MALANGVOICE– Tes Kemampuan Akademik (TKA) bukan hanya alat ukur capaian akademik siswa, tetapi juga cerminan keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Asesmen berstandar nasional ini digagas Kemendikdasmen untuk mengukur capaian akademik murid pada mata pelajaran tertentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Program ini dibuat berdasarkan landasan kebijakan Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025. TKA jenjang SMP dijadwalkan berlangsung pada 6–16 April 2026 dan akan diikuti siswa kelas IX. Pelaksanaannya menyesuaikan hari efektif pembelajaran masing-masing sekolah. Secara teknis, setiap kelas akan diikuti 25 peserta, dengan tiga sesi pelaksanaan setiap hari.
Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Batu mematangkan pelaksanaan TKA jenjang SMP tahun 2026 dengan melibatkan kepala sekolah, operator, dan teknisi SMP negeri maupun swasta se-Kota Batu di SMPN 2 Kota Batu. Sehingga ada kesamaan pemahaman satuan pendidikan terkait parameter, mekanisme, hingga instrumen TKA yang ditetapkan Kemendikdasmen.
Kepala Dindik Kota Batu, Alfi Nurhidayat menegaskan, sosialisasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan sekolah menghadapi asesmen nasional tersebut. TKA tidak sekadar menjadi alat ukur capaian akademik siswa, tetapi juga cerminan keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Melalui tes ini, tingkat kompetensi akademik peserta didik dapat terukur sekaligus menjadi evaluasi terhadap proses pendidikan yang berjalan
“Sosialisasi ini penting agar sekolah memiliki pemahaman yang sama terkait TKA, baik dari sisi teknis maupun substansi penilaian,” ujar Alfi.
Sebanyak 56 peserta terlibat dalam sosialisasi tersebut. Mereka berasal dari 30 SMP di Kota Batu, dengan 28 sekolah dipastikan mengikuti pelaksanaan TKA. Rinciannya, sembilan SMP negeri dan 19 SMP swasta. Dua sekolah lainnya belum mengikuti karena pertimbangan teknis internal.
Sebagai bentuk apresiasi dan pemacu semangat, Pemkot Batu juga berencana memberikan penghargaan bagi sekolah dengan capaian nilai TKA tertinggi. Langkah tersebut diharapkan menciptakan iklim persaingan sehat sekaligus meningkatkan mutu pendidikan di Kota Batu.
Ia menekankan hasil TKA harus diupayakan secara maksimal. Pasalnya, Kota Batu dinilai memiliki modal kuat untuk berprestasi. Mulai dari dukungan infrastruktur pendidikan, sarana dan prasarana sekolah, hingga kondisi keamanan yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar.
“Di daerah lain mungkin ada kendala bencana atau keterbatasan fasilitas. Di Kota Batu, dukungan itu sangat lengkap. Jadi tidak ada alasan bagi satuan pendidikan untuk tidak berprestasi,” tegasnya.
Selain itu, faktor kesehatan siswa juga menjadi perhatian melalui dukungan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut diharapkan menunjang kesiapan fisik dan konsentrasi siswa saat mengikuti pembelajaran maupun asesmen.
Pelaksanaan TKA ini juga diselaraskan dengan visi-misi Wali Kota Batu melalui program 1.000 Sarjana. Program tersebut dirancang untuk mengawal pendidikan warga Kota Batu sejak jenjang dasar hingga perguruan tinggi, guna mencetak sumber daya manusia profesional di masa depan.
“Program 1.000 Sarjana menjadi bukti komitmen pemerintah. Masyarakat Kota Batu harus berani bercita-cita setinggi mungkin, karena pemerintah hadir memfasilitasi pendidikan hingga jenjang tinggi,” kata Alfi.
Ia menegaskan, keberhasilan TKA bukan semata-mata menjadi beban siswa. Diperlukan sinergi antara guru, orang tua, komite sekolah, serta Dinas Pendidikan. Sekolah pun diberikan keleluasaan melakukan persiapan mandiri, seperti pelaksanaan try out atau penguatan materi.
“Hasil terbaik bukan dengan mencari atau membocorkan soal, tetapi menyiapkan anak didik agar siap menghadapi modifikasi soal dalam bentuk apa pun,” tegasnya.(der)