Kota Malang Memilih Pemimpin

Kunjungi MVoice Building, Nanda Beber Alasan Kerap Kampanye Terpisah dengan Wanedi

Calon Wali Kota Malang nomor urut 1, Dr Ya'qud Ananda Gudban, mengunjungi MVoice Building. (Muhammad Choirul)
Calon Wali Kota Malang nomor urut 1, Dr Ya'qud Ananda Gudban, mengunjungi MVoice Building. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Calon Wali Kota Malang nomor urut 1, Dr Ya’qud Ananda Gudban, mengunjungi kantor redaksi Malangvoice.com, MVoice Building di Jalan Danau Kerinci VII Blok E1 D17
Sawojajar, Kota Malang, Kamis (22/2).

Dalam kesempatan itu, dia membeberkan alasan kerap menjalankan agenda kampanye secara terpisah dengan pasangannya, Ahmad Wanedi. Perempuan yang akrab disapa Nanda ini menegaskan, pilihan ini merupakan sebuah strategi.

Dia menjelaskan, konsep yang diusung adalah ‘satu’, sesuai nomor urut pasangan yang juga sering disebut Menawan ini. “Nanda – Wanedi itu satu. Jadi kami jarang bersama – sama, alasannya karena ketika Wanedi hadir, sekaligus merepresentasikan kehadiran Nanda,” urainya.

Begitu juga sebaliknya, manakala Nanda blusukan di lokasi tertentu, sosialisasi yang diserukan bukan untuk memilih Nanda seorang. Melainkan, juga memilih Nanda – Wanedi sebagai pasangan yang utuh.

“Ini strategi supaya kami banyak dikenal masyarakat, mengingat kami merupakan pasangan yang tergolong baru. Memilih Nanda berarti juga memilih Wanedi,” tandas peraih gelar doktor dari Universitas Brawijaya ini.

Langkah tersebut bukan berarti menunjukkan ketidakharmonisan pasangan Menawan. Karena itu, Nanda menampik anggapan bahwa pasangan Nanda-Wanedi ‘pecah kongsi’ sebelum meraih tahta.

“Justru ini menunjukkan kami satu. Kami juga menyusun agenda secara bersama-sama. Suatu ketika, manakala Pak Wanedi berhalangan hadir di agendanya, maka saya yang menggantikan seperti di Polehan kemarin,” imbuhnya.

Juru bicara pasangan Menawan, Dito Arief, yang turut hadir dalam kesempatan kali ini, juga menyatakan hal senada. Dia menambahkan, tidak hanya pasangan Nanda – Wanedi yang memiliki soliditas.

Lebih dari itu, semua partai pengusung dan pendukung, termasuk sayap organisasi di belakangnya, senantiasa berjalan beriringan. “Jadi tidak melulu terfokus pada satu partai tertentu, semuanya bersinergi mulai PDIP, Hanura, Nasdem, PAN, dan PPP,” pungkasnya. (Coi/Ery)