Lima Remaja Putri Harumkan Nama Kota Malang

Ica, Ayin dan Kisti, siswa berprestasi Kota Malang. (deny/malangvoice)
Article top ad

MALANGVOICE – Lima siswa SMPN 4 Kota Malang mengukir prestasi dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP yang diadakan Kemendikbud, 2014 silam.

Lima siswi dari SMPN 4 yakni, Arin Novita, Natalia Charisty Nuzulullaita, Yuanita Dwi Damayanti dan Fina Nuri Islami. Mereka berhasil mengharumkan nama Kota Malang mewakili Jawa Timur menjadi juara 1 seni tari pada Juli lalu saat masih duduk di kelas 8.

Kelima siswi itu saat ini sedang menempuh pendidikan menengah di SMAN 7 Kota Malang kelas 10. Saat ditemui MVoice, Kamis (17/9) sore, Ailisa menceritakan perjuangan menempuh juara tidak mudah.

Bersama pembimbing tari Selfia Rengga Arbella dan pelatih Cahyo Sandhi Dea, mereka berlatih keras tanpa kenal waktu. “Dari jam 06.00 sampai jam 01.00 dini hari kami latihan terus, hampir setiap hari,” aku gadis yang akrab dipanggil Ica.

Dari kerja dan latihan keras, mereka menciptakan tari yang dinamai ‘Ngabuling’ atau Ngarak Tebu Bukak Giling. Tarian diciptakan sesuai tema FLS2N, Pesta Rakyat. Dari tarian itu, mereka merenovasi sedikit demi sedikit saat lomba tingkat kota hingga provinsi.

Akhirnya tiba saat tingkat nasional tarian mereka dipilih jadi yang terbaik mengalahkan beberapa peserta dari kota besar di Indonesia.

Mencatat prestasi hal yang tidak mudah dirasakan lima remaja berusia 15 tahun itu. Pasalnya, banyak tudingan miring perihal prestasi yang disumbangkan itu. Arin mengatakan, setelah berhasil menjuarai kompetisi tuduhan demi tuduhan sering diterima.

“Ada yang bilang kami main dukun dan jampi-jampi juri, padahal kami kerja keras,” curhat Ayin, panggilan akrabnya.

Menanggapi tudingan miring itu mereka santai saja. Bahkan, pada akhir kelulusan SMP lima sahabat karib itu ditunjuk pihak sekolah menjadi Duta Seni Pelajar (DSP) se-Jawa Bali dan Lampung, Juli 2015.

Pengalaman menjadi duta sangat dinikmati, terlebih oleh Kisti panggilan akrab Natalia Charisty Nuzulullaita. Ia mengaku senang mewakili Jawa untuk mengenalkan kebudayaan Jawa Timur di tempat lain. “Kami mampir dari hotel berkelas dan difasilitasi penuh, intinya jalan-jalan sambil promosi,” ungkapnya.

Kesuksesan mereka tak lepas dari dukungan kedua orangtua. Suport yang diberikan jadi peletus semangat. Itu semua mereka lakukan juga untuk kebahagiaan orangtua. Hasil jerih payah hingga tak mengenal waktu luang berupa uang pembinaan waktu itu senilai Rp 25 juta diberikan kepada orangtua dan sisanya ditabung.

Tak berhenti di situ. Seiring perkembangan usia, impian untuk menjadi wakil Indonesia dalam ajang Internasional terus dikejar. Ayin, berharap ke depan bisa mengunjungi India untuk melatih skill tari bersama empat rekannya. “Sekalian belajar, di sana mengenalkan budaya Indonesia,” tutupnya. –