Kota Malang Memilih Pemimpin

Merasa Terpanggil, Nanda – Wanedi Prihatin Macet dan Banjir di Kota Malang

Nanda - Wanedi menjadi pembicara dalam diskusi di Cafe Solidaritas. (Istimewa)
Nanda - Wanedi menjadi pembicara dalam diskusi di Cafe Solidaritas. (Istimewa)

MALANGVOICE – Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang, Ya’qud Ananda Gudban – Ahmad Wanedi, membeberkan alasannya ikut berpartisipasi dalam Pilwali 2018. Hal ini dijelenterehkan di hadapan peserta diskusi di Cafe Solidaritas, Jalan Kalpataru, Jumat (19/1) malam.

Dalam diskusi yang dihadiri para anak muda dan kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Malang tersebut, Ya’qud Ananda Gudban mengaku prihatin atas beragam persoalan.

Dari pengalaman 10 tahun sebagai anggota legislatif, Nanda, sapaan akrabnya, melihat ada berbagai problematika yang belum diselesaikan Pemerintah Kota Malang. Contoh masalah yang paling kerap dikeluhkan warga adalah macet dan banjir.

Dikatakan, selama ini dia hanya mampu memberi sumbangsih berupa membuat kebijakan, sambil mengawasi berjalannya kebijakan itu. “Sedangkan yang mengerjakan adalah eksekutif dalam hal ini pemerintah,” lanjutnya.

Karena itu, masih kata Nanda, untuk menyelesaikan persoalan Kota Malang dia bersama Wanedi merasa terpanggil untuk masuk di tataran eksekutif. Dia ingin melaksanakan fungsi eksekutif dalam tataran eksekusi program.

Apalagi, banyak potensi besar yang belum mampu dimanfaatkan dengan baik selama ini. Nanda menilai, Kota Malang ini memiliki banyak modal dasar yang seharusnya mampu dimaksimalkan untuk menyelesaikan berbagai problematika masyarakat.

Disebutkan, 57 Perguruan Tinggi merupakan dasar bagi Kota Malang untuk bisa menjadi lebih berkembang dari yang saat ini. Ditambah lagi, daerah ini merupakan kota pariwisata dan industri.

Kondisi tersebut menuntut kepemimpinannya harus merepresentasikan identitas ini, sehingga berbagai permasalahan bisa diselesaikan dengan tepat dan tuntas. “Pemimpin harus by design dan masyarakat bisa bersama menciptakan pemimpin yang baik dengan melihat visi dan misinya bukan saja dari tampilan visualnya,” tukasnya.

Terkait keterlibatan perguruan tinggi misalnya, Nanda menegaskan, peran para pemikir amat besar untuk dimaksimalkan. “Padahal mereka memiliki potensi untuk menyelesaikan masalah banjir dan macet. Hal Ini adalah masalah komunikasi yang harus dibangun antara eksekutif dan perguruan tinggi,” tuturnya.

Ucapan Nanda sejalan dengan jargon Ayo Noto Malang. Jargon itu memiliki filosofi mengajak bersama seluruh komponen masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam mensukseskan pembangunan.

“Ini kembali kepada Pancasila kita dimana nilai gotong royong dalam membangun daerah ini perlu kita perkuat kembali. Membangun Kota Malang tidak bisa dilakukan satu atau dua orang saja tapi harus melibatkan seluruh komponen masyarakat,” pungkasnya.(Der/Ery)
Attachments area