Kota Malang Memilih Pemimpin

Nanda Perhatikan Pasar Tradisional, Wanedi Ingin Pasar Bunga Jadi Ikon

Ya'qud Ananda Gudban blusukan ke pasar tradisional (kiri), sedangkan Ahmad Wanedi menyambangi pasar bunga (kanan). (Muhammad Choirul)
Ya'qud Ananda Gudban blusukan ke pasar tradisional (kiri), sedangkan Ahmad Wanedi menyambangi pasar bunga (kanan). (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Pasangan Calon (Paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang nomor urut 1, Ya’qud Ananda Gudban – Ahmad Wanedi, kembali menjalankan agenda kampanye secara terpisah, Senin (19/2). Ya’qud Ananda Gudban memilih blusukan ke sejumlah pasar tradisional.

Kali ini, dia menyinggahi Pasar Besar dan Pasar Klojen. Di dua lokasi tersebut, perempuan yang akrab disapa Nanda ini banyak menyapa dan berbincang dengan pedagang.

Layaknya pembeli pada umumnya, sesekali ibu dua anak ini ikut berbelanja kebutuhan dapur, seperti sayur-mayur, dan buah-buahan. Warga dan pedagang pun menyambut antusias kehadiran sosok Nanda.

Di Pasar Besar, suasana yang begitu ramai bahkan membuat Nanda dan tim relawan rela berdesak-desakan. Meski begitu, Nanda tetap menampakkan keceriaan dan semangat untuk sapa salam ke warga, sambil beberapa kali melayani permintaan swafoto.

“Perkenalkan saya Nanda buk, pak, mohon dukungannya. Pilih nomor satu ya,” seru peraih gelar doktor dari Universitas Brawijaya ini, kepada sejumlah pedagang.

Paslon dengan tagline ‘Ayo Noto Malang’ ini tidak banyak janji muluk-muluk ke masyarakat. “Namun, yang paling penting yaitu bukti dari visi misinya untuk Kota Malang yang lebih baik,” tuturnya.

Ia menambahkan, revitalisasi pasar tradisional yang baik layak dan bersih akan terus dilakukan jika ia nanti menjadi Wali Kota Malang. “Revitalisasi pasar ini adalah janji saya sebagai emak-emak yang juga kerap belanja di pasar,” ungkapnya

Terpisah, Ahmad Wanedi sempat berkunjung ke Pasar Bunga di kawasan Splendid. Dalam kesempatan itu, dia menilai, Pasar Bunga harus menjadi Ikon Kota Malang yang dikenal khalayak ramai.

Karena itu, dia mendorong pengembangan kawasan Pasar Bunga ini. Dia juga menjelaskan, julukan ‘Malang Kota Bunga’ bakal kian tegas, ketika ada tempat-tempat yang membuat orang yakin bahwa ada bunga di Kota Malang.

“Kalau bunga tidak dilestarikan di Malang, gak sah jadinya sebutan Malang Kota Bunga,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa istilah Kota Bunga atau de Bloemenstad diberikan oleh pemerintah Kolonial pada tahun 1932. Saat itu ada kebijakan Pemerintah Kotapraja Malang yang sedang berkonsentrasi membangun semua taman-taman kota dengan bermacam-macam tanaman.

Dengan jargon #AyoNotoMalang, Wanedi menegaskan akan menata kembali Pasar Bunga sehingga mampu menjadi salah satu tempat wisata sekaligus ikon Kota Malang yang diminati oleh wisatawan.

“Ini akan kita tata, Pasar Bunga harus jadi ikonnya Malang, dan saya bersama mbak Nanda siap melaksanakannya,” pungkas politisi PDIP ini.(Coi/Aka)