Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin, Padukan Kultur Sunan Kali Jaga-Cheng Ho

Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin yang terletak di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kota Batu
Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin yang terletak di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kota Batu (ayun)

MALANGVOICE – Konstruksi Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin tergolong langka. Umumnya, model bangunan masjid terinspirasi dari satu tokoh yang berjasa kala itu. Namun, masjid di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kota Batu itu memadukan kultur dua tokoh yakni, Sunan Kalijaga dan Cheng Ho.

Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin tidak sekadar menjadi tempat ibadah. Tapi, juga menjadi pusat berbagai kegiatan, seperti kegiatan belajar mengajar, juga ekonomi.

Ketua takmir Masjid Warnan Tarnidi menceritakan, masjid tersebut dibangun kali pertama sekitar 1957 lalu. Keberadaannya tidak seperti saat ini yang sudah beberapa kali direnovasi.

BNN Kota Malang

”Dulu masih kurang bagus dan kecil. Tapi, selalu dijadikan pusat kegiatan masyarakat,” ujarnya kemarin.

Masjid yang dibangun di lahan seluas 320 meter itu sudah kali ketiga direnovasi. Renovasi pertama pada 1968 silam. Kemudian renovasi kedua pada 1984.

”Renovasi yang terakhir ini pada 2014. Dan hingga sekarang tidak ada perubahan lagi,” ungkap Tarnidi yang juga komite di SMKN 2 Kota Batu itu.

Dari tiga kali renovasi itu pun tentu diakuinya mengalami perubahan total. Meski begitu, dalam setiap perubahannya tidak pernah melupakan filosofi dan sejarahnya. Tetap terilhami dari bangunan tempat ibadah masa Sunan Kalijaga dan Cheng Ho.

”Kami padukan dua unsur itu. Karena menurut kami, dua orang itu (Sunan Kalijaga dan Cheng Ho) sangat berjasa dalam perkembangan Islam di Indonesia,” ungkapnya.

Sunan Kalijaga merupakan wali yang berperan penting dalam masuknya Islam di tanah Jawa. Sedangkan adanya ornamen Tiongkok dikarenakan para Wali Sanga diyakini memiliki darah keturunan China daratan. ”Itulah yang ingin kami tularkan di bangunan ini. Agar mengalir dalam setiap sisi bangunan,” tuturnya.

Perpaduan dua tokoh dalam bangunan masjid tersebut bertujuan mengingatkan kembali sosok Sunan Kalijaga dan Cheng Ho kepada masyarakat.(Der/Aka)