Limbah Cair Greenfields Dikeluhkan Para Petani Ngajum

Tampak limbah cair yang dikeluhkan para petani di Ngajum. (Toski D)
Tampak limbah cair yang dikeluhkan para petani di Ngajum. (Toski D)

MALANGVOICE – Limbah cair yang berasal dari kotoran hewan ternak milik PT Greenfields Indonesia kembali dikeluhkan.

Sebelumnya, limbah cair tersebut sempat meluber ke jalan desa, dan mengotori jalan perkebunan warga dan air di sekitarnya pada 2016.

BNN Kota Malang

Limbah cair yang berwarna kecoklatan dan berbau tersebut kini juga dikeluhkan para petani yang tergabung dalam kelompok tani, Margotani 1 Kesamben.

Mereka menilai, limbah cair tersebut telah mencemari sejumlah lahan pertanian di Desa Kesamben, Ngajum.

Ketua Kelompok Tani Margotani 1 Kesamben, Matori mengatakan, dampak dari pembuangan limbah Greenfields ini sudah dirasakan petani selama 4 tahun terakhir. Para petani tersebut, kerap kali mendatangi pertemuan dengan semua pihak, baik Muspika, maupun pihak PT Greenfields Indonesia sendiri.

“Kami sudah beberapa kali diajak pertemuan, baik dengan Muspika, pihak Greenfields itu sendiri, dan dinas terkait. Muspika, sangat paham masalah ini. Jawaban dari Greenfields sampai sekarang juga tidak ada,” ucapnya, Rabu (11/3).

Menurut Matori, limbah cair dari Greenfields itu dibuang ke Sungai Gesang. Dimana, sungai Gesang itu merupakan tumpuan irigasi para petani di Kesamben.

“Disana ada dua DAM. DAM 1 itu untuk mengaliri sekitar 54 hektar lahan pertanian, sementara DAM 2 itu untuk 87 hektar. Gara-gara limbah itu, sekarang banyak petani yang dulunya nanam padi, pindah ke tebu. Kalau dibilang rugi ya sangat rugi, kalau padi kan setahun bisa tiga sampai empat kali panen, sekarang tidak bisa. Dulu satu hektar itu bisa sampai 50 ton per tahun, tapi sekarang sudah jauh dibawah itu,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Kelompok Tani Margotani 1 Kesamben, Sunarto menegaskan, dengan adanya limbah tersebut membawa dampak yang sangat signifikan terhadap tanaman pertanian di Ngajum.

“Ya saya tahu itu, buangnya (limbah) pada malam hari, biasanya malam Jumat itu tengah malam. Dari segi tumbuhan itu bagus memang awalnya, tapi saat mau panen itu hancur. Dampak ke tanaman padi itu memang jadi besar-besar, tapi bulirnya tidak keluar. Ikan saja sampai ada yang mati gara-gara limbah itu,” tegasnya.

Dengan adanya kejadian tersebut, lanjut Sunarto, pihak Greenfields dan sejumlah ahli telah melakukan peninjauan di lokasi terdampak limbah tersebut. Namun, hingga saat ini tidak ada tindaklanjut yang berarti di kemudian hari.

“Sekarang banyak yang gagal panen itu. Itu dulu banyak yang melakukan survei, dari Greenfields sendiri termasuk ahli itu. Mereka mengukur tanah, Ph tanahnya. Kala itu, katanya sih kelebihan unsur N, dan disarankan tidak boleh pakai pupuk Urea. Kita sudah lakukan, tapi tidak ada hasilnya. Dari Dinas Lingkungan Hidup juga sebenarnya sudah tahu. Dulu saya diminta inventarisir kerugian petani itu berapa. Greenfields sebenarnya sudah mengakui dampaknya seperti apa, mereka tidak bisa mengelak, tapi belum ada ganti rugi,” ulasanya.

Seiring berjalannya waktu, tambah Sunarto, dirinya bersama para petani lainnya di Kesamben berencana melakukan aksi unjuk rasa, jika persoalan ini tidak ditanggapi dengan serius oleh pihak-pihak terkait.

“Sebenarnya, kami dari dulu ada rencana demo, tapi kan ada istilah orang Jawa, kalau bisa dirundingkan kenapa kita mau rame-rame. Tapi kalau nanti tidak ada solusinya, ya kita demo. Petani itu kan cuma satu, tidak mau basa-basi,” pungkasnya.(Der/Aka)