MALANGVOICE – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat meninjau langsung pelaksanaan perdana program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan di MIN 2 Kota Malang, Kamis (2/4).
Dalam kunjungan tersebut, Wahyu didampingi sejumlah pejabat OPD dan anggota DPRD Kota Malang, Suryadi. Ia juga menyempatkan diri makan bersama para siswa untuk melihat langsung pelaksanaan di lapangan.
Menurut Wahyu, sistem prasmanan ini memberikan pengalaman baru dibanding metode sebelumnya yang menggunakan nasi kotak atau ompreng.
Wali Kota Malang Imbau Warga Tak Panic Buying, Stok Bahan Pokok hingga BBM Dipastikan Aman
“Ini pertama kalinya MBG prasmanan dilaksanakan di Kota Malang. Tadi kita juga melihat langsung bagaimana siswa menikmati makan bergizi gratis dengan sistem ini,” ujarnya.

Ia bahkan berdialog dengan siswa kelas 6 untuk menggali kesan mereka. Dari hasil pengamatannya, siswa kini bisa lebih leluasa menentukan porsi makanan sesuai kebutuhan.
Konsep prasmanan dinilai memiliki sejumlah keunggulan. Selain makanan disajikan dalam kondisi lebih hangat, variasi menu juga lebih beragam dan porsi bisa disesuaikan.
“Dengan prasmanan ini, menunya lebih hangat, bisa ambil lebih banyak sesuai kebutuhan, dan pilihannya juga lebih variatif,” imbuhnya.
Dari sisi kandungan gizi, Wahyu memastikan menu yang disajikan telah memenuhi standar. Mulai dari karbohidrat, protein, hingga buah dan minuman bergizi tersedia dalam satu paket konsumsi siswa.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya tantangan dalam penerapan sistem ini, terutama terkait manajemen waktu belajar. Proses antre dan waktu makan berpotensi mengurangi jam pelajaran jika tidak diatur dengan baik.
“Karena harus antre dan makan butuh waktu, ini bisa menyita jam pelajaran. Jadi ke depan perlu pengaturan yang lebih tepat,” tegasnya.
Di sisi lain, sistem prasmanan justru dinilai lebih unggul dalam hal pengawasan kualitas makanan. Penyajian terbuka membuat makanan lebih segar dan tidak mengalami perubahan seperti pada sistem ompreng.
“Kalau prasmanan, makanan langsung disajikan terbuka, jadi kualitas rasa lebih terjaga,” jelasnya.
Pemerintah Kota Malang akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap uji coba ini sebelum diterapkan secara lebih luas. Hasilnya akan dikoordinasikan dengan Badan Gizi Nasional serta pihak terkait lainnya.
“Nanti kita evaluasi, karena ini masih uji coba. Hasilnya akan kita laporkan ke BGN melalui koordinator wilayah,” katanya.
Wahyu menambahkan, sekolah lain pada prinsipnya bisa menerapkan sistem serupa, namun tetap harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kelebihan dan kekurangannya.
Sementara itu, terkait keamanan pangan, ia memastikan pelaksanaan MBG di Kota Malang berjalan aman tanpa kendala berarti.
“Alhamdulillah Kota Malang relatif aman untuk MBG ini,” pungkasnya.
Salah satu siswa kelas 6 MIN 2 Kota Malang, Hisyam Al Ghifari mengaku lebih menyukai konsep prasmanan.
“Kalau yang dibagikan langsung memang enak, tapi porsinya kadang kebanyakan. Kalau prasmanan lebih pas, karena bisa ambil sendiri sesuai kebutuhan,” tutupnya.(der)