Wujud Syukur dan Penolak Bala

Ngudek Jenang di Candi Songgoriti, Tradisi Suroan yang Lestari

Prosesi mengaduk jenang di pelataran komplek Candi Songgoriti. (istimewa)

MALANGVOICE – Candi Songgoriti, di Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto tampak tak seperti biasanya, Jumat (22/9) malam itu. Pada pelataran candi, penuh dengan hiasan mulai, umbul-umbul berbagai warna, nyala obor, dan hiasan dari janur (daun pohon kelapa yang masih muda).

Sekitar pukul 19.30 WIB, warga mulai banyak berkumpul untuk mengikuti tradisi budaya yang diwarisi dari leluhur. Tradisi itu adalah Manghanyubagyo Sasi Suro Jenang Suro Bareng. Tradisi ini merupakan tradisi rutin setiap tahun dan dilakukan setiap malam suro atau memperingati tahun baru Hijriyah.

Tradisi ini, juga bagian dari nguri-uri budaya leluhur. Juru Kunci Candi Songgoriti, Hariyoto mengatakan, tradisi ini bermaksud untuk mengungkapkan rasa syukur terima kasih kepada Yang Maha Kuasa dari nikmat yang telah diberikan. Ritual diawali dengan cetik geni atau menyalakan api di tungku (terbuat dari tanah liat) guna memasak jenang.

“Dengan melibatkan masyarakat sekitar bersama-sama mengaduk jenang di wajan besar,” tuturnya.

Ngudek Jenang ini menggunakan bahan-bahan hasil bumi. Di antaranya, beras jawa 17 kilogram, buah kelapa 34 buah, dan kacang 2 kilogram. Setelah matang, akan disajikan dengan lauk pauk seperti abon, bergedel, kering tempe dan telor dadar. Bertindak sebagai pengaduk jenang ini warga sekitar serta tamu undangan.

Hariyoto mengatakan setelah jenang jadi, akan dipersembahkan untuk yang maha kuasa. “Baru, kemudian disuguhkan untuk warga sekitar untuk dinikmati,” sambung dia.

Wajan yang digunakan ini berdiameter 90 centimeter. Dalam tradisi budaya ini turut hadir juga tokoh agama, tokoh masyarakat, dan jajaran kepolisian. Masyarakat ini nanti mengudek secara bergantian menggunakan sutil atau spatula terbuat dari bambu.

“Diperkirakan sekitar 4 jam jenang ini telah masak, warga beramai-ramai mengaduk jenang sampai jadi,” imbuh dia.

Ketua Forum Lingkungan Songgoriti, Drs Zuri mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan selain sebagai bentuk rasa syukur juga sebagai bentuk untuk mempererat tali silaturahmi warga Songgoriti. Hal ini dapat dilihat pada proses mengaduk jenang, sehingga timbul rasa kebersamaan.

“Anak kecil, dewasa, wisatawan juga boleh ikut mengaduk jenang ini. Dari situ akan timbul komunikasi, interaksi,” kata Zuri.

Di sela-sela mengaduk jenang ini, juga akan diisi dengan pembacaan Macopat. Tujuannya juga sebagai tolak bala.(Der/Yei)