Lewat Tahfidz Tematik, Anak-anak Ini Fasih Menghapal dan Menceritakan Kisah-kisah Dalam Al-Quran

Orangtua terharu (ist)
Orangtua terharu (ist)
Cukai Kota Malang

MALANGVOICE – Bagi anak-anak, menghafal dan memahami al-Quran bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan. Hal itulah yang dirasakan 24 peserta program Tahfidz Quran Tematik (TQT) edisi liburan yang diprakarsai Yayasan Bait Al-Hikmah, Malang.

Setelah dua pekan mengikuti program ini (18-29/12), anak-anak yang berasal dari berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah ini tak hanya mampu menghafal, tapi juga juga bisa menjelaskan makna dari ayat-ayat yang dihafal tersebut.

Tak heran, tema yang dipilih adalah kisah-kisah dalam al-Quran sehingga menarik minat anak, apalagi jika metode hafalannya sambil bermain dan bercerita. Beberapa kisah yang diangkat yaitu kisah Maryam, Nabi Yunus juga Kisah Penghuni Gua.

Di akhir pertemuan, yaitu pada munaqosyah atau ujian kelulusan di Sengkaling Kuliner, Kamis (29/12), 24 anak itu mempresentasikan hafalannya sekaligus menjelaskan pada audien yang hadir, termasuk para orang tua dan masyarakat sekitar.

“Selain hafalan, metode belajar al-Quran yang kami gunakan memang berorientasi pada pemahaman. Tentu karena sasarannya anak-anak, metode yang kami gunakan lewat pembelajaran yang cepat, mudah dan menyenangkan,” terang pengasuh program TQT, Laylatul Fithriyah Azzakiyah.

Peserta dan orangtua (ist)
Peserta dan orangtua (ist)

Selain dengan metode mengeja perkata, dijelaskan Laylatul, anak-anak juga diajak menghafal lewat metode bernyanyi dan bercerita.

Selain TQT edisi liburan ini, Bait Al-Hikmah juga intens mengadakan program tahfidz tematik edisi reguler di hari-hari biasanya, di mana target utama pesertanya adalah anak-anak. Sekalipun pada momen tertentu, semisal Ramadhan, program ini juga dibuka bagi orang dewasa.

Sementara itu, pembina Yayasan Bait al-Hikmah, Dr Pradana Boy ZTF, menjelaskan kurikulum yang diterapkan berangkat dari petunjuk-pentunjuk yang telah diisyaratkan di dalam al-Quran.

Prinsipnya, lanjut Pradana, pesantren yang didirikan khusus untuk tingkat sekolah menengah ini berciri transformatif.

“Kami ingin pesantren ini bisa dijangkau oleh semua kalangan, terlebih kalangan tak berpunya, tentu tetap harus berkualitas,” tegas Pradana.

Kompetensi bahasa juga jadi sorotan pesantren ini. Selain bahasa Arab dan Inggris yang biasa diajarkan di pesantren-pesantren konvensional, bahasa Jerman juga bakal jadi program andalan yang wajib dikuasai seluruh peserta didik.

Harapannya, selain hanya untuk mengisi liburan, program ini bisa diadakan sepanjang tahun. Semoga rencana didirikannya Pesantren Laboratorium al-Quran ini dapat segera terealisasi.