjung,” kata Joko.

Karena mengusung konsep pasar pintar, seluruh pedagang di Joyo Agung Market diwajibkan menguasai teknologi. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola pasar agar para pedagang tidak gaptek.

“Sebagai misi Wali Kota Malang menjadi smart city kami mulai di sini. Jadi pedagang kami ajari dari awal bagaimana membuat email hingga update harga di aplikasi,” jelasnya.

Pasar yang dibangun di kawasan Kelurahan Merjosari dengan luas 4000m² ini siap terus dikembangkan. Soal izin dan aturan, Djoko menegaskan tidak ada masalah. Pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemkot Malang dan dinas terkait soal perizinan.

“Kami turuti semua peraturan, termasuk izin lingkungan. Listrik juga kami pakai tenaga surya. InsyaAllah tidak ada masalah,” kata dia.

Pasar ini kini sudah ditempati 156 tenant. Paling banyak pedagang dari warga sekitar dan melibatkan karang taruna setempat. Ke depan, fasilitas lain akan dibangun, seperti poliklinik dan apotek serta pelayanan antar barang belanjaan.

“Sesuai rencana akan kami resmikan pada 20 Februari. Kemudian kami akan terus tingkatkan pelayanan di pasar, mungkin bisa diterapkan 24 jam atau seperti apa,” jelas Djoko.

Salah satu pedagang, Tyas, mengaku sudah terbiasa dengan penggunaan aplikasi. Penjual mempunyai barcode yang bisa discan di ponsel pembeli untuk memilih barang belanjaan sekaligus pembayaran.

“Biasanya kan offline pakai uang langsung. Tapi sekarang sudah terbiasa sistem online. Kalau ada pembeli belum tahu ya gak apa-apa pakai uang cash sambil diberitahu pakai aplikasi,” tandas penjual sayur ini.(Der/Aka)